NovelToon NovelToon
FAKE LOVE MISSION

FAKE LOVE MISSION

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Xylona

Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.

Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.

Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.

Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 17

Suara tawa yang sejak tadi memenuhi rumah perlahan menghilang satu per satu bersama para tamu yang mulai pulang. Sisa aroma makanan dan potongan kue ulang tahun masih memenuhi ruang keluarga, sementara dekorasi sederhana yang dipasang sejak sore kini terlihat berantakan karena acara yang akhirnya selesai juga.

Aurora membantu membereskan piring kotor di dapur tanpa banyak bicara. Sejak hubungan mereka terbongkar beberapa hari lalu, suasana di antara dirinya dan Gama terasa jauh lebih canggung dibanding sebelumnya. Mereka masih saling bertemu, masih berada di tempat yang sama, tetapi seolah ada jarak tipis yang sengaja dipertahankan keduanya.

Namun saat ia hendak membawa nampan kosong menuju dapur belakang, langkahnya terhenti karena seseorang berdiri di ambang pintu.

Gama.

Gama masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung asal. Rambutnya sedikit berantakan setelah seharian sibuk membantu menyiapkan acara syukuran ulang tahun Arkan. Tetapi, ekspresinya tetap sama seperti biasa—tenang dan sulit ditebak.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik terlalu lama sebelum Aurora memalingkan wajah lebih dulu.

Gama bergerak mendekat pelan, mengambil nampan dari tangan Aurora tanpa meminta izin, lalu meletakkannya begitu saja di meja terdekat.

Aurora mengernyit kecil ingin protes kembali diam karna ingat mereka sedang berantem.

Gama berbalik badan menghadap Aurora ia memandang Aurora beberapa detik, sebelum melangkah pelan lebih dekat dengan Aurora dan berbisik pelan." Gue mau kita bicara berdua temui gue di halaman belakang."

Setelah Gama mengatakan kalimat tersebut Gama pergi dari hadapan Aurora menuju ke halaman belakang.

Aurora masih diam saja tidak bergerak sebelum ada seseorang yang membuatnya terkejut.

"Darr."

Aurora terlonjak kaget memukul tangan Elvano pelan.

"Kayaknya sehari aja kakak nggak ngagetin aku kayaknya nggak bisa!!." Sinis Aurora.

Elvano tertawa ngakak melihat raut wajah Aurora yang kesal.

"Ya lagian lo malah diem ngelamun di sini."

"Mikirin apa sih?." Tanya Elvano.

"Nggak mikirin apa apa." Elak Aurora.

"Bohong ya lo, lo nggak pinter bohong."

"Yaudah kalau nggak percaya." Cuek Aurora melengos pergi, sebelum Aurora melangkah ke arah halaman rumah bagian belakang Aurora di panggil ibunya.

Aurora memandang ke halaman belakang rumahnya di sana mungkin Gama sedang menunggunya. Tapi, biarlah ibunya mungkin ada hal penting yang ingin di sampaikan.

Elvano sedari tadi memperhatikan tingkah laku Aurora yang aneh karna terus melihat ke arah halaman belakang.

"Kenapa sih? ada apa di sana?." Tanya Elvano sambil jari telunjuk mengarah ke halaman belakang rumah Aurora.

Aurora menggeleng pelan melenggang pergi meninggalkan Elvano yang masih di landa penasaran yang tidak terpecahkan.

"Iya bu ada apa?."

Ibu Larasati memandang putri sulungnya." Sini Ra, ibu mau bilang kalau nanti nak Gama sama nak Elvano, mau pulang kasih bingkisan ini ya."

Aurora mengernyit bingung." Kenapa nggak ibu aja yang kasih ke mereka?."

"Ibu sekarang mau ke rumah kerabat ayahmu buat kasih bingkisan ke mereka, jadi ibu nggak bisa kasih ke temenmu langsung." Jelas Ibu Larasati.

Aurora menghela napas pelan," Iya."

"Yaudah ibu sama ayah berangkat dulu ya, jaga rumah."

Aurora mengangguk pelan menunggu sampai ibu dan ayahnya pergi meninggalkan perkarangan rumah.

Aurora kembali masuk ke dalam rumah dan melihat Arkan yang sedang leha leha di rumah Tv sampai membuat Aurora naik pitam.

"Enak banget kayaknya ya, siapa yang ulang tahun siapa yang cape." Sindir Aurora melirik Arkan yang terlihat cuek.

Aurora mengepalkan tangannya melihat kiri kanan dan mendapati kaleng nabati yang sudah kosong, di lemparkannya ke arah Arkan sampai terdengar bunyi nyaring “PRANGGG”

Arkan terlonjak kaget sampai tubuhnya hampir melompat dari kursi yang sedang ia tiduri.

