Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Malam itu, kediaman keluarga Narendra terasa jauh lebih tenang dibandingkan biasanya.
Setelah kembali dari Australia, Jovan tidak langsung beristirahat. Ada satu hal yang terus berputar di kepalanya sejak beberapa hari terakhir. Yakni Serina.
Dan keputusan yang sudah ia ambil, Ia ingin menikahi wanita itu. Bukan karena kasihan. Bukan pula karena merasa bersalah atas kematian Riki.
Setidaknya, itulah yang terus Jovan katakan kepada dirinya sendiri.
Dengan langkah tenang, Jovan memasuki ruang kerjanya Darren. Pria itu sedang duduk di balik meja, memeriksa beberapa berkas penyelidikan ketika mendengar ketukan pintu.
"Masuk."
Pintu terbuka.
Darren mengangkat wajahnya. "Jovan?"
Adiknya masuk lalu menutup pintu di belakangnya.
"Kak, gue mau ngomong."
Darren memperhatikan ekspresi Jovan yang terlihat serius.
"Duduklah."
Jovan menarik kursi di hadapan kakaknya. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Darren akhirnya meletakkan berkas di tangannya. "Ada apa?"
Jovan menarik napas panjang. "Gue mau menikahi Serina."
Tangan Darren yang semula berada di atas meja mendadak berhenti bergerak. Untuk beberapa detik, pria itu benar-benar tidak mampu menjawab. Seolah-olah kalimat sederhana yang baru saja keluar dari mulut adiknya telah menghantam tepat ke dadanya.
"K...kamu..." Darren menatap Jovan dengan mata sedikit melebar. "Kamu serius?"
Jovan mengangguk. "Serius, kak"
Darren bersandar perlahan ke kursinya. Ada sesuatu yang bergejolak hebat di dalam dadanya. Yaitu Serina. Wanita yang diam-diam masih ia cintai.
Wanita yang beberapa waktu terakhir mulai ingin ia dekati kembali. Wanita yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
Darren sebenarnya sudah membuat keputusan. Ia ingin kembali mengejar cinta pertamanya. Ia ingin, perlahan-lahan, membuat Serina mengingat dirinya.
Namun malam ini...
Adiknya sendiri datang membawa kabar bahwa ia ingin menikahi wanita yang sama. Darren menundukkan pandangannya. Ada rasa sakit yang menusuk begitu dalam, tetapi ia menahannya rapat-rapat. Tidak mungkin ia menunjukkan perasaannya kepada Jovan. Apalagi Jovan sama sekali tidak tahu bahwa Serina adalah cinta pertama kakaknya.
"Kenapa?" tanya Darren akhirnya.
Jovan menghela napas. "Karena aku ingin melindungi dia."
Darren menatapnya. "Melindungi?"
"Kakak tahu sendiri bagaimana media memperlakukan Serina sekarang. Orang-orang menganggap dia istriku. Farel dianggap anakku. Serina bahkan sampai jadi bahan gunjingan di tempat kerja." Jovan mengepalkan tangannya.
"aku nggak bisa diam."
Darren terdiam dengan dada yang terasa sesak
"Kalau aku menikah sama dia," lanjut Jovan, "setidaknya semua rumor itu punya alasan yang jelas. aku bisa berdiri di samping dia secara resmi. Aku bisa melindungi dia dan Farel tanpa orang terus mempertanyakan hubungan kami."
Darren menatap wajah adiknya cukup lama. Lalu ia bertanya pelan.
"kamu mencintai Serina?"
Pertanyaan itu membuat Jovan terdiam, Jovan mengalihkan pandangannya.
"Aku..."
Untuk sesaat, pertanyaan Leo kembali terngiang di kepalanya.
Elo yakin cuma ingin melindunginya, atau elo emang punya rasa sama Serina?
Jovan menarik napas. "aku belum tahu." Jawaban itu membuat Darren terdiam. Jovan melanjutkan,
"Tapi aku tahu satu hal. Aku nggak mau Serina terus disakiti karena masalahku."
Darren tersenyum tipis. Senyuman yang dipaksakan.
Padahal di dalam hatinya, ada sesuatu yang terasa hancur.
"Jadi seperti ini akhirnya... Ketika aku baru saja ingin kembali mengejar cinta pertamaku, ternyata aku harus berhadapan dengan adikku sendiri." batinnya
Namun Darren memilih diam. Ia tidak akan merebut Serina. Tidak dengan cara seperti itu. Ia tidak akan menggunakan statusnya sebagai kakak untuk menghalangi Jovan. Apalagi jika Serina sendiri belum memberikan jawaban.
"Kalau itu keputusanmu," kata Darren akhirnya, "aku tidak akan menghalangimu."
Jovan menatap kakaknya. "Serius, kak?"
