NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Dalam Dendam

Gelora Cinta Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: yourladysan

Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.

Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sekutu

Saat ini hanya Widitama yang paling memungkinkan untuk dijadikan sekutu. Meski ia adalah bagian dari keluarga Tedjakusuma, Amaia merasa pria itu punya tujuan tertentu. Satu-satunya jalan untuk membongkar semua rasa penasarannya, Amaia harus berada di atas perahu yang sama dengan seseorang. Widitama-lah yang tepat.

Namun, apa-apaan tindakan spontannya tadi malam? Dia mengecup pria itu dan di luar dugannya, Widitama membalas dengan ciuman intens. Karena terbawa suasana, Amaia membalasnya juga.

Pagi ini gadis bertubuh ramping itu duduk di depan meja rias. Wajahnya yang setengah mengantuk terlihat segar setelah dibasuh air dingin. Ia masih mengenakan piayama, rambutnya diikat cepol longgar, dan sejak tadi dia hanya termenung di depan cermin.

Sementara Widitama? Entahlah. Amaia tak tahu apa yang pria itu lakukan sepagi ini. Mungkin sudah berangkat ke kantor? Sejujurnya Amaia tak peduli.

"Tapi aku nggak bisa menyelidiki semuanya sendirian. Sebenarnya apa rencana Mas Widi?" gumam Amaia seraya menggigit bibir di depan cermin.

Enam bulan tak bertemu Widitama, enam bulan pula dia merasa sosok itu sudah lama seperti asing. Ia benar-benar tak banyak tahu tentangnya. Bagaimana kehidupan yang dijalaninya selama enam bulan? Amaia benar-benar tak memiliki bayangan sedikitpun. Selain Widitama menyibukkan diri dengan pekerjaan.

Sekarang apa yang tengah dia rencanakan?

"Oh, sudah bangun rupanya," tukas Widitama yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.

Amaia dibuat terkejut. Pria itu masih mengenakan setelan olahraga dan sepertinya dia baru kembali dari jogging.

"Kamu nggak ke kantor?" tanya Amaia. Nada bicaranya susah payah diatur seramah mungkin. Dia tak mau Widitama menganggapnya tak serius tentang ucapan kemarin; tentang dirinya yang ingin ikut semua kemauan Widitama.

Widitama menyeringai. "Jangan terlalu berusaha begitu."

"Maksud kamu?"

"Saya tau kamu sepakat untuk patuh, tapi saya nggak suka nada bicaramu yang pura-pura ramah itu." Sepasang mata Widitama mengamati Amaia dari ujung kaki hingga kepala. "Keluarlah! Saya akan membawamu ke rumah lama."

Kening Amaia mengernyit. "Mau ngapain?" Meski jengkel setengah mati karena ucapan Widitama yang selalu terkesan sarkas dan mengolok, tapi kali ini Amaia berusaha menahan diri.

Dia tak mau meledak-ledak atau Widitama bakal mencacinya. Jadi, lebih baik dia hadapi pria itu dengan tenang.

"Sudah, jangan tanya! Mandi dan ganti bajumu. Kamu kelihatan lesu, kelelahan, padahal semalam saya nggak ngapa-ngapain kamu," katanya.

Duh! Amaia ingin sekali menghajarnya. Tapi dia akhirnya menyunggingkan senyum.

Sebelum Amaia beranjak ke kamar mandi, Widitama mencegah langkah ya dengan berkata, "Kamu itu sebenarnya takut, tapi memaksa diri untuk berani."

"Maksud kamu?"

"Ya, semalam itu. Kamu terlalu berani untuk gadis penakut yang nggak mungkin bisa mencium pria duluan," kata Widitama seraya melipat kedua tangan di depan dada dan bersandar pada kisi pintu.

Amaia melotot jengkel sekaligus malu. Pagi-pagi sekali Widitama sudah membahas hal itu. Walaupun Amaia tahu, Widitama pasti tak akan tinggal diam setelah aksi nekatnya itu. Tapi Amaia tak menyangka sepagi ini ....

"I-itu karena aku punya ...." Amaia memberi jeda. Ia berpikir ulang untuk menceritakan tentang kebenciannya terhadap Denara.

"Saya nggak butuh penjelasan. Nggak peduli apa pun alasan kamu, yang saya pedulikan adalah mulai sekarang kamu sepakat untuk patuh pada saya. Apa pun yang saya inginkan, kamu akan melakukannya. Kalau saya punya rencana, kamu akan mematuhinya sesuai dengan cara saya," ucap Widitama karena Amaia berpikir terlalu lama.

Belum sempat Amaia menjawab, pria itu berlalu meninggalkannya.

*****

Rumah lama Widitama terletak cukup jauh dari apartemen dan lokasi kantor Tedjakusuma Property. Dulu Widitama seiring pulang ke sana, tapi Amaia baru tahu jika pria itu juga punya unit apartemen. Sepasang di sanalah Amaia, di rumah lama suaminya.