Mendelik sinis memandang Aurora yang terlihat marah wajahnya bahkan sudah merah padam.

Elvano yang berada di dapur sampai berlari terbirit birit mendengar kegaduhan yang terjadi di ruang TV.

"Apa sih lo?!." Kesal Arkan.

"Apa lo bilang hah?!! lo nggak liat ini kerjaan rumah belom beres!! dan lo malah leha leha di sini, dimana pikiran lo hah?!!."

"Bukannya bantuin beres beres." Lanjut Aurora yang sudah kelewat kesal yang tingkah adiknya.

"Ya bentar dong nanti juga gue bantuin." sergah Arkan.

"Alesan doang lo bentar bentar yang ada lo males malesan di sini."

"Gue juga bantuin ya dari tadi."

"Mana buktinya kalau lo bantuin, dari tadi yang gue liat lo cuman tiduran aja."

"Lo nggak malu apa sama kak Elvano sama kak Gama dia tamu di sini. Tapi, malah bantuin dari awal sampe beres beres nih rumah, ini yang punya acaranya malah males malesan."

Arkan yang terlanjur kesal dengan cerocosan kakanya menendang meja yang ada di dekatnya melangkah pergi ke perkarangan rumah depan.

Aurora melihat tingkah adiknya yang menyebalkan malah menendang meja, ingin kembali marah. Tapi, di tahan oleh Elvano.

"Udah, udah heh nggak akan selesai kalau cuman marah marah terus." Lerai Elvano menenangkan Aurora yang ingin kembali marah.

"Ayo beres beres lagi aja kerjaan kan masih ada yang belum beres."

Aurora menarik napas dan menghembuskannya terus berulang-ulang, supaya rasa marah yang masih menggerogoti hatinya hilang.

"Udah tenang?." Tanya Elvano.

Aurora mengangguk pelan.

Elvano kembali ke dapur karna pekerjaan mencuci piring kotor belum selesai.

Aurora yang membereskan ruang tamu meletakkan barang dengan rapi dan menggulung tikar yang tadi sudah di gunakan.

Dan Gama yang membersihkan di halaman belakang dekat gudang rumahnya sendiri.

Mereka membersihkan rumah dengan tugasnya masing-masing.

Saat sudah selesai dengan tugasnya Aurora, Arkan, Elvano, dan Gama berkumpul di ruang Tv sembari kaki di selonjorkan. Badan mereka yang penuh peluh keringat mengistirahatkan diri.

"Makasih ya kak Elvano dan kak Gama udah bantuin sampe beres beres rumah."

"Santai aja sih kayak sama siapa aja." Ujar Elvano santai.

Aurora melirik ke arah Gama ingin mendengar responnya, dan ya sudah seperti yang di harapkan Gama tidak akan menjawabnya sifatnya yang irit bicara tidak mudah di hilangkan.

Aurora juga merasa bersalah tidak menemui Gama di halaman belakang rumahnya, bukan tidak ingin menemui Gama. Aurora sedang sibuk sekali tadi rumah yang belum beres ayah ibunya pergi, dan dia tadi harus berdebat dulu dengan adik kurang ajarnya.

"Eh iya, baru nyadar kemana ibu sama ayah Ra." Tanya Elvano.

"Ayah sama ibu pergi dulu ke luar mau ke kerabat ayah buat nganterin bingkisan, mungkin pulangnya malem." Tukas Aurora.

Elvano mengangguk ngangguk mengerti suasana hening kembali, Gama yang fokus dengan handphone, Elvano yang fokus dengan Tv, dan Arkan yang sudah masuk ke kamarnya sendiri.

"Eh Ra, ini udah mau magrib gue pulang dulu ya."

"Gue juga mau pulang." Pamit Gama.

Aurora ikut berdiri mengambil bingkisan yang sudah di siapkan oleh ibunya tadi.

"Ini ibu tadi nyiapin buat kalian di terima ya." Aurora menyerahkan bingkisan tersebut ke arah mereka berdua.

Awalnya mereka menolak. Tapi, Aurora bersikeras memaksa mereka menerima bingkisan dari ibunya dengan ancaman ibunya akan merasa sedih atas penolakan dari mereka berdua.

1
Davina Aurora
bagus ka ceritanya😍
aurora: terima kasih☺
total 1 replies
T28J
hadiir kk🙏
aurora: terimakasih😊☺😍
total 1 replies
Wawan
Semangat ✍️
aurora: terimakasih 🤗🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!