NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Cemburu?

Hari Senin, Xavier memilih hitam.

Pesannya datang pukul enam pagi, singkat seperti biasa.

`Hari ini hitam?`

Keira yang masih setengah mengantuk menatap layar beberapa detik sebelum tersenyum.

`Kamu benar-benar serius dengan proyek samaan ini, ya?`

`Iya.`

`Kenapa?`

Balasan Xavier kali ini agak lama.

`Karena kamu lucu kalau malu.`

Keira langsung duduk tegak di tempat tidur.

"Xavier Sia."

Tidak ada orang yang menjawab. Tentu saja.

Namun ketika ia membuka lemari dan mengambil outer hitam, wajahnya tetap panas. Ini ketiga kalinya mereka memakai outfit yang sengaja disamakan. Sistem mungkin akan menghitungnya. Tetapi anehnya, pagi itu Keira lebih memikirkan bagaimana Xavier akan terlihat dengan warna hitam yang sama.

Jawabannya: terlalu bagus.

Saat Xavier menjemputnya, ia memakai kemeja hitam dengan lengan digulung, celana abu gelap, dan jam tangan yang membuat tangannya terlihat sangat bersih dan tegas. Keira berhenti di depan pintu selama dua detik.

Xavier menatapnya balik.

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa."

"Kamu menatap."

"Aku sedang menilai apakah outfit kita terlalu niat."

"Hasilnya?"

"Kamu terlalu niat menjadi tampan."

Kalimat itu keluar lebih cepat dari rem Keira.

Xavier diam.

Keira juga diam.

Mochi yang kebetulan muncul di belakang kaki Xavier mengeong sekali, seperti menyetujui.

Keira menutup wajah dengan tangan. "Aku mau masuk lagi."

Xavier menahan pintu sambil tersenyum kecil. "Tidak boleh. Pacarku sudah memuji, harus tanggung jawab."

"Aku khilaf."

"Aku terima."

Mereka berangkat ke kampus dengan Keira yang terus menghadap jendela dan Xavier yang terlihat terlalu puas.

Di tas Keira, Nokia tua bergetar ketika mereka turun dari mobil.

Ia baru sempat membukanya di toilet DKV.

`Misi 3 selesai.`

`Nilai Replika: 74%.`

Keira menahan napas, lalu menutup ponsel itu perlahan.

Tidak ada ledakan besar. Tidak ada bonus waktu baru yang dramatis. Sistem otomatis berjalan, dan misi lama menutup dirinya seperti pintu kecil yang akhirnya terkunci.

Tujuh puluh empat persen.

Masih jauh dari seratus, tetapi lebih dekat daripada kemarin.

Keira memasukkan Nokia ke tas dan keluar kelas dengan dada lebih ringan.

Lalu ia langsung ditarik kembali ke bumi oleh tugas DKV.

Minggu itu, kelas mereka sedang membuat proyek poster kampanye sosial berkelompok. Keira bertanggung jawab pada ilustrasi utama, sementara seorang teman sekelas laki-laki dari kelompok lain terus datang bertanya tentang brush, warna, dan layout.

Awalnya Keira tidak merasa aneh. Dia memang cukup ramah, dan tugas itu membuat banyak orang saling pinjam referensi. Ia juga tidak ingin menjadi orang sombong yang menolak membantu hanya karena sudah punya pacar.

"Keira, ini kalau komposisinya terlalu penuh, menurutmu gimana?"

Keira melihat layar laptopnya. "Coba turunkan ilustrasi ke kiri sedikit. Ruang kosongnya jangan takut dipakai."

"Oh, iya. Kamu jago banget soal ini."

"Biasa saja. Aku cuma sering salah duluan."

Teman itu tertawa.

Dari meja seberang, Celine mengangkat kepala perlahan.

Keira pura-pura tidak melihat.

Pertanyaan kedua datang sepuluh menit kemudian.

"Kalau font ini terlalu formal?"

Keira memberi saran.

Pertanyaan ketiga datang saat istirahat.

"Boleh lihat file punyamu sebagai referensi?"

Keira mulai merasa sedikit tidak enak, tetapi tetap menunjukkan versi low resolution di tablet.

Yang tidak ia sadari, Xavier datang ke gedung DKV lebih cepat dari jadwal.

Ia berdiri di dekat pintu studio, membawa teh hangat untuk Keira. Wajahnya masih datar. Namun Celine, yang duduk paling dekat pintu, langsung melihat perubahan kecil itu.

Mata Xavier tertuju pada teman laki-laki yang berdiri terlalu dekat di samping meja Keira.

