NovelToon NovelToon
Second Life

Second Life

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintapertama / Tamat
Popularitas:420.6k
Nilai: 5
Nama Author: Khanza Mutiara syakilla

[Saquel Pernikahan Dini dengan Musuhku dan My Love Defense]

Shasha Sherly Arian, seorang wanita cantik yang sudah menginjak bangku perkuliahan. Ia adalah salah satu pewaris perusahaan sang Kakek. Hal itu yang membuatnya selalu tampil sempurna di depan publik. Kepintarannya itu membuat Daffa-sang Ayah mempercayakan Shasha bahwa ia mampu memimpin jalan sebuah perusahaan.

Tak hanya itu, kecantikan yang ia miliki pun membuat banyak pria jatuh hati kepadanya. Membuat Shasha benar-benar menjadi ratu. Apapun yang Shasha inginkan pasti selalu ia dapatkan, tak pernah merasa kurang sedikitpun. Hingga suatu ketika ada seorang pria yang berani menolak ajakannya untuk menjadi seorang kekasihnya. Hal itu yang membuat Shasha penasaran dengan pria itu.

Tak berbeda jauh dengan Shasha, seorang gadis seumuran dengannya hampir bernasip sama dengannya. Almasya Shahinaz Muzakki, panggil saja dia Alma. Dia sudah bersahabat sejak kecil dengan Shasha. Seorang gadis cantik yang dikelilingi banyak p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khanza Mutiara syakilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Second Life Bab 16

"Kamu haus gak, dek?" Tanya Shasha setelah menghapus keringat yang membasahi wajah sang Adik. Shasha yakin kalau adiknya itu juga tengah kehausan karena baru saja selesai nge-gym.

Rayyan menatap sang Kakak yang juga masih menatapnya dengan tatapan bertanya. Perlahan ia menggeleng lalu menunjukkan sebotol air mineral yang sudah ia pegang sebelumnya. Shasha mengangguk paham apa yang Rayyan maksud.

"Ya udah, sekarang kamu coba kuenya!" Suruh Shasha yang ikut duduk di samping Rayyan. Saat ini wanita itu tengah mencoba untuk fokus ke adiknya terlebih dahulu. Ia masih belum berani melihat sekelilingnya, apalagi ke arah Ghibran.

Rayyan megangguk menuruti ucapan sang Kakak. Menyicipi kue yang baru saja dibuat.

"Enak?" Rayyan mengangguk sebagai jawabannya. Shasha tersenyum senang karena adiknya menyukai kue tersebut. Berkali-kali suapan sendok masuk ke dalam mulut Rayyan karena ia memang menyukainya.

Alma, Ghibran serta Arkhan mendekati keduanya. Mereka bertiga langsung mengambil posisi duduk di dekat keduanya.

"Tadi Ante pamit ke rumah sakit. Katanya ada korban kecelakaan yang harus segera Ante tangani," ucap Alma pada Ghibran.

Gerakan tangan Ghibran terhenti ketika mendengar ucapan dari Alma. Ia langsung menatap Alma, "Kok gak pamit ke Abang?" Tanya Ghibran bingung. Tak seperti biasanya Ibunya itu tak mengatakan apapun padanya.

Alma menggeleng dengan menaikkan kedua bahunya, ia pun tak tau. Lagipula ini sudah menjadi tugasnya Nadia sebagai seorang dokter. Telat sedikit, maka nyawa menjadi taruhannya.

Tring…

Suara ponsel berdering begitu berisik. Karena merasa getaran ponsel itu miliknya, Shasha langsung buru-buru mengambilnya, takut itu panggilan penting.

Helaan nafas pelan terdengar dari mulut Shasha. Lagi-lagi itulah nama kontak yang tertera di ponselnya saat ini. Itu adalah nomor kontak milik sang Ayah dan saat ini sedang menghubunginya.

Rayyan menatap ponsel Shasha yang panggilan dari sang Ayah belum juga diangkat. "Angkat telephone nya" suruh Rayyan yang heran dengan Kakaknya karena hanya menatap ponselnya, tapi tidak diangkat olehnya.

Shasha mengangguk terpaksa. Ia berdiri dari duduknya untuk menghindari suara bising mereka ataupun ada yang mendengar percakapannya. Dengan pelan Shasha pamit untuk mengangkat panggilan itu sebentar pada yang lainnya. Setelah mereka mengangguk setuju, Shasha langsung menjauh ke ujung ruangan dan mengangkat panggilan dari Ayahnya.

Dari tempatnya, Rayyan memperhatikan gerak-gerik sang Kakak yang nampak tidak tenang. Berkali-kali Shasha jalan dan berbalik kembali ke tempat awalnya. Seperti ada yang tak beres dengan Shasha, Rayyan memutuskan untuk menghampiri langsung Kakaknya.

Puk…

Ditepuk pelan bahu sang Kakak dari belakang. Shasha menoleh dalam keadaan menangis. Hal itu membuat Rayyan terkejut melihatnya.

Grep…

Shasha langsung memeluk tubuh Rayyan begitu saja. Awalnya pria itu terkejut, namun di detik berikutnya Rayyan memeluk balik tubuh Kakaknya yang lebih kecil darinya. Ia tak tau apa yang Ayah serta Kakaknya itu bicarakan, yang jelas itu pasti hal penting hingga membuat Kakaknya menangis.

