NovelToon NovelToon
Mei Yang Terakhir

Mei Yang Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Gadis Amnesia
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.

Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.

Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—

Fero.

Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.

Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang pria yang mencintainya dengan kesabaran yang menyakitkan.

Sementara Andra harus menerima satu kenyataan pahit: Cinta yang pernah mereka bangun mungkin tidak akan pernah kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Untuk Pergi

Suara pertama yang ia dengar bukan suara manusia, bukan nama yang dipanggil, bukan suara yang mengenalinya hanya:

Bip. Bip. Bip.

Ritmis, datar seperti sesuatu yang memastikan bahwa ia masih ada, jantungnya masih berdetak, bahwa dunianya belum sepenuhnya berakhir.

Kelopak matanya berat seperti ada yang menahannya untuk terbuka, takut akan apa yang dilihatnya. Cahaya putih menembus pelan, terlalu terang, menusuk seperti jarum yang masuk perlahan. Ia mencoba berkedip. sekali, dua kali. Dunia tidak langsung jelas—semuanya kabur, bercampur lukisan yang di tumpahi air.

Bau obat, bau antiseptik menusuk hidung. Langit-langit putih yang tidak familiar, tidak pernah dilihatnya dalam hidupnya yang—yang apa? Ia tidak bisa mengingat.

"Meisyah?" Suara itu datang dari jauh tenggelam di dalam air. Ia mencoba menoleh, tapi lehernya kaku, seolah tulang-tulangnya belum siap untuk bekerja sama.

"Dok… dia bangun… dia bangun!"

Terdengar langkah kaki cepat dan panik. Wajah-wajah mulai muncul di atasnya, satu, dua, tiga—semua terlihat mengenalnya, tapi tidak ada satu pun terekam di otak memori.

"Sayang… kamu dengar Mama?"

Seorang perempuan cantik ber-make up tipis menggenggam tangannya hangat, terlalu erat, seolah takut melepaskan ia kembali ke tempat yang gelap.

Mei menatapnya dalam, mata yang berair, wajah yang hancur, cinta begitu jelas dan begitu asing.

Tapi tidak ada apa-apa.

Kosong.

Ia membuka mulut suara keluar pelan, serak, seperti belum pernah digunakan sebelumnya. "…siapa?"

Sunyi, bukan sunyi biasa—tapi sunyi yang terasa jatuh di dalam dada setiap orang di ruangan itu, tidak terdengar, tapi terasa di tulang.

"Ini Mama, Nak…" Suara perempuan itu pecah, remuk menjadi serpihan-serpihan tidak bisa disusun kembali. Air matanya jatuh ke punggung tangannya, hangat, basah, dan nyata.

Meisyah tidak menarik tangannya. Tapi juga tidak membalas. Dia hanya menatap, mencari sesuatu yang tidak ada di sana—kenangan seharusnya melekat pada kata "Mama" tapi kini hanya menjadi suara kosong mengisi rongga dada.

"Papa di sini…"Seorang pria mendekat. Wajah tegas, mata tajam, bahu tegak menahan beban tidak terlihat.

Ia memandang kosong, jantungnya berdetak lebih cepat, mesin monitor mengikutinya:

Bip. Bip. Bip.

"Tenang, Bu. Ini normal untuk kasus trauma kepala," suara baru masuk tenang, profesional, terlalu tenang untuk situasi yang tidak normal. "Dia mengalami amnesia retrograde."

Kata-kata asing istilah kedokteran terdengar masuk ke dalam telinga, tapi tidak sepenuhnya dipahami—bahasa orang zaman kuno.

"Memori sebelum kecelakaan… kemungkinan hilang sebagian atau seluruhnya."

Hilang? Perempuan paruh baya itu menatapnya lekat, " Saya mau anak saya sembuh dok, berapa pun biaya nya, kami sanggupi."

Dokter itu hanya tersenyum,"Kita berusaha ya Bu, insya Allah semuanya akan baik baik saja.'

Mei menatap ke langit-langit lagi, mencari sesuatu di sana tidak ada, kosong, buku yang baru dibuka, halaman-halaman putih yang menunggu untuk ditulis, tapi tidak ada pena yang tahu harus menulis apa.

" Dik, boleh bapak bertanya? Ini tahun berapa?"

Mei diam pertanyaan sederhana, tapi jawabannya tidak datang—hanya kekosongan yang menganga, jurang yang tidak bisa dijangkau oleh akalnya.

"…2020?"

Semua orang di ruangan itu membeku. Ibu menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar. Ayahnya menegang, rahang mengeras seperti sedang menahan sesuatu ingin keluar sebagai teriakan.

