Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: MINUS SATU
07:02:10
Vero tidak berteriak kali ini. Dia belajar dari kesalahannya. Berteriak hanya membuatnya terlihat seperti orang gila dan membuang waktu yang berharga.
Dia duduk diam, memaksa napasnya teratur dengan hitungan lambat. Satu, dua, tiga... tarik. Satu, dua, tiga... hembuskan.
Wanita tua di sebelahnya baru saja hendak membuka mulut untuk bertanya, "Mimpi buruk lagi?", tapi Vero mendahuluinya.
"Ya, Bu. Mimpi buruk sekali. Saya mimpi kereta ini meledak."
Wanita tua itu terdiam, mulutnya sedikit terbuka. Dia tampak bingung karena script dialognya dipotong. "Oh... amit-amit, Mas. Jangan ngomong sembarangan. Pamali."
Vero mengabaikannya. Matanya menatap tajam ke arah sambungan gerbong. Dia tahu di sana, terhalang oleh punggung seorang bapak-bapak yang sedang tidur, si Pria Jaket Hitam berdiri dengan bom di kakinya.
Vero melirik jam tangannya.
07:03.
Waktu menyusut.
Di Loop pertama, dia punya 60 menit.
Di Loop kedua, dia punya 59 menit.
Sekarang, dia hanya punya 58 menit—atau lebih tepatnya, 57 menit sekian detik.
Logikanya mulai bekerja membedah situasi.
Jika dia mati, dia kembali.
Jika dia gagal, waktu berkurang.
Itu artinya, dia tidak punya kesempatan tak terbatas. Infinity itu bohong. Pada akhirnya, dia akan bangun di pukul 07:59, hanya punya satu menit untuk berkedip sebelum terbakar menjadi abu.
Dia harus melakukan sesuatu yang drastis. Sesuatu yang pasti.
Di Loop kedua, dia mencoba mengkonfrontasi pelaku dan gagal karena dianggap kriminal.
Kali ini, dia harus memutus mata rantai kejadiannya.
Apa tujuannya? Pikir Vero. Meledakkan Stasiun Pusat.
Bagaimana jika kereta ini tidak pernah sampai ke Stasiun Pusat?
Ide itu sederhana, brutal, tapi masuk akal. Jika kereta berhenti di tengah jalan, jauh dari keramaian stasiun, mungkin dia bisa menyelamatkan ribuan orang di peron tujuan. Mungkin pelaku akan ragu meledakkannya di tempat sepi.
Vero berdiri. Dia merapikan kemejanya yang kusut. Dia tidak berlari kali ini. Dia berjalan dengan tenang namun cepat, menyelip di antara penumpang dengan efisiensi seorang pencopet.
Dia bergerak menuju dinding gerbong dekat pintu. Matanya mencari satu benda spesifik: Tuas Rem Darurat.
Biasanya tuas itu dilindungi kotak kaca atau plastik segel. Memutarnya akan menghentikan kereta secara paksa dan memicu alarm.
Vero sampai di depan kotak tuas itu. Seorang ibu muda yang menggendong bayi berdiri di depannya, menghalangi akses.
"Permisi, Bu," kata Vero pelan.
Ibu itu bergeser sedikit. "Silakan."
Vero menatap tuas merah itu. Jantungnya bergemuruh. Jika dia menarik ini, dia akan berurusan dengan hukum. Denda, penjara, mungkin dipecat dari kantor. Tapi semua itu tidak ada artinya jika dia mati 50 menit lagi.
Vero melirik jam. 07:15.
Kereta sedang melaju kencang di antara Stasiun Cawang dan Tebet. Jalur terbuka. Kiri kanan hanya perumahan kumuh dan bantaran sungai. Tempat yang jauh lebih baik untuk meledak daripada stasiun bawah tanah yang padat.
Maafkan aku, batin Vero pada seluruh penumpang.
Tangan Vero bergerak cepat. Dia memecahkan segel plastik dengan satu sentakan keras, lalu menarik tuas merah itu ke bawah sekuat tenaga.
CIIIITTTTT!
Suara decit logam beradu dengan logam terdengar memekakkan telinga.
Efeknya instan dan brutal. Kereta yang melaju dalam kecepatan 70 km/jam itu mengerem mendadak. Gaya inersia melempar seluruh penumpang ke arah depan.
"AAAAGHH!"
Tubuh-tubuh bertubrukan. Penumpang yang berdiri jatuh bergelimpangan seperti domino. Barang bawaan terlempar. Ibu muda di depan Vero nyaris terpelanting jika Vero tidak sigap menahan punggungnya.
Kereta berguncang hebat, roda-rodanya menjerit memercikkan bunga api di rel, sebelum akhirnya berhenti total dengan sentakan terakhir yang membuat leher sakit.
Hening sejenak. Lalu, kekacauan dimulai.
Tangisan bayi pecah. Umpatan kasar bersahutan.
"Siapa yang narik rem?!"
"Gila ya! Siapa tuh?!"
"Ada apa? Tabrakan?"
Vero berdiri tegak di samping tuas rem, napasnya memburu. Dia mengangkat kedua tangannya.
"SAYA!" teriak Vero lantang. "SAYA YANG MENARIKNYA!"
Semua mata tertuju padanya. Kemarahan, bukan ketakutan, terpancar dari wajah mereka.
