NovelToon NovelToon
Figuran Yang Polos

Figuran Yang Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
​Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Siang itu, lobi utama gedung Elion yang megah tampak lebih tegang dari biasanya saat Marco De Luca melangkah masuk. Pria yang biasanya dikenal arogan dan keras kepala itu kini berjalan dengan bahu yang sedikit membungkuk dan langkah kaki yang sangat hati-hati. Kontras yang luar biasa terlihat jelas; jika di rumah atau di depan kolega lain ia adalah penguasa, di hadapan nama Elion, ia hanyalah seorang pria yang sedang mempertaruhkan nasib keluarganya.

​Setelah melewati pemeriksaan ketat, Marco akhirnya dipersilakan masuk ke ruangan Axel di lantai 50.

​Axel duduk di kursi kebesarannya, tidak menatap Marco sedikit pun, jemarinya sibuk membolak-balik dokumen penting. Atmosfer di ruangan itu begitu dingin hingga Marco merasa sulit untuk bernapas.

​"Tuan Axel," suara Marco terdengar rendah, hampir seperti bisikan yang sangat sopan. "Terima kasih sudah bersedia menerima saya di tengah kesibukan Anda."

​Axel meletakkan pulpennya, lalu mengangkat pandangannya. Mata tajamnya seolah bisa menembus tengkorak Marco. "Kau tahu kenapa aku menarik dukungan dari perusahaanmu, Marco?"

​Marco menelan ludah dengan susah payah. "Saya... saya menduga ini terkait dengan laporan penggelapan pajak di anak perusahaan konstruksi kami, Tuan."

​"Bukan hanya itu," sela Axel dengan nada datar namun mematikan. "Kau membiarkan orang-orangmu bermain di pasar gelap menggunakan nama keluarga Elion untuk menekan vendor kecil. Aku tidak suka namaku dikaitkan dengan cara-cara kotor yang tidak efisien. Itu adalah kesalahan fatal."

​Wajah Marco memucat. Ia tahu Axel sangat menjunjung tinggi integritas—atau setidaknya, efisiensi absolut tanpa skandal. "Saya benar-benar minta maaf, Tuan Axel. Itu adalah kelalaian saya dalam mengawasi bawahan. Saya berjanji akan membereskan semuanya hari ini juga."

​Hening tercipta selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya bagi Marco. Axel kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi.

​"Satu kesempatan," ucap Axel dingin. "Aku akan memberikan satu kesempatan terakhir. Kembalikan semua kerugian vendor tersebut dan bersihkan namamu dalam waktu 24 jam. Jika gagal, De Luca tidak akan pernah melihat satu sen pun dari Elion lagi, selamanya."

​Mata Marco seketika berbinar penuh rasa syukur. Meski tuntutan itu sangat berat, setidaknya ada harapan. "Terima kasih, Tuan Axel! Terima kasih banyak! Saya tidak akan mengecewakan Anda kali ini. Saya bersumpah."

​Marco segera membungkuk dalam dan melangkah keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk antara takut dan lega yang luar biasa. Baginya, satu kesempatan dari seorang Axel Van Elion adalah mukjizat yang tidak boleh disia-siakan.

Setelah Marco De Luca meninggalkan ruangan dengan langkah terburu-buru, Jigar menutup pintu rapat-rapat. Ia berdiri sejenak, menatap tuannya yang kembali fokus pada layar monitor dengan wajah tanpa ekspresi.

​Sebagai orang yang telah bertahun-tahun mendampingi Axel, Jigar tahu betul bahwa "kesempatan kedua" adalah kosa kata yang tidak pernah ada dalam kamus seorang Axel Van Elion.

​"Tuan," panggil Jigar dengan nada ragu. "Boleh saya bertanya satu hal?"

​Axel hanya bergumam pelan tanpa mengalihkan pandangannya, memberi kode agar asistennya itu melanjutkan.

​"Kenapa Anda memberikan Marco kesempatan?" tanya Jigar hati-hati. "Selama ini, siapapun yang melakukan kesalahan fatal apalagi mencatut nama Elion, biasanya akan langsung Anda habisi tanpa sisa. Marco De Luca bukan pengecualian yang seharusnya mendapatkan kemurahan hati Anda."

​Axel menghentikan gerakan jemarinya di atas meja. Ia menyandarkan punggungnya, lalu menyesap kopi hitamnya dengan gerakan yang sangat tenang namun memancarkan aura berbahaya.

​"Memberi kesempatan bukan berarti aku memaafkannya, Jigar," jawab Axel dengan suara dingin yang sanggup membekukan suasana ruangan.

​Ia menatap lurus ke arah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota dari lantai 50. "Menghancurkan seseorang saat mereka sedang terjatuh itu terlalu mudah. Tidak ada seninya."

​Axel tersenyum tipis—sebuah senyuman yang lebih mirip seringai predator. "Aku ingin dia merangkak naik kembali. Aku ingin dia merasa aman dan berpikir bahwa dia telah berhasil menyelamatkan kerajaannya. Dan tepat saat dia berada di puncak harapannya..."

​Axel mengepalkan tangannya perlahan di atas meja. "...di situlah aku akan menarik semua pijakannya secara serentak. Rasa sakit saat jatuh dari tempat yang tinggi akan jauh lebih mematikan bagi keluarga De Luca daripada hancur sekarang."

