Gendis tidak pernah menyangka di umurnya yang baru menginjak 17 tahun ia sudah harus menyandang status sebagai calon istri seorang Dewa Ganesha, seorang tentara yang memiliki jarak usia tiga belas tahun dengannya.
"Gue mau mati aja, hiks."
Gendis Mahesa.
Demi neneknya yang sudah merawatnya sejak bayi, Dewa melepas kebebasannya sebagai lelaki merdeka. Ia yang terbiasa sendiri dan hidup bebas menikmati kepopulerannya dimata para wanita harus terikat dengan seorang gadis yang baru saja lulus SMA yang kini sedang menempuh pendidikan di luar negeri sebagai calon ilmuwan.
"Anjaaaay! Gue mau nyentuh ni anak berasa ******* bangat."
Dewa Ganesha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeeGo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kandang Buaya
Dewa menolak percaya bahwa dirinya kini terjebak dengan seorang gadis remaja yang mana masih belum mampu mencerna bagaimana proses reproduksi berlangsung. Bagaimana bisa dirinya yang terbiasa bermain dengan wanita dewasa kini menceburkan diri dengan seorang remaja yang kalau boleh dia sebut sebagai jelmaan malaikat. Gendis terlalu putih untuk dirinya yang pekat. Tapi br*ngseknya ia tidak bisa melepaskan gadis itu begitu saja. Seperti saat ini ketika ia lagi-lagi mendatangi sekolah Gendis untuk sebuah perayaan kelulusan. Ya, Gendis akhirnya mencapai umur yang legal untuk di dekati tapi jelas salah kalau orang itu adalah dirinya yang begitu jauh dari predikat pria baik-baik.
"Congratulations, calon mahasiswa.”
Di depannya malaikat manis itu tersenyum lebar, ”Thank you, Abang tentara.” Balas Gendis menerima sebuket bunga matahari dari Dewa.
"Kenapa bunga matahari, Bang?” Tanya Gendis sedikit tak biasa dengan pemilihan bunga laki-laki itu. Biasanya kan mawar atau kalau memang mau warna kuning, ada juga daisy tapi ini bunga matahari yang mengingatkan Gendis pada hamtaro si penyuka biji bunga matahari.
"Cerah kayak lo.” Jawab Dewa menyengir lebar, ”Suka?” Ini sebenarnya bukan Dewa bangat tapi saat bersama tuyul hilang ini semua hal yang biasa dia cibiri jadi begitu menyenangkan dilakukan.
Gendis mengangguk, ”Terima kasih. Gendis suka.” ucapnya memeluk bunga itu erat. Ia tampak sangat cantik dengan kebaya warna goldnya dan rambut yang di kepang dan di sampirkan di bahunya. Layak untuk dipinang. EH?!
"Makasih doang nih?” Goda Dewa. Kebiasaan banyak maunya kalau sudah di depan Gendis. Ada saja keinginannya untuk menggoda si cewek polos ini.
Gendis mendekat lalu memeluknya singkat, ”Pamrih bangat, sumpah.” Gerutunya namun tak ayal seulas senyum kecil terbit di wajahnya.
" Nggak ada yang gratis di dunia ini, Yul.” Goda Dewa memainkan kepangan Gendis. Lucu. ”By the way, temen-temen lo yang rusuh itu mana?“ Tanyanya saat tak mendapati tiga sahabat Gendis yang super rame bak rombongan sirkus itu disana. Biasanya kalau sudah berkumpul persis penguasa alam semesta, orang lain hanya pengontrak di bumi ini. Berisik.
"Di dalam lagi foto-foto. Nadia doang tuh yang lagi galau nunggu Omnya. Sedih tau, Bang gak ada yang ngerayain padahal biasa ada Om Gi. Resiko punya suami tentara emang gitu kali ya.” Ujar Gendis tak menyadari perubahan mimik pria di depannya. Dewa juga seorang tentara by the way.
"Memangnya kenapa kalau tentara, Ndis?” Tanya Dewa. Entah kenapa ingin sekali mendengar pendapat gadis manis itu tentang profesinya. Selama ini ia tidak peduli pandangan orang tentang pekerjaannya yang selalu identik dengan perang dan pindah sana pindah sini ditambah akibat ulah lelaki atau oknum seperti dirinya tak jarang mereka di labeli sebagai laki-laki paling brengsek suka menebar benih dimana-mana tapi mendengar Gendis mengucapkan itu, seperti ada kekhawatiran tersendiri dirasakannya. Bagaimana kalau Gendis tidak mau dengannya?HEH MEMANGNYA KAMU MAU APA DENGAN GENDIS, WA?Lagi-lagi pemikiran absurd itu menginvasi.
