Cerita ini berkisah tentang ketulusan cinta
seorang pemuda Tampan bernama Bima.
Dia sangat mencintai seseorang wanita
Cantik bernama Seila.
Walaupun Seila tidak pernah mencintainya
Tapi Cinta Bima begitu besar dan tulus
untuk Seila.
Hingga suatu hari Seila kehilangan kesuciannya dan di campakkan oleh
mantan pacarnya Bima tetap menerima
dan mencintai nya dengan sepenuh hati.
Bagaimanakah perasaan Seila kedepannya
untuk Bima ?
Akankah Seila membalas Cinta Bima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santai dyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17.BUKAN BONEKA PATUNG
Robi kebingungan, tidak mendapati temannya
Hendrato ada disitu.
Kakinya menuju bangku kosong.
Diletakkan nya makanan yang dia pesan.
Pandangan nya menyapu seluruh ruangan.
Matanya segera menangkap sosok tubuh yang berjalan masuk.Robi segera menghampiri orang itu yang tidak lain adalah Hendrato.
"Hai..dari mana saja kamu ?Bukan nya mencari tempat duduk, malah keluyuran."Grutu Robi pura pura kesal.
Hendrato tidak menanggapi ucapan temannya dia hanya tersenyum tipis.
"Aduh kawan, ada apa dengan dirimu ini !
Jangan jangan kamu lagi kangen dengan istrimu di Rumah ya."Ledek Robi.
"Jangan khawatir kalau urusan kita sudah selesai, kita pasti akan segera pulang."
" Bukan itu, Rob !tadi aku menemukan syal ini di kursi, saat aku keluar dan mencari pemilik syal ini sudah tidak ada."
"Sudah kita makan dulu, urusan syal kita pikirkan Nanti."Ucap Robi, Seraya menyodorkan makanan yang dia pesan untuk Hendrato.
"Menurutmu bagaimana cara mengembalikan syal ini kepada pemilik nya."Tanya Hendrato kepada Robi.
" Hem...! Bagaimana ya.?"Pusing juga memikirkan nya.
Kita tinggalkan saja Nomor kita ke pemilik Restoran ini, Kalau ada yang mencari syal suruh telpon kita bagaimana,"
"Ide yang bagus, setuju !"Ucap Hendrato mantap.
Setelah merasa kenyang dan membayar makanan.Hendrato berbicara dengan salah satu koki yang ada di Restoran.
Hendrato meminta, jika ada yang mencari syal Di minta menghubungi Nomor yang Hendrato berikan. Hendrato dan Robi kembali ke hotel Bintang lima yang ada di Paris.
Hotel yang sudah di sediakan oleh pimpinan perusahaan yaitu Hotel Brach Paris .
Hotel bintang 5 yang terkenal di Paris.
Di dalam kamar hotel Hendrato, termenung menatap langit melalui, jendela kamarnya.
Tidak ada hujan, malam pun begitu cerah dan banyak ber tamburan Bintang
Di keluarkan nya syal yang dia temukan pagi itu.
"Seila..?"desisnya, apa yang kamu lakukan saat ini, benarkah kamu ada di kota Paris ini."
Gumam Hendrato dalam hati Seraya menarik Nafas dalam dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan.
Robi yang sudah selesai dengan kegiatan nya.
Melihat Hendrato yang melamun, segera menghampiri.
" H em ... Kamu kenapa? Sejak Tadi siang , tidak ku lihat kecerahan di wajah mu.
Sendu dan mendung terus kamu kenapa Bro,
Tanya Robi penasaran.Wajahmu tak secerah saat kita berangkat.Ada apa dengan mu teman ?Robi menepuk nepuk bahu Hendrato.
Hendrato menoleh dan tersenyum tipis
Menarik Nafas dalam dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Tidak ada apa apa, Kamu tidur dulu saja aku belum mengantuk."Ucap Hendrato.
Robi hanya mengelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku tidur dulu, jangan begadang dan melamun , cepet tidur juga, besok kita ada pertemuan jangan sampai kamu terlambat tidur membuat mu bangun kesiangan.
"Tenang saja, aku tidak akan bangun kesiangan."Ucap Hendrato meyakinkan.
Sementara di Hotel yang berbeda, Seila pun lagi menatap langit dari jendela kamarnya.
Syal nya hilang, kamupun juga hilang.
Kini sudah tidak ada kenangan apapun yang
kumiliki , tentangmu, mungkin sudah suratan takdir. semua harus begini, aku tidak akan menemukan syal itu lagi , Apalagi kamu, sudah bahagia dan melupakan aku.
Kamu tidak ingat apapun tentang ku.
