Novel berantai.
1 JODOH AISYAH.
2 JANJI ANISSA.
3 ZAHIRA UNTUK YUSUF
Juwita adalah gadis non muslim. Suatu hari takdir mempertemukannya dengan pemuda muslim bernama Syakir. Juwita mengagumi Syakir dan agamanya.
Kehidupannya bersama sahabat sahabatnya memberikannya suatu pelajaran hidup. Hingga suatu hari iya ingin mengucapkan syahadat, iya ingin menjadi seorang mualaf dibantu oleh Syakir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siti aminah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Joana
Malam itu. Setelah mengerjakan shalat isya, Syakir dan Fadil pun berjalan pulang dari masjid menuju kosan. Mereka hanya berjalan santai sambil ngobrol ngobrol berdua.
"Kapan kita pulang lagi ke pesantren, aku rindu masakan umi ku" ucap Fadil.
"Nanti ya kalau kita lagi santai. Akhir akhir ini kan kita banyak tugas" jawab Syakir.
Saat mereka berjalan, mereka melihat Juwita sedang berdiri di depan gerbang kosan. Juwita sedang menikmati angin malam serta sedang menenangkan pikirannya yang kini sedang gelisah.
"Itu si Juwita ngapain berdiri disitu, ada yang nyulik berabe lagi urusannya. Tar ujung ujungnya si Beky yang jadi korban" gerutu Fadil. Syakir hanya diam saja. Juwita pun tersenyum saat mereka lewat.
"Kalian baru pulang sembahyang?" tanya Juwita. Syakir pun mengangguk.
"Kenapa kau berdiri disini?, tidak takut ada yang menculikmu lagi" ucap Syakir. Juwita pun menggeleng.
"Aku tidak takut, nanti kan ada Syakir si pemuda bersorban yang akan menolongku" ucap Juwita sambil tersenyum senyum. Syakir hanya mengernyit.
"Si Syakir cuma menang tampang doang. Soal adu jotos sama adu kekuatan Fisik dia kalah, karna si Syakir kalau berantem, mainnya pake hati bukan pake otot" tutur Fadil. Syakir langsung memicingkan matanya pada Fadil. Sementara Juwita malah tertawa tawa.
"Kuingat kan Juwi, hati hati jangan berdiri sendirian disini. Karena semalam tepatnya tengah malam, aku melihat ada penyusup berdiri di sini. Dia ngintip ngintip gak jelas, seperti sedang mengintai" tutur Syakir, sengaja memancing Juwita, karna Syakir yakin kalau perempuan yang berdiri di tengah malam di depan gerbang itu adalah Juwita.
"Aku gak ngintip ngintip ko, cuma ngeliatin doang" gerutu Juwita. Seketika itu pula Fadil langsung tertawa tawa, sementara Syakir sudah tersenyum senyum karna Juwita secara tidak langsung mengakui kalau dirinyalah yang berdiri di depan gerbang semalam. Juwita sudah mengerucutkan bibirnya.
"Ha ha ha, Syakir, si Juwita ngaku sendiri kalau dia yang mengintip mu semalam. Heeei Juwita, kau tidak takut bintitan, hobby mu ngintip ngintip mulu" tutur Fadil sambil tertawa tawa. Juwita semakin mengerucutkan bibirnya sambil menunduk. Syakir hanya tersenyum saja lalu mengajak Fadil untuk pulang. Baru saja beberapa langkah mereka berjalan, Juwita langsung memanggilnya.
"Syakir"
Syakir pun berbalik dan menatap kearah perempuan itu.
"Aku suka agama mu" ucap Juwita. Syakir langsung tersenyum, lalu mengajak Fadil berjalan kembali. Juwita pun ikut tersenyum. Tiba tiba Joana menghampirinya.
"Juwi kau kerasukan setan, senyum senyum sendiri di tengah jalan, malam malam pula" ucap Joana. Juwita pun tersenyum malu.
"Kau mau kemana Jo malam malam begini bawa bola?" tanya Juwita heran.
"Aku kan nantangin si Haris tanding malam ini" jawab Joana. Juwita langsung mengernyit.
"Aduh Jo, jangan bikin masalah deh"
"Aku bisa jaga diri ok" ucap Joana.
" Aku ikut" pinta Juwita yang mulai khawatir dengan sahabatnya itu. Joana malah tertawa.
"Ha ha, tidak usah, kau akan mengganggu konsentrasi ku. Aku pergi ya, daaah. Do'akan aku menang ya" ucap Joana sambil masuk ke dalam taxi yang baru saja dipesannya. Juwita hanya bisa menatap kepergian sahabatnya itu, iya merasakan perasaannya yang tidak enak. Tiba tiba Hani keluar dengan menggunakan baju sexy nya yang menggoda.
Juwita langsung mengernyit.
"Hani kau mau kemana?" tanya Juwita. Hani malah tersenyum senyum.
"Aku ada kencan sama Doni, dia sudah mutusin pacarnya, hebat kan aku" jawab Hani.
"Han dengarkan aku"
"Sssttthhh, kau jangan berceramah terus padaku. Ini hidupku" ucap Hani.
"Tapi aku sayang dan perduli padamu Han" ucap Juwita. Hani pun tersenyum.
"Aku pun menyayangimu, menyayangi Andin dan juga Joana. Aku pergi" ucap Hani yang kini sudah dijemput Doni. Juwita hanya bisa diam sambil menatap kepergian Hani. Iya pun langsung menghubungi Andin.
"Hallo Andin, kau ada dimana?" tanya Juwita.
"Aku lagi syuting ikatan cinta he he"
Juwita langsung mengernyit.
