Saat cinta menyapa, mampukah Resti menepis rasa dendam itu?
Restina Adelia, menerima pinangan Raka Abhimana. Pernikahan mereka, hanya diwarnai pertengkaran demi pertengkaran. Suatu hari, Raka pulang dalam keadaan mabuk, hingga membuka rahasia kematian orang tua Resti.
Resti pun memutuskan pergi dari kehidupan Raka. Saat itulah, Raka menyadari perasaannya pada Resti. Mampukah Raka menemukan Resti? Bagaimana cara Raka meyakinkan Resti, bahwa hanya Resti pemilik hatinya, setelah Raka menyakiti Resti terus menerus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruth89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17 ~ Apartemen Riska
Seperti biasa, Resti akan memasangkan dasi pada sang suami. Raka memeluk pinggang ramping sang istri. Ia bahkan menatap wajah Resti lekat.
"Kamu tambah cantik," puji Raka.
Resti terkekeh mendengar pujian sang suami. Tak bisa ia pungkiri, Raka sangat tahu cara melambungkan hatinya. Kecupan hangat mendarat di pipi Resti. Membuat wanita itu mendelik pada sang suami.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku bisa pingsan," ucap Raka.
Resti memukul Raka pelan. Kemudian, berlalu keluar dari kamar. Raka mengikuti langkah sang istri. Mereka pun sarapan bersama. Tidak ada yang berbeda. Mereka masih terlihat mesra.
Mereka pun berangkat bersama ke kantor. Setelah menurunkan Resti di kantornya, Raka melajukan mobilnya ke tempatnya bekerja. Setengah jam kemudian, ia tiba. Segera, Raka menuju ruangannya.
Terlihat Bayu sudah menunggu di tempatnya. Saat melihat Raka datang, ia segera membawa tumpukan pekerjaan ke ruangan Raka.
"Ini sudah semua?" tanya Raka.
"Sudah," jawab Bayu.
Raka menganggukkan kepala. Ia sadar, Bayu masih berdiri di depannya. Raka pun mengangkat pandangan seakan bertanya pada Bayu, ada apa.
"Ada hal lain yang ingin kau katakan?" tanya Raka.
"Cukup sudah kau menyakiti Resti!" seru Bayu.
Raka mengerutkan dahinya mendengar ucapan Bayu. "Apa maksudmu?" tanya Raka.
"Riska! Dia kembali. Apa aku salah?" tanya Bayu.
Raka menghela napas dalam. Jika Bayu sudah mengetahui hal ini, sudah pasti orang tuanya akan tahu.
"Kami hanya berteman," jawab Raka.
"Kau yakin? Kau sangat tahu seperti apa Riska! Jangan sampai kau terjebak permainannya dan berakhir menyakiti Resti lagi!"
"Aku tidak akan melakukannya."
"Bagus. Aku hanya berniat mengingatkanmu. Itu saja," ucap Bayu. Ia segera keluar dari ruangan Raka.
Raka memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
***
Beberapa hari kemudian, Raka dan Resti bersiap pergi menuju apartemen Riska. Kemarin, Raka sudah menyampaikannya pada Resti. Sejujurnya, wanita itu tidak ingin pergi ke sana. Namun, ia juga tidak ingin mengecewakan Raka.
"Sudah siap?" tanya Raka.
Resti menganggukkan kepala sambil tersenyum. Kemudian, Raka menggandeng Resti keluar. Mereka segera menuju apartemen Riska. Apartemen, yang menjadi pernah Raka berikan padanya.
"Mas, apa aku gak usah ikut aja, ya?" tanya Resti.
"Kamu harus ikut, Sayang. Karena aku tidak ingin kamu salah paham." Raka menggenggam lembut tangan sang istri.
Tak lama, mereka tiba di pelataran parkir apartemen. Raka tetap memegang tangan Resti erat. Seakan tak ingin melepasnya. Saat mereka tiba di unit Riska, wanita itu mengenakan gaun seksi nan pendek.
Gaun itu berwarna merah menyala. Sangat kontras dengan kulit putih mulusnya. Sebagai wanita, Resti merasa rendah diri melihat penampilan Riska yang modis dan fashionable.
"Ayo, masuk. Kenapa diam di sana?" ajak Riska.
Resti tersenyum kecil. Raka merangkul pinggang Resti, memperlihatkan hubungan mereka yang harmonis. Pertama masuk, Resti melihat ada banyak foto kebersamaan mereka yang terpajang di sana. Bagaimana mesranya mereka.
"Maaf, aku belum sempat merapikan apartemen. Jadwalku sangat padat," ucapnya tak enak, saat menyadari tatapan Resti dan Raka.
"Tidak masalah," ujar Resti dengan senyum palsu.
Ya, Resti sengaja menampilkan senyum di wajahnya, meski hatinya terasa sakit melihat kenyataan di depan. Riska segera membawa mereka ke ruang makan. Makanan yang terhidang, sangat menggugah selera. Namun, Resti kehilangan seleranya. Ia bahkan tak berminat melihat makanan yang tersaji.
"Ini, masak sendiri?" tanya Resti.
"Gak, kok. Aku, gak sempat masak. Lagi pula, aku gak bisa masak," jawab Riska jujur.
"Lain kali, kamu harus coba masakan istriku. Dia sangat jago masak," puji Raka.
Pria itu menatap sang istri penuh cinta. Resti menunduk malu. Ia menyembunyikan wajahnya yang memerah. Meski Raka sering memujinya, ia tetap saja merasa malu.
"Benarkah? Wah, aku jadi penasaran. Lain kali, ajak aku makan di rumah kalian, ya," pinta Riska.
"Nanti kami atur," jawab Raka dengan senyum menawan miliknya.
Kpan lgi nie kax🥰🥰🥰🥰🥺🥺🥺🥺🥺🥺