cinta? bagi ku, cinta itu adalah suatu rasa yang memang tidak pandang kepada siapapun rasa itu akan berlabuh, rasa itu akan bersemayam, dan bahkan rasa itu kepada siapa akan menetap. yang aku tahu, aku mencintai mu, aku mencintai dia dengan tulus dan penuh ikhlas. walau aku tahu kemungkinan aku dan dia akan bersatu dan akan hidup bersama sebagai pasangan suami istri sangatlah tipis. aku berusaha melupakannya, tapi sulit. dia masih saja ada dalam hati dan pikiran ku. aku mencintai mu, dia yang ada di hati ku sampai detik ini. rasa cinta yang sebenarnya dari awal sudah jelas sangatlah SALAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
"Mas tunggu!"
Niya menutup pintu, lalu kemudian sedikit berlari mengejar langkah mas Riyan. Begitu sudah dekat, Niya menahan lengan mas Riyan.
"Mas tunggu! Aku butuh penjelasan darimu,"
Riyan mendesis, menghentikan langkahnya, menatap istri yang sudah menemaninya beberapa tahun berlalu. "Apa Niya? Penjelasan apa?"
"Luna siapamu?"
"Bukan siapa siapa,"
"Tapi kau tega menamparku kemarin demi dia, tidak mungkin jika kau tidak ada hubungan apapun sama dia Mas, ayo lah Mas, jangan bodohi istrimu sendiri,"
Kedua mata Niya mulai memerah, berkaca kaca. Terlihat jika dia sungguh sungguh membutuhkan penjelasan. Supaya tidak terlihat seperti istri bodoh yang tidak tahu apa apa tentang suaminya sendiri.
Riyan memegang kedua bahu Niya. Menatap kedua mata yang terlihat sudah dipenuhi air mata. Riyan tahu jika air mata itu akan jatuh jika Niya berkedip satu kali saja.
"Kau sudah tahu aku dan Luna seperti apa dulu. Tapi itu dulu, bukan sekarang. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku kemarin menamparmu karena kau yang mengkhianatiku Niya,"
Suara yang tadinya lembut kini terdengar lirih namun penuh tekanan dan menggeram. Riyan benar benar menahan emosi. Riyan berjanji akan menemui pria itu nanti tanpa sepengetahuan Niya.
"Aku tidak pernah mengkhianati siapapun Mas. Tidak pernah. Kau hanya salah paham. Aku berani bersumpah Mas...hiks..."
Dan ya, air mata Niya akhirnya jatuh juga tepat mengenai lengan tangan Riyan. Riyan menatap air mata itu.
"Maaf, jangan menangis."
Riyan merengkuh tubuh kecil nan ringkih istrinya dengan lembut dan penuh cinta. Sekelebat mimpi tadi pagi yang Riyan alami muncul. Membuat hati Riyan berdenyut nyeri membayangkan Niya pergi meninggalkannya bersama pria lain.
Aku akan mencari tahu sendiri. Aku akan membuat pria sialan itu mengaku. Berani beraninya dia diam diam menyukai istriku.
"Bundaaa....!"
"Ayo makaaan, Zona sudah lapaaarrr...!"
Teriakan dari arah meja makan membuat Riyan melepas rengkuhan pada tubuh istrinya. Pelan Niya juga menghapus air matanya. Walau kedua matanya tidak bisa dibohongi karena sudah sembab. Niya hanya berdo'a semoga anak anaknya tidak memperhatikannya. Takut jika ketahuan baru saja menangis. Anak anak pasti akan banyak mengeluarkan tanya kenapa dirinya menangis.
"Ayo sarapan," Riyan menarik lembut tangan Niya. "Nanti anak anak keburu kelaparan. Nanti biar aku yang antar Zona sama Arfi ke sekolah, ya,"
Niya mengangguk sesekali menatap tangannya dan tangan mas Riyan yang bertaut.
Semoga aku selalu dihatimu Mas, apapun yang terjadi
Niya tersenyum sambil mengusap air mata yang tiba tiba lolos begitu saja.
Begitu melihat Ayah dan Bunda datang. Zona melipat kedua tangan didada. Wajahnya yang memang imut dari lahir cemberut lucu.
"Ayah sama Bunda lama sekaliii. Zona sudah kelaparan ini, nanti bisa bisa Zona kurus lho karena telat makan,"
"Hahahaaaa...!"
Riyan, Niya, dan Arfi, mereka tidak bisa untuk tidak tertawa mendengar ungkapan kekesalan lucu dari anak kecil seimut Zona.
Apa katanya?
Kurus?
Omong kosong!
Anak seimut dan segembul Zona tidak mungkin akan kurus karena hanya terlambat makan satu kali. Terkecuali satu bulan itu baru dipercaya.
"Maaf ya, Putri Ayah yang cantik nan imut. Yasudah, ayo kita makan. Nanti biar Ayah yang antar kalian berdua kesekolah,"
"Beneran Ayah?" tanya si Zona bocah gembul nan imut itu.