"Maaf bercanda, aku lagi jalan sama Desta, kenapa memangnya?" tanya Andin. Dengan kesalnya Juwita langsung mematikan sambungan teleponnya. Semua teman temannya tidak ada yang mau mendengarkan ucapannya. Entah kenapa perasaannya tidak enak.
Hampir tengah malam, Juwita tidak bisa tidur. Hani dan Joana juga belum pulang membuatnya semakin khawatir. Juwita sudah berkali kali memandangi jam, karena hampir tengah malam kedua sahabatnya itu belum pulang.
"Aduh Jo, gak biasanya kau pulang selarut ini. Pulanglah Jo, aku khawatir denganmu" Juwita sudah mondar mandir gak jelas. Ponsel Joana mati. Dilihatnya kembali waktu sudah pukul 23:45. Juwita masih berdiri di depan kosan berharap kedua sahabatnya itu pulang atau menghubunginya lewat telepon. Tiba tiba ponselnya berdering.
"Hallo Hani"
Juwita nampak terkejut saat mendengar berita tentang Joana dari Hani. Tubuh Juwita langsung terjatuh begitu saja. Iya hampir tak percaya dengan apa yang dikatakan Hani.
"Jo"
Air mata menetes begitu saja. Tiba tiba Juwita berlari keluar lalu menggebrak gebrak gerbang kosan putra.
"Syakiiiir syakiiiir"
Teriak Juwita. Beberapa penghuni kosan pun terbangun termasuk Syakir dan Fadil.
"Syakir"
"Itu si Juwita ngapain tengah malam teriak teriak memanggilmu, jangan jangan si Juwita mabok" ucap Fadil pada Syakir. Mereka pun menghampiri.
"Kenapa Juwi, kau berteriak teriak hingga membangunkan semua orang" gerutu Syakir. Juwita malah menangis.
"Jo"
"Kenapa Joana?" tanya Syakir ikut panik.
"Joana mendapatkan penganiayaan. Dan sekarang dia ada di rumah sakit. Antar aku kesana" ucap Juwita. Syakir pun mengangguk.
"Aku ikut" ucap Fadil.
Kini Fadil dan Syakir pergi ke rumah sakit dengan menaiki si Beky, sementara Juwita pergi membawa mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit, Juwita dan Syakir langsung memarkirkan kendaraannya masing masing. Setelah itu mereka bergegas mencari ruangan Joana di rawat. Dilihatnya Hani sedang mondar mandir di depan ruangannya Joana, sementara Andin sudah menangis sambil duduk.
"Hani, Andin"
Hani dan Andin langsung menatap Juwita.
"Joana mana, dia kenapa?" tanya Juwita. Andin langsung memeluk Juwita. Syakir dan Fadil hanya diam menatap mereka.
"Joana jadi korban penganiayaan oleh Haris. Dia juga menjadi korban pelecehan s*ksual" ucap Hani. Juwita nampak terkejut, begitu pun dengan Syakir dan Fadil.
"Inalillahi"
Juwita langsung menatap Joana yang kini sudah ditangani dokter, Joana masih belum sadarkan diri.
"Jo, kenapa kau tidak mau mendengarkan ucapanku" batin Juwita. Air mata pun menetes begitu saja. Saat dokter keluar setelah memeriksa keadaan Joana. Juwita, Hani dan Andin pun masuk. Sementara Syakir dan Fadil duduk menunggu di luar.
Semua menangis menatap Joana yang kini masih belum sadarkan diri.
"Bagaimana dengan Haris" tanya Juwita.
"Dia sudah ditangkap"
"Percuma, besok dia pasti dibebaskan. Keluarganya terpandang, Joana hanya perempuan dari keluarga biasa, dia tidak akan bisa melawan keluarganya Haris. Pada kenyataannya yang banyak uang yang berkuasa" ucap Andin.
"Aku heran sama si Haris, di sodorin tubuhku yang sexy dan aduhai dia gak mau. Eh dia malah merkosa si Jo yang tampang sama bodinya gak banget" gerutu Hani. Andin langsung mencubit kesal lengannya Hani.
"Hani mingkem"
Juwita, Hani dan Andin pun langsung keluar. Mereka menunggu di luar. Karena malam ini mereka akan menginap di rumah sakit untuk menjaga Joana. Syakir dan Fadil pun mendekati Juwita.
"Juwi, kita pulang dulu. Aku turut berduka atas apa yang terjadi pada Joana. Semoga dia diberi ketabahan dan kesabaran" ucap Syakir.
"Kudo'akan semoga si Jo cepat sehat kembali. Aamiin" ucap Fadil.
"Terima kasih" ucap Juwita.
Juwita pun mengantarkan Syakir dan Fadil ke parkiran.
"Terima kasih ya, sudah mengantarku ke sini" ucap Juwita. Syakir pun tersenyum.
"Juwi, apa yang terjadi pada Joana, ini adalah hasil perbuatannya sendiri" ucap Syakir.
"Maksudmu?"
"Sikap Jo pada Haris yang berlebihan, menumbuhkan bara kebencian pada Haris hingga iya gelap mata dan melakukan penganiayaan itu. Untukmu Juwi, berhati hatilah dalam bersikap dan berucap. Tidak semua orang bisa menerima apa yang kita ucapkan baik itu benar maupun salah. Ini baru awal sebuah kehancuran. Jika Joana masih bersikap seperti itu, tidak menutup kemungkinan dia akan mendapatkan perlakuan yang lain, bahkan lebih buruk dari ini. Jadi hati hatilah dalam bersikap." tutur Syakir. Juwita pun mengangguk.
"Mudah mudahan, kejadian ini membuat Joana sadar" ucap Juwita.
"Aamiin"
Syakir dan Fadil pun pulang bersama si Beky. Juwita hanya diam menatap mereka.