Shasha mendengak menatap Rayyan yang masih menatapnya dengan tatapan bingung. "Ayo kita ke rumah Kakek, Rayyan! Ayo!!" Masih tak mengerti apa yang terjadi, Rayyan hanya diam mematung.

Shasha melepaskan pelukannya dan langsung menggenggam tangan Rayyan. Ia menarik tangan Rayyan supaya mengikuti langkahnya. Tapi Rayyan masih terdiam di tempat karena tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi

"Ayo Rayyan, ayo!" Suruh Shasha yang terus menarik pergelangan tangan sang adik.

Alma, Ghibran dan Arkhan yang melihat itu langsung mendekat ke arah keduanya. Mereka ingin tau apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Shasha sedikit brutal.

"Lo kenapa? Kenapa harus ke rumah Kakek Nenek? Ada apa di sana? Jangan bikin gue bingung, Kak!!" Ucap Rayyan bertanya. Suaranya mengencang, membentak Kakaknya yang mengamuk tak jelas.

Shasha terdiam, gerakannya melemah tapi tangisnya masih terdengar. "Kakek Ray… Kakek meninggal" lirih Shasha melemah.

Bayangan beberapa tahun yang lalu menghampirinya. Ketika ia sangat dekat dengan sang Kakek dari Ayahnya. Ia begitu dimanjakan oleh Kakeknya itu. Semua kenangan dengan sang Kakek terulang di benaknya. Ada rasa menyesal dalam dirinya ketika beberapa hari yang lalu Fahriz-Kakeknya itu memintanya untuk datang, tapi ia menolak karena saat itu sedang sangat sibuk dengan kuliahnya.

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" ucap ketiganya bersamaan. Terkejut dengan apa yang Shasha ucapkan. Pantas saja sikapnya berubah dari yang sebelumnya.

Rayyan membeku di tempat. Menggeleng beberapa kali karena tak percaya dengan apa yang Shasha katakan. Tak terasa air matanya ikut mengalir begitu saja tanpa Rayyan sadari. Rayyan menatap Shasha kembali. Kakaknya itu sedang menunduk menatap lantai dengan isak pilu tangisnya.

Tangan Rayyan meraih tubuh sang Kakak dan membawanya dalam pelukan hangat darinya. Membiarkan sang Kakak menumpahkan segala kesedihannya di dalam pelukannya. Rayyan mengusap lembut di punggung Shasha dan memintanya untuk lebih tenang.

"Diam atau kita gak ke sana" ancam Rayyan yang bermaksud meminta sang Kakak untuk berhenti menangis. Tangis pilu dari Shasha juga mampu membuatnya menangis. Sekuat mungkin ia tahan supaya ia sendiri bisa menguatkan hati Kakaknya.

Perlahan Alma berjalan mendekat. Menatap Rayyan sebentar untuk meminta melepaskan Shasha dari pelukan pria itu. Rayyan mengangguk lalu melepaskan Kakaknya. Segera Alma meraih tubuh Shasha dan menguatkan sahabatnya itu.

"Sha, denger Alma!" Pinta Alma pelan. Ia pun ikut sedih jika melihat Shasha sedih. Di saat seperti inilah semangat dari orang-orang terdekat dibutuhkan.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Qur'an surah Ali-Imran ayat 185

Juga disebutkan dalam hadist riwayat Abu Dawud, telah menceritakan kepada kami Hanad bin Sariyyi dari Abdah dan Abu Mu’awiyyah, dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya, dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya seorang mayit diadzab dikarenakan tangisan keluarganya kepadanya." Ucap Alma menjelaskan apa yang ia ketahui pada Shasha.

Seketika tangis Shasha mereda setelah mendengar penjelasan dari Alma. Ia tak ingin Kakeknya diazab karena salah satu tangisan dari keluarganya.

"Sha, maksud aku boleh aja kamu nangis asalkan tidak berlebihan. Seperti sebelumnya, kamu berteriak-teriak menangisi Almarhum Kakek kamu, itu yang tidak diperbolehkan." Ucap Alma kembali. Ia meraih tubuh Shasha dan memeluknya dengan erat.

Perlahan Shasha mengangguk. "Iya Ma, makasih udah ingetin aku." Balas Shasha yang sudah bisa mengendalikan dirinya kembali.

1
sahaqi
iya bingung baca kisah Alma apa ini dulu s
kavena ayunda
harusnya gibran ma alma aja sih
Hr sasuwe
👍🏻👍🏻👍🏻
Saeful Anwar
cerita nya g jelas, loncat2an g karuan, gimana jalan cerita nya ujug kemana
Rapa Rasha
tetep semangat ya kak
Rapa Rasha
lanjut pokoknya
Rapa Rasha
lanjut
Rapa Rasha
wah seru
Rapa Rasha
terus
Rapa Rasha
heboh
Rapa Rasha
pk Hilmi jahat
Rapa Rasha
seru
Rapa Rasha
lanjut
Rapa Rasha
siapa ya yg dplih Alma penasaran lanjut
Rapa Rasha
lanjut
Rapa Rasha
ini novel kakak penuh dgn kejutan ya tpi q suka lanjut kak
Rapa Rasha
ada aja lanjut
Rapa Rasha
siapa wanita itu kak
Rapa Rasha
lanjuuuuttttt
Rapa Rasha
lucu tpi seru lanjutkan kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!