Tergiur dengan tawaran dari seorang wanita bernama Andin juga desakan hutang yang harus dilunasi, Pricilia Anggraini menerima tawaran menjadi istri muda dari seorang pria dingin bernama Galuh Putra Kanendra.
Lalu, bagaimana kisah Pricilia dalam menjalani status sebagai istri muda dari pria dingin seperti Galuh itu? Belum lagi pertemuannya kembali dengan keluarganya dan juga ibu tirinya, semakin membuat dunia Sisil jungkir balik.
Bagaimana Sisil menjalani kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmiRas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Apakah Aku Harus Mati Dulu?
...Sorry kemarin gak update, tandai ya kalau ada typo...
...Happy Reading.......
Tidak terasa, kini pernikahan Sisil sudah masuk di bulan kelima. Mereka masih seperti orang asing meski tinggal di satu atap yang sama, dan kamar pun mereka terpisah. Galuh hanya akan tidur di kamarnya jika pria itu meminta haknya. Miris memang, tapi Sisil harus menerima semua itu karena dia sudah menerima semua yang Andin berikan padanya.
Malam ini entah kenapa Sisil merasa lapar di jam tengah malam, padahal ia sudah makan malam tadi. Bahkan porsi makannya sekarang bertambah dua kali lipat dari porsi makan sebelumnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan malam-malam begini?"
"Eh!"
Sisil terperanjat hingga spatula yang ia pegang jatuh. Wanita itu menoleh dan mendapati kehadiran Galuh yang berdiri di depan kulkas dengan kedua tangan bersedekap di dada, menelisik Sisil dengan netra tajam miliknya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Galuh lagi.
"Masak," sahut Sisil, mengambil kembali spatula yang tadi ia jatuhkan.
Galuh berjalan mendekat, menoleh ke arah panci yang ada di atas kompor. Sisil berjengit karena kedekatan itu.
"Buatkan saya satu!" ucap Galuh mengendik ke arah panci, dimana mie instan sedang Sisil masak.
"Oh, ok." Sisil menyahut gugup.
Setelahnya Galuh duduk di kursi meja makan. Menunggui Sisil yang sedang memasak mie instan. Lima menit kemudian, dua mangkuk mie sudah terhidang di atas meja itu. Di tengah kesunyian waktu yang sudah menunjukkan jam setengah satu malam, dua orang itu menikmati mie instan dengan kebisuan. Hanya suara decap ketika kuah dihirup yang terdengar.
"Kenapa kamu masih jadi pelayan di restaurant?" tanya Galuh memecah keheningan. Menoleh singkat pada wanita yang duduk di depannya.
"Eh... saya menikmati pekerjaan itu, Mas. Meskipun restaurant itu sudah atas nama saya... rasanya saya tidak punya hak untuk bersantai karena hal itu," sahut Sisil jujur.
Galuh mengangguk singkat. Tidak berniat untuk berkomentar. Mie di mangkuk pria itu hampir habis ketika ia menoleh ke arah Sisil, dan wanita itu sedang menatap ke mangkuk mienya. Sedangkan mie di mangkuk wanita itu bahkan masih belum berkurang setengahnya.
"Kenapa?" tanya Galuh datar.
"Ehm... boleh minta punya, Mas?"
Sisil segera menggeleng ketika jawaban itu tanpa sadar terlontar dari mulutnya. Oh, dia bicara apa sih?
Galuh mengernyitkan kening bingung, "punyamu bahkan masih banyak."
"Oh, iya!"
Sisil langsung tergagap. Kembali menyendokkan mie ke mulutnya, tapi rasanya tidak enak dan malah eneg di perutnya. Ia menoleh lagi ke mangkuk mie pria di depannya yang hampir habis. Kenapa pria itu seperti menikmati sekali? Apakah mie milik pria itu lebih enak daripada punyanya?
"Kenapa?"
"Nggak habis, Mas!" Sisil mendorong mangkuk mienya ke hadapan Galuh.
Wajah pria itu kontan berubah dingin dengan netra memicing tajam menatap mangkuk mie Sisil dan wajah wanita itu bergantian. Sisil meneguk ludahnya susah payah karena tatapan mengerikan itu. Ia segera hendak menarik kembali mangkuk mienya, tapi tangan Galuh sudah lebih dulu menarik mangkuk itu. Menyingkirkan mangkuk mienya sendiri yang hampir habis, pria itu menukar mangkuk mienya dengan milik Sisil.
"Kenapa?" tanya Pria itu lagi kali ini terdengar nada kesal. Melihat Sisil yang masih menatapnya dengan sesekali membasahi bibirnya sendiri.
"Ehm... itu... mie punya Mas aku habiskan ya?"
Sisil tidak menunggu persetujuan Galuh karena air liurnya seperti hampir menetes. Wanita itu segera menyambar mangkuk mie milik Galuh tadi dan menyendokkannya ke mulutnya. Galuh menatap bingung dan keheranan tingkah Sisil itu. Sedangkan, Sisil sangat menikmati karena benar dugaannya jika mie milik pria itu lebih enak dibandingkan punyanya tadi. Padahal mie yang ia masak tadi merk yang sama. Kok bisa rasanya beda gini, ya?
"Aneh!" tukas Galuh menatap Sisil dengan ekspresi datar miliknya.
