Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.
Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Langit sore sudah berubah jingga ketika Alya dan Farel akhirnya berpisah di depan kafe. Alya menarik napas panjang, lalu mengenakan helmnya. Perasaannya sedikit lebih ringan karena bisa menolak Farel dengan baik, tapi ada juga rasa bersalah yang tak bisa ia sembunyikan.
“Udah, jangan dipikirin lagi Alya. Kok nggak salah, kok,” gumamnya pada diri sendiri sebelum menyalakan motor.
Perjalanan pulang terasa panjang. Bayangan wajah Farel dan kata-katanya terus menghantui pikirannya, ia masih berasa bersalah. Hingga akhirnya, lampu rumah Reihan terlihat dari kejauhan. Alya memarkir motornya di garasi lalu masuk pelan.
Rumah itu terasa lebih dingin dibanding rumah orang tuanya tadi. Suasananya sunyi. Hanya lampu ruang tamu yang menyala, tanda seseorang ada di rumah.
Alya meletakkan tasnya di sofa, lalu mendengar suara langkah kaki dari arah ruang kerja. Tak lama, pintu terbuka dan muncullah Reihan dengan kemeja lengan panjang yang lengannya sudah digulung. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya terlihat lelah.
“Kamu baru pulang?” tanyanya singkat.
Alya menegakkan tubuhnya, tersenyum kaku. “Iya, barusan. Dari rumah Mama.”
Reihan menyipitkan mata, ekspresinya terlihat datar tapi penuh dengan tanda tanya. “Aku tadi ke rumah Mama . Niatnya mau jemput kamu sekalian. Tapi kata mama kamu sudah pergi. "
Pertanyaan itu membuat jantung Alya berdegup kencang. Tangannya tanpa sadar meremas ujung blusnya. “Aku… iya, tadi dari rumah Mama. Terus… sempat ketemu temen sebentar.”
“Temen?” nada suara Reihan terdengar dingin, meski tenang. “Temen yang mana?”
Alya terdiam. Bibirnya terasa kelu. Ia tak mungkin menyebut nama Farel,
Melihat Alya yang hanya diam, Reihan akhirnya menghela napas panjang, lalu duduk di sofa
berhadapan dengannya. “Lain kali, kalau ada urusan di luar, bilang. Jangan bikin aku cari-cari kamu ke sana-sini.”
Alya menunduk, hatinya mencelos. “Iya, Mas. Maaf…”
Reihan menatapnya sebentar, lalu berdiri lagi. “Aku masih ada kerjaan. Kamu istirahat aja, jangan lupa makan malam.”
Alya hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh, perasaan bersalah makin menyesakkan dada.
Malam itu, Alya masuk ke kamarnya sendri . Ia menutup pintu pelan, lalu merebahkan diri di ranjang.
Akhir-akhir ini dia banyak pikiran bahkan hal-hal kecil yang mengganggu pikirannya menjadi besar.
Malam semakin larut. Suara detik jam dinding terdengar jelas di kamar tamu tempat Alya merebahkan tubuh. Ia menatap langit-langit dengan mata terbuka lebar, meski tubuhnya terasa lelah setelah seharian keluar rumah.
Namun, pikirannya justru berputar-putar.
Bayangan tadi sore bersama Farel masih ada di benaknya. Wajah Farel yang selalu ramah, cara bicaranya yang membuatnya nyaman, seolah menjadi jurang antara dirinya dengan Reihan. “Aku salah nggak ya ketemu dia? Apa Mas Reihan curiga?” gumam Alya lirih.
" Tapi kan kami cuma nikah kontrak"
" Jadi ngga mungkin dong mas Reihan cemburu, kan nggak perasaan diantar kami"
Di kamar utama, Reihan duduk di sisi ranjang dengan laptop masih terbuka. Dokumen-dokumen pekerjaan terpampang jelas di layar, tapi pikirannya justru tidak fokus. Sejak pulang dari rumah orang tua Alya sore tadi, ada rasa ganjil yang sulit ia abaikan.
Tangannya terhenti mengetik. Pandangannya kosong menatap layar.
“Dia bilang keluar sama temen. Tapi kenapa wajahnya terlihat menyembunyikan sesuatu?” batin Reihan.
Ia menghela napas berat, lalu menutup laptopnya. Reihan bersandar ke kepala ranjang, menatap langit-langit gelap. Entah mulai sejak kapan dia mulai peduli terhadap gadis yang ia nikahi beberapa Minggu yang lalu.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Alya akhirnya memutuskan untuk mengambil ponselnya. Ia membuka pesan singkat, mengetik sesuatu untuk mamanya.
