NovelToon NovelToon
Me And The Credit Queen

Me And The Credit Queen

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:730.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rabiha Adzra

Zaman sekarang mau dijodoh-jodohkan, siapa yang mau?. Bram, sepupu Byakta Aryasatya berusaha menjodohkan sepupunya itu dengan sepupu istrinya. Tahu sendiri keluarga dari sebelah Bella, istri Bram banyak yang alumni pondok pesantren bahkan ada yang memiliki pondok pesantren. Sementara pemahaman Bella sendiri standar saja meskipun dia menutup aurat juga. Byakta menolak tawaran Bram.

Di hari pertama, Byakta masuk kerja karena menggantikan posisi Manajer Keuangan yang resign, dia dikejutkan oleh ruangan divisi keuangan yang ramai bak pasar. Banyak karyawan perempuan sedang sibuk memilih-milih barang.
Zeevana yang punya lapak langsung dipanggil Byakta keruangannya. Gadis itu dilarang buka lapak di dalam kantor. Zeevana sangat kesal dengan Byakta padahal dia tidak mengganggu jam kerja. Byakta saja yang datangnya kepagian. Sejak hari itu Zeevana bersikap tidak bersahabat dengan atasannya itu.
Ternyata Zeevana adalah sepupu Bella. Bella juga akan menjodohkan Zeevana dengan sepupu suaminya.
Akankah Zeevana menerima perjodohan dari sepupunya ?
Impian Zeevana yang ingin memiliki suami yang bisa menjadi imamnya dunia akhirat akankah terwujud ?
Sementara Byakta yang sudah mengetahui dengan siapa dia akan dijodohkan, jadi berpikir ulang untuk mencoba mengenal Zeevana lebih dekat dengan caranya sendiri.

Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Yuk lanjut baca aja 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rabiha Adzra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 17 Sanksi Cinta

Pulang dari Lombok, Byakta dan Zeevana masuk kerja seperti biasa.  Hubungannya dengan Zeevana masih jauh dari harapan. Yah, anggap saja baru pendekatan seperti anak ABG yang mau pacaran. Namun pacaran mereka halal, ya.

"Aku serius lho, Mas. Kok, udah pulang aja," gerutu Bram ketika Byakta ke ruangannya memberikan sedikit oleh-oleh dari Lombok.

"Kalau timingnya kerja ya kerja," elak Byakta.

"Mas ini nggak mikir apa, kenapa coba tiba-tiba Zee mau ikut Mas ke Lombok?," tanya Bram serius.

Byakta menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia juga heran, namun karena senang Zeevana sudah mau ikut karena keinginannya sendiri, jadi Byakta tidak memikirkan lagi apa alasan istrinya itu mau ikut.

"Wanita seperti Zee nggak mungkin terang-terangan mau mengajak Mas. Ya, Mas sendirilah yang harus peka," ujar Bram.

Byakta tampak berpikir, 'Benar juga apa yang dibilang Bram. Ah, tapi sudahlah.' Sudah mau apalagi.

***

Di kantin

"Wah bagus sekali, Zee," ujar Icha sedang mengenakan gelang dari mutiara.

Zeevana membeli perhiasan mutiara dari Lombok seperti biasa untuk dia kreditkan.

"Benar, Zee. Ya Allah, manis sekali yang ini," timpal Vania.

"Ambil saja. Bisa berkali-kali bayar, kok. Aku nggak beli banyak karena harganya kan lumayan mahal," ujar Zeevana.

Sambil menunggu pesanan mereka datang, teman-teman Zeevana mencoba-coba perhiasan dari mutiara yang dibawa oleh Zeevana.

Di meja lain, beberapa pasang mata sedang mengamati meja tempat Zeevana dan teman-temannya duduk.

"Nggak di dalam kantor, di parkiran, di kantin sama saja tuh si Ratu Kredit," sungut Mario sekretaris Bram.

"Jiwa bisnisnya tinggi juga," timpal Lukman.

Bram dan Byakta yang duduk di dekat mereka masih asik menikmati makan siangnya.

"Kok kamu tahu Mar kalau Zeevana itu Ratu Kredit?," tanya Bram heran. Padahal kan Mario itu sekretarisnya masa bisa tahu aktivitas Zeevana.

"Pak Bram, istriku itu teman kuliah Zeevana. Hampir setiap bulan istriku menitip uang angsuran kredit untuk Zeevana," jawab Mario.

"Kok, bisa?. Istrimu kan tidak kerja di sini, Mar?." Byakta ikut bicara.

"Bisalah, Pak. Mereka kan ada grup. Kalau istriku pesan, Zeevana langsung mengantar barangnya ke rumah," jawab Mario.

