Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Sarah mendelik tajam ke arah Tini, memastikan sahabatnya itu benar-benar mengunci mulutnya sebelum ia kembali membuka suara. Ia mendekatkan posisi duduknya ke meja, berbicara dengan nada berbisik yang sarat akan keseriusan.
“Sembarangan kamu kalau ngomong, Tin! Ya enggaklah! Aku nggak pernah jadi selingkuhan dia,” bela Sarah dengan raut wajah tidak terima. Harga dirinya sebagai seorang wanita dan pendidik seolah terusik dengan tuduhan asal Tini.
Tini yang mulutnya baru saja dilepas oleh Sarah langsung mengerutkan dahi bingung. “Loh, terus? Dia kan punya pacar, tapi nembak kamu. Kalau kamu nggak jadi selingkuhannya, kenapa kamu bisa sampai trauma dan kabur sejauh ini, Sar?”
Sarah menghela napas panjang, mencoba meredakan sisa-sisa keterkejutannya akibat teriakan Tini tadi. Ia meremas selembar tisu di tangannya sebelum menjelaskan runtutan kejadian yang sebenarnya.
“Ya karena saat itu juga langsung aku tolak mentah-mentah, Tini,” tegas Sarah. “Logika kamu pakai dong. Saat itu posisinya aku sudah kuliah semester tiga, sedangkan Ardhana? Dia masih bocah SMA kelas dua. Umurnya saja terpaut tiga tahun di bawahku. Bayangkan, apa kata orang-orang kalau aku yang anak kuliahan ini pacaran sama anak SMA? Berondong banget, kan?”
Tini manggut-manggut mulai paham, namun matanya masih memancarkan binar rasa ingin tahu yang besar. “Iya sih, agak jomplang ya kalau dipikir-pikir. Tapi kan zaman sekarang perbedaan umur begitu sudah biasa, Sar. Banyak kok yang ceweknya lebih tua.”
“Masalahnya bukan cuma soal umur atau status pendidikan kita saat itu, Tin,” sela Sarah cepat. Ia menjeda kalimatnya sejenak, memori tentang sosok perempuan dari masa lalu itu mendadak melintas di benaknya, membawa kembali rasa minder yang dulu sempat ia rasakan.
“Selain karena masalah umur, alasan terbesar aku menolaknya adalah karena semua orang di lingkungan kami tahu kalau Ardhana itu sudah punya pacar. Dan pacarnya itu… cantik banget. Beda sekolah memang sama dia, tapi satu angkatan, dan mereka selalu kelihatan serasi ke mana-mana. Semua orang menganggap mereka itu couple goals,” lanjut Sarah dengan senyuman kecut.
Tini menopang dagunya dengan kedua tangan, menyimak dengan sangat serius. “Kalau pacarnya secantik itu dan hubungan mereka kelihatan sempurna, kenapa si Ardhana malah nekat nembak kamu, Sar? Kurang puas apa dia?”
“Nah, itu dia yang bikin aku marah dan tersinggung setengah mati saat itu!” jawab Sarah, nadanya sedikit meninggi namun tetap terjaga.
“Aku merasa Ardhana cuma menjadikan aku pelarian, atau sekadar main-main karena bosan. Aku nggak mau merendahkan harga diriku hanya untuk menjadi perusak hubungan orang lain, apalagi jadi opsi kedua di antara hubungan manis mereka. Makanya, malam itu setelah dia menyatakan perasaannya di depan motor merahnya, aku langsung memarahinya habis-habisan. Aku bilang dia cowok nggak tahu diri yang nggak menghargai komitmen.”
“Wah… mantap! Salut aku sama ketegasan kamu, Sar,” puji Tini sembari mengacungkan jempolnya. “Terus, kalau kamu udah menolaknya dengan cara sekeren itu, kenapa akhir cerita dari kejadian itu malah bikin kamu merasa dipermalukan sampai trauma?”
Sarah terdiam, tatapannya beralih menatap ke arah buku besar miliknya yang berisikan materi ajarnya nanti. Dadanya kembali terasa sesak saat bagian paling menyakitkan dari kisah itu harus diungkit kembali.
“Karena beberapa hari setelah penolakan itu, pacarnya tahu kalau Ardhana pernah nembak aku,” bisik Sarah lirih, suaranya mendadak bergetar. “Dan entah bagaimana ceritanya, gosip yang beredar di komunitas justru diputarbalikkan. Aku dituduh sebagai senior kegatelan yang mencoba merebut pacar anak SMA. Aku dilabrak di depan banyak orang, Tin. Dan yang paling bikin aku hancur… Ardhana saat itu malah diam saja, nggak membelaku sama sekali karena takut sama pacarnya.”
Tini langsung ternganga, tangannya mengepal kuat di atas meja karena ikut merasakan kekesalan yang mendalam atas ketidakadilan yang menimpa sahabatnya di masa lalu.
“Kenapa dia diam aja? Padahal ‘kan dia yang deketin kamu. Terus dia juga, kan yang nembak kamu? Lalu kok dia diam aja?” serang Tini dengan pertanyaan beruntun.
Sarah menghela napas panjang dan berat. Bayangan masa lalu kembali melintas di kepalanya.
“Katanya sih yang aku dengar, pacarnya itu pilihan orangtuanya. Tapi aku nggak tau juga kebenarannya. Setelah kejadian itu aku nggak pernah lagi ketemu mereka. Aku keluar dari komunitas, batal ikut agenda nasional, karena semuanya mandang jelek ke aku.”
Tini yang prihatin membelai pelan punggung sang teman. “Ya sudah, sekarang lupain aja. Maaf kalau aku udah sering mancing-mancing kamu dengan jodohin sama dia. Aku nggak tahu ternyata dulu dia se pengecut itu.”
Sarah tersenyum sambil menoleh ke arah Tini. “Udah, ya. Kita nggak usah ngomongin dia lagi. Mending nyoto ke kantin, sebelum anak-anak istirahat.”
“Boleh. Kamu yang bayar!”
Panas....cemburu melanda😂
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor