*KHUSUS PEMBACA UMUR 17+*
Pertemuan mereka berdua membuat roda takdir berputar.
Hari – hari indahnya bermula saat Dion bersama dengannya, mengawali dan menutup hari dengan mengucap namanya yang sudah terukir didalam hati. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua dari kebahagian itu, hingga suatu saat....
“Lebih baik aku tidak pernah bertemu denganmu.” Gumam Dion
Di malam hari, gelap, tanpa cahaya aku berdiri dan kembali menyesali perbuatanku. Awan besar menutupi rembulan, aku tak dapat berkata – kata lagi tanpa kusadari air mata telah mengalir.
“maafkan aku teman – teman....”
Disini, dikelas ini, diantara jasad seluruh sahabat2ku, aku menangis.
Dengan tatapan kosong dan tubuh bermandikan darah.
“anak iblis”
“Pembunuh”
“Penjahat”
Satu persatu sebutan itu terdengar ditelingaku hingga sampai membuatku lupa akan identitasku sendiri. 1 minggu kemudian Aku terbangun disebuah rumah sakit jiwa tanpa mengingat apapun dan langsung pindah ke kota Lando dan berseklah di SMA Violet
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahroni nurhafid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 - Diujung amarah
“Saat suatu hal
akan terjadii, atau telah terjadi atau bahkan sedang terjadi semua pasti
berawal dengan kata ‘aku’ sebelum ‘mereka’ ataupun kita, seperti itulah makhluk
yang disebut manusia.”
Salah satu suara
dalam mimpiku berkata seperti itu,
Dan suaranya
benar-benar mirip Lina
Mungkin saja itu
benar – benar suara lina,
Apakah mimpi itu
adalah salah satu potongan dari ingatanku yang hilang?
‘manusia adalah
mahkluk egois’
Itukah yang
dimaksud dengan perkataannya?
Jika memang
benar, mengapa kau melindungiku sampai saat ini?
Jika kau
berbohong pada mereka kau bisa saja mendapatkan masalah besar.
Gumam kecilku
didalam lemari,
Tiba – tiba
terdengar suara obrolan teman sekelasku yang sedang berjaga dijendela
sebelumku,
A :”menurutmu Rui
baik –baik saja tidak ya? Aku bener – bener khawatir..”
B :”apa maksudmu?
Rui memiliki tubuh yang begitu tinggi dan kuat dia pasti baik – baik saja.”
A :”sebelum kita
berlari keluar kelas tadi sempat kudengar kalau jay menantang rui.”
B :”Beneran itu?
setelah dapat pukulan dari Ibo sampai terpental ke pintu begitu dia masih
ditantang Jay? Enggk enggk enggk dia pasti akan menolaknya, Rui pernah bilang
padaku kalau seminggu lagi akan ada pertandingan basket yang ia tunggu –
tunggu. Apalagi itu adalah pertandingan terakhirnya kan?”
A :”Justru karna
itu, aku khawatir. Rui menerima tantangan dari jay, kalah atau menang jay
sangat dirugikan kalau dia sampai cidera ia akan mengorbankan pertandingan
basket terakhirnya dan jika mereka ketahuan mereka bisa saja dikeluarkan dari
sekolah.”
Di dalam lemari,
ku mendengar suatu hal yang tak tertuga. Diriku yang hanya berlari tanpa
melihat kebelakang hanya karena takut adanya korban sekarang justru mendapat
korban lain. Tak peduli apapun pilihanku apapun tindakanku, korban pasti akan
ada.
Lalu apa artinya
melakukan pelarian ini?
Demi siapa aku
melakukan ini?
Demi mereka?
Atau hanya demi
diriku?
*brr....brrr
Sebuah pesan
masuk ke Hpku
Ku ambil hp di
saku ku dan membukanya,
Senyuman pun
terlukis diwajahku,
Dion :”hey,
kalian?”
A & B
:”hmmm?”
Sementara itu,
Ibo :”permisi,
tadi kami sempat melihat kau membawa Dion kesini. Bisakah kau memberikannya
pada kami?”
Lina :”aku baru
tau kalau anak SMA tidak punya aturan sama sekali, kau tidak pernah di ajari
tata krama di sekolah? Sebelum berbicara tidak sopan seperti itu perkenalkan
dirimu dahulu, Se – ni – or.”
Ibo :”maaf,
namaku Ibo teman sekelas Dion, itu saja apa ada yang kurang?”
Lina :”kau
menyebut dirimu sendiri teman? Lucu sekali, hubungan teman yang seperti ini
begitu menjijikan sampai membuatku ingin muntah. Teman atau tidaknya bukan kau
memutuskan, sama hal nya dengan kecerdasan semua itu hanya julukan yang
diberikan orang lain bukan oleh dirimu sendiri. Orang yang memanggil dirinya
sendiri pintar adalah orang paling bodoh berbeda dengan mereka yang diakui
kepintarannya oleh orang lain, apa otak anak SMA tidak bisa memahaminya?”
Ibo :”Cukup
berbelit – belitnya, serahkan dion padaku.....jika tidak......”
Lina :”Jika
tidak...apa yang akan terjadi?”
Ibo :”aku akan
memukulmu, aku takkan segan – segan walau kau seorang gadis kecil.”