"Mas By, karyawan Mas yang satu itu punya hobi unik, ya," lirik Bram sambil tersenyum.

Byakta ikut tersenyum kecil. Dia melirik meja istrinya yang ramai sambil menikmati makan siang. Mereka makan juga sambil mengomentari perhiasan yang dibeli Zeevana ketika ke Lombok.

'Aku akan mendukung hobi kamu itu, Sayang,' batin Byakta.

💞💞💞

Setelah istirahat sholat dan makan, Byakta kembali ke ruangannya. Sambil bersandar di kursi kerja, dia meraih ponselnya kemudian mulai mengetik di layar ponsel.

[Sepertinya jualan kamu laris manis]

Byakta mengirim pesan kepada Zeevana. Chat yang dia kirim langsung dibaca Zeevana. Hmm.

Zeevana: "Kok, mas tahu?."(senyum sendiri sambil melihat ponsel)

Byakta : "Tahulah, kamu aja yang sibuk sampai nggak melihat sekeliling lagi."

Zeevana: "Rupanya Mas makan di kantin, ya. Iya habis, Mas. Jadi menyesal, kenapa nggak beli banyak."

Byakta : "Mau ke sana lagi?." (Byakta serius kalau Zeevana mau ke Lombok lagi, dia bersedia untuk mengajaknya ke sana.)

Zeevana: "Nggak, ah. Tempat lain mungkin lebih, oke." (Senyum-senyum lagi)

Hmm. Apa Zeevana memberi sinyal, ya?.

Byakta : "Misalnya?." (Byakta coba memancingnya)

Zeevana: "Hm, lain kali saja, Mas."

Byakta melihat Zeevana sudah tidak aktif lagi setelah membalas chat darinya. Sepertinya Zeevana tahu kalau Byakta sedang memancingnya.

"Zee, balas chat siapa, sih?. Senyum-senyum sendiri kayak orang ****," sindir Mike memunculkan kepalanya di pembatas kubikel Zeevana.

"Kepo akut!!," balas Zeevana lalu menyingkirkan ponselnya ke dalam tas.

"Pelit banget, sih," sungut Mike.

"Biarin wew," balas Zeevana lagi.

"Zee, tolong rekap data dua bulan terakhir, ya," pinta Vera sudah berdiri di depan kubikel Zeevana.

"Iya, Mba." Zeevana kemudian menyalakan layar komputernya kembali.

"Siang-siang begini enaknya nyemil apa, ya?," ujar Mike.

Belum mulai mengetik Zeevana sudah menguap.

"Aduh, kok ngantuk sekali. Buat kopi dulu enak kali, ya," ujar Zeevana berdiri setelah mengambil simpanan kopi sashetnya di laci meja.

Zeevana keluar dari kubikelnya menuju dispenser yang terletak di sisi kanan pintu masuk divisi keuangan. Secangkir kopi hangat mungkin bisa membuat matanya melek. Zeevana kemudian berjalan kembali menuju kubikelnya sambil memegang secangkir kopi hangat.

Tiba-tiba...

"Aaaa!!. Astaghfirullah," jerit Zeevana kaget karena telah menabrak seseorang yang tak lain suaminya sendiri.

Semua karyawan sontak berdiri dan terpaku melihat accident di depan mereka.

Byakta memang tiba-tiba keluar dari ruangannya ingin pergi. Dia juga begitu kaget melihat Zeevana yang berjalan tanpa melihat ke depan lagi.

"Maaf, Pak!," seru Zeevana.

Zeevana meringis melihat cipratan kopi instannya mendarat di kemeja Byakta. Itu kopi masih hangat, lho.

Byakta menatap Zeevana dengan raut wajah menahan panas yang sudah mengenai dadanya.

"Habislah Zeevana. Dia bakalan kena semprot bos," bisik Onni kepada Vera. Vera tersenyum kecut melihat nasib temannya itu.

"Ikut saya!," perintah Byakta kembali lagi masuk ke dalam ruangannya diiringi Zeevana di belakangnya.

"Aduh!!. Kenapa hari ini Zee apes banget, sih," ujar Mike pelan.

"Semoga saja nggak dipecat," tambah Vemy.

"Kalian lihat nggak ekspresi Pak By tadi?. Seram sekali," timpal Anita takut.

Ruang Manajer Keuangan

Byakta masuk dan mengunci pintu setelah Zeevana berada di dalam juga. Dia membuka jas yang dikenakannya, begitu juga dengan dasinya yang ikut kena cipratan kopi.

"Mas, aku benar-benar nggak sengaja," ujar Zeevana dengan raut wajah merasa bersalah.

"Iya, tahu. Tapi itu air panas, Zee," gumam Byakta menahan perih di dadanya.

Byakta membuka kancing kemejanya untuk melihat apakah kulitnya melepuh atau tidak akibat terkena siraman kopi Zeevana.

"Ya Allah, Mas!." Zeevana histeris menutup mulutnya bukan karena suaminya itu sudah bertelanjang dada tetapi karena melihat dada Byakta yang sedikit memerah.

"Nggak apa, tapi kamu harus mendapatkan sanksi dariku," ujar Byakta menatap Zeevana serius.

"Iya, Mas. Aku terima sanksi apapun dari Mas," ucap Zeevana pasrah lalu menunduk.

"Benar?," tanya Byakta.

Zeevana mengangguk masih dengan wajah tertunduk. Byakta lalu mendekatinya sehingga tidak ada jarak lagi di antara dia dan Zeevana. Byakta mengangkat dagu perempuan yang ada di hadapannya kemudian mendekatkan wajahnya lalu Byakta mencium bibir istrinya itu. Zeevana pun tak berkutik. Sejenak dia merasakan ciuman pertama dari suaminya.

"Mmm...Mas ini kantor," ujar Zeevana sadar kemudian mendorong badan Byakta. "Kalau ada yang masuk bagaimana," ujarnya lagi  malu.

"Pintunya kan sudah aku kunci," ucap Byakta tersenyum melihat Zeevana tampak salah tingkah.

"Itu sanksinya," kemudian Byakta meraih pinggang Zeevana untuk dipeluknya.

"Mm...mas," ucap Zeevana sambil menahan dada Byakta dengan ke dua tangannya.

"Zee, apa kau tidak ingin memeluk suamimu ini," tatap Byakta.

Zeevana menunduk lalu melingkarkan kedua tangan ke badan Byakta. Kepala Zeevana pun bersandar di dadanya.

'Dengarlah detak jantungku yang sangat kencang karena ulahmu,' batin Byakta. Dia merasakan jemari Zeevana meraba dadanya yang terkena siraman kopi.

"Masih sakit, Mas?," tanya Zeevana.

"Sedikit. Tapi kayaknya bakalan hilang kalau terus begini," goda Byakta.

"Mas, kayaknya sudah terlalu lama aku di ruangan Mas. Nanti teman-teman curiga lagi," ujar Zeevana. Dia mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Byakta.

Byakta justru malah merapatkan pelukannya lalu mendekatkan lagi wajahnya ke wajah Zeevana.

"Zee bisa kah aku..."

"Mas, aku mohon jangan di kantor. Aku malu...," ucap Zeevana lalu memalingkan wajahnya.

Byakta tersenyum geli melihat wajah istrinya yang memerah. "Aku akan melanjutkannya di rumah," bisik Byakta mesra. Zeevana mengangguk. Laki-laki bertubuh atletis itu melepaskan tubuh ramping istrinya.

"Aku boleh keluar?," tanya Zeevana.

"Iya, Sayang. Nanti kalau ada yang mengantar pakaianku kamu yang bawa ke sini," pesan Byakta sebelum Zeevana keluar.

"Iya, Mas," sahut Zeevana.

Zeevana kemudian membuka kunci pintu lalu keluar dari ruangan Byakta. Dengan jantung berdebar kencang, Zeevana kembali ke kubikelnya.

1
Rahmaniar
suka ceritanya 👍👍
Nurul Badriyah
sy udh berkali2 baca novel ini, ga ada bosennya...critanya ringan tp nyata
Mbak Latif
saya syuka bacanya the real kehidupan sehari**
Eliani Elly
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Eliani Elly
👍👍👍👍
Eliani Elly
baru nyimak
Licha Mas
jadi pingin ikut ngredit kalau selaris itu mbak Zee...
Ismalinda
baguslah
Herlini
good
Adzkhia Sbw
itu Poto profil yg cewek kayak Mualimah aku di pondok
nadya insan
lanjut kak
Yayang Cinta
aq suka ceritany thor, ga berbelit2 sma ga bnyk episode.. tiga kata dri qu I like you
Moelyanach
sukaaa
Moelyanach
itu kyk saya jualan dipbrk, bedanya zeva jualan tas brended nah aku, jualan gorengan dan kopi. 😂😂
Betty
akhir yg bahagia senang nya. 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏👏👏👏👏👏👏
Betty
srlamat utk byakta dan zeevana yg menjadi org tua baru.
Betty
oooo ........ td.... zeevana
Betty
haha.........
Betty
makin seru + lucu
Betty
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!