NovelToon NovelToon
Bai Anshu STORY.

Bai Anshu STORY.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.

Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?

Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?

Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?

Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Kabut tebal yang melayang rendah diatas desa Huanshan malam tadi, tidak terburu-buru untuk pergi. Ia masih betah menyelimuti hamparan pepohonan dan memeluk atap-atap jerami rumah warga. Menyembunyikan desa itu dalam bungkus kedamaian yang pekat.

Diatas sana, langit subuh perlahan berubah warna. Dari hitam legam menjadi biru tua kelam, menyisakan satu dua bintang yang berkedip malas.

Suara binatang malam perlahan menghilang, mata setiap insan terbuka lebar. Meski enggan karena sisa hujan yang membalut tulang, namun perut tak bisa menunggu lapar.

Bersama keranjang punggung yang penuh terisi sabun, Bai Anshu dan Bai Hanzi, pergi kekota Tiankeng.

Awalnya Bai Dashan ingin menemani, namun banyak urusan rumah yang membutuhkan tenaganya untuk menangani.

Saat menuju gerbang desa, dimana gerobak Pei Dayan menunggu. Kakak beradik itu bertemu nenek Pan dan cucu ketiganya yang ingin menjual manisan Haw kekota.

Ada pula bibi Zhao, ia mendorong gerobak kecil menuju dermaga guna berdagang jeroan babi rebus.

Bibi Chan dengan gerobak mienya.

Paman dan bibi Yu bersama panekuk kucai telur.

Kakek dan nenek Su, dengan wowotou ikan.

Sekelompok pemuda yang menggendong keranjang berisi tanaman herbal.

Membuat desa Huanshan jadi terlihat lebih hidup pagi ini.

Bai Anshu tersenyum senang melihat pemandangan manis itu. Wajah-wajah yang dulu kuyu kini bersinar berbinar.

Bukan cuma karena harapan baru, tapi juga efek mengkonsumsi sumur desa yang telah tercampur air suci.

Semua saling bertegur sapa penuh kehangatan.

Sesampainya dikota, matahari mulai merangkak naik menyinari cakrawala. Keramaian beragam aktifitas tumpah ruah memadati jalan raya serta seluruh bangunan disetiap sisinya.

Kakak beradik Bai menuju menara Yuehou, toko yang menjual produk kecantikan serta perawatan tubuh.

Terlihat dari luar, menara Yuehou sudah banyak didatangi customer berpakaian brokat mewah.

"Selamat datang di Yuehou..!" seru pelayan yang berdiri didekat pintu dengan ramah.

"Salam nona...!" balas Anshu dan Hanzi sopan.

"Adik, apa yang kali----

"Meng-meng...!" teriak tajam dari dalam toko, mengagetkan gadis pelayan, kedua kakak beradik dan beberapa pelanggan.

Disana, berdiri seorang wanita berusia kisaran tiga puluh tahunan berwajah judes. Memandang sengit pada pelayannya.

"Nyonya besar...!" gadis pelayan membungkuk takut.

"Apa yang kau lakukan..? bukannya melayani pembeli, malah berbicara dengan pengemis begitu."

Para customer yang rata-rata nona muda kaya, sontak saja menatap Anshu dan Hanzi dengan sinaran mencibir.

Sandal jerami berlumpur, pakaian katun kasar, keranjang bambu yang ditutupi linen murahan, menjadi bahan gunjingan.

"Nyonya besar, mereka ini mungkin ingin membeli sesuatu. Oleh----

"Apa kau buta..?" potong pemilik toko.

"Lihat penampilan mereka. Jangankan membeli barang-barang Yuehou yang berharga mahal, untuk satu roti kosong saja mereka belum tentu mampu."

Hanzi mengepalkan tinjunya, sementara Anshu menatap cengo pemilik toko.

"Nyonya besar, maaf mengganggu waktumu yang berharga. Kami kemari memang tidak ingin membeli apa pun, tapi kami----

Ledakan tawa meledek serta dengusan jijik, memaksa Bai Anshu menelan kembali kata-katanya.

"Kau dengar, mereka tidak mau membeli apa pun. Cepat usir para pengemis itu, jangan sampai bau busuk mereka mengotori tempat ini."

Gadis pelayan memandang nanar Anshu dan Hanzi. Ia berbisik sedih meminta maaf, sebelum mempersilahkan mereka keluar.

Anshu menghela nafas, menarik Hanzi pergi guna menuju kelokasi yang lain.

Berjarak sekitar seribu langkah, ada toko Yishi, target Anshu berikutnya.

"Selamat datang...!" seruan ramah dari pelayan toko.

Namun saat melihat penampilan dua bersaudara Bai, senyum cerah bak mentari dimusim semi itu luntur menghilang.

"Salam nona...!" ucap Anshu menunduk sopan.

"Kalau hanya ingin melihat-lihat, jangan menyentuh apa pun. Barang-barang ditoko ini berharga mahal." ketus pelayan toko.

"Nona, bisakah kami bertemu dengan pemilik tempat ini..? ada yang ingin kami tawarkan."

Pelayan toko yang sedang merias wajahnya didepan cermin perunggu, langsung mendelik garang.

"Tuanku sedang sibuk, tidak memiliki waktu meladeni kalian. Lagi pula apa yang dimiliki orang miskin seperti kalian..?"

Bai Anshu menghela nafas berat, kenapa banyak sekali orang sombong didunia ini.

"Nona, kami---

"Sejak kapan menara Yishi memperbolehkan pengemis masuk..?" ucap menghina seorang nona muda berpakaian sutra, menguliti penampilan kakak beradik Bai.

