Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 17
“Apakah kami ketinggalan sesuatu?”
Suara itu mengejutkan Amelia dan Caelan. Caelan langsung berdiri sementara Amelia menggendong Emi kemudian ikut berdiri di sisi Caelan.
“Aku sebenarnya ingin mengumumkannya nanti, tapi karena sudah ketahuan sekalian saja,” ujar Caelan. Saat Caelan menatap Amelia meminta persetujuan, sesungguhnya Amelia ingin menggeleng. Namun, seperti kata Caelan, mereka sudah ketahuan, jadi untuk apa lagi disembunyikan.
Caelan merangkul bahu Amelia, kemudian membuat pengumuman, “Aku dan Amelia akan menikah.”
“Oh, benarkah?”
Anna terlihat senang mendengar kabar itu sehingga langsung memeluk Caelan.
“Mama sangat senang mendengarnya.”
Kemudian Anna memeluk Amelia. “Terima kasih sudah menerima Caelan. Selamat datang di keluarga kami.”
Simon melakukan hal yang sama, memeluk Caelan lalu memeluk Amelia. Namun, calon mertua Amelia itu tidak mengatakan apa-apa, hanya tersenyum dan mengangguk pada Amelia sehingga membuat Amelia berpikiran macam-macam. Namun, pikiran itu segera Amelia tepis sebab ada masalah lain yang lebih penting untuk dihadapi.
“Selamat bertunangan, Caelan. Tante tidak tahu kalau kau sudah punya pacar dan akan menikah.”
Seorang wanita anggun yang merupakan tamu Simon dan Anna malam itu bersuara dengan melengking. Dalam suaranya terdapat amarah yang mulanya tidak Amelia pahami.
“Tante Joan, maaf baru menyapamu,” ujar Caelan seraya memeluk dan mencium pipi wanita bernama Joan itu. Lalu Caelan menyapa lelaki yang datang bersama Joan, “Paman Daniel, senang bertemu denganmu.”
Setelah berjabat tangan dengan Daniel, Caelan menyapa wanita muda yang berdiri di belakang Joan dan Daniel. “Hai Clara, kapan kau pulang dari Paris?” Caelan hanya melambai pada Clara, lalu kembali ke sisi Amelia.
“Aku kembali minggu lalu setelah menyelesaikan mendapatkan gelar masterku. Aku berencana untuk menetap, tapi kemungkinan rencana itu harus dibatalkan.” Clara menjawab dengan mata yang memerhatikan Amelia.
Merasa penampilannya sedang dinilai, Amelia juga ikut melihat dirinya. Karena makan malam hari ini diadakan di rumah dan hanya dihadiri keluarga, Amelia mengenakan celana panjang bahan yang dipadukan blus. Keduanya berwarna cokelat gelap. Semenjak memiliki kewajiban menjaga Emi, Amelia memang memilih warna-warna gelap karena rentan kotor.
Kalau dibandingkan dengan Clara yang menggunakan gaun koktail berwarna marun dengan make up cantik dan tatanan rambut apik yang dipersiapkan dengan baik seperti hendak datang ke acara makan malam formal, penampilan Amelia memang terlihat biasa saja.
“Perkenalkan, ini Amelia, calon istriku,” ujar Caelan sambil merangkul Amelia. “Dan Amelia, perkenalkan ini Om Daniel, Tante Joan, dan anak mereka Clara. Om Daniel dan Tante Joan, teman baik keluarga kami, mereka juga tetangga kami, rumah yang di sebelah kiri.”
Amelia mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan ketiga tamu itu. Semua menyalami Amelia, tapi raut wajah mereka tidak terlihat ramah. Bahkan Joan dengan tegas menyebut Mrs. Weston ketika Amelia menyalami wanita itu.
“Kau memang pandai berahasia, Caelan. Bahkan orangtuamu tidak tahu kau punya calon istri.” Ucapan Joan menarik perhatian semua orang.
Amelia mengamati ekspresi Simon dan Anna yang terlihat serba salah setelah mendengar perkataan Joan.
“Sebenarnya, kami-“ Anna berusaha bicara, tapi Joan menyambar lebih dulu. “Kalian bahkan sudah punya anak.” Joan mendelik pada Amelia. “Anak muda zaman sekarang, punya anak dulu baru menikah, sudah melupakan tata krama.”
Tuduhan itu jelas ditujukan pada Amelia saja padahal untuk punya anak bukan hanya diperlukan satu wanita, tapi ada peran seorang pria juga di sana.
