Zha Yongjin, seorang Pemimpin Bangsa Naga yang terlahir kembali menjadi seorang anak kecil dengan latar belakang yang tidak diketahui. Dengan bantuan seorang kakek asing yang ditemuinya di tempat random, ia pun membesar dan mencaritahu sendiri latar belakang asli dari tubuh yang dirasukinya ini.
~Karya ini terinspirasi dari komik favorit Author~
...______...
Untuk pengetahuan pembaca yang telah membaca novel Season 1 dan Season 2-nya, kini kedua season itu akan digabung dalam novel ini.
Author juga akan menambah beberapa perubahan dari alur, dialog, dan juga mungkin dalam karakter.
Sekian, maaf jika deskripsinya pelit, karena Author lagi malas mengetik.
Selamat menikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕱𝖑𝖔𝖜𝖊𝖗𝖅𝖞𝖗𝖊𝖓𝖊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Teman
Setelah itu, mereka jalan bersama ke suatu penginapan untuk tidur.
Yang lainnya sangat sibuk mencari penginapan, sementara Raon-jun dan Seok-jin hanya mengikuti sambil ngobrol.
Seru juga.
Sesampai di penginapan, mereka memesan 4 kamar. 1 untuk kedua wanita, 1 untuk para senior mereka, 1 kepada para pria tua itu dan 1 lagi untuk ketiga pemuda itu.
"Hah... Untuk beberapa hari ini aku hanya perlu menyamar..." batin Raon-jun, "Seonjak*, hantarkan surat ini kepada pengikut Klan Cheonjangdan."
^^^*Seonjak: Burung pengantar surat^^^
Gagak pengantar surat itu kemudian mengambil suratnya dan terbang ke lokasi.
Karena Seok-jin dan Hwan-jae sudah terlelap dalam tidur mereka, Raon-jun pun memanfaatkan waktu itu untuk keluar.
Bukan untuk kabur, tapi untuk melihat langit malam.
Ia keluar perlahan dari jendela, lalu duduk di atas atap dan berbaring. Menikmati suasana malam hari yang tenang.
Ia merasakan sesuatu yang seperti memijatnya dengan lembut.
Membuatnya semakin tenang dan rileks.
"Hm... Perasaan yang sudah lama tidak kurasakan..." pikirnya, menghela nafas pelas.
Ketenangan, kedamaian, serta cahaya yang dipantulkan bulan sangatlah menyenangkan.
Ia meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya, memejamkan mata dan menikmati malam itu dengan tenang.
Begitu ia memejamkan matanya, ia merasa seperti cahaya bulan itu bergerak.
Penasaran. Ia membuka kembali matanya, dan mendapati bahwa bulan itu baik-baik saja. Kedengaran seperti khawatir.
Curiga dan bingung, Raon-jun menatap bulan itu dengan sangat lama.
Memastikan apakah bulan itu akan bergerak atau tidak. "Ah, apa mungkin karena awan yang lewat ya?"
Rasanya lucu. Ia hanya menyeringai miring sebelum kembali menutup matanya.
Di pagi hari yang sunyi dan sepi, sekitar jam 5-6 pagi, Raon-jun sudah terbangun dari tidurnya.
Ia melamun sebentar menatap matahari terbit, lalu berdiri dan kembali masuk melalui jendela. "Tidak ada yang menerobos masuk 'kan?"
Setelah selesai mandi, ia turun ke bawah dan mendapati bahwa pemilih penginapan baru saja membuka penginapannya.
Menyadari kehadiran seseorang, ia tersenyum. "Selamat pagi. Maaf, saya bangun telat karena sibuk, saya akan segera menyiapkan sarapan-"
"Tidak usah. Saya akan cari makan sendiri sekalian senam pagi, sebaiknya anda istirahat dulu." balas Raon-jun.
"Ah, baiklah..." Raon-jun kemudian keluar dan mencari makan di pagi hari sendirian.
Ternyata, penduduk di sini bangun dalam jam tujuh atau delapan pagi.
Ia berjalan sendirian sambil celingukan untuk mencari toko yang sudah buka di pagi hari ini.
