Setiap tindakan kekerasan yang dilakukan, baik disengaja atau tidak, akan berakibat pada gangguan atau kerusakan psikis dan atau fisik seseorang.
Karya ini mengisahkan tentang seorang wanita yang dikaruniai wajah cantik, bertubuh indah dan molek. Namun berada pada tempat dan lingkungan yang salah, hingga mengalami pelecehan dan tindak kekerasan demi kekerasan. Semua itu meninggalkan jejak yang melukai dari waktu ke waktu.
'JEJAK LUKA' ini dikisahkan, agar kita bisa berhati-hati dan waspada pada orang yang ada di sekitar kita. Baik saudara atau yang kau anggap teman baik.
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan selalu bahagia. ❤️ U.
🙏🏻Selamat membaca 💟
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Jejak Luka 10.
...~•Happy Reading•~...
Perlahan dengan ragu dan takut, Enni berjalan mendekati Bu Sinna yang sedang menanti dan melihatnya dengan seksama. Tatapan Bu Sinna kembali seperti sedang mengscan.
"Siapa namamu ..." Bu Sinna kembali menanyakan namanya, tapi dengan nada suaranya agak diturunkan. Sebab Bu Sinna melihat gadis yang berdiri di depannya agak takut dan masih belia.
Walau Lusina sudah menceritakan sedikit latar belakang tentang Enni, tapi Bu Sinna ingin memastikan. Agar tidak terjadi masalah di kemudian hari.
Bu Sinna terus memperhatikan Enni. Sikapnya yang takut dan tidak siap, bahkan terpaksa membuat Bu Sinna berhati-hati dan berjaga-jaga. Agar tidak kecolongan dengan gadis-gadis yang berada di tempatnya karena terpaksa, dipaksa atau merasa terjebak.
"En ni, Bu..." Jawab Enni pelan dan ragu-ragu. Ucapan Lusina membuat dia harus bersikap hati-hati kepada wanita yang dipanggil Mami Sin oleh Lusina. Selain cantik, elegan dan modis, ada aura yang bisa membuat seorang segan, bahkan takut padanya.
"Panggil Mami Sin seperti yang lainnya." Ucap Bu Sinna tegas tanpa mengalihkan matanya dari Enni. Hatinya tersenyum melihat bentuk wajah dan tubuh Enni dari dekat.
Di kepalanya langsung melihat duit beterbangan ke arahnya, sebab pengamatannya mengatakan semua yang dimiliki Enni akan menarik banyak pria untuk datang padanya. Dan itu semua adalah duit.
'Hanya tinggal dipoles sedikit saja, sudah pasti banyak pria yang menginginkan dia.' Bu Sinna berkata dalam hati.
"Mulai sekarang, kau bernama Winda. Nanti kartu identitasmu yang baru akan menggunakan nama itu. Jadi harus terbiasa gunakan nama itu. Mengerti?" Bu Sinna mulai menjelaskan semua yang harus dipatuhi oleh Enni selama tinggal di tempat itu, tapi belum mengatakan apa yang harus dikerjakan.
Enni terdiam dengan jantung berdetak tidak teratur, sebab dia mulai mengerti maksud Bu Sinna. Dia ingin berteriak, tapi takut diperlakukan kasar seperti yang dilakukan Bargani padanya, dengan menamparnya.
Melihat Enni hanya berdiam diri sambil melihat ke lantai, Bu Sinna berdiri lalu berjalan keluar ruangan. Tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka, lalu masuk seorang wanita muda yang usianya sedikit lebih tua dari Enni.
"Mari, ikut saya..." Wanita itu berkata sambil mengulurkan tangan ke arah Enni, agar mengikuti dia keluar ruangan.
Enni mengikuti sambil berjalan menunduk. "Kau bernama siapa?" Tanya wanita itu setelah mereka berada dalam sebuah kamar yang cukup luas dan rapi.
"En ni... eeh, Win da." Jawab Enni terbata-bata, sebab belum terbiasa dengan nama baru yang diberikan Bu Sinna untuknya.
"Pergunakan nama yang diberikan di sini. Lupakan nama aslimu, agar nantinya ngga bermasalah." Ucap wanita itu, pelan untuk mengingatkan Enni.
Enni hanya mengangguk tanpa suara. Dia sedang berpikir, bagaimana cara untuk bisa meloloskan diri dari lingkungan yang sangat menakutkan itu. Dia tidak berani menangis atau bertanya apa pun pada wanita yang baru dikenalnya.
"Aku Prita ..." Wanita itu memperkenalkan dirinya, agar Enni bisa memanggil namanya.
"Iya, Mba. Makasih." Ucap Enni pelan, dan sopan. Dia merasa Prita lebih tua darinya, mungkin seusia dengan kakaknya, Nestri. Namun ucapan Enni membuat Prita melihatnya dengan serius.
"Mengapa kau bisa ada di sini?" Tanya Prita yang baru memperhatikan Enni dengan baik. Selain sangat cantik dan menarik, juga sopan, membuat Prita terkesima.
