Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Brak
Aldo terkejut saat pintu tiba-tiba saja terbuka menampilkan seorang pria yang terlihat begitu marah
"Faris" Aini berteriak saat melihat adik iparnya itu
"Kak Aini" Faris menatap tajam pada seorang pria yang tengah berada diatas tubuh seorang wanita
Faris mendekat, pemuda itu menarik tubuh Aldo lalu melayangkan bogem mentah diwajahnya
"Apa yang Lo lakuin bang? Dia istri temen Lo sendiri?" Farsi berteriak lalu kembali melayangkan tinjunya
Aldo tidak dapat membalas, gerakan Faris sangat cepat dan akurat. Tentu saja karena pemuda ini adalah seorang atlet pencak silat
Sementara keduanya bergelut, Aini mundur hingga tubuhnya berada disudut ruangan. Tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin membasahi keningnya
Hampir saja, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika sampai Faris tidak datang tepat waktu, mungkin saat ini ia telah menjadi korban pelecehan
"Gue bakal bikin Lo dipenjara!" Faris menarik kerah baju yang Aldo gunakan, pria itu babak belur dan sekarang sudah tidak sanggup lagi untuk melawan
Kerena mendengar keributan, beberapa warga datang. Faris menyerahkan Aldo pada seorang petugas keamanan perumahan, pria itu akan dibawa kekantor polisi
Faris membiarkan Aldo diurus oleh beberapa warga, pemuda itu kembali dan menemukan sang kakak yang meringkuk sambil memeluk tubuhnya disudut ruangan
"Kak Aini" Faris mendekat, bersimpuh didepan kakak iparnya yang tengah ketakutan
"Kak Aini tenang yaa! Semuanya sudah baik-baik aja! Kakak gak perlu takut lagi" Faris berusaha menenangkan kakak iparnya itu
Namun menjadi wanita yang hampir dilecehkan jelas saja membuat Aini ketakutan. Tubuhnya gemetar dan tidak ingin disentuh oleh siapapun
Faris meraih ponselnya, tentu saja ia perlu mengabari sang kakak. Entah dimana kakaknya itu berada saat ini
Panggilan pertama terlewat begitu saja, Faris terus mencoba hingga panggilan ketiga barulah terdengar suara sang kakak
"Ada apa Ris? Abang lagi kerja"
Faris mendengar suara sang kakak yang seperti tersendat, bahkan napas Andara terdengar memburu
"Bang Andra dimana?"
"Tadi kan Abang udah bilang kalau Abang lagi kerja" Terdengar Andra mendengus, mungkin sang kakak benar-benar sibuk begitu pikir Faris
"Aku ada dirumah Abang, tadi kak Aini hampir aja dilecehin sama temen Abang"
Sementara itu di apartemen, tepatnya diatas tempat tidur, Andra langsung bangun dari posisinya yang tengah duduk bersandar
Bahkan ia sampai bertanya sekali lagi, berharap ia salah dengar
"Kamu bilang apa Ris?"
"Sebaiknya Abang pulang sekarang! Kak Aini ketakutan dan gak bisa aku tenangin"
"Kamu temenin Aini disana dulu! Abang pulang sekarang"
Andra segera menuju kamar mandi, ia perlu membersihkan diri dari sisa percintaannya bersama Sarah
"kamu mau kemana mas?" Tanya Sarah saat kekasihnya cepat mengenakan pakaian
"Aku harus pulang Sarah, ada yang coba mau melecehkan Aini"
Sarah mengendus, bahkan Andra keluar begitu saja tanpa memberikan kecupan
"Apa sih istimewanya wanita itu? Lagian siapa juga yang tertarik sama dia" Sarah tidak peduli, ia lelah dan ia butuh yang namanya istirahat
Sementara itu mobil yang dikendarai Andra tiba dirumah, pintu rumah terbuka dan ia segera masuk
Disana ada Aini yang duduk meringkuk sementara Faris berusaha menenangkannya
"Dek"
"Bang" Faris berbalik saat mendengar suara sang kakak
"Yaa Allah dek" Andra mendekat, bersimpuh didepan istrinya yang terus menangis "Dek, ini mas"
Mendengar suara yang dikenal, Aini mengangkat wajahnya lalu segera membenamkan dirinya dalam dekapan pria itu
"Aku takut banget mas" Aini terisak, Andra mengeratkan pelukannya. Amarah jelas saja ada saat melihat kondisi istrinya
"Siapa yang ngelakuin ini?"