Alya
Ma, Alya kangen
Tadi seneng banget bisa pulang sebentar
Tak lama, balasan datang.
Mama
Kok belum tidur jam segini
Mama juga seneng lihat kamu datang
Tapi jangan lupa, sekarang rumahmu itu sama suamimu. Kamu harus belajar bahagiain dia juga.
Alya terdiam membaca pesan itu. Matanya panas, ada perasaan campur aduk di dadanya. Ia mengetik lagi.
Alya
Ma… kalau ternyata aku nggak bisa bahagiain dia gimana?
Balasan dari mamanya kali ini agak lama. Saat muncul.
Mama
Kalau kamu udah berusaha, itu udah cukup. Jangan takut.
Di kamar sebelah, Reihan yang tadinya sudah memejamkan mata, justru membuka matanya lagi. Entah mengapa, malam itu dia sulit untuk memejamkan matanya.
Reihan yang tadinya sudah mencoba tidur, tiba-tiba terusik oleh suara samar dari arah kamar tamu. Ia membuka matanya, menajamkan pendengaran.
Pelan, terdengar suara isakan tertahan. Tidak keras, tapi cukup membuatnya terjaga penuh.
Kening Reihan berkerut. “Alya?” gumamnya lirih.
Ia bangkit perlahan, langkahnya hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Mendekati pintu kamar sebelah yang di tempati gadis itu, menempelkan telinganya. Suara itu semakin jelas Alya sedang menangis.
Rasa khawatir dan penasaran tiba-tiba muncul di benaknya. Tangannya sempat terulur hendak mengetuk pintu, tapi terhenti di udara. Ia bingung harus apa.
“Kenapa dia nangis? Apa karena aku?” pikir Reihan, matanya meredup.
Satu sisi dirinya ingin masuk, menenangkan Alya. Tapi sisi lainnya menahan. Hubungan mereka bukan pernikahan biasa, hanya kontrak. Ia tidak punya hak untuk ikut campur masalahnya.
Dengan napas berat, akhirnya ia menurunkan tangannya. Reihan hanya berdiri beberapa detik, lalu berbalik meninggalkan pintu itu.
Di balik pintu, Alya masih memeluk bantalnya erat, menutup wajahnya agar isakannya tidak terdengar.
Malam itu, mereka berdua sama-sama tidak bisa tidur dengan tenang. Alya larut dalam tangisnya, Reihan larut dalam diamnya.
.
.
.
.
Udara masih segar, aroma roti panggang tipis masih tercium samar dari dapur. Alya duduk di meja makan dengan laptop terbuka di depannya. Buku-buku catatan, dan tumpukan kertas revisi skripsi tersebar rapi.
Gadis itu sesekali mengetik dengan cepat, lalu berhenti, menatap layar, menghela napas panjang. Kedua tangannya meremas rambutnya sendiri. “Ya ampun, kalo kyak gini terus kapan kelarnya ini…” gumamnya lirih.
Sejak tadi pagi Reihan sudah pergi ke kantornya karena dia tidak jadwal hari ini ke kampus.
.
.
.
POV Reihan
Pagi itu, gedung tinggi milik perusahaan yang dipimpinnya berdiri megah seperti biasa. Dinding kaca berkilau, memantulkan sinar matahari. Karyawan lalu-lalang, sibuk dengan dokumen, laptop, atau sekadar secangkir kopi di tangan.
Reihan baru saja keluar dari lift, kemeja putihnya rapi dengan jas hitam gelap yang membalut tubuhnya. Seperti biasa, aura dinginnya membuat semua karyawan yang melihat segera menunduk, memberi salam singkat, lalu kembali ke pekerjaan masing-masing.
“Selamat pagi, Pak Reihan,” sapa sekretarisnya, Alex menunduk sopan sambil menyerahkan beberapa dokumen.
“Taruh saja di meja saya,” jawab Reihan singkat.
Ia masuk ke ruangannya yang luas. Ruang kerja itu dikelilingi kaca besar, memberikan pemandangan kota Jakarta yang padat. Rak buku tinggi berjejer di sisi kiri, sementara di sisi kanan ada sofa panjang untuk menerima tamu pribadi.