"Mas gila ya?! Bahaya tau!" seorang pria kekar mendekat dengan tangan terkepal.
"Dengarkan dulu!" Vero mengangkat suaranya, mencoba menguasai situasi. "Ada teroris di kereta ini! Dia membawa bom di gerbong sebelah! Kalau kita sampai di Stasiun Pusat, kita semua mati!"
Hening lagi. Tapi kali ini, hening yang skeptis.
"Bom? Ngawur kamu," cibir pria kekar itu. "Kebanyakan nonton film!"
Namun, di tengah kerumunan yang marah itu, mata Vero menangkap pergerakan di gerbong sebelah. Pintu penyambung gerbong terbuka.
Pria Jaket Hitam itu muncul.
Wajahnya bukan lagi pucat. Wajahnya merah padam karena panik dan marah. Tas kanvas hijau itu masih dipeluknya erat. Dia tidak terjatuh saat pengereman mendadak tadi? Atau dia sudah siap?
"Kenapa berhenti?!" teriak Pria Jaket Hitam itu dengan suara melengking yang aneh. "Kenapa berhenti di sini?!"
Vero menunjuknya. "ITU DIA! DI DALAM TAS HIJAU ITU!"
Pria Jaket Hitam itu mundur selangkah. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan Vero.
Ada kilatan pengakuan di sana. Pria itu sadar rencananya—untuk meledakkan bom tepat di jantung stasiun—telah gagal karena kereta berhenti di antah berantah.
Tangan pria itu merogoh saku jaketnya. Dia mengeluarkan sebuah benda hitam kecil. Pemicu.
Vero membelalak. Tidak.
Dia bukan pakai timer. Dia pakai pemicu manual.
"JANGAN!" teriak Vero.
Pria Jaket Hitam itu menyeringai putus asa. "Kalau tidak bisa di stasiun... di sini pun jadi."
Vero menerjang maju, melompati tubuh penumpang yang masih terduduk di lantai. Dia harus mencapai pria itu sebelum jempolnya menekan tombol.
Jarak mereka lima meter.
Empat meter.
Vero melihat ibu jari pria itu turun.
Tiga met—
KLIK.
Dunia tidak menjadi putih kali ini. Dunia menjadi oranye dan merah.
Vero melihat api menyembur dari tas hijau itu, merobek kain kanvas, lalu merobek tubuh si pria jaket hitam, sebelum akhirnya gelombang panas itu menghantam wajahnya sendiri.
Pecahan logam, api, dan tekanan udara menghancurkan gerbong dalam sepersekian detik. Kesadaran Vero terputus bahkan sebelum rasa sakit sempat mengirim sinyal ke otaknya.
Sentakan kasar.
Vero terlonjak, kepalanya membentur sandaran kursi keras di belakangnya.
Napasnya tersengal, matanya liar mencari api. Mencari ledakan.
Tidak ada api.
Hanya dingin AC dan bau parfum murah.
"Stasiun Pusat. Pemberhentian terakhir Stasiun Pusat..."
Vero meremas rambutnya dengan frustrasi. Dia ingin berteriak, memukul sesuatu, menghancurkan jendela.
Rencana itu gagal. Menghentikan kereta justru memprovokasi pelaku untuk meledakkan bom lebih awal. Itu berarti, pelaku memiliki kendali penuh atas pemicu. Ini bukan sekadar bom waktu; ini bom bunuh diri yang aktif.
Vero menunduk ke arah pergelangan tangannya. Dia takut melihatnya. Dia benar-benar takut kali ini.
Jarum detik berdetak tanpa ampun.
07:03:05
"Sialan..." bisik Vero, air mata frustrasi menggenang di sudut matanya.
Dia kehilangan satu menit lagi.
Pola itu absolut. Tidak peduli dia mati jam 08:00 atau mati jam 07:15 karena meledakkan diri, Loop akan memotong waktu start-nya satu menit lebih lambat.
Vero menoleh ke samping. Wanita tua itu menatapnya bingung, mulutnya sedikit terbuka hendak bertanya.
"Jangan tanya," potong Vero dingin, tanpa menoleh. "Jangan tanya soal mimpi buruk."
Dia harus berpikir. Dia butuh sekutu. Dia tidak bisa melakukan ini sendirian. Menghentikan kereta gagal. Menyerang fisik gagal.
Dia butuh seseorang yang pintar. Seseorang yang bisa dipercaya. Seseorang yang mungkin akan mendengarkannya.
Mata Vero menyapu gerbong, melewati pelajar yang tidur, melewati bapak-bapak yang mengorok. Pandangannya berhenti pada seorang wanita muda yang duduk di seberang lorong, dua baris di depannya.
Wanita itu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dan celana jins. Rambutnya diikat kuda asal-asalan. Di pangkuannya, ada sebuah laptop terbuka dan buku catatan yang penuh coretan stenografi. Kartu pers menggantung terbalik di lehernya.
Seorang jurnalis. Atau reporter.
Orang yang bekerja mencari fakta. Orang yang terbiasa dengan cerita gila.
Vero melihat jam tangannya lagi.
07:04.
Dia punya 56 menit sebelum kiamat kecil ini terjadi lagi. Dia harus meyakinkan wanita itu dalam waktu kurang dari satu jam.
Vero bangkit berdiri. Kali ini, dia tidak akan menggunakan otot. Dia akan menggunakan informasi.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