Darren mengangguk. "Tapi ada sesuatu yang harus kamu tahu, Jovan."
"Apa itu, kak?"
Darren membuka sebuah laci dan mengambil beberapa lembar dokumen. Ia meletakkannya di atas meja.
"Rumor tentang kamu dan Serina bukan muncul secara kebetulan."
Jovan mengernyitkan keningnya. "Maksudnya?"
"Foto-foto kamu bersama Farel dan Serina yang tersebar di media... ada orang yang sengaja membayarnya."
Jovan mengambil salah satu dokumen.
"Siapa?"
Darren menatap mata adiknya. "Mommy."
Jovan terdiam. "Marcella."
Ruangan itu seketika terasa sunyi. Jovan tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap kakaknya.
"kamu yakin?"
Darren mengangguk. "Ada bukti transaksi. Ada komunikasi antara Mommy dengan seorang jurnalis bernama Rendra. Dia dibayar untuk mengikutimu, mengambil foto-foto lo bersama Serina dan Farel, lalu menyebarkan narasi seolah-olah kamu sudah memiliki istri dan anak secara diam-diam."
Jovan menundukkan wajahnya.
Darren melanjutkan.
"Mommy sengaja ingin menghancurkan reputasimu. Dia ingin membuat kamu tersingkir dari keluarga Narendra."
Jovan masih diam. Darren menatap adiknya dengan sorot prihatin.
"Jovan..."
Tidak ada jawaban.
Darren mengira adiknya sedang menahan kemarahan. Namun beberapa detik kemudian, Jovan justru tersenyum tipis.
Darren mengerutkan keningnya.
"kamu... malah senyum?"
Jovan mengangkat wajahnya.
Entah mengapa, bukannya marah, justru ada perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya.
Ia merasa seperti baru saja menemukan sebuah celah yang selama ini tidak ia sadari.
"Jadi semua rumor itu memang sengaja dibuat?"
"Iya."
"Foto aku sama Farel?"
"Iya."
"Foto aku sama Serina?"
"Juga."
Jovan mengangguk perlahan. Kemudian ia tertawa kecil.
"Kalau begitu..."
Darren semakin bingung.
"Kalau begitu apa?"
Jovan menatap dokumen di tangannya.
"Justru Mommy yang memberikan aku alasan untuk menikahi Serina."
Darren membeku. "Apa?"
Jovan bersandar di kursinya. "Kalau rumor itu memang sudah terlanjur menyebar ke mana-mana, dan Serina terus jadi sasaran karena dikaitkan sama aku..."
Ia berhenti sejenak.
"Berarti satu-satunya cara paling jelas untuk menghentikan semua itu adalah membuat hubungan kami benar-benar resmi."
Darren menatap adiknya dengan perasaan campur aduk.
"Jovan, menikah bukan perkara sederhana."
"Aku tahu."
"Dan Serina masih berduka."
"Aku juga tahu."
"Jangan sampai dia merasa terpaksa."
Jovan mengangguk.
"Aku nggak akan memaksa." Ia kemudian tersenyum kecil.
"Kalau dia menolak, aku akan terima."
Darren terdiam. Kalimat itu justru membuat dadanya semakin sesak. Karena jauh di dalam hatinya, ia berharap Serina suatu hari akan memilihnya.
Tetapi sekarang...
Ia harus menyaksikan adiknya sendiri berusaha mendapatkan wanita yang selama ini ia cintai. Darren mengepalkan tangannya di bawah meja.
Namun wajahnya tetap tenang.
"Kalau begitu, pastikan kamu benar-benar serius."
Jovan mengangguk. "aku serius, kak."
Darren menghela napas panjang. "Dan satu lagi."
"Apa?"
"Jangan pernah menikahi Serina hanya karena merasa bersalah atas kematian Riki."
Jovan terdiam.
Darren menatapnya tajam.
"Kalau suatu hari kamu menikah dengannya, lakukan karena kamu benar-benar ingin menjadi bagian dari hidupnya. Bukan karena rasa kasihan."
Jovan menatap kakaknya cukup lama. Kemudian ia mengangguk. "Aku ngerti, kak."
Ia bangkit dari kursinya.
"Terima kasih sudah jujur sama aku."
Jovan berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti.
"kak."
Darren mengangkat wajahnya. "Kenapa?"
"Kalau nanti aku benar-benar menikah sama Serina..."
Jovan tersenyum.
"Aku harap kakak juga datang ke pernikahanku."
Darren terdiam. Ada rasa sakit yang kembal menusuk. Namun ia hanya membalas dengan senyum tipis.
"Tentu."
Jovan kemudian keluar dari ruangan.Pintu tertutup.
Barulah senyum Darren menghilang. Ia menundukkan kepala dan memejamkan matanya.
Tangannya mengepal erat.
"Jadi kau yang akan menjadi suami Serina, