NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Rival

Menikah Dengan Rival

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rii_Risa

"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"

"Mau."

Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.

Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.

Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Alih-alih terkejut melihat anak-anak mereka keluar dari kamar dengan pakaian yang berantakan, wajah keempatnya justru dihiasi dengan senyum penuh arti.

Ridwan mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua siku di atas lutut sambil menaik-turunkan alisnya menggoda.

"Sejak Erlangga bilang... dia udah nggak perjaka lagi."

"Uhuk uhuk!" Erlangga yang mendengar kalimat itu langsung tersedak oleh ludahnya sendiri. Ia memalingkan wajahnya kesamping, sambil menutup mulutnya dengan kepalan tangan. Telinganya pun perlahan berubah menjadi merah.

"Bukannya sejak Erlangga bilang kalau Kara menerkamnya kayak singa kelaparan?" timpal Lesmana. Pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya ke sofa. Matanya melirik geli ke arah sang putri yang kini tampak ingin menghilang dari muka bumi ini.

"Ah, iya benar!" Lisa juga ikut menyahut antusias. Ia menatap Kara dan Erlangga bergantian dengan mata yang berbinar kesenangan. "Tapi Mama rasa, bagian yang paling seru itu waktu Erlangga merengek ingin dinikahin."

Sialan.

Kara rasanya ingin menangis detik itu juga. Jantungnya berdegup kencang karena malu, sementara kedua tangannya meremas ujung kaos yang dipakainya hingga kusut. Seluruh harga diri yang ia bangun bertahun-tahun rasanya hancur lebur tanpa sisa di depan orang tua Erlangga dan orang tuanya sendiri.

Sementara Erlangga, pria yang biasanya selalu tenang dalam situasi apa pun, mendadak mati kutu.

"Kalian salah paham," ucap Erlangga akhirnya.

Sonya yang sedari tadi hanya menyimak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, kini ikut bersuara."Salah paham apanya, Erlangga?" ucapnya lembut. Ia menunjuk ke satu titik di leher Erlangga. "Tanda merah di leher kamu itu sudah membuktikan semuanya, kok."

Erlangga langsung tersentak. Dengan gerakan refleks ia buru-buru menutupi lehernya menggunakan telapak tangan.

Kara yang melihat situasinya semakin gawat langsung memutar otak. Ia menoleh pelan ke arah Erlangga, mencoba memberi kode lewat tatapan matanya yang melotot.

"Merah di leher lo itu karena alergi telur, kan?" tanya Kara dengan nada menuntut.

Erlangga langsung menangkap umpan itu dengan cepat, meski gerakannya terasa kaku. "Ya. Gue... alergi telur."

Lisa langsung mengernyitkan alisnya, menatap putranya dengan tatapan menyelidik. "Sejak kapan kamu alergi telur?"

"Sejak kemarin malam, Tante. Iya, kan?" Kara buru-buru menyambar, lalu kembali menoleh ke arah Erlangga dengan senyum yang dipaksakan.

"Iya, benar," sahut Erlangga cepat.

Lisa langsung melipat kedua tangannya di depan dada. "Mama rasa setiap pagi kamu harus makan telur. Kamu kalau pagi gak bisa makan nasi, kan?"

Mampus.

Kara langsung membeku di tempat. Ia baru ingat kalau Erlangga sejak kecil memiliki ritual wajib sarapan telur rebus.

Lesmana yang duduk di ujung sofa langsung terkekeh geli melihat kepanikan yang terpahat jelas di wajah kedua anak muda itu. Ia mengibaskan tangannya di udara dengan santai.

"Halah, itu mah bukan alergi telur. Itu pasti alergi sama bibirnya Kara," ucap Lesmana yang langsung disambut oleh tawa renyah dari ketiga orang paruh baya lainnya.

Kara langsung memanyunkan bibirnya, ia menatap ke arah sang mama dengan mata yang berkaca-kaca. "Mama percaya, kan, sama Kara? Kara nggak mungkin ngapa-ngapain Erlangga," ucapnya dengan nada merengek, berharap mendapat pembelaan dari mamanya itu.

Biasanya, mamanya akan langsung luluh dan memeluknya jika Kara sudah mengeluarkan jurus manjanya itu.Namun kali ini, Sonya justru mendengus geli.

"Mama sih percayanya Erlangga yang nggak bakal ngapa-ngapain kamu. Kalau kamu, sih, Mama nggak percaya," ucap Sonya sambil melirik penampilan Erlangga yang tampak jauh lebih acak-acakan daripada Kara.

"Udah, udah. Sini duduk, nggak capek apa kalian berdiri mulu dari tadi?" lerai Ridwan sambil menepuk-nepuk permukaan sofa kosong yang ada di depan mereka.

Kara dan Erlangga langsung melangkah gontai ke arah sofa sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Mama sama Papa nggak masalah kamu mau ngapain aja sama Kara, Erlangga," ucap Ridwan sedikit melunakkan suaranya begitu mereka sudah duduk. Namun, ekspresi wajah Ridwan mendadak berubah serius. "Tapi satu hal yang harus kamu ingat, jangan mengulang kecerobohan ini lagi. Mengerti?"

Lisa ikut menganggukkan kepalanya tegas, mengunci pandangan pada Kara dan Erlangga. "Kita berempat tidak mau punya cucu hasil dari luar pernikahan. Kalian harus sah dulu secara hukum dan agama, baru boleh tidur bareng seperti ini."

Mendengar peringatan yang sudah melenceng jauh itu, Erlangga langsung mendongakkan kepalanya dengan ekspresi frustrasi.

"Tapi beneran, semalam kita nggak ngapa-ngapain! Apa Mama sama Papa perlu lihat rekaman ulang dari CCTV kamar sekarang juga?!" potong Erlangga cepat.

Mendengar tawaran frontal itu, mereka berempat langsung tersentak dan berteriak dengan wajah panik, "Tidak usah!"

"Simpan saja buat kalian, tapi jangan diulang lagi, oke!" lanjut Lesmana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Erlangga langsung memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. Benar-benar di luar dugaannya kalau orang tuanya dan orang tua Kara akan datang berkunjung pagi-pagi begini ke apartemennya.

Padahal tadi, saat Erlangga bicara aneh-aneh hanya karena ingin menjahili Kara. Tapi sekarang, ia justru terkena karma dan termakan oleh umpannya sendiri.

Kenyataannya semalam, selain Kara yang menggigit lehernya habis-habisan karena dikira dirinya mirip cimol raksasa, mereka sama sekali tidak melakukan adegan dewasa lainnya.

Di saat Erlangga masih pusing memutar otak guna mencari alasan untuk menjelaskan kepada orang tua mereka, tiba-tiba pintu unit apartemen terbuka.

Reygan melangkah masuk ke dalam ruangan. Kedua tangannya tampak sibuk menenteng beberapa kantong kresek berisi makanan. Langkah kakinya mendadak terhenti di ambang batas ruang tengah. Matanya mengerjap polos, memandangi kerumunan para orang tua yang duduk di atas sofa dengan ekspresi bingung.

"Lah, kok rame-rame ada apa ini?" celetuknya sambil menatap mereka bergantian dengan wajah tanpa dosa.

1
Fulayah Haddad
Bagus, Amazing..........👍👍🤗😉😉 lanjut lg dong Thor, ditungguuu.............😉👌👌🫰🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!