Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025
Belum Saatnya
Lima belas menit pertama berjalan aman.
Kiara duduk di sofa dengan bantal dipeluk di dada, sementara Kopi berbaring di karpet kecil dekat kakinya. Mainan tali merah ada di antara mereka seperti tanda perdamaian. Televisi menyala tanpa suara. Di dapur, Rayhan mencuci gelas sambil sesekali menoleh.
"Jangan tidur," katanya dari jauh.
"Aku tidak tidur."
"Matamu sudah tinggal setengah."
"Aku sedang menghemat tenaga."
"Itu nama lain dari mengantuk."
Kiara membuka mata lebih lebar dengan paksa. "Kak Rayhan curang. Dari dapur saja bisa lihat."
"Aku polisi."
"Polisi tidak punya kemampuan supernatural."
"Untuk kamu, perlu."
Kalimat itu membuat Kiara berhenti membalas. Ia pura-pura sibuk mengusap ujung bantal, padahal telinganya panas. Kopi menguap besar, seolah membantu menutupi suasana.
Rayhan kembali ke ruang keluarga dengan dua gelas air. Satu diletakkan di meja dekat Kiara, satu lagi ia bawa sendiri. Matanya jatuh ke frame foto kecil yang baru saja berdiri di rak samping televisi.
Fotonya belum dicetak. Untuk sementara, Rayhan menaruh kertas putih di dalam frame, menuliskan tanggal hari itu dengan pena hitam.
"Itu apa?" tanya Kiara.
"Penanda."
"Sampai fotonya dicetak?"
"Iya."
"Tanggal Kopi pulang?"
"Tanggal kamu bilang rumah kita."
Kiara langsung menunduk.
Rayhan duduk di sofa tunggal, tidak terlalu dekat. Jarak mereka masih sopan, tetapi malam membuat segala hal terasa lebih sempit. Suara AC pelan. Napas Kopi berat dan teratur. Lampu ruang keluarga hanya menyisakan warna hangat di wajah Rayhan.
"Kak Rayhan jangan mencatat hal seperti itu."
"Kenapa?"
"Malu."
"Kalau malu, kenapa diulang?"
"Karena..." Kiara menggigit bibir. "Karena benar."
Rayhan tidak menjawab. Justru karena tidak menjawab, dada Kiara terasa penuh. Ia memeluk bantal lebih erat, seolah benda itu bisa menjaga wajahnya tetap normal.
Rayhan menunjuk rak samping televisi dengan dagu. "Besok aku cetak fotonya."
"Di studio foto?"
"Bisa."
"Kak Rayhan serius sekali untuk foto yang tidak sengaja."
"Justru karena tidak sengaja."
Kiara menatap frame kosong itu lagi. Tanggal yang ditulis Rayhan sederhana, hanya angka. Namun di matanya, angka itu seperti tanda kecil bahwa ada hari-hari dalam hidupnya yang pantas disimpan. Bukan hanya hari buruk. Bukan hanya tagihan rumah sakit dan panggilan dari orang yang menagih utang Pak Song.
Ada juga hari ketika seekor K9 pensiun pulang, dan seorang pria kaku menyebut rumah mereka tanpa ragu.
Ponsel Kiara menyala di meja.
Bu Ratna:
Besok pagi rapat singkat. Ada follow-up liputan Reza di luar kota. Jangan terlambat.
Kiara membaca pesan itu dua kali. Reza lagi. Luar kota.
Ia ingin langsung memberi tahu Rayhan, tetapi suara ponsel Rayhan berbunyi lebih dulu.
Ponsel Rayhan berbunyi.
Ia melihat layar, lalu berdiri. "Aldi."
"Masalah?"
"Laporan revisi. Aku ke ruang kerja sebentar. Lima menit."
"Kak Rayhan juga suka bohong soal waktu."
"Aku kembali sebelum kamu tidur."
"Aku tidak tidur."
Rayhan menatapnya.
Kiara mengangkat tangan. "Baik. Aku berusaha tidak tidur."
Rayhan berjalan ke ruang kerja di sisi lorong. Pintu tidak ditutup rapat. Dari tempatnya, Kiara masih bisa mendengar suaranya yang rendah, singkat, dan tegas.
"Bagian kronologi jangan pakai perkiraan. Pakai jam dari CCTV."
Diam.
"Tidak, Di. Kalimat itu jangan masuk. Terlalu spekulatif."
Diam lagi.
"Kirim ulang sekarang."
Kiara tersenyum kecil. Rayhan di rumah dan Rayhan di Polda ternyata orang yang sama. Bedanya, di rumah ia bisa menyita charger, membeli frame foto, dan mengingat tanggal perempuan itu akhirnya berani menyebut rumah mereka.