"Hah?Oh-- itu kasian, nemu momennya susah. Pas lagi butuh-butuhnya malah nggak ada.” Jelasnya dengan raut wajah sendu, ”Kalau gue udah nggak tau deh. Untung Nad kuat bangat.”
“Gitu ya.” Gumamnya seperti baru saja di hantam godam besar di kepalanya. SADAR DIRI WOE!LO SIAPA, GENDIS SIAPA! Ibaratnya calon penghuni kerak neraka mustahil bersatu dengan calon penghuni nirwana. Bersatu?BANGUN DEWA!
"Kenapa Bang?“ Tanya Gendis melihat kediaman Dewa. Pria dewasa itu kan biasanya banyak omong, kalau tiba-tiba diam bawaannya horor.
Dewa tersadar lalu menggeleng, ”Oh, nggak. Nanya aja. Kali aja lo jodoh gue nasib lo bakal beda tipis tuh sama Nadia.” Ujarnya dengan nada usil yang dibuat-buat. Mengenaskan.
Gendis tertawa renyah, ”Jangan sampe deh.”
Wah apaan tuh maksudnya?Kampret juga nih bocah!Awas aja lo kalau ternyata jodoh gue, abis gue kerjain. Batin Dewa tak terima. Ini kalau sampai mereka jodoh semesta benar-benar sedang bercanda.
"Tenang aja, gue nggak suka anak kecil.” Kilah Dewa. Ya, nggak suka tapi doyan ngisep-ngisep bibir dia kan? MUNAFIK. Ah sudahlah, Dewa sudah capek mengumpati dirinya sendiri. ”Udah ah, capek gue ngomong. Mau gue traktir nggak?Apa aja hari ini gue ikutin mau lo sebagai hadiah kelulusan.” lanjutnya mengenyahkan berbagai isi kepalanya yang akhir-akhir ini makin sulit dipahami.
"Beneran?” Gendis bertanya antusias. Ia bahkan melompat-lompat kecil seperti anak kecil kegirangan, tak salah Dewa memanggilnya bocah.
“Um.”
"Abang nggak bohong kan?”
"Iyaaah, nggak percayaan bangat sih lo sama gue.” Dewa mendelik sebal. Ini mukanya apa aura-aura br*ngseknya terlalu kentara apa gimana?
” Abisnya abang mukanya gitu.” Gendis terkekeh melihat wajah ambekan Dewa, tidak cocok sama sekali dengan badan berototnya.
“Muka gue kenapa?Ganteng?”
"Muka kriminal.” Kata Gendis lalu tawanya pecah. Puas sekali mem-bully orang tua di depannya ini. Namun Dewa yang biasanya misuh-misuh mendengar celaan seperti itu malah ikutan tertawa. Aura Gendis memang sepositif itu. Bahkan mampu mempengaruhi mood seorang Dewa yang labilnya seperti ombak di Laut Banda.
"Yuk ke asrama Abang.”
"HAH!ENGGAK!!!”
M*mpus aja udah.
***
Ini kalau ada obeng di dekatnya, Dewa sudah akan mencolok tiga pasang mata yang kini tak berkedip memandangi makhluk manis yang tengah sibuk mengatur tiga piring pancake di hadapan tiga musang loreng itu. Ini semua gara-gara mulutnya yang seenaknya mengumbar janji tanpa pikir panjang. Mau ngikutin semua mau lo?Hah, mulut sialan. Dan sekarang ia harus terjebak di rumahnya sendiri menerima apapun godaan dari rekan-rekannya yang menyebalkan. Pokoknya ingatkan ia untuk menjual playstation terbarunya ini supaya tidak ada lagi tamu tak tahu diri yang seenaknya memandangi tuyul miliknya. Dan lagi kenapa juga si nyonya polkadot ini terobsesi sekali sih sama asrama tentara?Heran.
"Selamat menikmati. Dijamin enak jadi Om bertiga nggak usah khawatir. Iya kan Bang Dewa?” Gendis tampak bersemangat mempersembahkan pancake hasil belajarnya pada teman-teman Dewa. Gadis manis itu tak menyadari bahwa sejak tadi ia sudah jadi bahan gibahan grup kompi C. Apalagi topiknya kalau bukan tentang buaya loreng yang membawa seorang gadis untuk pertama kalinya ke asrama.
Well, Dewa memang seorang pencinta wanita dan sebaliknya tapi ia lebih senang membawa wanita-wanita itu ke hotel berbintang daripada ke asramanya meskipun para wanita itu mengiba untuk diajak ke kandangnya. Bahkan nenek Ida yang notabenenya keluarga satu-satunya tak pernah diajak ke asrama tapi hari ini--- wah sungguh sebuah keajaiban bisa menemukan seorang gadis muda yang tampak santai bolak balik sibuk di dapurnya. Keberuntungan juga bagi tiga rekannya itu bisa menjadi saksi hidup untuk peristiwa bersejarah ini.Beda halnya dengan Dewa yang akan mengingat hari ini sebagai hari tak beruntung sedunia.