Amelia mencoba mengira-ngira alasan sikap tidak ramah yang ditujukan Joan padanya. Sepertinya, keberadaan Amelia malam ini tidak Joan harapkan, apalagi setelah pengumuman mendadak dari Caelan tadi. Jika dugaan Amelia benar, Joan dan keluarganya datang bukan untuk makan malam biasa, melainkan ada maksud lain yang sepertinya berhubungan dengan Caelan.
Melihat penampilan Clara yang sangat niat dan sikap Joan, sepertinya ada rencana perjodohan di sini. Clara sepertinya dirancang untuk menarik perhatian Caelan. Namun, yang menjadi pertanyaan Amelia apakah Anna dan Simon juga terlibat dalam hal ini?
“Kau salah paham, Joan,” ujar Anna. Wanita itu mendekati Amelia dan meminta Emi, jadi Amelia menyerahkan Emi. Kemudian Anna memamerkan Emi ke Joan. “Perkenalkan, ini cucu kami Emi, putri Henry.”
“Henry sudah punya anak? Bagaimana bisa, bukannya Henry sudah-“ Joan tidak menyelesaikan kalimatnya sebab dipotong oleh Daniel.
“Henry meninggalkan putri yang lucu untuk kalian.”
“Dia lucu sekali,” Clara menimpali.
“Kami baru mengetahui keberadaan Emi beberapa waktu lalu,” Anna menjelaskan. “Seperti yang kalian tahu, Henry tidak pernah memberitahu kami tentang hubungan asmaranya. Henry dan Olivia, kekasihnya, berpisah tanpa tahu kalau Olivia sedang hamil. Ketika Emi lahir, Henry sudah meninggal sehingga kami tidak mengetahui keberadaannya. Untung saja, Amelia datang dan memberitahu Caelan bahwa Henry meninggalkan seorang putri.” Anna tersenyum pada Amelia yang membalas ketulusan itu dengan senyuman.
Simon menambahkan, “Berkat Amelia, kami mengetahui keberadaan Emi. Kami sangat berterima kasih padanya.”
Perasaan Amelia terasa hangat ketika kedua orangtua Caelan membela dirinya di depan tamu mereka. Amelia merasa diterima dan rasanya bisa betah memiliki mertua yang begitu supportif.
“Jadi, Nona Amelia ini adalah …” Joan tidak terlihat tertarik pada Emi, fokus wanita itu hanyalah Amelia.
“Dia kakaknya Olivia,” jawab Caelan. “Dia datang ke kantorku dan memberitahukan keberadaan Emi sekitar enam bulan lalu.”
“Ah, kalian bertemu enam bulan lalu dan sekarang akan menikah,” ujar Joan. “Kalian menikah agar bisa membesarkan Emi bersama?”
“Tolong Tante Joan, jangan berkata seperti itu,” pinta Caelan. “Kau bisa membuat Amelia menolak lamaranku lagi.”
Joan, Daniel, dan Clara terkejut mendengar perkataan Caelan.
Clara tidak bisa menahan penasaran serta keterkejutannya sehingga langsung bertanya. “Ditolak? Dia berani menolak lamaranmu?”
“Ya, dia,” Caelan merangkul pinggang Amelia. “Namanya Amelia, wanita yang pertama kali kulamar dan pertama kali menolak lamaranku karena mengira aku ingin menikahinya karena Emi. Amelia baru menerima lamaranku tadi, sebelum kalian datang, setelah tahu aku benar-benar tulus padanya. Jadi, kumohon untuk tidak mengatakan hal-hal yang membuat Amelia menarik persetujuannya.” Caelan berkata panjang lebar. Membuat ketiga tamu itu bungkam.
“Sebaiknya, kita makan sekarang sebelum makanannya dingin.” Simon mengajak semua tamu ke ruang makan.
Anna mendekati Amelia dan berbisik. “Aku minta maaf.”
“Tidak apa-apa,” sahut Amelia. “Terima kasih sudah membelaku.”
Anna menepuk tangan Amelia dan berkata, “Sekali lagi kukatakan, selamat datang di keluarga kami.” Anna mencium pipi Amelia lalu mengajaknya masuk ke ruang makan. Seorang ART datang untuk mengambil Emi. Anna langsung menjelaskan kalau, ART itu orang kepercayaannya dan sudah terbiasa mengasuh bayi.
“Mari, Mrs. Harrison dan calon Mrs. Harrison, saatnya makan malam,” ucap Caelan sambil menggandeng Amelia dan Anna di kanan dan kiri.
“Boleh juga kau, Nak,” puji Anna.
“Sayang, mohon bersabar dengan Tante Joan. Terkadang dia memang agak menyebalkan,” bisik Caelan pada Amelia.