Sambil berjalan, ia merehatkan kepalanya dengan kedua tangan di belakang.
Lalu, begitu ia tidak sengaja tersentuh di bagian belakang lehernya. Ia tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa.
"Ow! Ck, apa yang barusan itu— AAAH!"
Dengan bodohnya, ia kembali mencoba untuk menekan bagian itu kembali dan merasakan sakit.
Itu untuk memastikan, tidak salah, bukan?
Ia berhenti di tengah kalan dan mencoba untuk menekannya sekali lagi, "Duh! Apa itu? Kenapa sakit sekali?"
Ia kemudian menoleh ke pantulan genangan air yang ada di jalan.
Untuk memastikan sumber dari rasa sakit itu, ia kemudian menaikkan rambut belakangnya untuk melihat lebih jelas.
"Eh? Apa itu? Apa aku keracunan makanan? Aku tidak pernah merasakan sesuatu yang menyentuh belakang leherku selain rambutku..." pikirnya.
Kelihatan sebuah tulisan yang bertuliskan sesuatu dengan bentuk setengah kepala iblis.
Ia mengernyitkan matanya dan mencoba untuk membaca tulisan itu lebih jelas.
악마
"Iblis?" matanya berkedip bengong karena tidak paham dengan apa yang dimaksudkan tanda Iblis itu.
"Loh? Perasaan aku orangnya baik tuh? Kok malah dicap iblis?" halu.
Ia terdiam sejenak, karena ini adalah yang pertama kalinya ia melihat tanda itu.
Setelah berdiri diam sejenak, ia kembali ke penginapan dan mendapati bahwa yang lainnya sudah bangun.
Melihat Seok-jin yang duduk bersendirian, Raon-jun berjalan mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
"Hm? Kenapa kau duduk di sebelahku?" tanya Seok-jin kebingungan, "Kita 'kan teman."
"..."
Melihat suasana yang hangat. Tiba-tiba saja semuanya kelihatan dekat.
Ketiga pria tua itu sudah akur dengan nenek dan senior-senior dari Sekte Buui Gyodan.
Sementara si wanita, telah jatuh cinta pada si tampan. Begitu juga dengan Raon-jun dan Seok-jin yang sudah berteman.
Padahal baru saja mereka bertengkar...
"Pssst, botak. Apa kau lihat tanda yang ada di belakang leherku?" tanya Raon-jun, berbisik ke Seok-jin.
"Hah? Tanda? Tanda apa?" tanya Seok-jin kembali.
Kemudian, Raon-jun menyingkirkan rambut di belakang lehernya agar Seok-jin bisa melihatnya.
"A-apa?... Kenapa kau memberitahuku? Kau tidak mempunyai niat untuk menyembunyikannya?' tanya Seok-jin, ia terlihat bingung.
"Memangnya kau tukang gosip?"
"Ah, benar juga... Nanti aku akan membantumu mencari pasanganmu." ucap Seok-jin.
"Pasangan?" mendengar kata 'pasangan', Raon-jun tiba-tiba jadi jijik.
"Ya, apa kau tidak tahu? Sekarang ada tanda yang diwariskan dari lahir untuk menandakan siapa pasangan kita." jelas Seok-jin ala-ala profesional.
"Apa... Itu pasangan sehidup semati?" tanya Raon-jun. "Kau pikir?"
"Termasuk sesama jenis?" sontak, pertanyaan Raon-jun membuat Seok-jin keringatan.
"Kau... Suka sesama jenis?"
"Kau juga memiliki tanda?" tanya Raon-jun, dengan cepat menghindari pertanyaannya.
"Ugh... Aku tidak suka keduanya." pikir Raon-jun. Ia benar-benar benci pertanyaan itu.
"Tidak, hanya orang beruntung saja yang mendapatkannya. Tapi kau akan menjadi yang paling tidak beruntung jika pasanganmu adalah senjata-"
"Menurutku itu yang paling menguntungkan. Nah, lanjut." balas Raon-jun dengan muka bodoh.
"Kenapa kau benci sekali memiliki pasangan lawan jenis?" tanya Seok-jin, ia kelihatan sangat khawatir dan takut.