​Jigar terdiam, merasakan tengkuknya meremang. Ia menyadari bahwa Axel tidak sedang memberikan napas buatan bagi De Luca, melainkan sedang menyiapkan panggung untuk eksekusi yang jauh lebih menyakitkan bagi siapa pun yang berani mengusik otoritas Elion.

Di pusat perbelanjaan paling mewah di kota, Anna, Jolina, dan Emma tampak asyik menelusuri deretan butik kelas atas. Anna tampak jauh lebih segar dengan rambut yang ia biarkan tergerai indah, menarik perhatian banyak orang yang berpapasan dengannya.

​"Anna! Coba lihat ini, kayaknya ini cocok banget buat kamu!" seru Jolina sambil menarik sebuah dress selutut berwarna soft pink dengan detail pita di bahunya.

​Emma mendekat dan menempelkan baju itu ke tubuh Anna. "Wah, gila! Ini bener-bener vibe-nya kayak karakter utama di manhwa kerajaan gitu, Na. Kamu kalau pakai ini pasti makin kayak boneka hidup!"

​Anna tertawa kecil, merasa sedikit malu dengan pujian berlebihan dari teman-temannya. "Apa tidak terlalu mencolok? Aku biasanya pakai yang lebih simpel," ucap Anna dengan suara lembutnya yang khas.

​"Nggak ada kata terlalu mencolok buat wajah secantik kamu, Anna!" bantah Emma sambil mengambil beberapa baju lain dan menyerahkannya ke pelukan Anna. "Pokoknya hari ini kita harus makeover lemari kamu. Lupakan baju-baju suram dari sekolah lama kamu itu!"

​Jolina mengangguk setuju sambil memilihkan sepasang sepatu yang serasi. "Iya, Na. Di sini kamu itu bintangnya. Oh iya, habis ini kita ke toko aksesori ya? Aku mau beliin kamu jepit rambut yang ada mutiaranya, pasti lucu banget di rambut kamu."

​"Kalian baik sekali," ucap Anna tulus. Ia merasa sangat bahagia karena untuk pertama kalinya, ia bisa berbelanja tanpa rasa takut atau tekanan, hanya ada tawa dan obrolan santai antar sahabat.

​"Ih, jangan melow gitu dong! Ayo buruan masuk ke fitting room, aku mau lihat hasilnya!" Jolina mendorong Anna pelan menuju ruang ganti.

​Sambil menunggu Anna berganti baju, Emma dan Jolina asyik berbisik-bisik merencanakan kunjungan ke kafe aesthetic setelah ini, sementara Anna di dalam ruang ganti tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin—merasa bahwa kehidupan barunya ini benar-benar sebuah anugerah yang indah.

Setelah puas menenteng banyak kantong belanjaan, Jolina dan Emma menarik Anna menuju sebuah kafe eksklusif yang berada di lantai teratas mall tersebut. Kafe itu memiliki interior berlapis emas dengan pemandangan kota yang luar biasa, tempat di mana hanya kalangan elit yang bisa mendapatkan meja.

​Saat mereka hampir sampai di pintu masuk, langkah Jolina tiba-tiba terhenti. Matanya tertuju pada sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir di area khusus VVIP tepat di depan lobi kafe.

​"Eh, tunggu sebentar," ujar Jolina sambil menyipitkan mata. "Itu kan mobil Paman Axel. Wah, kebetulan banget dia lagi di sini!"

​Anna yang mendengar nama itu langsung merasa tegang. Jantungnya berpacu lebih cepat, teringat kembali kejadian di dapur tadi malam yang masih menyisakan sensasi aneh di bibirnya. Namun, sebelum Anna sempat protes atau bersembunyi, Jolina sudah menarik tangannya masuk ke dalam kafe.

​Di pojok ruangan yang paling tenang, Axel terlihat sedang duduk bersama Jigar sambil menatap beberapa dokumen di tabletnya. Aura penguasanya begitu kuat, membuat pelanggan lain di sekitar sana tampak segan untuk sekadar menoleh.

​"Paman Axel!" seru Jolina dengan riang sambil melambaikan tangan, memecah ketenangan kafe tersebut.

​Axel mengangkat wajahnya dengan perlahan. Mata tajamnya yang dingin menyapu sosok Jolina, lalu Emma, dan akhirnya berhenti tepat pada Anna. Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik. Axel memperhatikan penampilan Anna yang kini memakai rok di atas paha dan kardigan manis sebuah pemandangan yang seketika membangkitkan ingatan tentang bagaimana gadis itu mendesah pelan di pelukannya semalam.

​"Jolina," sahut Axel dengan suara berat yang datar, namun matanya tetap tertuju pada Anna yang kini menunduk malu dengan pipi yang mulai merona merah.

​"Paman lagi makan siang ya? Kebetulan banget, kita juga baru selesai belanja. Boleh gabung kan?" tanya Jolina tanpa menyadari suasana canggung yang menyelimuti Anna dan pamannya.

​Axel terdiam sejenak, lalu memberikan kode pada Jigar untuk menyiapkan kursi tambahan. "Duduklah," ucapnya singkat, suaranya terdengar lebih dalam saat ia kembali menatap Anna yang masih enggan membalas tatapannya.

1
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
wahyu andria
suka karyanya. . .up yang bnyak thor
Teguh Aliyanto
up yg bnayak thorr jagan 1 satu aja
Teguh Aliyanto
semagat💪💪
Teguh Aliyanto
ug yg banyak thor😍😍
Teguh Aliyanto
lanjuth thorr😍
Teguh Aliyanto
lanjuttt🤭🤭
Teguh Aliyanto
lanjur thor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!