Lalu pada Keira yang sedang menjelaskan sesuatu sambil menunjuk tablet.

Lalu kembali pada jarak di antara mereka.

Celine menutup mulut dengan punggung tangan.

"Wah," gumamnya pelan. "Konten."

Xavier berjalan masuk.

Keira baru menyadari kehadirannya ketika paper cup teh diletakkan di samping tablet.

"Xav?"

"Teh."

Suaranya normal.

Terlalu normal.

Keira menatap wajahnya. "Kelas kamu sudah selesai?"

"Belum. Istirahat."

Teman laki-laki itu mundur sedikit, jelas mengenali Xavier. "Oh, sorry. Aku cuma tanya tugas."

Xavier menatapnya. "Silakan."

Satu kata.

Sopan.

Tetapi udara di studio seperti turun dua derajat.

Teman itu tertawa canggung. "Sudah cukup kok. Thanks, Kei."

Keira berkedip.

Begitu dia pergi, Celine langsung memutar kursinya pelan, seperti penonton yang sudah membeli tiket paling mahal.

Keira menatap Xavier.

"Kamu kenapa?"

"Tidak kenapa."

"Wajah kamu seperti mau memeriksa pasal pelanggaran jarak meja."

"Tidak."

Celine batuk palsu.

Keira menyipit, lalu tiba-tiba tersenyum. "Kamu cemburu?"

Xavier mengangkat alis. "Tidak."

"Yakin?"

"Dia tanya tugas."

"Aku juga merasa begitu."

"Bagus."

"Tapi kamu datang bawa teh dan menatapnya seperti dia melakukan tindak pidana."

"Kamu dramatis."

"Kamu cemburu."

"Tidak."

Jawaban itu terlalu cepat.

Celine dari samping berbisik, "Cemburu."

Xavier menatap Celine.

Celine langsung menatap tabletnya. "Gue tidak bilang apa-apa."

Keira tertawa. Tawa itu membuat wajah Xavier semakin datar, yang berarti ia memang tersinggung. Aneh sekali. Orang ini bisa membuat seluruh kampus takut, tetapi ketika cemburu, ia hanya menjadi lebih diam dan lebih kaku.

Keira mengambil teh dari meja.

"Terima kasih, pacarku yang tidak cemburu."

Xavier menatapnya.

Keira menyesap teh dengan senyum yang sulit disembunyikan.

Sore itu, setelah kelas selesai, Xavier menjemputnya seperti biasa. Ia tidak membahas teman laki-laki tadi. Tidak bertanya namanya. Tidak melarang Keira membantu orang lain.

Itu membuat Keira hampir merasa bersalah karena sudah menggodanya.

Hampir.

Sebab pukul empat lewat, ketika ia kembali ke studio untuk mengambil charger yang tertinggal, sebuah buket baru sudah menunggu di atas mejanya.

Bukan buket kecil seperti sebelumnya.

Yang ini lebih besar. Mawar putih, tulip kuning, dan bunga-bunga kecil ungu, dibungkus kertas hitam elegan yang sangat cocok dengan outfit mereka hari itu. Di antara bunga ada kartu krem.

Keira mengambil kartu itu dengan firasat kuat.

`Untuk pacarku yang sangat baik membantu tugas orang lain. Jangan lupa bantu aku juga suka sama kamu.`

Keira menutup mata.

Dari belakangnya, Celine yang ikut mengambil laptop menghirup napas panjang.

"Kei."

"Jangan."

"Dia tidak cemburu katanya?"

"Cel."

"Buket ini ukurannya seperti bukti forensik."

Keira ingin tertawa dan ingin menangis sekaligus. Ia memotret kartu itu, lalu mengirimnya ke Xavier.

`Tidak cemburu, ya?`

Balasan Xavier datang setelah beberapa detik.

`Tidak.`

Keira menatap buket besar di mejanya.

`Kalau cemburu, bunganya sebesar apa?`

Kali ini balasan lebih lama.

`Mau coba?`

Keira langsung menutup ponsel.

Wajahnya panas, tetapi senyumnya terlalu lebar untuk disembunyikan.

Di studio yang mulai kosong, Celine mengambil foto buket itu dari samping.

"Gue cuma mau bilang," katanya datar, "kalau suatu hari Xavier bilang tidak marah, lo harus cek apakah dia sudah beli toko bunga."

Keira tertawa, memeluk buket besar itu dengan kedua tangan.

Di antara aroma bunga dan rasa malu yang manis, ia menyadari satu hal baru.

Xavier Sia cemburu memang tidak berisik.

Tetapi sangat mahal.

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!