"Diajak seorang teman, eeeh wanita." Enni meralat ucapannya, karena baginya, Lusina tidak pantas lagi dibilang sebagai teman.
"Ooh, kau ngga tau tempat apa ini?" Prita jadi bertanya, sebab dia mulai curiga melihat gelagat Enni yang terlihat seperti wanita baik-baik dan terpelajar.
"Ngga, Mba. Aku belum lama ada di kota ini dan diajak juga ke kota ini. Jadi belum tau banyak tempat di sini. Tadi aku ikut, karna mau dikasih kerjaan." Enni mulai berbicara banyak, sebab wanita yang ada bersamanya mulai bersikap sedikit ramah terhadapnya.
"Ooh, kau masih sekolah atau kuliah?" Prita bertanya lagi, ingin tahu. Sebab Enni terlihat masih belia. Jadi dia berpikir, Enni masih sekolah, atau baru kuliah jika mahasiswi.
"Masih kuliah, Mba." Jawab Enni pelan, dan matanya mulai berkaca-kaca mengingat kuliahnya.
Prita tidak bertanya lagi tentang kuliah, sebab dia melihat Enni mulai sedih saat bicara tentang kuliah. 'Pasti sedang terjadi sesuatu, hingga Enni bisa ada di sini.' Ucap Prita dalam hati, melihat sikap Enni.
"Ooh, siapa yang mengajakmu ke sini?" Tanya Prita mulai merasa simpati terhadap Enni. Pikirnya, mungkin Enni terjebak hingga berada di tempat itu, atau butuh uang untuk kuliah.
"Lusi, Mba..." Jawab Enni singkat.
"Lusi? Maksudmu, Sisi?" Tanya Prita sambil melihat Enni dengan serius. Dia berpikir dan bertanya dalam hati. 'Gadis ini kenal dan teman Sisi?'
"Eeh, iya. Si si..." Jawab Enni terbata, sebab belum terbiasa dengan panggilan nama baru Lusi.
Prita melihat Enni dengan serius, saat mengetahui dia diajak oleh Lusina. Apa yang pernah dia alami, kembali terbayang di matanya. Pertemuannya dengan Lusina dan diajak kerja di tempat tersebut, membuat Prita menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kuat.
"Kalau begitu, kau harus berhati-hati. Jangan berpikir untuk keluar atau melarikan diri dari tempat ini. Aku pernah melakukannya, dan dipindahkan ke kamar terkunci. Tidak bisa berkomunikasi dengan seorang pun, apa lagi berbicara seperti ini." Prita mengingatkan Enni dengan serius, agar tidak diperlakukan seperti seorang tahanan.
Dia mengingat apa yang terjadi dengan dirinya, saat berusaha mau melarikan diri dan ketangkap security. Dia ditempatkan di kamar khusus, yang hanya bisa keluar kamar untuk melayani tamu. Setelah itu, dia dimasukan kembali ke kamar khusus.
Sedangkan waktu sisanya dia hanya berada dalam kamar dan dikunci dari luar. Makanan dan minumannya diantar oleh pelayan yang diperintahkan oleh Mami Sinna. Jadi dia mengingatkan Enni, agar tidak mengalami apa yang pernah dialaminya.
Sekarang dia bisa keluar bebas setelah 3 bulan berada dalam kamar itu dan setelah dia menanda tangani surat perjanjian bahwa tidak akan melarikan diri lagi. Jika terjadi lagi, dia akan diserahkan kepada pihak berwajib dengan banyak tuduhan. Sehingga akan dipenjara oleh perbuatan yang akan dituduhkan padanya.
"Jalani ini dengan pelan dan hati-hati sambil terus berdoa, mungkin bisa ada jalan keluar untukmu. Jika kau bersikap baik, ngga berontak, mungkin mereka mengijinkan kau bisa keluar ke halaman atau ke tempat tertentu." Prita kembali memberikan saran dari apa yang pernah dialaminya.
"Itu bisa terjadi, jika mereka bisa mempercayaimu, bahwa kau tidak berusaha kabur dari tempat ini." Prita berusaha menasehati Enni, sebab melihat mata Enni yang tidak tenang berada di tempat itu.
Enni hanya bisa mengangguk, tanpa bisa berkata-kata. Semua yang dikatakan Prita membuat dia makin takut akan apa yang terjadi dengannya. Bayangan kelam dan hitam makin menghantui pikirannya.
"Sebentar lagi ada yang akan membawa pakaian untukmu. Jadi mari mandi. Aku akan bersihkan tubuhmu." Prita berkata sambil mengajak Enni ke kamar mandi. Mendengar ucapan Prita membuat Enni melihatnya dengan mata membulat. Hatinya bertanya-tanya, apa maksud Prita dengan membersihkan tubuhnya.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
derita anak pertama kalau orang tua tinggal 1 dan tidak perhatian lagi jadi banyak pikiran.
tinggalkan saja kekasihmu nes sekarang sudah selingkuh kedepan pasti selingkuh lagi.
selingkuh seperti penyakit tak ada obat
nyesek banget ada korban rudapaksa..