Sisil mengacuhkan pria itu karena ia sangat menikmati sisa mie milik Galuh tadi. Sisil menghabiskannya hingga mangkuk itu bersih dari sisa mie dan kuahnya. Ia menoleh kembali ke mangkuk miliknya tadi, yang sudah hampir habis Galuh santap.
"Mas, sisain buatku, ya!"
Galuh menoleh menatap Sisil bertambah kesal. Tingkah wanita itu benar-benar aneh dan sangat plin-plan. Tadi mengatakan sudah kenyang, sekarang malah meminta lagi mienya.
"Saya lapar! Masak lagi sana kalau masih mau," sahut Galuh kesal.
Sisil tanpa sadar mendengus yang langsung menerima tatapan tajam dari Galuh Putra Kanendra. Ia segera memasang cengiran membuat Galuh mengalihkan tatapan karena cengiran wanita itu tiba-tiba membuat tangannya gatal ingin menarik wajah itu dan mengecup bibirnya.
'Sial, kenapa aku jadi semesum ini?'
............
Pagi ini rasanya Sisil malas sekali untuk bangkit dari ranjang, dan malas untuk bekerja. Bolehkah ia meliburkan diri hari ini? Entah kenapa rasanya kasur lebih nyaman daripada bekerja.
Sisil menyambar handphonenya, benda yang diberikan oleh Galuh sebulan yang lalu. Karena pria itu perlu untuk menghubunginya dan mengirimkan bukti jika pria itu sudah mentransferkan uang bulanan untuknya.
Sisil mengirimkan pesan whatsapp kepada Pak Baim, mengabarkan jika ia tidak akan masuk kerja hari ini. Dulu Ibu Anis yang menjabat sebagai manager di restaurant itu, tapi beliau mesti pindah ke Bandung mengikut suaminya sehingga Pak Baimlah yang sekarang menjabat sebagai manager. Pak Baim sendiri merupakan orang kepercayaan Galuh dan Andin sehingga pria setengah baya itu yang dijatuhi tanggung jawab sebagai manager.
"Gak kerja hari ini, Mbak Sisil?" tanya Bi Sumi ketika Sisil baru kekuar dari kamar saat jarum jam menunjuk ke angka sepuluh. Ia malas mandi, sehingga kini masih dengan pakaian piyama dan tadi hanya mencuci muka dan gosok gigi.
"Meliburkan diri, Bi." Sisil menyahut dengan kekehan, memakan roti kering yang ada di toples.
"Benar ya kata Nina kalau kamu berlagak jadi ratu di sini!"
Sisil tertegun, langsung menoleh ke sumber suara itu. Begipula Bi Sumi yang langsung berdiri di sebelah Sisil, menjadi pegangan untuk wanita muda itu.
Kania Wijaya menatap wanita yang ada di depannya dengan tatapan penuh penilaian. Entah kenapa dia ikut tertanam kebencian dengan wanita muda itu. Apalagi saat tahu jika istri muda Galuh ini adalah dirty little secret dari seorang Kanedi Abraham, pemilik Abraham Corp.
"Tante!"
Sisil hendak menyalim tangan wanita itu, tapi langsung ditepis oleh Kania. Wanita baya yang masih cantik di usia hampir kepala lima itu menatap Sisil tajam.
"Kenapa Andin bisa-bisanya membawa kamu dalam rumah tangganya?"
Serangan pertama. Ok, Sisil sudah kebal menghadapi ini. Jadi, mari kita dengarkan semua ini.
"Atau kamu mendapatkan sesuatu dari Andin? Ah, pasti iya. Melihat dari gelagatmu saja saya sudah yakin...."
"Tante boleh menilai saya seperti apapun, tapi satu yang harus Tante tahu saya bahkan tidak pernah membayangkan akan hidup seperti ini. Tidak diterima kehadirannya di dunia ini, hidup belasan tahun di panti asuhan, dan menjadi istri muda Galuh hanya untuk memberikan keluarga ini keturunan... semuanya bahkan tidak pernah ada dalam benak saya."
"Tetapi kenapa kalian seenaknya menghina hidup yang sudah Tuhan berikan kepada saya? Kenapa kalian senang sekali menghina kelahiran saya? Apakah saya harus mati dulu sehingga kalian puas dan menang telah membuat saya hilang dari muka bumi ini?"
Kania Wijaya tertegun. Apalagi melihat netra wanita di depannya meneteskan airmata penuh kesakitan yang terus membanjiri pipinya. Bi Sumi yang berada di samping Sisil menggenggam tangan wanita muda di sampingnya yang masih menatap Kania Wijaya penuh luka.
"Apakah kalian yakin tahu jika saya memang benar anak haram Kanedi Abraham? Apakah kalian melihat sendiri kelahiranku dan apakah memang darah Kanedi Abraham itu ada di tubuhku?"
Kania Wijaya tak sanggup berucap. Ia ikut merasakan perih melihat luka yang teramat jelas di netra wanita yang sudah ia hina. Kenapa? Kenapa ia harus merasa tersakiti?
Pricilia Anggraini berlalu pergi menuju kamar. Dia sudah puas mengungkapkan semua yang ia rasakan selama ini, dan Kania Wijaya orang pertama yang telah berani ia hadapi.
'Ma, bahkan Tante Kania gak inget sama Mama?'
...Bersambung.......
Andin kan memintamu untuk tdk menyakiti Sisil harus melanjutkan hidup harus mencintai Sisil tp kamu sia siakan Galuh
banget update nya kak.