Bahkan Namaku pun mungkin sudah terhapus dari ingatanmu."Keluh Seila yang membuat dadanya tiba tiba serasa menjadi sesak.
Tak terasa Air mata Seila menetes dari pelupuk mata nya yang indah.
Tiba tiba Seila dikejutkan dengan tepukan dari belakang punggung nya.
"Seila... Ngapain loe, disini ?
Seila dengan cepat mengusap air matanya dengan pungung tangan sebelum menoleh ke belakang.
"Kamu Win..?Kenapa belum tidur,"
"Di tanya bukannya menjawab tapi balik tanya lagi.Sunggut Wina pura pura kesal.
Seila tersenyum.
"Kalau aku disini itu artinya aku belum ngantuk lah,"
" Kalau belum mengatuk menatap bulan ngapain, melamunkan siapa hayo.?"
"Kangen suami ya, makanya cepat di telpon
tuh Suami kamu, kasian menunggu kabar dan telpon kamu,"
Seila tertawa mendengar celotehan Wina temannya.
" Bima tidak akan menunggu kabar dariku ,
Dia sudah terbiasa,"
"Maksudnya terbiasa itu bagaimana ?Tanya Wina penasaran.
"Bukan apa apa sudahlah jangan mikirin dia lagi, males membahasnya."
"Hem !"Jutek amat , sunggut Wina dengan mimik bibir yang di moncongkan."
Membuat Seila gemas dan mencubit hidung Wina seraya tertawa.
"Mau tau urusan orang saja, itu tidak baik."
Tegas Seila .
" Hey.. jangan main pencet hidung orang dong sakit tauk."Keluh Wina dalam canda.
Saat keduanya asik dalam tawa canda ,tiba tiba ponsel berdering.
"Tuh ponsel kamu bunyi tuh , sana angkat, jangan ganggu orang terus." Ucap Seila menggingatkan.
Wina tertawa lebar dan meraih ponselnya.
Dilihatnya panggilan masuk dari...
"Kring....Kring...Kring...!
"Siapa itu yang telpon?Tanya Seila penasaran.
Saat Seila melongokan wajahnya ke ponsel Wina buru buru menutup dengan tangannya.
" Ini pacarku !"jadi jangan ganggu aku ya,"
Bisik Wina memberi tau.
Setelah bicara begitu Wina segera melangkah
pergi, mencari tempat yang aman untuk
menjawab telpon.
Seila hanya mengelengkan kepalanya, melihat tingkah lucu temannya. Sedangkan.
Wina sengaja , menerima telpon dengan menjauh.Sebenarnya bukan pacar yang telpon , tapi teman barunya yaitu Iqbal.
" Halo ...!
"Ya ...Halo ?
Win kami sudah tiba di Bandara Paris , kamu di mana ?
"Sudah sampai ya, apa kamu bersama kak Bima ?Tanya Wina ingin memastikan.
" Ya aku bersamanya."Cepat kasih Alamat hotel kamu, Kak Bima keburu datang.Tadi dia pamit ke kamar kecil."
"Ok, kamu pergi ke Hotel Sinner Paris."
"Ok, Nanti kami akan menuju kesana, Non Seila bagaimana kabarnya, maksdku Seila lagi apa,
Tanya Iqbal penasaran.
"Biasa melamun tuh disana,"
"Kita berikan kejutan pada mereka berdua.
aku tutup telpon dulu ya, Kak Bima sudah datang."
" Ok.. Sampai ketemu disini."
" Sip. lah,"Jawab Iqbal Antusias.
"Tit ...,telpon dimatikan.
" Kamu telpon siapa bal ?"kok senyum senyum Sendiri begitu.
Dengan tampang Cengar cengir dan seperti biasanya iqbal memberikan senyum Pepsodent nya.
" Kamu kesambet ya Bal , senyum senyum sendiri begitu. Di tanya Kak Bima itu , langsung di jawab bukan Cengar cengir begitu.Cetus Bondet menggingatkan.
Iqbal mengedip ngedip kan matanya.
Bondet yang tidak paham maksud Iqbal ,
Di buat kebingungan.
"Disini tidak ada cewek kamu ngedipin siapa hah...?
"Iqbal yang putus asa, karena Bondet tidak paham dia menaruh telapak tangan nya di atas kepalanya sendiri.
"Masak kamu ngak paham Ndet..Itu lho..?
" Apa .?"
" Itu ..?
"Apa sih ?Tanya Bondet semakin penasaran.
"Taksi nya sudah datang ribut melulu kalian ayo masuk."Ucap Bima.
Menyela Ucapan Iqbal dan Bondet.
Bima bicara dengan sopir taksi minta menggantarkan kami ke Hotel Beach Paris.
