"Bukankah poligami itu sunnah, kamu orang yang taat agama kan pasti juga tahu, apa kamu tidak ingin menjalankan sunnah yang satu ini?" ujar Ita pada sang suami
Ammar awalnya hanya ingin menolong seorang wanita namun sebuah kejadian yang tak terduga membuat orang lain salah paham dan bahkan istrinya sendiri tak mempercayainya
Bukan, bukan karena sepenuhnya kejadian itu yang membuat Ammar menikah lagi, tapi juga karena rumitnya rumah tangga yang saat ini ia jalankan bersama istri pertamanya karena sang istri masih terbelenggu oleh masa lalunya
"Kalian hanya ingin bermain rumah-rumahan kan, ok saya akan temani kalian bermain" ujar Zofa lantang
Namun ketika Zofa telah memasuki rumah tangga Ammar dan Ita maka saat itu pula hati Ita berubah, terombang-ambing mengikuti arus permainan. Dan kini Ita baru menyadari bahwa ia telah menaruh hati pada suaminya sendiri
____
Hay semua Jan lupa mampir ke novel saya ya, jika sudah mampir tolong tinggalkan jejak kalian baik berupa like, comment maupun vote, thanks a lot guys, ala kuli sukri askuruki
follow ig 👉 habr_zayf
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AFI_18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggil Aku MANTAN
Malamnya Zofa keluar dari kamar, wajahnya sudah kembali seperti semula, ia duduk di depan meja makan karena ini waktunya makan malam
Diliriknya Ita yang sedang sibuk menghangatkan makanan serta menata makanannya di atas meja, namun Zofa enggan berkutik dari duduknya bahkan tak terbesit di pikirannya untuk membantu Ita sama sekali
"Assalamualaikum" seperti biasa suara salam Ammar yang baru pulang dari masjid
"Waalaikumsalam" dan seperti biasa pula Ita yang selalu mencium punggung tangan suaminya sebagai tanda hormat, sedangkan Zofa lagi-lagi hanya terdiam
"Bentar ya bang sayurnya masih di hangatkan" ujar Ita
Ammar mengangguk, ia melirik ke arah Zofa yang bagaikan tamu di rumah ini, tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah sama sekali
"Daripada kamu duduk diam seperti itu lebih baik kamu bantu Ita" ujar Ammar datar
Zofa menatap ke arah Ammar "Mbak Ita bisa sendiri tanpa memerlukan bantuan ku"
Ammar merasa geram pada Zofa, tiap hari kerjaannya hanya makan namun tak membantu Ita sedikit pun
"Zofa kamu sadar kan posisi kamu sekarang, kamu itu seorang istri harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, Ita itu istri aku bukan pembantu kamu, jadi pekerjaan rumah tangga harus di bagi dua, bukan cuma kamu doang yang sibuk bahkan Ita juga sibuk mengurus Chaca, memasak, membereskan rumah, paling tidak ringanin pekerjaan rumah tangga" ujar Ammar marah
Zofa berdiri dari duduknya kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kamar
"Zofa, zofa" panggil Ammar dengan nada tinggi
"Bang sudah biarkan saja, dia kan kerja mungkin dia capek" ujar Ita
Tok tok tok
Zofa membuka pintu kamarnya, terpampang jelas sosok Ammar yang kini berdiri di hadapannya
"Saya mau bicara sama kamu, ikut saya ke ruang tamu" ujarnya
Zofa duduk di salah satu kursi di sana, ada Ita juga yang sedang menunggunya
"Zofa besok kamu yang masak, dan mengerjakan pekerjaan rumah" ujar Ammar
"Untuk lusa kemudian di bagi dua, siapa yang masak dan siapa yang beres-beres rumah"
"Misalnya hari jum'at Ita masak berarti Zofa yang beres-beres rumah, terus hari sabtunya Zofa yang masak Ita yang beres-beres rumah, biar adil"
"Paham?" tanya Ammar
Ita mengangguk paham, begitupula Zofa ia juga mengangguk
"Untuk nafkah saya akan memberikan pada kalian sama rata"
Zofa hanya mengangguk saja, rasanya ia malas mendengar suara mereka bahkan ia juga malas mengeluarkan suara setelah mendapatkan kenyataan pahit
"Ya udah sekarang istirahat udah jam sembilan" ujar Ammar
Zofa bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar
"Tunggu Zofa" panggil Ammar yang membuat tubuh Zofa berhenti secara otomatis, tanpa membalikkan badannya
"Maaf sudah memarahi kamu" ujar Ammar
Zofa hanya mengangkat tangannya membentuk lambang huruf ok pada jari-jari nya, kemudian ia melanjutkan namun langkahnya terhenti lagi karena Ammar
"Tunggu Zofa"
"Mmmm itu kamu tadi belum makan, makanlah dulu baru istirahat" ujar Ammar, seharusnya ia tadi menasehati Zofa dengan baik-baik bukan malah marah-marah