"Wah berarti Bang Dewa sudah mencicipi duluan nih?“ Budi salah satu tetangga bujang rese memulai perang tak kasat mata dengan Dewa.
”Beruntungnya Bang Dewa.” Tambah Mario tak mau kalah, mengerling jahil pada Dewa yang menggertakan gigi menahan kesal. Kapan-kapan semua ini berlalu, ia akan mematahkan rahang si kampret.
"Enak nih, Dek.” Jonathan yang juga berada di TKP tak memperbaiki keadaan. Apa itu tadi, Adek?
"Heh hati-hati tu lambe. Adek-- sejak kapan lo berdua saudaraan?Namanya Gendis.” Protes Dewa tak terima. Pasalanya kata adek itu terlalu manis di dengar dan dia membencinya kala pemuda lain yang menyebutnya untuk Gendis. Enak saja si jojon mau manis-manisan sama tuyul kesayangannya. ”Mau gue pindahin kebelakang tuh rahang?“ Desisnya tajam. Kebiasaan omongan para lelaki yang ditanggapi lain oleh Gendis.
"Ish apaan sih Bang. Jahat bangat deh.” Gendis memukul lengan Dewa. Merasa kasihan pada ketiga tentara muda itu yang kini menunduk dalam. Pasti ketakutan dengar omongan Dewa. Gendis tidak tahu saja kalau ketiganya sedang menahan diri agar tidak menyemburkan tawa dihadapannya. Melihat Dewa keki jelas hobi mereka.
"Lo belain meraka?” Dewa menganga tak percaya. Dia kan yang punya rumah, kenapa Gendis malah di pihak tiga buluk ini?
"Iya. Kenapa?Abang juga mau mindahin rahang Gendis?Pindahin nih sekalian ajuin domisili baru.” Balas Gendis membuat suasana tiba-tiba ramai oleh kik kik tak jelas dari tiga orang pria yang menunduk makin dalam. Jonathan, Mario dan Budi setengah mati menahan tawa sementa Dewa spechless, bisa-bisanya Gendis-- Aaah si*lan. Dewa menghela nafas kasar. Di bawah meja kakinya menendang ketiga pasang kaki lain yang belum juga menghentikan kikikan mereka. Tahu betul ketiga tamu tak diinginkan itu sedang menertawainya.
"Makan nggak lo bertiga?Buru!” Sewot Dewa kala melihat tiga musang loreng itu mengusap sudut mata yang berair. Benar-benar hari ini ia dilecehkan. Semua karena Gendis si tuyul kecil yang hobi sekali mengacak-ngacak dirinya. Tapi kenapa ia tidak bisa berhenti berurusan sama tu bocah sih?!
Ketiganya lantas mulai menikmati pancake buatan Gendis sambil sesekali saling melirik dan berbalas pesan di WA. Dewa yang juga masuk anggota grup memilih untuk mengabaikan bunyi notifikasi yang bersahut-sahutan yang sudah ditebak topik yang sedang diangkat. Para pria berseragam loreng itu juga manusia biasa yang hobi menghibah apalagi kalau sasaran gibahan itu seorang Dewa yang biasanya selalu sukses menjadikan orang lain sebagai sasaran gibahan.
"Bagian gue mana?” Tanyanya bersikap sok santai pada Gendis yan duduk disampinya.
Gendis menoleh, ”Abang mau juga?Katanya tadi nggak usah.” Ujarnya mengingatkan. Dijalan tadi Dewa sudah mewanti-wanti Gendis agar tidak masuk dapur apalagi membuat pancake karena ia malas bersih-bersih dapur tapi ketika mereka sampai, sudah ada tiga tamu yang sedang asik berebut stik game di ruang tengahnya yang sederhana dan Gendis dengan semangat 45 menawarkan diri untuk menyuguhkan makan malam super enak yang baru saja di pelajarinya. Dewa benar-benar kecolongan sampai lupa bahwa selain jadi persinggahan asramanya juga dijadikan basecamp ilegal para bujang lapuk berkumpul. Ia tidak mengantisipasi keadaan ini saat mengiyakan rengekan Gendis yang meminta hadiah kelulusannya ke asrama pria itu padahal ia sudah menawarkan berbagai tempat keren lain di setia budi tapi Gendis menolak mentah-mentah katanya bosan liat bangunan tinggi. Dasar orang kaya.
"Sekarang gue mau.”