"Kak Bima, jangan ke Hotel Brach Paris
ke Hotel Sinner Paris saja enak". Seru Iqbal memberi saran.
"Sudah tidak apa apa Hotel ini juga bagus kok,*
" yaaa gagal deh !"
"Apanya yang gagal Bal...?
Iqbal mendekatkan mulutnya ke telinga Bondet.
Dengan berbisik Iqbal bicara.
"Non Seila ada di Hotel Sinner Paris.
"Apa...?
Bondet yang tidak bisa mengontrol ucapan nya menjadi keras , membuat Bima yang duduk di depan menoleh.
"Ada apa ?"
Serentak Iqbal dan Bondet memamerkan
Senyum Pepsodent
Iqbal... berucap "tidak ada apa apa kak, aman.
Seraya mengacungkan jari jempolnya
tanda agar Bima tidak khawatir.
Bima kembali meluruskan posisi duduknya,
pandangan nya tertuju pada ponsel yang ada di genggamannya.Bima menarik Nafas panjang dan menghembuskan nya dengan sedikit kasar.
Wajah tampan nya terlihat kusut.
"Tidak ada satupun panggilan masuk
dari Seila."Benar benar kelewatan dia,
Awas saja Nanti kalau pulang , akan ku buat kamu mengenal siapa Suamimu ini, Seenaknya saja pergi tanpa pamit.
Apa dia pikir, aku ini boneka patung yang akan selalu menggalah dengan segala tingkah
kekanakannya.
Lihat saja Nanti, apa yang akan kulakukan padamu. Bagaimana pun juga aku ini, kan suaminya."Gumam Bima dalam hati kesal.
Mereka sudah sampai di Hotel Brach Paris
dan langsung menuju kamar .
Bima sengaja memesan kamar yang paling besar karena akan mereka tempati bertiga.
Di saat Bima sedang asik rebahan karena capek.Dan Bondet sudah tidur mendengkur di Ranjang nya.
Iqbal diam diam memencet satu Nomor telpon.
"Kring.... Kring...Kring..!
Dengan mata yang masih tertutup karena mengatuk
Wina menggangkat ponselnya yang berbunyi.
" Halo...?
" Ya halo Win , aku sudah sampai.!
Wina yang tadinya masih menutup mata tiba tiba terbelalak lebar.
"Sudah sampai..?Ok aku turun kalau begitu.
"Tidak usah kami tidak ada di hotel kamu,
Kak Bima membawa kami ke Hotel Brach Paris."
" Oh, jadi tidak di hotel sini."
" Tidak..!
"Lalu sekarang bagaimana ? Tanya Wina.
"Bisakah kamu ajak Seila jalan jalan ke hotel
Brach Paris sini besok."
" Akan ku coba besok, siapa tau mau."
"Ok aku pamit dulu, sampai ketemu besok."
"Tit...telpon dimatikan.
Udara malam yang berhembus menambah suasana dinginnya malam.
Hendrato menutup jendela dan merebahkan
tubuhnya di Ranjang.
Suara Robi mengusiknya , ternyata Robi sedari tadi belum tidur
"Besok harus bagun pagi ,ingat ,jangan terlambat ,Kita ada janji di lantai bawah.
Boss memang hebat memilih Hotel yang tepat
untuk pertemuan besok.
Hotel Brach Paris memang sangat Bagus dan luas.
"Tenanglah aku tidak akan bangun terlambat ."
Ucap Hendrato meyakinkan.
Tangan nya masih mengengam syal yang sore tadi ditemukan nya.
Anganya melayang.
"Aku yakin ini syal nya Seila dan aku yakin Allah akan mempertemukan kita berdua lagi."
Sudah lama aku tidak melihat mu, smoga pertemuan itu bukan mimpi.
Buug,... !!!sebuah bantal melayang mengenai wajahnya Hendrato dan mengacuhkan segala anganya. Hendrato terduduk dari rebahannya.
" Woi....!Robi !"apa yang loe lakukan , sakit tauk."
Robi tertawa renyah.
"Tidur bos, jangan pandangi syal terus.
memandang syal kok seperti memandang kekasih pacar saja."ledek Robi.
"Syal nya bagus ini, aku belum pernah melihat syal sebagus dan sehalus ini."Ucap Hendrato berbohong.
"Ya syal nya bagus kasian pemilik nya pasti memikirkan dimana syal nya.
Crocos Robi menjelaskan.
Hendrato mengulang ucapan Robi , memikirkan.
Benarkah saat ini Seila juga memikirkan nya
Mata Hendrato berbinar ,mrmbayangkan seandainya dan seandainya.
Di dekap nya syal itu dalam tidur.
aku dkung kamu jd madu