NovelToon NovelToon
FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: Chida

Spin off Kawin Lari & Langit Jingga

Kegagalannya dalam menjalin hubungan dengan seorang gadis, membawanya ke dalam keterpurukan yang terasa menyakitkan.

Demi ambisi dan egonya dalam meneruskan perusahaan keluarga yang sedang berkembang pesat, dia menyia-nyiakan cinta seorang gadis yang selama dua tahun selalu menunggunya kembali. Dan pada akhirnya dia benar-benar harus melepaskan cintanya pergi.

Pertemuannya dengan gadis lain yang merupakan anak dari teman bisnis orang tuanya, membawanya kembali terhanyut akan ambisi nya yang sempat tertunda.

Hingga perjanjian itu pun muncul di kepalanya dan di setujui oleh gadis bermata indah itu, demi keuntungan kedua belah pihak.

Akankah perjanjian itu berubah menjadi cerita indah antara mereka berdua? Ikuti kisahnya di karya ke enam Chida.

Enjoy reading 😘

update santai ya, kalo khilaf bisa sampe 1 minggu full up🤭

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasir Berbisik

"Sayang, kita masih mau di sini?" tanya Bima yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.

"Sebenernya aku mau kita camping disini, mau liat sunset, gimana? kamu mau?" tanya Azzura menatap ekspresi yang kurang mendukung dari wajah Bima.

"Ke tempat yang lain aja, Sayang ... kamu bayangin kita camping di sini tanpa persiapan sama sekali," ujar Bima.

Azzura terdiam, lalu dia menatap Raka yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Ka, gimana? kita bisa camping di sini?" tanyanya pada Raka.

"Em ... sebenernya Bima benar, Ra ... kita naik kesini tanpa persiapan kalo mau camping, mungkin lain kali aja," ujar Raka.

"Tapi aku mau tau rasanya yang camping di sini," ujar Azzura dengan wajah kecewa.

"Lain kali, ok." Raka hanya menjawab dengan sekedarnya. Rasanya saat itu dia ingin menangkup wajah Azzura dan meyakinkan pada gadis itu, karena suatu saat mereka akan kembali ke tempat ini.

"Mas, kalo mau mengitari padang pasir itu harus dengan Jeep?" tanya Azzura pada pemandu mereka saat berjalan menuruni Bromo.

"Bisa dengan Jeep, bisa juga dengan kuda," jawab pemandu itu.

"Kuda?"

"Kalo Mbak mau naik kuda, nanti kita kesana dulu," tunjuk pemandu tadi pada beberapa orang yang berkumpul di dekat kuda-kuda yang berbaris.

"Mau dong," ujar Azzura. "Bim, kita naik kuda ya," kata Azzura lagi.

Bima terperanjat, saat Azzura memergokinya masih sibuk dengan ponselnya.

"Ah ... nggak bisa, Sayang. Aku trauma naik kuda, aku pernah jatuh waktu kecil," jawabnya.

"Tapi aku mau naik kuda, kalo aku sendiri juga nggak mungkin," sergah Azzura dengan mimik wajah marah. "Daritadi yang kamu urusin cuma ponsel kamu terus," ucapnya kesal.

"Kamu mau naik kuda? sama aku? mau?" tanya Raka. Azzura yang sudah terlanjur kesal pada Bima, mengangguk mengiyakan ajakan Raka.

"Sebenarnya kalo naik Jeep juga asik sih," ujar Raka saat mereka jalan berdua menuju kuda-kuda yang disewakan.

"Kalo naik mobil itu udah biasa, yang nggak biasa itu menunggangi kuda," kata Azzura yabg sudah membelai rambut kuda di depannya.

"Dua kuda, Pak," ujar Raka pada pemilik kuda

"Kok dua? kan aku bilang aku nggak bisa naik sendiri ... yang ini aja, Pak. Kuatkan kudanya kalo dinaiki dua orang?" Azzura memilih kuda jantan yang tubuhnya lebih besar dari kawanannya di sana.