"Nyenyenye... Tetap saja, nanti jalan kisahku akan membosankan jika masa depanku bisa diramal." ucap Raon-jun, berdiri dari kursinya.
"...Itu ada benarnya juga..."
"Apa kau punya tugasan?" tanya Raon-jun, mengambil sepotong roti tawar dari atas meja makan "Ah, tidak ada."
"Ayo pergi kencan."
"Hah?—"
—Dan mereka pun berakhir berjalan bersama. Raon-jun berjalan sambil memakan roti tawarnya, sementara Seok-jin hanya melihatnya makan.
"...Apa kau bisa tunjukkan kembali tanda itu?" izin Seok-jin.
Raon-jun lalu memperlihatkan kembali tanda yang ada di lehernya itu.
"Kalau dilihat-lihat, sepertinya pasanganmu adalah... Iblis..." ucap Seok-jin, "Dia memang seperti iblis sih... Wajar."
"Apa? Maksudmu aku akan menikah dengan iblis yang seperti monster dan jelek itu? BlEaUgH~!"
"Tidak semestinya! Kemungkinan juga kau akan ditakdirkan dengan... Pedang iblis, mungkin? Semacam artefak gitu."
Mendengar itu, Raon-jun terlihat bersemangat. "Benarkah?"
"Yah... Begitulah."
"Tapi sebaiknya kau menyembunyikan tanda ini, karena ada beberapa orang yang akan mengincarmu." jelas Seok-jin.
"Aku tahu aku tampan, tapi kenapa yang diincar hanya tanda sialan ini?" tanya Raon-jun kesal.
"Bocah, ini adalah sebuah keberuntungan. Jadi jangan memanggilnya dengan kata sialan."
Mereka kemudian melanjutkan obrolannya dengan penjelasan dan pertanyaan. Terlalu membingungkan untuk dijelaskan.
Lalu, Seok-jin mencoba untuk menekannya. "AAAH! APA YANG KAU LAKUKAN?!" yang tentu saja akan membuat Raon-jun marah.
"Aku hanya memastikannya. Jadi tetaplah diam, sialan." balas Seok-jin sambil terus mencoba menekannya.
"Kau bukan orang tuaku yang bisa mengaturku seenaknya!" bantah Raon-jun, "Aku tahu, tapi aku sudah pasti lebih tua darimu."
"Umur hanyalah angka!" bentar Raon-jun, "Itu soal percintaan-"
"Aaagh~! Tetap saja! Kenapa di otakmu itu hanya terus memikirkan soal percintaan sih?!"
"Diam dan biarkan aku memastikannya lebih jelas lagi...!" karena Raon-jun terus memberontak, ia tak punya pilihan lain.
Tak!
Seok-jin menusuk titik vital Raon-jun agar ia bisa diam dan tidak memberontak.
Lalu kembali merenung tanda di belakang leher Raon-jun itu.
"Sialan! Kau pikir aku tidak tau cara menghentikannya apa?!" pikir Raon-jun, kemudian menggunakan sebuah teknik.
Ia menggunakan teknik Naehyeol Jasa, teknik yang menusuk darah sendiri agar bisa terlepas dari tusukan titik vital.
Ia membutuhkan 3 menit untuk menggunakan teknik itu.
Begitu selesai, Raon-jun dengan cepat menghentakkan belakang kepalanya ke dahi yang bersih dan bersinar milik Seok-jin.
Duak!
"Aduh!"
"Kau merasa sakit hanya dengan dibenturkan kepalaku? Lemah." ejek Raon-jun.
"Ugh... Tidak heran kenapa kepalamu sekeras batu." keluh Seok-jin, "Kepalaku bahkan bisa menghancurkan batu."
"Memang harusnya begitu."
"Tapi itu berarti kepalaku lebih keras dari batu." balas Raon-jun dengan bangga.
"Bajingan ini..." pikir Seok-jin dalam batinnya, namun ia tetap terlihat tenang dan dewasa.
"Ah, ngomong-ngomong... Apa kau pernah memiliki niat untuk membangun sebuah sekte atau klan?" tanya Seok-jin tiba-tiba.
"...Hm?"
dia beneran aneh
biar dapat kesannya