NovelToon NovelToon
Rebirth Of The Duke'S Daughter

Rebirth Of The Duke'S Daughter

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Fantasi / Petualangan / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Pelangizigzag

Putri bodoh yang satu ini berubah total dalam waktu semalam! Setelah ini dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakitnya satu-persatu. Lalu ditakdirkan hidup sebagai permaisuri? oh, tidak masalah karena ada pria tampan berkuasa yang akan membantunya sampai akhir.

NO PLAGIAT!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangizigzag, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Loot

Raja Peterson tak cukup gila untuk membiarkan putranya bertarung melawan Kaisar yang tak akan pernah mati. Tak salah lagi, Kaisar Javier dianugerahi hal itu. Terlahir sebagai Putra pertama dari Dewa penjaga Benua Erosh, Kaisar lima benua besar ini diramalkan tak akan pernah mati bagaimanapun caranya. Menurut rumor, Kaisar Javier hanya akan mangkat apabila ia dirasa cukup lama memerintah. Tapi hal itu cukup mustahil untuk dirasakan sekarang, bukankah artian 'cukup' dari para Dewa itu bisa saja berkisar ratusan juta tahun?

"Tidak perlu, Yang Mulia." Raja Peterson angkat bicara. "Saya tak meragukan kehebatan Anda. Sebagai Putra Dewa Agung, putra saya tentu akan gugur dalam pertandingan ini," sahutnya merendah. Namun hal itu adalah fakta. "Kami akan menyerahkan Nona Mikayla kepada Anda. Saya sangat menyesal telah bertindak gegabah karena cinta buta Putra Mahkota."

Mikayla sudah kembali duduk dengan tenang meski terkadang Claude mengganggunya. Kaisar Javier berdiri, diikuti semua orang yang duduk.

"Kalau begitu kalian bisa kembali ke Armovin. Pertemuan ini berakhir sampai di sini." Kaisar dengan pakaian kebesarannya berjalan gagah berani menuju pintu ganda diikuti Pangeran Claude dan Mikayla di belakangnya serta banyak pengawal berbaju besi. Setelah Mikayla bersisian tepat di samping Duke Stanley, lagi-lagi pria tua itu menghadang jalannya.

"Pikirkan keputusanmu sekali lagi, nak. A-ayah tak ingin kau menyesal karena mengambil keputusan yang salah," ucap Duke Stanley sedikit memaksa.

"Jangan mengatakan hal tidak penting pada nona saya, Duke Stanley." Asap merah menyeruak keluar, membentuk postur tubuh seorang yang berdiri di samping Mikayla. Lama-kelamaan asap itu berubah wujud menjadi pria bersurai cokelat yang menatap tajam dengan mata yang memerah. "Saya tak akan segan-segan untuk membagikan potongan tubuh Anda kepada makhluk buas di dasar neraka."

Duke Stanley tak berkutik. Rombongan kekaisaran mau tak mau menyeret Mikayla keluar dari ruangan itu terlebih dahulu sebelum rombongan Kerajaan Armovin pergi.

Ah, ini semua gara-gara penjaga Pedang Phoenix.

"Ah, aku hampir lupa." Kaisar Javier berbalik, ia melayangkan tatapan ke arah Raja Peterson. "Cari tahu siapa saja orang yang terlibat dalam perencanaan pembunuhan terhadap calon permaisuri-ku. Bawa orang-orang itu segera." Kemudian tatapannya beralih pada Duke Stanley. "Kurasa kalian cukup mengerti untuk tidak menutup-nutupi pelakunya. Walau darah daging sendiri, 'kan?"

...----------------...

"Saya masih belum mengerti," ujar Mikayla setelah ia terbebas dari ruangan mencekam tadi. Sekarang ia berjalan beriringan dengan Kaisar Javier menuju kamar masing-masing. Kebetulan kamar mereka diatur dengan jarak yang tidak begitu jauh dan searah, sehingga mereka bisa bersantai seperti saat ini. "Apa maksud Raja Peterson. Putra Dewa Agung, maksudnya Anda?"

Gema langkah mereka berdua memenuhi lorong istana. Bukan, lebih tepatnya langkah Mikayla lah yang bergema. Entah bagaimana Kaisar Javier bisa berjalan tanpa suara sama sekali. Apa dia terbang?

"Ck. Apa benar kau membaca buku setiap hari?" jawab Kaisar Javier tenang.

"Saya selalu membaca tapi hal seperti itu belum ada di buku yang pernah saya baca," balas Mikayla sembari melipat kedua tangan di depan dada, tatapannya berubah kesal. "Tapi apa benar Anda Putra Dewa Agung?"