Kopi mengangkat kepala, menatap Kiara.
"Apa?" bisik Kiara. "Aku tidak memikirkan yang aneh-aneh."
Kopi mengedip.
"Jangan menilai aku."
Ia mengulurkan tangan, berhenti sebelum menyentuh kepala Kopi, lalu mengusap selimut tipis di sampingnya. Dokter Yoga bilang jangan membuat Kopi terlalu bersemangat sebelum tidur. Kiara mencoba patuh, meski tangannya gatal ingin memeluk anjing besar itu.
Televisi menampilkan iklan tanpa suara. Cahaya bergerak di dinding. Kiara menyandarkan kepala ke sofa hanya sebentar.
Sebentar saja.
Ia hanya ingin menunggu Rayhan selesai telepon.
Lima menit berikutnya tidak pernah ia hitung.
Saat Rayhan kembali, gelas air Kiara masih penuh. Bantal di pelukannya mulai turun. Kepala Kiara miring ke sandaran sofa, rambutnya jatuh menutupi sebagian pipi. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya pelan dan dalam.
Kopi tetap terjaga.
Anjing itu mengangkat kepala begitu Rayhan masuk, tetapi tidak menggonggong. Hanya menatap, seolah memberi laporan bahwa orang yang dijaganya sudah kalah oleh kantuk.
Rayhan berhenti di ambang ruang keluarga.
"Aku sudah bilang lima belas menit," gumamnya.
Tidak ada jawaban.
Kiara tidur dengan wajah yang terlalu tenang.
Rayhan berjalan pelan, menjaga langkah agar Kopi tidak merasa terancam. Ia berjongkok lebih dulu di dekat Kopi, memeriksa posisi kaki kanannya. Aman. Perbannya tidak bergeser. Baru setelah itu ia mendekati sofa.
"Kiara."
Kiara tidak bangun.
"Naik ke kamar."
Ia hanya mengerutkan hidung sedikit, lalu kembali diam.
Rayhan menghela napas. "Kamu ini..."
Kalimatnya berhenti di tengah.
Dari jarak sedekat itu, ia bisa melihat bayangan lelah yang masih tersisa di bawah mata Kiara. Gadis itu berusaha terlihat kuat sepanjang hari, bercanda dengan Cici, memilih belanjaan untuk Kopi, mengulang kata rumah kita dengan wajah merah. Namun begitu tidur, semua pertahanan itu jatuh.
Rayhan meraih selimut tipis dari sandaran sofa. Ia menyelimuti tubuh Kiara sampai bahunya tertutup. Saat tangannya menarik ujung selimut, jari Kiara bergerak kecil, hampir menyentuh pergelangan tangannya.
"Kak..." gumam Kiara samar.
Rayhan membeku.
Namun Kiara tidak melanjutkan. Ia hanya bernapas pelan, seolah panggilan itu pun tersesat di dalam mimpi.
Rayhan menunduk sedikit.
Rambut Kiara masih menutupi pipinya. Ia seharusnya menyingkirkannya agar tidak mengganggu napas. Itu alasan yang masuk akal. Itu alasan yang bisa dijelaskan kepada dirinya sendiri.
Jarinya terangkat.
Pelan, ia menyelipkan helaian rambut itu ke belakang telinga Kiara. Kulit pipinya hangat. Terlalu halus untuk tangan yang lebih sering memegang borgol, berkas perkara, dan senjata.
Kiara tidak bangun.
Rayhan seharusnya mundur.
Tetapi matanya jatuh ke bibir Kiara.
Ia ingat kata Mas yang keluar dari tidur. Ia ingat rumah kita yang diucapkan dengan sadar. Ia ingat foto kecil di rak, frame kosong yang menunggu dicetak, Kopi yang sekarang tidur di lantai mereka.
Semua hal itu bergerak di dadanya, mendesak sesuatu yang selama enam bulan ia tekan dengan rapi.
Namun Kiara sedang tidur. Apa pun yang ia inginkan, ia tidak mau mengambil momen pertama dari perempuan itu saat matanya tertutup dan pilihannya tidak terdengar.
Rayhan mengangkat tangan lagi.
Ujung jarinya berhenti beberapa senti dari bibir Kiara.
Kopi bergerak di lantai. Bukan menggonggong. Hanya mengangkat kepala, cukup untuk membuat Rayhan kembali sadar pada suara napasnya sendiri.
Ia menatap Kiara lama.
Lalu tangannya mengepal pelan dan turun ke sisi sofa.
"Belum saatnya."