Baru saja ia duduk, pintu ruangannya kembali di buka seseorang tanpa mengetuknya
Pintu terbuka, dan masuklah tiga pria hampir sebaya dengannya. Mereka tersenyum lebar ke arah Reihan
" Hai bro, dingin amat tuh muka udah kayak es. Senyum dong sapa nih sahabat Lo" sapa tyo
Langit sudah duduk seenaknya di sofa ruangannya, kaki disilangkan, sambil memainkan ponselnya. Tyo berdiri sambil membuka kulkas kecil, mengambil minuman tanpa izin. Sementara David, ikut duduk di sampingnya langit
Aku mendengus, melepas jas dan menaruhnya di kursi. “Kalian ini nggak ada kerjaan lain selain nongkrong di sini?”
“Kerja mah udah semua. Lagian kamu ngga kangen sama aku” sahut Tyo dramatis, membuat yang lain tertawa.
Aku hanya menggeleng, lalu duduk di kursiku. “Kalau cuma buat berisik, pulang aja sana.”
Langit menatap ke arah reihan. “ ehh kita kesini mau nanya sama Lo, katanya Lo udah nikah ya "
Pertanyaan itu membuat ruangan sedikit hening.
Reihan diam. Tangannya meraih cangkir kopi, menyesapnya pelan. Tatapannya tetap pada jendela, tidak menanggapi langsung.
“Beneran, Han? Lo udah nikah? Kok ngga ngundang gue" ucap David
Reihan meletakkan cangkirnya, " iya gue udah nikah empat Minggu yang lalu "
" Anjir, kok bisa Cok, ceweknya siapa jangan bilang Lo tumbalin anak orang" tanya Tyo
" Mahasiswa bimbinganku" Reihan menjeda kalimatnya sebelum melanjutkan " intinya dia mahasiswa bimbingan gua sama seperti gua dia juga di paksa nikah dan mau dijodohin, terus gua ajak nikah kontrak "
David nampaknya tidak setuju dengan apa yang diucapkannya Reihan yang terakhir.
" Han nikah itu bukan main-main loh"
" Justru itu gua cuma mau nyelamatin dia dan gua, setelah satu tahun kami akan berpisah, dia masih punya banyak mimpi yang harus dia gapai" jelas Reihan
Mereka memang mengetahui jika Reihan ingin di jodohkan oleh mamanya.
Ruangan itu sempat hening setelah penjelasan Reihan.
David meletakkan hp nya di atas meja dan menatap ke arah Reihan
“Han,” suaranya berat, “gue boleh jujur?”
Aku mendongak pelan. “Apa lagi?”
David mencondongkan tubuh ke depan, matanya tak berkedip menatapku. “Lo yakin alasan lo nikah sama dia cuma buat ‘nyelamatin’ dia? Atau sebenarnya… lo lagi nyelamatin diri lo sendiri dari Renata?”
Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya David, Renata. Nama itu seperti pisau yang menoreh luka lama. Perempuan yang telah mengkhianati Reihan dan membuat dia gagal bertunangan.
Tyo dan langit langsung menoleh pada David. Mereka jelas terkejut David blak-blakan menyebut nama perempuan gila itu.
“Gue serius. Lo pikir kita nggak tahu? Lo berubah setelah putus dari Renata. Lo lebih dingin, lebih nutup diri. Dan sekarang lo tiba-tiba nikah kontrak sama mahasiswi bimbingan lo. Jujur aja, Han, ini beneran buat nolong dia, atau ada hal lain yang Lo sembunyiin"
“Jangan bawa-bawa nama dia lagi,” ucapku datar, tapi nadanya menekan.
" Ini ngga ada lagi hubungannya sama perempuan licik itu" lanjut Reihan .
Tyo akhirnya ikut bicara, kali ini lebih lembut. “Han, kita sahabat lo. Kita cuma pengin lo jujur sama diri lo sendiri. Kalo lo masih keinget Renata, jangan bawa-bawa Alya. Kasihan dia.”
Aku mengepalkan tangan di atas meja. “Gue udah janji, ini cuma satu tahun. Habis itu selesai. Dia bisa jalanin mimpinya, gue balik ke hidup gue.”
Langit menyela, nadanya tenang . “Lo pikir hati itu bisa dijadwalin, Han? Setahun itu lama, banyak hal bisa terjadi. Lo bisa makin dekat sama Alya, atau lo malah makin ngerasa bersalah. Lo yakin bisa ngadepinya nanti?”
Langit menghela napas panjang. “Gue harap lo gegabah Han. Gue nggak mau liat lo ngulang kesalahan sama.”
Aku tidak menjawab.
Hanya menatap kota yang semakin terang diterpa cahaya matahari, sementara pikiranku makin tenggelam pada pertanyaan yang bahkan tak bisa kujawab untuk diriku sendiri