NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Benteng Musuh

"Besok," kata Hendry, "kita lihat benteng itu dari dekat."

Besoknya, ia tidak membawa banyak orang.

Reconnaissance bukan pawai. Semakin banyak kaki, semakin banyak suara. Semakin banyak suara, semakin besar peluang Bintang Setiabudi mendengar sesuatu yang belum waktunya ia dengar.

Hendry hanya membawa Raja, Nasi, Fajar, dan Bagus sampai titik aman di barat luar cluster. Melati ingin ikut, tetapi Hendry menahannya di basis sebagai respons cepat jika roadblock ternyata hanya umpan.

"Kalau gue tidak kembali dalam satu jam, tutup gerbang. Jangan kirim semua orang keluar."

Melati menatapnya tajam. "Lu pikir aku bakal patuh?"

"Gue tahu lu cukup pintar untuk patuh saat Mawar ada di dalam."

Kalimat itu membuat Melati diam.

Mawar berdiri di belakangnya, tas medis di tangan. "Hati-hati."

Hendry mengangguk sekali.

Pukul empat sore, mereka bergerak.

Roadblock itu terlihat lebih jelas dari dekat. Dua mobil dibalik menjadi dinding rendah. Pagar besi bekas rumah mewah ditancapkan miring. Karung pasir disusun sampai setinggi dada. Di depan karung, tali paku dibentangkan di aspal, cukup untuk merobek ban Yanto jika truk dipaksa lewat.

Fajar berjongkok di balik tembok rumah kosong dan menunjuk.

"Dua penjaga di depan. Satu di atas balkon villa sebelah kanan. Satu lagi kemungkinan di balik mobil biru. Polanya ganti tiap lima belas menit."

Bagus berbisik, "Pak Fajar, lu yakin belum jadi Awakener? Mata lu kayak drone."

"Kebiasaan pos malam."

Nasi di bahu Hendry tidak menggeram keras, tetapi bulunya tidak turun. Peringatan sedang, bukan bahaya langsung.

Hendry menatap gedung target.

Villa tiga lantai di balik roadblock itu dulunya pasti mahal. Sekarang jendelanya ditutup papan, balkon diberi karung pasir, dan gerbangnya dilapis seng. Ada bekas cat semprot di dinding: BERSATU ATAU MATI. Di masa damai, tulisan seperti itu terdengar seperti slogan murah. Di kiamat, itu bau tirani.

"Fajar, catat," kata Hendry pelan. "Aku masuk sendiri."

Fajar tidak bertanya kenapa. "Jarak?"

"Kurang dari seratus meter ke atap rumah seberang. Dari sana aku lihat bagian dalam."

Bagus langsung tegang. "Bos, tiga kali batas aman."

"Aku pakai dua."

Raja menggeram pelan, tidak suka ditinggal.

Hendry menepuk kepala anjing itu. "Jaga mereka."

Void Walk.

Udara di sekitar Hendry berkerut.

Satu detik kemudian, ia sudah berjongkok di atap rumah kosong di sisi kiri roadblock. Genteng di bawah kakinya panas. Bau asap, keringat, dan sampah basi naik dari kompleks kecil itu.

Jarak ke villa Bintang sekitar delapan puluh meter.

Void Walk kedua membawanya ke balik menara air di atap rumah kosong yang lebih tinggi.

Sakit tipis muncul di belakang mata, tetapi masih terkendali.

Dari sana, benteng musuh terbuka.

Lebih dari tiga puluh orang.

Fajar tidak salah.

Ada penjaga di gerbang, balkon, dan halaman belakang. Sebagian membawa parang, pipa besi, senapan angin, dan dua senjata api pendek yang terlihat seperti pistol lama. Tidak semua orang berani. Beberapa berdiri dengan bahu kaku, wajah kosong. Beberapa lain tertawa terlalu keras di sekitar drum api.

Di tengah halaman, seorang pria berbaju putih bersih berdiri di atas kotak kayu.

Bintang Setiabudi.

Rambutnya rapi. Wajahnya tampan dengan cara yang membuat orang mudah percaya jika dunia belum hancur. Di tangannya ada mikrofon kecil yang tersambung ke speaker portable. Ia tidak terlihat seperti preman. Itu justru bahayanya.

"Kalian hidup karena kalian patuh," suara Bintang terdengar samar sampai atap tempat Hendry bersembunyi. "Di luar sana, orang saling makan. Di sini, aku memberi kalian arah."

Sepuluh orang di halaman menunduk.

Bintang tersenyum.

"Angkat tangan kanan."

Tiga orang langsung mengangkat tangan.

Dua lainnya terlambat setengah detik.

Mata mereka kosong.

Kontrol suara.

Belum sempurna. Durasi pendek. Kemungkinan lebih kuat pada orang lapar, takut, lemah, atau level rendah. Tapi cukup untuk membuat penjaga menembak teman sendiri jika diperintah di momen yang tepat.

Hendry menahan napas.

Di sisi kiri halaman, ada lima orang dengan aura berbeda. Awakener.

Satu pria bertubuh besar menggenggam batu yang berputar di telapak tangan. Earth-type rendah. Seorang perempuan kurus membuat angin kecil mengangkat debu. Wind-type. Dua pria lain memancarkan panas dan listrik lemah, levelnya tidak tinggi.

Yang kelima berdiri dekat tangga lantai dua.

Sosok muda Sunda bernama Awan Permata.

Rambutnya basah oleh keringat. Wajahnya pucat, tetapi matanya tajam saat sadar. Di sekitar telapak tangannya, kristal es kecil tumbuh lalu hancur, tumbuh lagi lalu hancur lagi. Ice Power Level 3. Udara di dekatnya turun beberapa derajat.