Ibo mengangkat
kerah Lina dan bersiap memukulnya
Lina
:”kedengarannya itu bagus, silahkan pukul aku. Mari kita buktikan siapa disini
yang berpura – pura sebagai manusia dan iblis disini.”
Ibo :”kau gadis
yang cerdas, siapa namamu?”
Lina :”aku takkan
memberitau namaku padamu, percuma saja orang yang sedang emosi otaknya takkan
berjalan semestinya, dan kau ingin aku memasukkan namaku ke otak seperti itu?
lucu sekali.”
Ibo menghela
nafas panjang kemudian menurunkan gadis itu,
Lina :”kenapa?
Kau tidak akan memukulku? Sekarang lihatlah siapa yang ‘anak kecil sekarang’?
Ibo :”hahaha, kau
benar....aku yang seperti anak kecil, aku tak sanggup merelakan kepergian
mereka dan sekarang malah melampiaskan seluruh emosiku kepada Dion. Beneran
dah, seperti anak kecil. Terima kasih Lina.”
Lina
:”Jangan memanggil namaku dengan se
enaknya! Kau bukan kakakku lagi!”
Ibo :”hey lina,
apa kau pikir aku memang tidak cocok mengemban julukan ‘kakak’ atau pun ‘teman’
disini?”
Lina :”kenapa kau
masih berfikir? Bukankah sudah jelas? Lihatlah dirimu,setelah kau kehilangan
banyak orang dalam hidupmu kini kau justru mengorbankan teman dekatmu demi
emosimu ini, dan kau masih berfikir apakah kau cocok menjadi teman? Sepertinya
ada yang salah dengan otakmu.”
Ibo mengusap
kepala Lina,
Ibo :”beneran
dah, lu emang adikku.”
Lina :” jangan
bertingkah sok menjadi ‘kakak’ saat semua yang udh kau lakukan pada kami.”
Ibo melepaskan
tangannya,
Ibo :”benar juga,
wahai gadis kecil.’
Lina :”kau takkan
meminta maaf?”
Ibo :”meminta
maaf adalah tindakan tak bertanggung jawab, benar kan?”
Lina :”jangan
meniruku!”
Lina memukul
mukul kecil Ibo dengan kesal sedangkan ibo tertawa terbahak – bahak..
Ibo :”kalau kau
tak mau menyerahkan Dion, tak apa. Aku akan pergi.”
Lina :”aku memang
takkan menyerahkannya, tapi aku tak pernah berkata akan mengurungnya disini.”
Ibo :”maksudmu?”
Lina :” yah, aku
yakin sekali setidaknya dia tidak berada ditanganku sekarang ini.”
Ibo seketika
mencoba menghubungi setiap teman – temannya yang berjaga dengan hpnya,
Setiap nama,
setiap nomor,telah dicoba
Keringat mulai
bercucuran di wajah Ibo,
Tak ada satupun
jawaban dari mereka semua,
Ibo menghela
nafas panjang dan memasukkan kembali hpnya kedalam sakunya,
Ibo :”nampaknya
gue kalah dari kalian berdua.”
Ibo menatap
langit,
Ibo :”Beneran dh,
gue ini ngapain sih?”
Lina :”kenapa?
Apa kau merasa kesal? Kecewa? Malu? Merasa bersalah? Atau semuanya?”
Ibo :” lu itu
emang tau semuanya ya dari dulu gak pernah berubah.”
Lina :”aku tidak
tau apa – apa, yang tau adalah kamu sendiri, Ka – kak!” Lina tersenyum saat
menyebutkan kakak,
Ibo :”oh iya,
sebelum gue pergi. Gue mau nanya satu hal,kenapa lu melindungi dion?”
Lina :”sudah
tugas seorang budak melindungi tuannya. Bukankah itu normal?”
Ibo :”gak usah
bilang normal, mana ada budak dijaman sekarang. Jangan buat aku khawatir.”
Lina :”aku enggk
perlu rasa khawatir darimu, lebih baik kau berhenti bicara sok gaul gitu lah
jijik banget dengarnya.”
Ibo pergi dan
melambaikan tanganya,
“Saat suatu hal
akan terjadii, atau telah terjadi atau bahkan sedang terjadi semua pasti berawal
dengan kata ‘aku’ sebelum ‘mereka’ ataupun kita, seperti itulah makhluk yang
disebut manusia.”
Aku ingat pernah
mengatakannya pada seniorku,
Sifat kemanusiaan
bukanlah kebaikan, namun yang benar adalah ego.....itulah yang kulihat
dilingkunganku, tentu saja dunia memiliki sisi yang tak terhingga dan aku tak
punya cukup banyak waktu untuk melihat seluruh sisinya.
Namun hanya
setelah aku bertemu dengannya, kupikir aku harus menarik kembali perkataan itu.
Lina :”benarkan,
kak dion?” tanya Lina menghadap lemari kosong,
Lina :”sejujurnya
kuharap kau tak pernah lagi mengingat mimpi buruk itu lagi.” Gumam kecil lina
sambil menutup kembali jendela disebelah lemari
ISTRI MUDAKU MAFIA
kalo seru saya supor
kalo enda seru saya like