Setelah disambut oleh asisten rumah tangga, Widitama mengajak Amaia naik le lantai dua. Beberapa minggu lalu, Amaia pernah bertandang ke sana, ke ruangan Widitama. Meski cukup penasaran tentang hal yang akan dilakukan suaminya, Amaia memilih diam. Dia mengekor saja. Enggan juga membuat keributan.

Amaia mengamati setiap sudut ruangan Widitama. Sebenarnya ruangan itu tidak terlalu penuh dengan furniture dan berkas-berkas pekerjaan. Mungkin karena Widitama menaruh semuanya di ruangan kerjanya di kantor dan apartemen. Namun, atensi Amaia tersita pada rak besar yang penuh dengan buku. Widitama berdiri di depannya, lalu menarik sebuah buku bersampul cokelat dan meletakkannya kembali.

Telapak tangan pria itu mendorong salah satu lemari sehingga terbuka seperti sebuah pintu. Amaia tertegun, tapi tak sedikitpun mengeluarkan isi pikiran. Widitama berhenti di depan rak yang sudah terbuka lebar. Anggaplah itu sebuah ruangan dengan pintu rak buku.

"Masuklah!" titah Widitama.

Amaia terlihat sangsi. Entah apa yang pria itu sembunyikan di balik sana. Entah apa yang akan dilakukannya di ruangan itu. Tak mungkin tersembunyi dunia lain sepert Narnia, 'kan? Aduh, konyol sekali.

"Mai Kecil?" Suara berat Widitama terdengar lagi. Kali ini ekspresinya datar saja karena Amaia tak merespons.

Cukup penasaran, Amaia membuang rasa takut. Dia melangkah memasuki ruangan. Begitu pula Widitama di belakannnya. Pintu rak buku itu tertutup sehingga lorong sempit yang mereka lalu berubah gelap. Widitama menyalakan senter dari handphone-nya.

Beberapa saat berikutnya, lorong itu membawa Amaia berhenti di ruangan yang agak pengap. Namun, pencahayaan di sana cukup untuk melihat seisi sudut ruangan.

Widitama melangkah duluan. Sementara Amaia terpaku di tempat. Masih tak menyangka ada ruangan bawah tanah di rumah lama Widitama. Seperti di film-film saja, pikirnya. Amaia yakin, Widitama sudah lama mengatur semuanya.

"Kenapa diam di situ? Kamu berpikir untuk membatalkan kesepakatan?" tanya Widitama dengan nada super sarkas saat menggelung lengan kemejanya sampai sebatas siku. "Kamu nggak mau bersekutu dengan saya? Ah, atau setelah ini mau melapor ke Ferdian Tedjakusuma?"

Cara Widitama menyebut ayahnya sendiri membuat Amaia merasakan ada keganjilan. Pria itu terdengar sedikit marah.

Amaia melangkah. "Kurang-kurangin berpikir yang tidak-tidak tentang orang lain? Dan jangan sembarangan mengambil kesimpulan."

"Nada bicaramu ini ...." Widitama berdecak. "Sudahlah tak penting."

"Jadi, apa yang akan kita lakukan di sini?"

Widitama mengenakan kacamata berbingkai tipis saat berbalik menatap Amaia. "Bagaimana kalau kita bercumbu, melebihi yang semalam itu?"

"Mas!" Amaia menghela napas. Lagi-lagi pria itu berhasil membuatnya emosi. "Aku serius."

"Baiklah. Santai saja."

Widitama terkekeh dan begitu menyebalkan di telinga Amaia. Ia melihat pria itu berjalan ke arah kain besar yang menutupi sebuah benda berbentuk segi empat. Amaia menebak itu sebuah papan. Dengan satu gerakan lihai, Widitama menarik kain tersebut sehingga terlihat sebuah papan kaca transparan dengan berbagai foto dan garis-garis yang saling menghubungkan foto tersebut.

Tepat di tempatnya, Amaia tertegun kaget. Benar-benar seperti di film pembalasan dendam, pikirnya. Ia maju untuk melihat foto-foto di sana. Ada beberapa yang tak dikenalnya. Ada foto Ferdian, Sasti, Rakha, Denara, bahkan foto Atika dan mendiang Erwin.

"Apa ini?" gumam Amaia tak percaya.

"Rencana saya."

Amaia mendongak pada Widitama. Tatapan matanya terlihat sangat menginginkan penjelasan. Namun, Widitama bergerak lebih dekat ke depan foto seseorang. Amaia mengikuti arah tatapannya dan itu adalah foto Ferdian Tedjakusuma.

Sebenarnya apa yang orang ini rencanakan?

Seolah bisa membaca isi pikirannya, Amaia terkejut saat pria itu berkata, "Saya ingin menghancurkan Ferdian Tedjakusuma, Mai Kecil."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!