Bintang menoleh ke arah Awan.

"Awan."

Tubuh Awan menegang.

Mata yang tadi sempat jernih mendadak kosong.

"Jaga tangga. Tidak ada yang naik tanpa izinku."

Awan bergerak.

Kaku.

Tapi saat melewati dinding yang retak, jari Awan menggores plester pelan. Bukan gerakan orang kosong total. Itu tanda. Kesadaran masih melawan dari dalam.

Hendry mengenal nama itu dari kehidupan sebelumnya.

Awan Permata seharusnya menjadi salah satu kapten terbaik di basis besar Jakarta, orang yang bisa membekukan satu jalan sempit dalam tiga detik dan tidak panik saat dikepung. Jika Bintang dibiarkan terlalu lama, orang seperti itu akan dipakai sebagai rantai, bukan pedang.

Suara perempuan menangis terdengar dari lantai dua.

Hendry mengalihkan pandangan.

Di balik jendela yang papannya tidak tertutup sempurna, ada ruangan besar. Sekitar dua puluh perempuan duduk berdesakan. Beberapa memeluk lutut. Beberapa berbaring. Satu perempuan muda mencoba memberi air pada temannya, tetapi gelasnya direbut oleh penjaga di pintu.

Penjaga itu tertawa.

Dingin di dada Hendry tidak lagi berasal dari kemampuan Awan.

Ini bukan kelompok penyintas.

Ini kandang.

Bintang berbicara tentang persatuan di halaman, sementara lantai dua menyimpan manusia sebagai barang.

Hendry menghitung.

Gerbang depan: empat penjaga.

Balkon: dua.

Halaman: sekitar lima belas yang bisa bertarung.

Awakener: lima, termasuk Awan.

Bintang sendiri Level 3, kontrol suara.

Titik lemah: speaker portable, tangga tengah, pintu belakang dekat dapur, dan atap rumah kosong yang masih dalam jarak Void Walk dari halaman.

Hendry mundur perlahan dari menara air.

Ia tidak membunuh hari ini.

Itu bukan karena ia tidak ingin.

Justru karena ia ingin Bintang mati dengan bersih, cepat, dan di depan semua orang yang selama ini dibuat takut.

Void Walk ketiga akan membuat kepalanya sakit. Tapi ia butuh keluar tanpa jejak.

Udara berkerut.

Ia muncul kembali di balik tembok tempat Fajar dan Bagus menunggu. Lututnya hampir goyah, tetapi ia menahan.

Nasi langsung menepuk dadanya dengan kaki kecil.

Bagus berbisik, "Bos?"

"Pulang."

Fajar tidak bertanya di tempat terbuka. Ia hanya memberi isyarat mundur.

Malam itu, ruang tengah villa tidak berisi tawa.

Peta dibentangkan. Hendry menggambar villa tiga lantai itu dengan garis cepat. Gerbang. Balkon. Tangga. Dapur belakang. Lantai dua. Roadblock. Pos penjaga.

Semua orang diam saat ia menandai ruangan perempuan.

Mawar menggenggam tas medis sampai buku jarinya memutih.

Melati tidak bicara. Api kecil hidup di telapak tangannya, padam, lalu hidup lagi.

Dewi menutup mulut, matanya basah tetapi wajahnya keras.

Fajar mendengarkan dengan tubuh tegak.

Bagus hanya berkata, "Bajingan."

"Bintang Setiabudi," kata Hendry. "Control-type Awakener. Level 3. Pakai suara lewat speaker. Bisa memerintah non-Awakener dan Awakener level rendah untuk durasi pendek. Efeknya tidak sempurna. Orang kuat masih bisa melawan, tapi di medan kacau, satu detik cukup untuk membunuh."

Melati menatap peta. "Awan?"

"Ice-type Level 3. Dikontrol, tapi belum sepenuhnya patah."

"Lu kenal?"

"Aku tahu nilainya."

Tidak ada yang mengejar jawaban itu. Mereka sudah belajar: Hendry sering tahu nama orang yang belum pernah mereka temui, dan selama pengetahuan itu menyelamatkan nyawa, pertanyaan bisa menunggu.

Hendry menggambar lingkaran merah di sekitar posisi Bintang.

"Target utama satu. Bintang."

Fajar menunjuk garis belakang. "Kalau kita serang depan, mereka punya waktu pakai speaker."

"Karena itu kita tidak serang seperti tamu."

Bagus menyeringai dingin. "Kita masuk kayak utang jatuh tempo?"

"Lebih cepat."

Hendry menunjuk peta.

"Besok subuh. Fajar, kunci jalur belakang dengan dua orang. Yanto siap truk di rute evakuasi, mesin mati sampai sinyal. Melati bakar penghalang depan, bukan orang. Bagus masuk setelah api. Raja ganggu penjaga. Nasi tetap di Mawar sampai perimeter aman."

Mawar mengangkat wajah. "Aku ikut?"

"Setelah Bintang jatuh. Korban di lantai dua butuh lu."

Mawar menelan amarahnya dan mengangguk.

Dewi berkata pelan, "Saya siapkan air panas, kain bersih, makanan lembut."

"Bagus."

Hendry menekan ujung spidol ke lingkaran merah sampai tintanya melebar.

Di ruangan itu, semua orang melihat sesuatu berubah pada wajahnya.

Hendry biasanya dingin.

Malam ini dinginnya punya arah.

"Besok subuh," katanya, "kita serang. Satu jam. Satu target."

Ia mengangkat mata.

"Bintang Setiabudi tidak boleh hidup lewat dari besok."

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!