"Jadi kau meragukanku?"

"Sedikit," ucap Mikayla pelan dan tentu saja hal itu masih bisa ditangkap oleh pendengaran Kaisar dengan baik. Lelaki itu terkekeh geli.

"Jika yang berucap seperti itu adalah orang lain, ku pastikan dia akan berakhir dilalap api," kekeh Kaisar lagi. Dengan gemas ia mencubit sebelah pipi Mikayla.

"Ouch, menyebalkan!" Mikayla mengusap-usap pipinya yang memerah. "Apa saya sudah berbicara terlalu jauh? Maaf."

"Untuk apa minta maaf?" Kaisar menghela nafas. "Jadilah Mikayla, diri sendiri. Itu saja, aku juga tak suka membebankan tugas kandidat calon permaisuri padamu."

Senyum kecil terbit di bibir mungilnya Mikayla. "Kalau begitu anda juga sama seperti saya," sambungnya antusias. Ia kembali melanjutkan ucapannya saat melihat kerutan di dahi sang Kaisar. "Jadilah Aidenloz yang sama saat kita bertemu pertama kali. Semua orang memiliki kebebasannya masing-masing, 'kan?"

Mikayla tersenyum. "Saya tahu, Aidenloz lebih menyukai kebebasan, berbeda dengan Kaisar Javier."

Kaisar Javier terdiam. Tatapannya lurus ke depan seolah siaga setiap waktu. "Perlu kau tau, faktanya tinggal di istana tidak mudah. Ia tak pernah mengizinkan pemilik juga penghuninya untuk bersikap sesantai itu."

Mikayla menatap lamat manik biru gelap sang Kaisar dari samping. "Teruslah ingat, Mikayla. Kehidupan keluarga kerajaan tak seindah cerita-cerita para pendongeng diluar sana. Kehidupan Istana bahkan jauh lebih berbahaya dibandingkan hutan liar Augoria sekalipun."

...----------------...

"Keadaan pasar Eroshvent seperti apa, ya?" Mikayla mengamati seisi negeri Erosh yang luas dihiasi penduduk yang hilir mudik dari pusat perbelanjaan. Manik biru jernih itu menatap dari balik balkon yang menjorok dari kamarnya. Udara di kawasan tengah benua Erosh ini berbeda dari Armovin yang biasanya bersuhu sedang dan terkesan lembab, di Pusat Pemerintahan Negeri Eroshvent justru bersuhu dingin namun ajaibnya tumbuhan masih dapat bertahan hidup dengan baik dan subur.

"Bagaimana kalau kita menyelinap keluar?"

Mikayla menoleh. Ia sempat tersenyum tipis. "Itulah yang kupikirkan sejak tadi."

"Lalu tunggu apa lagi?" Alphair bangkit dari kursi yang didudukinya. Ikut memerhatikan sekeliling kerajaan. "Ah, ternyata desas-desus selama ini benar bahwa pemandangan Kerajaan Pusat Eroshvent jauh lebih baik daripada pemandangan dari kerajaan lain."

"Kau berbicara seolah sudah pernah menjelajahi semua daratan di Benua Erosh," Mikayla tersenyum miring.

"Belum. Tapi akan," sahut Alphair dengan tenang. "Saya berfirasat kalau nona muda ini akan mengajak saya bepergian ke segala tempat di daratan Erosh."

Mikayla meneliti ekspresi lelaki disebelahnya. Alphair tak terlihat menahan senyum atau mengejek sama sekali. Alphair sama sekali tak bercanda akan ucapannya kali ini.

"Mengapa kau begitu yakin?"

"Insting. Yah, kami sebagai penjaga pedang lima benua tentu memiliki insting yang tajam." Alphair menutup mata kala angin lembut menerpa rambut coklat bergelombang miliknya. Ia bahkan lupa, kapan terakhir kali bisa merasakan ketenangan seperti ini. Terlalu lama mendekam di dalam pedang ternyata bukan suatu hal yang baik. "Lagipula saya yakin bahwa Kaisar Javier memiliki pendapat yang sama seperti saya."

Mikayla terdiam. Tangannya mencengkeram sisi tembok pembatas balkon. "Kita pergi sekarang."

"Hah?" Alphair membuka matanya yang sempat tertutup. "Mau kemana?"

"Katanya ingin keluar, 'kan? Kita pergi sekarang."

"Tanpa memberitahu Kaisar?" tanya Alphair.