"Kuat, Mbak ...." Pemilik kuda pun membantu Azzura naik ke atas punggung kuda berwarna coklat dengan bercak putih itu.

"Ayo, Ka ... naik ...."

"Eh, ini nggak apa-apa? nanti Bima—"

"Biarin aja, salah dia sendiri," sungut Azzura.

Tanpa pikir panjang dan memang bukan sesuatu yang harus Raka pusingkan. Raka ikut naik ke punggung kuda itu lalu menarik tali pelana yang berada di sisi kanan dan kiri.

Suasana canggung antara keduanya dengan posisi Azzura yang membelakangi Raka dan Raka dengan tangan berada di kanan dan kiri tubuh Azzura.

Kuda berjalan pelan membawa mereka menikmati Padang Pasir Berbisik, hembusan angin itu begitu lembut menerpa mereka. Saling berdiam adalah hal yang baik saat ini. Entah apa yang terjadi seakan degup jantung keduanya berdetak cepat jika saling bersentuhan.

"Sorry ya, Ra," ujar Raka.

"Kenapa?"

"Untuk posisi ini," ujar Raka dengan wajah yang berada tepat di samping wajah Azzura.

Gadis itu mengulum senyumnya, sedekat dan seintim ini dengan seorang teman baru dia rasakan bersama Raka. Rasa-rasanya seperti ribuan kupu-kupu menyelinap masuk ke relung hatinya dan menggelitik geli di dalam sana.

Begitupun Raka, jika saja dia bisa menyembunyikan sedikit saja rona merah di wajahnya dengan sudut bibir yang mengembang itu mungkin kata malu-malu tidak akan tersemat di dirinya.

"Malu-malu," ucap Azzura.

"Siapa?"

"Ya kamu lah, masa aku, kan nggak mungkin," kekeh Azzura.

"Kamu denger nggak hembusan angin ini saat menyentuh pasir ...."

"Seperti berbisik," jawab Azzura.

"Iya, seperti berbisik seakan mengatakan sesuatu, makanya dinamakan Pasir Berbisik. Harusnya momen seperti ini kamu nikmati dengan Bima," ujar Raka.

"Maunya sih begitu, tapi tau sendiri Bima ... asik dengan ponselnya, sedikit menyesal mengajak dia berlibur kesini," ujar Azzura. "Untungnya ada kamu." Secara tiba-tiba wajah gadis itu menoleh ke arah Raka.

Sepanjang perjalanan yang mereka lalui dengan kuda jantan itu, senyum tak pernah lepas dari wajah mereka. Banyak hal yang baru Azzura tahu tentang Raka, begitupun Raka. Keakraban mereka pun tidak luput dari pandangan mata Bima yang duduk di atas kap mobil.

Kuda yang membawa Azzura dan Raka berhenti tepat di depan Bima. Wajah tak suka Bima membuat Raka tak enak hati. Buru-buru lelaki itu turun, lalu membantu Azzura turun hingga tubuh mereka begitu dekat saling berhadapan.

"Ehem." Bima turun dari tempatnya duduk menghampiri kekasihnya. Merangkul Azzura lalu membawanya pergi dari hadapan Raka.

*****

"Nggak jauh dari sini ada tempat makan enak, mau cobain makanan rumahan nggak?" tanya pada Azzura yang sudah duduk manis di kursi penumpang dengan Bima di sebelahnya.

"Masakan rumahan?"

"Iya, ada juga sih cafe ala-ala gitu, terserah kalian mau yang mana, kalo di restoran yang aku bilang tadi, kalo makan ambil sekalian banyak ... banyak sedikit bayarnya sama," ujar Raka.

"Udah kayak selogan angkot ya, jauh dekat 4.000," ujar Azzura tertawa diikuti pemandu wisata mereka hanya Bima yang sedari tadi diam saja.