"Tentu saja."
Arfi dan Zona berpandangan lalu, "YEEE....! HORE DIANTER AYAAAHHH....!"
Kegembiraan anak anaknya membuat Niya dan Riyan berpandangan lalu keduanya tersenyum bersama. Kebahagian yang amat sangat sederhana bukan?
...----------------...
"Hati hati, jangan lari lari!"
"Iya Ayah. bye bye Ayaaahhh..."
Dua kali mendapat kalimat yang sama dipagi hari dari kedua anaknya. Riyan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sederhana tapi terasa nyata. Setelah Zona sudah tak terlihat lagi karena sudah masuk kedalam kelas, Riyan melajukan motornya lagi. Tapi begitu dipersimpangan jalan, Riyan berbelok kearah lain bukan kearah rumahnya.
Mungkin kurang lebih menghabiskan waktu sepuluh menit dari persimpangan. Kini Riyan menghentikan motornya didepan salah satu rumah. Rumah yang sudah beberapa bulan tidak pernah dia kunjungi.
"Mas Riyan?"
Langkah kaki Riyan yang baru saja menapaki teras rumah terhenti. Riyan menoleh kebelakang, dan dia melihat pria yang kini tersenyum sopan padanya tengah berjalan kearahnya, dengan celana training dan kaos putih polos serta handuk kecil yang melingkar dilehernya.
"Mas Riyan sendirian?"
Rahang Riyan mengetat tapi mencoba terlihat tenang. Riyan menatap dia. "Memangnya kau berharap aku datang sama siapa?"
"Lho? Ya sama mbak Niya do---"
BUG
"Ah!"
"Sini kau!"
"Mas, janga--Arghhh..!"
Kalimat yang akan diucapkannya berganti dengan erangan karena Riyan kembali melayangkan pukulan diperutnya. Sakit menjalar kemana mana.
"Kau tega padaku! Seharusnya kau tidak melakukan itu padaku!" Riyan mencekik lehernya membuat wajah putih itu memerah karena susah bernapas.
"Mas, M-mas Ri-yan ja-jangan,"
BUG
"RIYAAAN...!"
"Hei, Nak! Apa yang kau lakukan pada adikmu! Riyan! lepaskan Agung!"
Bu Lena dia yang baru saja pulang dari membeli sayur matang dipasar terkejut melihat dua anaknya sedang berkelahi. Bu Lena melerai kedua anaknya yang terlibat perkelahian. Lebih tepatnya Riyan yang memukuli Agung, adik kandung Riyan sendiri.
Bu Lena memukul lengan Riyan kemudian menarik Agung kebelakang tubuhnya. Melindungi Agung supaya tidak dipukuli lagi.
"Bu kenapa aku dipukul? Agung yang salah Bu, bukan aku," Riyan tak terima mendapat pukulan dari Ibunya.
"Agung yang pantas dapat pukulan dari Ibu," lanjutnya dengan napas memburu menahan sisa sisa emosi, matanya juga tak lepas dari Agung yang kini kelihatan mengatur napasnya, dia tersengal.
Bu Lena menatap Riyan dan Agung bergantian, dengan wajah yang jelas terlihat marah.
"Kalian itu sudah besar, sudah dewasa, kenapa masih berantem hah! Kenapa pukul pukulan begitu!"
Kedua matanya melotot khas seorang ibu yang kesal karena anaknya nakal.
"Mas Riyan Bu. Dia tiba tiba datang malah mukul aku Bu. Aku dicekik juga Bu," Agung mengadu dengan segala kebingungannya. Lehernya sakit, Agung marah dan juga tak habis pikir. Kenapa juga Mas Riyan tega memukulnya?
"Ayo masuk! Duduk dan jelaskan semuanya sama Ibu!"
Bu Lena menarik lengan kedua anaknya untuk masuk kedalam rumah. Dipinta duduk dengan paksa dikursi kayu yang masih bagus walau sudah lama umurnya.
"Paaakkk...!"
"Bapaaakkk...!"
"Sini Paaakkk...!"
Panggil Bu Lena memanggil suaminya yang kemungkinan ada dibelakang Rumah. Sedang membuat pesanan pintu untuk tetangga sebelah.
"Ada apa sih Bu? pagi pagi teriak,"
Suami Bu Lena. Bapak kandungnya Riyan sama Agung datang dengan keringat membasahi keningnya.
"Riyan, sudah lama datangnya?" saat melihat anak sulungnya duduk dikursi, sebelahan dengan Agung. "Mana Niya?"
"Dirumah Pak. Tadi kebetulan lewat, terus pingin main kesini, jadi tidak sempat ajak Niya dan anak anak,"
"Ini Pak, anak anakmu jotos jotosan tadi didepan," ~ Ibu.
"Kenapa?" Pak Toyo keheranan
"Agung suka sama Niya Pak Bu?"
"HAH................?????!!!!!!"
pesan dari siapa?