“Telurnya udah abis.”
Dewa mengernyit, ”Habis gimana?Kan masih se-rak tuh perasaan.” Seingatnya ia baru belanja kemarin mengisi dapurnya. Walaupun jarang tidur di asrama tapi dapurnya tak pernah kosong karena biasanya para tamunya ini disela-sela keasikan main game suka lapar mendadak dan otomatis isi dapurnyalah yang di gasak.
"Sembilannya Gendis pake trus sisanya masuk tong sampah. Kesalahan teknis gitu loh, Bang.” Ujarnya enteng berbanding terbalik dengan Dewa yang nafasnya tiba-tiba sesak mendengar kabar buruk itu. Oh Tidaaaak!!!
”Kesalahan teknis sampe segitunya?“ Tanyanya tak percaya. Ya ampun, ini dia bisa miskin mendadak kalau setiap hari Gendis melakukan kesalahan teknis.
Gendis mengangguk, ”Iya, hebat kan Bang?Udah mendingan nih dari pada yang kemarin hampir dua rak.” Ujarnya bangga atas pencapaiannya.
Dewa rasanya ingin menangis saja, ”Mendingan ya?” Gumamnya tak percaya. Mau ngambek juga tidak mungkin sebab ia senang melihat wajah bahagia Gendis saat mengacak-ngacak dapurnya. Seperti sebuah kombinasi yang tepat antara Gendis dan dapur miliknya. Aaah lagi-lagi pikiran itu.
Gini amat nasib gue, hiks. Dewa mengusap wajahnya menahan gemas. Sementara tiga orang di depannya membeku menatap kasihan pada tuan rumah. Ok, sepertinya gadis manis inilah yang akan sukses membuat si juragan kos-kosan ini menguras kantong. Sebagai abdi negara yang gajinya cuma pas-pasan sebulan, satu rak telur adalah barang mewah. Untung-untungan sebulan bisa bayar nota di kantin kantor kalau di tambah punya pasangan seperti Gendis yang sepertinya akrab dengan kesalahan teknis, bisa-bisa si merah putih mengibarkan bendera putih.
"Nggak usah pancake, abang sebutin mau dibuatin apa.” Gendis menawarkan pilihan lain. Kapan lagi kan berlagak seperti pemilik dapur?!Di rumah mana mami kasih main di dapur seperti ini. "Teh?”
"Nggak suka.”
"Kopi?”
"Abis.”
“Susu?”
Dewa yang masih lemas di bikin tambah sebal, ”Emang gue anak kecil ditawarin susu ?”
"Lha, bukannya itu kesukaan lo, Bang?Apa lagi kalau dari sumbernya langsung.” Timpal Budi yang sontak disambut tawa tertahan oleh Mario dan Jonatan sedangkan Dewa mendelik tajam pada rekan se-timnya yang memang otaknya tak jauh-jauh dari itu. 12 13 dengan seorang Dewa.
"Beneran, Bang?Kalau gitu minum susu Gendis saja.”
”BHAHAHAAAAAA” Tawa ketiga tamu itu membahana di ruangan, tak bisa ditahan lagi. Dewa melempar stik game pada ketiganya namun dengan gesit Budi, Mario dan Jonatan langsung menghindari amukan buaya yang tengah menahan malu itu.
"DIEM LO BERTIGA!”
"Kenapa?Gendis beneran punya susu kok.” Gendis yang kebingungan mengambil sesuatu dari dalam tasnya, ”Nih.” katanya menunjukan susu bungkus yang selalu ia bawa-bawa, terlalu polos untuk memahami isi otak para pria itu.
Dewa mengangguk, ”Iya, sini yuk ikut gue di dalam.” Ia membawa Gendis ke dapur mengamankannya dari situasi kampret yang di ciptakan oleh para pria dewasa tak tahu diri itu.
"Mereka kok ketawa, Bang?Ada yang lucu ya?” Tanya Gendis bingung. Di depannya Dewa tersenyum kecil mengusap rambut belakangnya seperti biasa.
“Udah, nggak usah dipeduliin. Kalau awal bulan mereka emang suka nggak jelas.” Ujarnya gemas melihat wajah lugu Gendis, ”Jadi mau buatin gue susu?” Tanyanya mengalihkan perhatian Gendis.
Gendis mengangguk, ”Abang suka susu nggak?”
"Suka. Apalagi kalau itu susu lo-- eh maksud gue buatan lo.” Ralatnya buru-buru. Dalam hati mengumpati dirinya yang pikirannya sudah bertraveling kemana-mana.
Susu si*lan.
***
makasih banyak ya ❤🥰💪
sukaakk bangeett sama kebucinan Gendhis Dewa 😍😍