Pelayan toko buru-buru berdiri, menyambut tamu agung mereka.

"Nona muda Yang, selamat datang..!"

Gadis kaya itu melirik sengit, mengajungkan jarinya pada Anshu dan Hanzi.

"Aku tidak mau berbelanja, dan menjadi langganan tempat ini lagi jika mereka masih ada disini."

"Ah, maaf untuk ketidak nyamanan nona muda. Kami akan segera mengurusnya."

Pelayan toko berbalik, mendelik garang pada dua bersaudara.

"Kalian sudah menyinggung nona muda Yang, cepat pergi dari sini, sebelum aku memanggil penjaga untuk melempar kalian keluar."

Bai Anshu memandang nona muda Yang dan pelayan toko bergantian, sebelum menggandeng tangan sang adik lelaki.

"Kakak, bagaimana sekarang..? apa sabun kita tidak bisa menghasilkan uang..?" tanya meringis sedih Hanzi.

Bai Anshu tersenyum, mengusap kepala sang adik penuh kasih.

"Jangan patah semangat, anggap saja kita sedang bersenang-senang. Bukankah latihan beladiri saja menyakitkan..? tapi coba rasakan bagaimana hasilnya."

Bai Hanzi berpikir sejenak, lalu tersenyum lebar. Ia mengerti akan apa makna dari perkataan sang kakak.

Toko ketiga, kali ini dua bersaudara berhadapan langsung dengan pemiliknya, seorang pria empat puluhan bertubuh tambun.

"Salam tuan besar..!"

Wajah garang dihunuskan, tatapan menghina kembali dua bersaudara dapatkan.

"Pergi dari sini, jangan kotori tempatku..!"

"Tuan besar, kami ingin menawarkan----

BRAK

Pemilik toko menampar meja, berdiri galak berkancah pinggang.

"Pergi, jangan merusak reputasi tokoku yang berharga."

Anshu menggaruk kepalanya gemas, ia mencoba untuk tetap ramah tersenyum.

"Tuan----

"Penjaga, usir mereka...!"

Dua pria kekar muncul, menarik kasar pinggiran keranjang Anshu dan Hanzi.

"Hei, lepaskan adikku..!" teriak Anshu.

Tubuh keduanya terseret mundur, terseok-seok menyeimbangkan langkah.

"Lepas, atau aku akan membuat kalian menyesal." pekik arogan Anshu.

Dua bodyguard terbahak "dasar bocah sinting, memangnya apa yang bisa kau lakukan..?"

BRUG

Hanzi jatuh ketanah, sabun berhamburan keluar.

Kalau Anshu, ia masih bisa menahan keseimbangan saat tubuhnya dilempar. Hanya keranjangnya saja sedikit terkoyak, sementara raganya tetap tegap berdiri.

Mendengar keributan, banyak pengguna jalan yang menghentikan kesibukan mereka guna menonton keseruan.

Anshu mengeram, memandang marah pada dua penjaga sebelum membantu Hanzi berdiri.

"Apa ada yang terluka..? dimana yang sakit..?" tanya cemas Anshu.

Hanzi menggeleng "tidak ada, aku sedikit menahannya tadi." bisiknya.

"Kumpulkan sabunnya, aku akan mengurus mereka."

"Baik..!"

Bai Anshu melepaskan keranjang dipunggungnya, menyerahkan pada sang adik. Ia berbalik, menantang bengis dua penjaga toko.

"Bocah kurang ajar, beraninya kau menatapku seperti itu..?" tunjuk salah satu pria kekar.

"Cepat minta maaf pada adikku, sebelum aku membuat kalian berteriak malu." ucap Anshu berani.

"Sialan, keparat, kau mau mati..?"

Anshu berdecih "memangnya kalian memiliki kemampuan untuk itu..?"

"Kurang ajar, bajingan, rasakan ini..!"

1
SENJA
mantabs lah nambah pekerja terus 👌
Erna Fkpg
tetap semangat thor dan terimakasih untuk upnya 😘😘😘
Datu Zahra
tumben banyak typo thor...?
Delia ATA: Sudah direvisi ya kak 🫰

Terimakasih sudah mengoreksinya.
total 1 replies
Datu Zahra
Aku juga beruntung karena dapat bacaan keren dan seru lagi 🤩
Erna Fkpg
keberuntungan keluarga bai dan Chen dan seluruh desa
Dewisiregar
up thor yang banyak, tambah seru ceritanya💪🙏👍
Maria Lina
kok 2 thor kmrin 3 bab kurang ni
vipp
semangat thor
Rai Gojess
lagi thor, kenapa ceritamu ini best sekali, koin ku sdh habis, belum top up..tunggu ya aku top up
SENJA
mantabs maju terus bisnis sabun 👌
Datu Zahra
Kurang kak 🤪
SENJA
buseh bisnis baru lagi
Datu Zahra
Selama ada air suci, apa pun paati menghasilkan banyak dan enak
Datu Zahra
Murong Canfeng jpdohnya Anshu kek'y 🤭
SENJA
songong sih lu padab🤣
Fauziah Daud
trusemangattt... seru
Chen Nadari
mantulll Thorr
Dewiendahsetiowati
kayak dikit deh authornya nulis,apa ceritanya bagus jadi gak sadar sudah habis bacanya😭😭
SENJA
bagus jangan kasih kendor
Erna Fkpg
nah kan nyesel dikasih bisnis besaralah meremehkan karena pakaian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!