Alya adalah mahasiswi cantik yang masih polos. ia sangat manis dan ceria. suatu hari kecelakaan saat mereka pergi berlibur telah menewaskan ibunya.
ayahnya lalu menikah sepeninggal ibunya. lima tahun setelah ayahnya menikah dengan ibunya. ayahnya meninggal karena serangan jantung. kini ia hidup dengan ibu tirinya berdua saja. namun sejam lima bulan meninggalnya ayahnya, ibunya akhirnya memiliki pacar baru. dilema muncul saat calon ayah tirinya jatuh cinta padanya. apa yang harus Alya lakukan dengan keadaan itu. sementara ayah tirinya adalah crussnya saat sekolah dulu. Di balik itu dia punya pacar bernama Anjasmara seorang penderita NPD temperamen yang terlalu mencintainya. Akankan dia bisa menghadapi kedua lelaki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALYA MULAI MEMBANGKANG
bunyi dering terdengar dari ponsel Alya, lagi dan lagi, ini adalah panggilan kesekian kalinya. Sepertinya Anjasmara tidak terima Alya membentaknya tadi. Alya menangis karena sudah gak kuat dengan sikap Anjasmara.
Dia bukannya menunjukkan empatinya pada Alya karena kematian Papanya Alya. Malah dia mendesak Alya supaya cepat pulang. Dasar laki-laki stres, maniak seks, NPD, sakit jiwa, Alya ingin berteriak saking kesalnya pada Anjasmara.
Lalu yang terjadi selanjutnya adalah Alya tidak peduli lagi pada Handphonenya. Ia memasak sambil terisak-isak. Tidak ada menenangkan ataupun memeluknya untuk memberi semangat. Semua sanak saudara sudah kembali ke aktivitasnya masing-masing.
*
Hari ke-12 sejak meninggalnya Papanya Alya.
"Tante Vivi, apakah kita bisa bicara."
"Ya, ada apa Alya?"
Alya lalu masuk ke kamar ibu tirinya itu. Hawa dingin AC menyerbu tubuh Alya, begitu juga aromaterapi dari ruangan itu menyentuh lubang hidungnya. Kamar yang bernuansa campuran peach dengan hijau telur asin.
Alya duduk di sofa yang mengarah ke ranjang kamar itu. Tante Vivi sedang dandan menghadap meja riasnya. Tangannya mahir mengoleskan alas bedak ke mukanya.
"Ya, kenapa Alya, Tante mau pergi sore ini, ya, tolong cucian dibereskan, ya. Musim penghujan, cucian kalau bisa di laundry aja deh. Baju Tante udah pada menipis persediaannya di lemari." Dia tak menoleh sedikitpun pada Alya.
"Tan, Alya harus balik ke kos-an, Alya sudah tertinggal beberapa mata kuliah, Tan."
Tante Vivi melihat dengan tatapan tidak sukanya pada Alya. "Trus siapa yang membereskan semuanya di rumah ini." ujarnya. "Trus, bagaimana adik kamu, siapa yang urus adek kamu berangkat dan pulang sekolahnya. Tante gak bisa, baru seminggu kembali kerja saja Tante kewalahan.
"Tante mau belajar nyetir mobil aja. Susah naik grab terus." Kini dia mengoleskan lipstik berwarna merah marun di bibirnya yang tipis itu.
Pantaslah almarhum Papanya cinta sama Tante Vivi. Tante Vivi memang secantik itu. "Trus kuliah Alya bagaimana, Tan?" Tante Vivi dengan agak keras menaruh lipstiknya ke meja riasnya. "Ya, cuti saja dulu. Lagian, nanti juga kamu bakal jadi ibu rumah tangga ini, ngapain harus lanjut kuliah, buang duit saja."
Tante Vivi lalu berdiri mencari stelan yang pas untuk dipakainya. Tante Vivi mix dan max atasan dan bawahan tersebut di depan kaca.
"Tapi Tan, kan dana pendidikan aku selalu disimpan Papa dan tiap enam bulan selalu lancar dikeluarkan Papa, Tan." ucap Alya bersungut-sungut.
"Tapi itu dulu, sekarang Papa kamu sudah meninggal, berarti semua tanggung jawab harus aku yang menanggung. Ya gak kuat lah aku menanggung, kamu dan adikmu sama-sama butuh biaya besar." Alya jadi sedih mendengar ucapan ibu tirinya.
"Kan Papa nabung asuransi pendidikan untuk kamu berdua, Tan!" Pekik Alya pada ibu tirinya.
"Sudah Tante cairkan tiga hari lalu. Sudah Tante belikan emas untuk disimpan buat kalian. Lagipula, Tante mau pindahin Sinta ke sekolah negeri saja, swasta mahal. Tante gak kuat."
"Apa Tan, kok jadi mengembangkan sekolahnya Sinta, sih?"
"Trus gimana harusnya, biaya harian kita itu gede. Listrik aja tiap bulan harus bayar dua juta. Biaya makan sehari-hari lima- tujuh juta. Belum pemeliharaan mobil, motor, dan lainnya. Gak kuat aku membayarnya."
Barulah Alya tersadar, betapa Papanya demikian bekerja keras untuk membiayai mereka bertiga selama ini.
karena vivi itu licik