"Benar, tanpa diketahui Kaisar." balas Mikayla mantap.

...----------------...

"Nona, bagaimana dengan gelang giok ini? Barang giok impor kualitas asli dari Kerajaan Vrioral!"

Seruan pedagang itu menarik perhatian Mikayla. Gadis bertudung hitam itu membisikkan sesuatu kepada Alphair. "Apa Vrioral terkenal dengan perhiasannya?"

Alphair terkekeh. "Sebenarnya Kerajaan Vrioral terkenal akan kualitas bahan pangan, bukan perhiasan." Lelaki itu menyapukan pandangannya ke segala penjuru. "Perhiasan terbaik tetap dimiliki oleh Armovin."

"Tentu saja," jawab Mikayla bangga. "Lagipula Kerajaan Vrioral mayoritas dihuni oleh makhluk berkekuatan untuk menumbuhkan berbagai tanaman, 'kan. Bukan perhiasan." Mikayla mengedikkan bahu acuh.

Tak beberapa lama, suasana pasar yang tadinya ramai dengan seruan riang anak-anak dan perbincangan hangat beberapa wanita berubah menjadi riuh. Mereka berlari tak menentu arah saat ada beberapa pasukan terbang menggunakan sapu yang uniknya bisa dikendalikan kemanapun. Mikayla terpaku sesaat, hingga ia lupa jika marabahaya siap mengincar dirinya.

Salah satu dari mereka mengeluarkan pedang yang kira-kira sebesar tubuh anak berusia dua belas tahun. Pedang tersebut memiliki warna ungu muda dengan aksen hitam di setiap sisi.

Pria tersebut merapal mantra yang tidak bisa didengar lalu berucap, "Berkat murninya pedang penjaga Aldergo, tunjukkan di mana keberadaan pedang Armovin yang bisa Anda rasakan!"

"Ada pada wanita yang tak jauh darimu."

Seluruh pria dengan sapu terbang itu lantas menoleh ke arah Mikayla yang masih takjub pada pemandangan yang belum pernah dilihatnya. Wanita itu yang memegang pedang penjaga Armovin? Seperti kurang meyakinkan.

"Permisi, nona."

Mikayla mengerjap. "Oh, ada yang bisa saya bantu?"

"Apa Anda memiliki sebuah pedang yang dihiasi batu ruby?" tanya pria itu baik-baik. "Saya akan menukarkannya dengan apa pun yang Anda mau, bisakah?"

Gadis itu meneliti beberapa pria yang menghadangnya, dengan acuh ia menjawab, "Aku tidak tahu."

"Jangan salahkan saya, nona. Saya sudah memintanya baik-baik tapi Anda tidak ingin menyerahkannya kepada kami," ucapnya menyeringai lebar. "Anda memaksa kami untuk melakukan kekerasan."

Tanpa aba-aba seluruh pria itu segera menerjang ke depan dengan pedang masing-masing. Mikayla tak bisa diam saja, ia lantas mengeluarkan pedang legendaris tersebut dan berhasil mengalahkan beberapa musuh dengan sedikit gerakan.

Dentingan pedang tak terelakkan. Pasar tersebut sepi total dari para pengunjung. Tak ketinggalan Alphair juga mengeluarkan pedangnya yang berbisa.

"Kita lihat, siapa yang akan menang," gumam Mikayla tersenyum tipis.

1
Murni Murniati
kampret ini lama lama minta dikubur ini, apa tak sadar dia siapa, ini anak dewa dewi dia budak,apa tak sadar dia
Murni Murniati
kan dia udah dikasih dua kebebasan keinginan ini, jd kapan diminta
🌿wing2bo_27
Luar biasa
>AY<
cerita nya rumit, harus mengulang kata"nya supaya paham.
Ayu Mestari
Luar biasa
Yati Haryati
ceritanya terburu buru bgt min
Ayu Sari Murni
manggilnya adiden aja Thor susah q bacanya
ana azizah
bertele2
Hikam Sairi
baca
Dede Mila
/Proud//Joyful//Joyful//Joyful/
Inesya Qinan s
Luar biasa
Inesya Qinan s
Lumayan
Asmi Pandansari
aku mampir
Murni Dewita
sama2 penasaran kita mikayla/Grin/
Murni Dewita
mampir
Dang Antie
Luar biasa
Cancer👾
suka banget sama cerita, tapi epsonya sedikit heheh
Riska Mustikasari
putri tidur butuh make up baca dimana kak... kok ga ada aku cari
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Querido🦋
yakin ingin menghukum tahta tertinggi diatas raja hm?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!