Hamil di usia 16 tahun, karena diperkosa oleh seorang pria berusia 30 tahun. Membuat Mera terpuruk, hidupnya hancur berantakan dan ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung setelah mengetahui anaknya hamil. Sedangkan ibunya bunuh diri, sebab tak sanggup mendengar gunjingan tetangga.
Tak berhenti di situ. Mera depresi selama hamil dan berniat membunuh anaknya yang baru lahir. Vano adalah ayah dari anak yang Mera kandung, dia menyesali perbuatannya dan meninggal karena overdosis meminum obat penenang.
Setelah melahirkan Mikayla, Mera meninggalkan bayi itu di rumah Vano.
Dia mengira hari itu adalah akhir segalanya. Ternyata salah, tujuh tahun kemudian, takdir memintanya kembali untuk bertemu dengan anaknya yang membutuhkan transplantasi sumsum tulang belakang miliknya.
Arga Aditama (adik kandung Vano) memaksa Mera kembali dengan cara menculik wanita itu. Memaksanya agar mau bertemu dengan Mikayla.
"Mama! Mama! Jangan tinggalkan Mika lagi. Mika janji akan jadi anak baik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mikayla Meninggal?
Seorang wanita muda sedang melihat putri kecilnya ditangani oleh dokter dari jendela kaca transparan. Dia menutup mulutnya tak percaya. Air mata sedari tadi meluncur membasahi pipinya. Hatinya sakit melihat kondisi sang putri terbaring lemah di atas brankar.
"Lebih baik kamu pergi saja sekarang! Tidak akan ada yang menahanmu untuk kembali ke desa!" titah Arga dengan nada dingin. Pria itu muak melihat Mera yang menangisi Mikayla. Padahal, penyebab putrinya sakit patah adalah Mera sendiri.
Mera hanya diam dan terisak pelan. Arga berdecak sebal melihat wajah sedih Mera.
"Berhentilah bersikap seperti seorang ibu sejati yang sedih melihat putrinya terluka. Karena kamu tidak sehebat itu! Bukankah ini yang kamu inginkan, huh?! Selama ini juga kamu tidak menganggap Mikayla sebagai anak, bahkan dulu saat Mika masih bayi kamu sempat menutupi wajahnya dengan bantal agar dia meninggal!"
Arga menekan setiap perkataannya membuat hati Mera berdenyut sakit. Dia membenarkan ucapan Arga, karena dulu saat usia Mikayla delapan belas hari. Mera mengalami baby blues dan melakukan hal keji itu.
Namun, sekarang dia menyesalinya. Mera tidak mau putrinya pergi. Dia merasa sangat bersalah. Mengapa dia harus jahat pada Mikayla? Padahal, putrinya amat menyayanginya selama ini?
"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari kisah Mera membuat Arga mengepalkan tangannya erat.
"Maafmu tidak membuat Mikayla baik-baik saja!" desis Arga murka membuat hati Mera semakin sakit. Dia menyalahkan dirinya sendiri, karena sang anak terluka olehnya.
Andai saja Mera bisa mengontrol amarah tadi dan bersikap layaknya seorang ibu yang selalu ada untuk anak-anaknya.
Mata Mera yang sedari tadi memantau gerak-gerik dokter dan tim perawat melebar sempurna. Tatkala melihat peralatan medis di tubuh sang anak dicabut.
"Apa-apaan mereka," gumam Mera panik terdengar oleh Arga.
Pria itu mengalihkan pandangannya menuju ke dalam ruangan. Segera saja dia memaksa masuk ke dalam. Diikuti oleh Mera.
"Apa kalian lakukan?!" Suara Arga sangat keras dan membuat dokter dan timnya ketakutan. Namun, mereka harus bersikap profesional.
"Jam kematian, pukul 19:45 WIB. Penyebab kematian serangan asma berat." Sang dokter menjelaskan membuat tangis Arga, Mera, Sri, dan Damar pecah. Mereka tidak percaya kalau bocah cantik yang baru saja sembuh dari penyakitnya kini terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit.
"Mikayla! Maafkan mama, Nak. Maafkan, mama! Mika bangun, Sayang. Mama janji akan tinggal bareng Mikayla!"
Rasa kehilangan menyerang Mera. Dia memeluk erat tubuh kaku putrinya. Mikayla pergi karena ulahnya. Andai saja dia tidak berdebar dengan Arga. Andai saja dia berjanji akan terus tinggal bersama Mikayla. Pasti sang anak saat ini masih ada bersamanya.
Sri menjambak rambut Mera dengan kencang. Dia berhasil membuat Mera menjauhi jenazah Mikayla.
"Pergi kamu, sialan! Karena mu cucuku pergi! Dasar ibu tidak berguna. Ibu jahat! Sejahat-jahatnya saya. Tidak pernah sekalipun saya jahat pada keturunan saya!" teriak Sri kencang membuat Mera terpukul.
Perawat berusaha memisahkan Sri dan Mera. Wanita paruh baya itu menjauh dan menatap tajam ke arah Mera.
"Aku mau peluk putriku!" pinta Mera dengan suara parau.
Arga mendengus dingin. Mata pria itu memerah dan berair. Dia menatap dingin Mera.
"Jangan harap aku mau membiarkanmu memeluk putriku. Kamu bukan ibunya! Kamu hanya wanita yang melahirkannya. Bukan wanita yang merawat dan menyayanginya!" sentak Arga dengan nada keras membuat hati Mikayla semakin hancur.
"Bawa wanita itu keluar! Dia pembunuh. Karenanya cucuku pergi!" tegas Damar pada para perawat.
Mera diseret keluar. Dia terus berteriak memohon agar diberi izin untuk memeluk Mikayla untuk terakhir kalinya.
"Mikayla!!"
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
beda dari yang beda🤣
karena saya lama hilang dari peredaran jadi baru ketemu.
dulu terakhir baca cerita 'tiba² istriku berubah'
walopun bukan adik kembar cowok cewek, tapi tetap disyukuri saja..
sapa tau mama Mera masih mau hamil lg dan dikasih adik cowok..
syukurlah akhirnya happy ending, semua saling memaafkan dan hidup rukun..
makasih banyak kak sudah membuat kisah yg inspiratif..
mengangkat tema yg memang banyak berkembang di masyarakat..
semoga bisa bermanfaat bagi para reader semuanya..
sepertinya ini novel terakhir kakak yg bisa kubaca..
sudah habis dibaca maraton kecuali yg belum tamat..
semoga masih mau berkarya di sini lg suatu saat..
anyway, semoga sehat selalu ya kak..
tetap semangat untuk menghasilkan karya2 lainnya yg gak kalah luar biasanya..
semoga sukses selalu baik di dunia halu maupun dunia nyata.. 💪🏻🙏🏻😘🥰😍🤩💕
barokallah.. 🤲🏻