Jeep berhenti di sebuah restoran ala Jawa, dengan pemandangan yang indah, jaraknya tidak jauh dari kaki Gunung Bromo. Memasuki restoran tersebut, aksen Jawa begitu kental terlihat. Di salah satu pojok restoran itu terdapat seperangkat alat musik Jawa berupa gamelan dan sejenisnya. Pemandangan langsung menghadap Gunung Bromo menambah keeksotisan restoran ini.

"Jangan lupa, ambil banyak sekalian karena bayarnya sama," bisik Raka saat dia melintas melewati Azzura yang sedang memilih-milih menu makanan yang tersaji.

Dalam perjalanan pulang ke hotel mereka di Malang pun, Bima masih saja terdiam. Entah dia menikmati perjalanan atau marah pada Azzura atau asyik sendiri dengan ponselnya.

"Ra," seru Bima yang sedikit berlari menyusul Azzura yang berjalan di koridor hotel menuju kamarnya.

"Ra! harusnya aku yang marah, bukan kamu ... apa coba maksudnya naik kuda berduaan gitu, senyum-senyum, aku liat loh malah dari awal kita dalam perjalanan kesini pun kalian seperti itu," ujar Bima meraih tangan Azzura.

"Karena percuma, Bim ... kamu ada di dekat aku pun aku merasa kamu nggak ada. Sibuk dengan ponsel kamu, entah dengan siapa ... aku nggak perduli. Aku kira dengan kita menghabiskan waktu berlibur kesini kamu bakal berubah, ternyata nggak," ujar Azzura kesal.

Raka masih berdiri di depan pintu kamarnya saat mendengarkan pertengkaran dua sejoli itu.

"Harusnya aku nggak usah susah-susah minta izin ke Didi kalo ternyata memang kebanyakan Raka yang nemenin aku di sini, bukan kamu. Terserah kamu, masih mau meneruskan liburan ini atau kamu pulang ke Jakarta, karena aku masih lama di sini, mau ada kamu atau nggak." Azzura menutup pintu kamarnya meninggalkan Bima yang berdiri memandangi pintu itu.

enjoy reading 😘

1
Puput Gendis
kisah nami sm kala ada gak author 🥰
Ira Suryadi
Luar Biasa
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Dina Okta
hallo kk cida kk teman nya KK jus kelapa yaaa??? aku pembaca nya karya kk njusss.izin mampir ya di karya kk🙏🙏🙏
Vlink Bataragunadi 👑
woooow kereeeeen asliii/Angry/
Vlink Bataragunadi 👑
hooh ih, ribet deh wanita.... termasuk aku /Facepalm/
snow Dzero
Luar biasa
SariRani
Baguuus ❤️
SariRani
Baguus bangeeet 😭
Kezie fitri
chida kemana ya?

ini udh 2024 lloh hampir 2025, udh lama ga apdate novel baru, semoga KA chida baik2 Ajja ya
May Keisya: dmn Thor yg KBM bkn
total 2 replies
Aisyah Zahra
ganggu aja sih tedy bear /Joyful/
Aisyah Zahra
kasian juga diposisi jenna
Wina Destania
ihh Raka nyebelin kesannya jadi azura yang nyosor
Wina Destania
baca ulang 2024 sangat menghibur untuk aku yang lagi kehilangan baca ini berulang ulang ngerasa benar ada sosok seperti raka
Chida: lelaki redflag banyak kak makanya kudu kita green in🤭
total 1 replies
May Keisya
apakah bima???
mamaqe
keren
Lee Yana Mariyaanie
omooo...genk duda akutt...omooo..kangen dean iiih......
Mega Girl
smua certa y bagus² semua, semangat sellau thor
Mega Girl
maniss bgt cerita² y, semamgat selalu thor
w03lan7ulian
Luar biasa
Kᵝ⃟ᴸ _ᵉᵖʰᶦ
aaaaaa gk nyangka akhirnya aq baca sampai end....
konfliknya ringan tapi sweet 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!