"Bang Aldo" Faris menjawab
Andra mengepal dibelakang tubuh istrinya, berani sakali Aldo ingin menyentuh istrinya. Selama ini Aldo memang kerap menggoda Aini dan tidak ragu memuji kecantikannya
Tapi Andra tidak berpikir jika sahabatnya itu akan melakukan semua ini
"Kita masuk kekamar yaa" Andra membujuk namun Aini menggelengkan kepalanya
"Aku takut"
"Mas ada disini, kamu gak perlu takut lagi" Andra mengeratkan pelukannya, amarahnya semakin meluap saat melihat tanda merah dileher istrinya
"Kita kekamar yaa! Mas janji gak akan ninggalin kamu" Anggukan kecil Andra terima
Tubuh Aini diangkat, Andra melangkah menuju kamar mereka sementara Faris memutuskan untuk pulang
"Sebentar dek" Andra meletakkan istrinya diujung tempat tidur, pria itu meraih ikat rambut istrinya lalu mendekati Aini
Tubuh wanita itu terlihat berantakan dan Andra akan merawat nya. Rambut panjang itu diikat lalu Andra hendak melepas piyama istrinya
"Jangan!" Lirih Aini sambil mempertahankan pakaiannya, sepertinya istrinya ini masih trauma
"Ini mas, dek" mendengar itu Aini mengangkat wajahnya dan melihat wajah tampan suaminya
"Mas Andra" Wanita itu kembali menangis, siapapun pasti akan trauma jika mengalami hal seperti ini
"Mas disini, dek" Andra mengeratkan pelukannya "Kamu ganti baju dulu yaa"
Kali ini Aini mengangguk, Andra melepas kancing piyama istrinya itu. Saat itulah ia melihat bekas gigitan di bahu wanita itu
"Brengsek si Aldo" Andra bersumpah akan menemui sahabatnya itu besok, Aldo harusnya tidak melakukan ini pada istrinya
Setelah berganti pakaian, Aini dibaringkan lalu Andra menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya
Beruntung malam ini Kasih tidak rewel, bayi kecil itu masih terlelap ditempatnya
"Selamat pagi" Aini melihat suaminya yang datang dengan membawa nampan, hari ini ia terlambat bangun dan suaminya yang mengerjakan pekerjaan rumah
"Aku kesiangan yaa mas?" Aini beringsut bangun, ia duduk bersandar diatas tempat tidur
"Kamu demam, makanya gak mas bangunin" Andra duduk diujung tempat tidur, lalu meraih mangkuk bubur yang ia bawa "Kamu makan dulu yaa!"
"Mas masak?"
"Enggak, ini bubur ayamnya mang Udin didepan" Aini tersenyum lalu menerima suapan dari suaminya "Enak?"
Aini mengangguk "Maaf yaa mas, aku jadi ngerepotin, mas juga jadi gak bisa kerja"
"Enggak kok sayang, lagian semua ini salah mas juga"
Aini menatap suaminya "Kenapa jadi salah mas Andra?"
"Harusnya mas cepet pulang, biar gak ada yang masuk rumah kita dan nyakitin kamu" Andra benar-benar menyesal
"Bukan salah mas Andra, harusnya aku bisa jaga diri"
"Mulai besok, mas akan cepet pulang. Hari ini mas mau kekantor polisi dulu" Ujar Andra, ia masih begitu marah pada sahabatnya itu, jika Aldo ada dihadapannya mungkin saat ini laki-laki itu sudah babak belur
"Mas mau apa kesana? Mas disini aja! Aku takut" Wajah Aini terlihat ketakutan
"Kamu gak perlu takut, mas disini. Lagian Aldo juga udah dipenjara" Andra berusaha menenangkan istrinya ini
nunggu aini kerja gajian anakmu dah mati, di tinggal ke kantor suami mu, kl gk di kasih susu ma Sarah seharian gimana. kok gk mikir to aini ini. saking miskin dah oon nya.