Lagi-lagi Zofa hanya mengangkat tangannya seperti tadi namun ia tetap melanjutkan langkahnya dengan tujuan kembali ke kamar dan segera tidur untuk menjumpai mimpinya melupakan dunia nyata sejenak meski esok ia kan di tampar oleh kenyataan
***
"Zofa bangun"
"Zofa shalat shubuh"
Zofa membuka matanya, dilihatnya Ammar tengah berdiri di samping tempat tidurnya dengan mengenakan baju koko
Zofa berdiri, ia segera bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya, namun pagi ini ia tidak tidur lagi sehabis shubuh ia membereskan rumah, menyapu, mengepel lantai dan bahkan memasak, baginya ini bukan hal yang sulit karena ia sudah terbiasa dulu di rumah
Kemudian ia pergi ke dapur untuk memasak, Zofa memasak nasi goreng dengan telur mata sapi, menu andalan sarapan termudah baginya, soalnya waktu terus bergulir hingga ia tak sempat memasak makanan berat
Ammar dan Ita turun dari tangga karena ini waktunya sarapan
Kebetulan Zofa baru saja menghidangkan makanan di atas meja, bau wangi nasi goreng menyeruak di area ruang makan
Ammar dan Ita memandangi masakan buatan Zofa "Kenapa?" tanya Zofa datar
"Zofa lain kali jangan bikin nasi goreng ya, bang Ammar gak suka nasi goreng" ujar Ita hati-hati
"Mmm dan jangan buat telor ceplok kayak gini, Ita gak suka karena garemnya gak merata" timpal Ammar
"Ya udah mbak Ita makan nasi gorengnya, kamu makan telurnya, bereskan" ujar Zofa santai
"Aku buru-buru harus siap-siap ke sekolah, lain kali catat apa aja yang kalian suka dan kalian gak suka, catat juga makanan yang bisa buat kalian alergi" ujar Zofa
"Biar aku bisa meracuni kalian" lanjutnya namun hanya terucap di dalam hati, ia segera berlalu dari hadapan mereka
"Biar aku masakin sesuatu bang" ujar Ita
"Ehh gak usah ta, aku makan telor ceploknya aja"
"Mana kenyang bang, kalau gitu aku buatin roti selai aja ya"
"Ya udah makasih ya habibati"
Ucapan Ammar sukses membuat rona merah di kedua pipi Ita
Zofa buru-buru membersihkan dirinya, memakai seragam kerja serta memoles make up natural, setelah rapi ia mengendarai motornya meluncur ke sekolah
***
Tok tok tok
Zofa membuka pintu kamarnya, tebakan nya benar itu pasti Ammar
"Boleh saya masuk, soalnya kemarin sudah ada yang janji ngak ngulangin kesalahan lagi" ujar Ammar
Zofa memiringkan badannya mempersilahkan Ammar untuk masuk, Ammar duduk di tepi ranjang
"Zofa" panggil Ammar
"Apa"
"Apa ada panggilan sayang yang kamu inginkan?" tanya Ammar
Zofa mengerutkan dahinya, bingung akan ucapan Ammar
"Maksudnya panggilan sayang yang biasanya digunakan untuk memanggil pasangannya masing-masing, kayak Rasulullah memanggil Siti Aisyah Humaira" ujar Ammar
"Ada"
"Apa?"
"Mantan"
"Hah"
"Aku lebih suka kamu menceraikan aku dan nanti kelak kamu akan memanggilku dengan sebutan MANTAN" ujar Zofa yang menekan kata akhirnya
Ammar menghembuskan nafasnya kasar
"Kalau gak ada saya sendiri yang menentukan"
"Ehhh gak usah gak usah, kamu cukup panggil aku Zofa aja" ujar Zofa
"Tidak saya harus...."
"Berlaku adil karena kamu juga memanggil mbak Ita dengan panggilan sayang saat hanya berdua, iya apa iya" ujar Zofa dengan smirk di wajahnya, kejahilannya kemarin ternyata benar-benar berhasil membuat Ita cemburu, kebenaran itu dikuatkan saat ia tak sengaja mendengar Ammar memanggil Ita dengan panggilan habibati saat dirasa cuma ada mereka berdua
"Iya" ujar Ammar
"Ah gak perlu gak perlu, aku gak akan cemburu kok" Zofa melambaikan tangannya, kemudian ia merangkak ke kasur memeluk guling kesayangannya dan menutup matanya
Ammar memandang Zofa yang telah memejamkan matanya, namun di rasa wanita itu belum tertidur, tangan Ammar meraih selimut dan menyelimuti tubuh Zofa dia juga ikut merebahkan diri di samping Zofa
Pukul dua dini hari Ammar terbangun seperti biasa ia akan melaksanakan shalat tahajud dan membaca Al-Qur'an, ia keluar kamar dan berjalan ke kamar utama, membangunkan Ita untuk melaksanakan shalat tahajud bersama seperti permintaan wanita itu dulu, Ita mulai rutin melaksanakan shalat tahajud setelah beberapa bulan menikah dengan Ammar dulu, meski Ammar menikah lagi ia tetep ingin melaksanakan shalat tahajud berjamaah
Zofa terbangun pukul tiga dini hari, ia terbangun karena haus tanpa sadar Allah lah yang membangunkan ia untuk melaksanakan shalat tahajud namun ia abaikan, Zofa lebih sering melaksanakan shalat dhuha katanya biar rezekinya lancar
***
see you next episode, jangan lupa beri dukungannya ya guys 🤗