NovelToon NovelToon
Benih Sang Mafia

Benih Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Aksi / Drama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸

Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.

Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.

"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Azalea terjatuh ke lantai dengan sangat keras, perutnya terbentur keras ke permukaan lantai yang dingin. Belum sempat Daxon bereaksi, Valeria sudah mencabut pisau kecil yang ia sembunyikan di balik gaunnya, matanya melotot penuh kebencian sambil mengangkat tangannya hendak menusuk tepat ke arah perut Azalea.

"Dasar perusak kebahagiaanku! Pergilah kau dari dunia ini!" teriak Valeria histeris.

Namun Daxon bergerak lebih cepat dari kilat. Dengan satu gerakan tangannya, ia menepis keras lengan Valeria sekaligus mendorong tubuh wanita itu hingga terhuyung dan jatuh tersungkur ke lantai. Pisau yang dipegangnya terlempar jauh ke sisi ruangan, bergemerincing terdengar jelas.

Sementara itu, Azalea meringis kesakitan hebat. Rasa nyeri yang menusuk tajam terasa di seluruh bagian perutnya, membuat air matanya mengalir deras tanpa henti. Ia memegang perutnya erat‑erat sambil menggigil, suaranya terdengar parau dan bergetar.

"Sakit... Daxon... perutku sangat sakit..."

Melihat kondisi Azalea yang tergolek lemah sambil menangis kesakitan, serta niat membunuh yang baru saja dilakukan Valeria, amarah Daxon meledak melebihi batas. Wajahnya berubah seketika menjadi mengerikan, matanya memerah dipenuhi kemarahan yang membara—sangat berbeda dari sosok yang dingin biasa. Ia membungkuk sejenak untuk mengangkat tubuh Azalea dengan sangat hati‑hati, lalu menatap Valeria dan juga Ratna, Tuan Ardi, dan ibunya sendiri, dengan pandangan yang seolah ingin membunuh mereka di tempat.

Suaranya terdengar rendah, bergetar menahan amarah yang meluap, dan cukup keras untuk didengar semua orang di ruangan itu:

"Berani sekali kau menyentuhnya... Bahkan berniat melukai anak yang dikandungnya. Mulai detik ini, aku pastikan hidup kalian tidak akan pernah tenang lagi. Keluarga Pradana tidak akan pernah ada lagi dalam daftar mitra kerjaku, dan kalian akan menanggung semua akibat perbuatan ini." tegas Daxon.

Tangan Daxon terasa gemetar karena marah sekaligus ketakutan melihat kondisi Azalea yang makin lemah di gendongannya. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera bergegas keluar dari ruangan itu, teriakan khawatirnya memanggil sopir agar segera menyiapkan mobil untuk membawa Azalea ke rumah sakit secepatnya.

Daxon menggendong tubuh Azalea dengan sekuat tenaga namun sangat hati‑hati, seolah memegang benda paling rapuh di dunia. Wajahnya pucat, dahinya membasahi keringat dingin—bukan karena lelah, melainkan karena rasa takut dan marah yang bercampur menjadi satu.

Azalea masih terus merintih kesakitan, tangannya erat mencengkeram perutnya yang terasa nyeri menusuk sampai ke punggung. Air matanya terus mengalir tanpa henti, suaranya terdengar lemah dan terputus‑putus

"Daxon... Sakit sekali... Aku tidak sanggup lagi... "

Suara itu seperti pisau yang menikam langsung ke hati Daxon. Ia mempercepat langkahnya, namun tetap menjaga agar tubuh Azalea tidak terguncang terlalu keras.

"Tenanglah. Kita segera sampai ke rumah sakit. Kalian berdua akan baik‑baik saja, percayalah padaku," jawab Daxon dengan suara yang bergetar, berusaha terdengar tenang meski hatinya sedang kacau balau.

Begitu sampai di luar, sopir sudah membukakan pintu mobil lebar‑lebar. Daxon duduk di kursi belakang sambil tetap memeluk Azalea di pangkuannya, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya agar lebih stabil.

"Jalankan secepat mungkin, tapi hati‑hati! Jangan sampai ada guncangan berlebih!" perintah Daxon dengan nada menggelegar yang membuat sopir langsung menekan gas dengan kecepatan aman namun secepat yang ia bisa.

Di dalam mobil, suasana terasa mencekam. Daxon terus mengusap kening dan punggung Azalea dengan lembut, berusaha menenangkannya. Sesekali ia mengecek napas gadis itu yang terasa makin lemah.

"Kuatlah sedikit lagi, Azalea. Sebentar lagi sampai. Jangan pikirkan apa pun, fokus saja pada napasmu," ucapnya berulang kali, berusaha menahan rasa panik yang mulai menguasai dirinya.

Azalea hanya bisa mengangguk lemah, matanya mulai terasa berat karena rasa sakit yang menyiksa. Sesekali ia menggeliat kecil sambil merintih, membuat jantung Daxon terasa dicengkeram erat. Dalam hatinya, ia terus mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi Azalea lebih cepat, sekaligus berjanji—jika sesuatu terjadi pada Azalea atau anaknya, ia tidak akan membiarkan Valeria dan keluarganya hidup tenang selamanya.

Mobil melaju membelah jalanan kota dengan lampu utama menyala terang, menuju rumah sakit terbaik yang sudah Daxon hubungi sebelumnya agar tim dokter dan ruangan siap menyambut kedatangan mereka.