Dokter tersenyum mencatat sesuatu di papan klipnya, suara pena menggores kertas terdengar terlalu keras di telinga." Baik sayang, istirahat yang banyak ya."

Mei mengangguk.

"Bu, kami akan observasi lebih lanjut, ibu sabar."

Langkah kakinya mulai menjauh meninggalkan orang orang di dalam ruangan putih tidak bermaya

--

Tidak lama dokter pergi, terdengar langkah kaki mendekat pelan. Pintu terbuka, membiarkan cahaya koridor masuk sejenak.

Lalu—

Mei melihatnya di sudut ruangan, bayangan yang hampir terlupakan dalam keramaian, seorang pria berdiri, tidak mendekat, tidak bicara hanya… melihat.

Wajahnya lelah, begitu lelah, seperti seseorang yang tidak tidur berhari-hari—atau mungkin bertahun-tahun. Matanya merah menahan entah itu rasa kesedihan atau keinginan yang terpendam. Tangan kirinya diperban, jejak dari kecelakaan yang sama membawanya ke sini, atau mungkin dari peristiwa tidak bisa dilihat.

Mei menatapnya, jantung nya berdegup lebih kencang, terasa… aneh menyusup di rongga dadanya tidak tahu ia namai.

Tapi tidak ada kilatan ingatan, tidak ada nama yang muncul di bibirnya, juga bukan sepenuhnya asing seperti melihat seseorang di keramaian yang hampir dikenal, syair lagu hampir diingat, terasa di ujung lidah tidak bisa diucapkan.

"Siapa… dia?" Suaranya pelan, bisikan seolah tidak yakin apakah boleh itu ditanyakan.

Semua mata langsung beralih ke pria itu, sunyi, tidak ada yang langsung menjawab—karena tidak tahu harus bagaimana, menjawab apa

Pria itu tidak bergerak, seolah jawaban itu tidak boleh datang darinya, bahwa pengenalan dari bibirnya akan terdengar salah seperti kebohongan.

"Dia…" suara ayahnya ragu, tercekat, mencari kata yang aman.

Ibunya memotong cepat, dingin dan tegas. "Tidak penting."

Kalimat itu jatuh ke permukaan danau, riak yang tidak terlihat tapi dirasakan oleh semua orang.

Pria itu tidak marah, tidak memaksa, tidak memprotes hanya… lelah. Dan ada sesuatu yang lebih dalam disana, sakit, perih menggores jantung tidak bisa ditunjukkan, tidak diizinkan untuk diperlihatkan.

Mei mengerutkan kening, mencoba mengumpulkan serpihan-serpihan yang tidak ada. "Kenapa dia lihat aku seperti itu?"

Tidak ada yang menjawab dan menjelaskan: bahwa pria itu adalah satu-satunya orang seharusnya tidak perlu diperkenalkan, tidak perlu diberi nama, karena sudah ada di dalam dirinya, di setiap napas, di setiap detak jantung.

Tapi sekarang harus.

Laki laki itu akhirnya menunduk, satu langkah mundur, lalu dua langkah. Dan keluar dari ruangan—tanpa suara, tanpa kata, tanpa nama yang diucapkan seolah keberadaannya memang tidak diinginkan di sana dan dia sudah terbiasa dengan hal itu.

Pintu tertutup lembut tapi terdengar seperti bunyi gong di telinga Meisyah. Dia masih menatap ke arah itu, sesuatu yang tertinggal—bukan ingatan, bukan gambaran, hanya nama, rasa yang tidak selesai lagu yang berhenti di tengah bait, kalimat yang tidak berakhir, seperti…

Tapi sebelum ia bisa memikirkan lebih jauh, kepalanya berdenyut sakit, tajam. Dan dunianya kembali kabur, tepi-tepi menjadi gelap, suara-suara kembali samar.

Bip. Bip. Bip.

Untuk pertama kalinya sejak tersadar, Meisyah menyadari satu hal: Ia hidup bernapas, berdetak dan ada.

Tapi hidup yang ia kenal tidak ikut kembali bersamanya dari seorang… baru saja pergi dari hidup. Untuk kedua kalinya atau mungkin—untuk pertama kalinya, karena yang pertama tidak bisa ia ingat.

Dia menutup mata bukan untuk tidur. Tapi untuk mencari—di kegelapan di balik kelopak mata, di tempat yang belum tersentuh oleh cahaya—apakah ada sesuatu yang tersisa, apakah ada jejak, apakah ada…

Tidak ada.

Hanya kekosongan yang menganga, suara monitor yang terus berdetak, menipu dirinya bahwa ia masih utuh tapi sebenarnya tidak.

 

1
Ddie
Mengapa kamu tidak mengingatku, Mei ? Aku adalah suamimu..bukan orang lain mencintai karena harta benda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!