...****************...

Begitu mobil berhenti tepat di depan pintu gawat darurat, Daxon sudah turun lebih dulu dan langsung menggendong Azalea tanpa menunggu bantuan orang lain. Wajahnya masih tegang, matanya memerah karena campuran rasa takut dan amarah yang belum sepenuhnya mereda.

Segera saja petugas medis dan perawat yang sudah disiapkan menunggu dengan tandu. Mereka segera mendekat, tapi Daxon tetap memegang tubuh Azalea dengan hati‑hati sebelum memindahkannya ke atas tandu.

"Segera tangani dia! Dia sedang hamil dan baru saja terbentur keras di perutnya!" bentak Daxon dengan suara tinggi namun penuh kekhawatiran, membuat seluruh petugas segera bergerak sigap.

Azalea masih tergolek lemah, wajahnya pucat pasi seperti kertas, keringat dingin membasahi seluruh dahi dan lehernya. Tangannya masih mencengkeram perutnya erat sambil sesekali merintih pelan, matanya setengah terpejam menahan rasa sakit yang luar biasa.

"Anakku... tolong selamatkan anakku..." gumamnya lirih, hampir tak terdengar.

Daxon berjalan terus mengiringi tandu itu sampai masuk ke ruang pemeriksaan. Ia berusaha ikut masuk, tapi dihalangi oleh seorang perawat dengan sopan.

"Tuan, harap tunggu di luar sebentar. Kami akan memeriksa kondisi ibu dan janinnya terlebih dahulu." ucap perawat.

"Tidak! Aku mau tetap di sisinya!" bantah Daxon dengan nada tinggi, tapi saat melihat Azalea menoleh padanya dengan tatapan memohon, ia menghela napas panjang dan menahan diri.

"Baiklah... tapi katakan padaku apa pun yang terjadi. Jangan sembunyikan apa‑apa," ucapnya akhirnya, lalu membiarkan pintu ruangan tertutup di depannya.

Begitu sendirian di lorong, Daxon langsung menepuk dinding dengan keras. Amarah dan rasa bersalah meledak di dadanya. Ia berjalan mondar‑mandir dengan langkah gelisah, tangannya mengepal erat sampai buku jarinya memutih.

"Kenapa aku lengah? Kenapa aku membiarkan dia terluka? Jika sesuatu terjadi pada Azalea atau anakku, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, apalagi mereka yang berani melakukannya..." batinnya bergemuruh, bayangan wajah Valeria yang ingin membunuh Azalea.

Beberapa menit terasa seperti berjam‑jam bagi Daxon, jantungnya berdegup kencang menunggu kabar. Ia sudah tidak peduli lagi dengan pesta, reputasi, atau urusan bisnis—yang ada di pikirannya hanya satu, keselamatan wanita dan anak yang paling ia cintai.

Setelah menunggu terasa sangat lama, pintu ruang pemeriksaan akhirnya terbuka. Seorang dokter spesialis kandungan keluar dengan wajah yang tenang namun serius, segera menghadap Daxon yang langsung melangkah mendekat dengan napas tertahan.

"Bagaimana keadaannya? Bagaimana Azalea dan anakku?" tanya Daxon dengan suara bergetar, matanya menatap tajam penuh kekhawatiran.​

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Mia Camelia
semoga azalea dan anak nya selamat yaa😔
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
Mia Camelia
iiihhh...dasar ulat bulu jahat valeria, awas klo sampe azalea kenapa2, daxon siap beraksi🤣
Mia Camelia
ya ampun daxon posesif juga yaa😄
Mia Camelia
ciee..daxon terpesonaa juga🥰🥰🥰
Mia Camelia
hahaaha semua takut syaiton🤣🤣🤣
aldric paling penakut iiih🤣
Mia Camelia
azalea ngidam nya manja2 gitu,
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
Miu.Nuha
ahahaha betul
Miu.Nuha
nah loh, azalea sejujur itu apa nggak mengkeret itu ibu dn anak 😅
Miu.Nuha
ibu dn anak cantik dn modis juga ya 😅
Mia Camelia
daxon sweet banget sih🥰🥰🥰
lanjut thor😄
ɴs_sᴀᴘᴜᴛʀɪ✍︎: oke kak
total 1 replies
Risa Virgo Always Beau
Daxon mematung karena ulah berani kamu Azalea
Risa Virgo Always Beau
Daxon cemas banget memikirkan Azalea yang ada di rumah
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Azalea bohong ya bilang dia punya kekasih
Risa Virgo Always Beau
Sepertinya Azalea hamil ya sampai mual gitu
Risa Virgo Always Beau
Azalea kamu setelah melakukan hubungan badan dengan Daxon langsung mau beli cimol ngga istirahat dulu
Risa Virgo Always Beau
Daxon sepertinya cemburu setelah Azalea menyebut kata kekasih
Risa Virgo Always Beau
Daxon menyuruh Azalea supaya akting jadi suami istri sungguhan di depan mamanya Daxon
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon sudah menyuruh Azalea untuk bersandiwara menjadi suami istri sungguhan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon menjadikan Azalea tameng buat hindari perjodohan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata setelah Azalea hamil dan melahirkan Daxon akan membuang Azalea kejam banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!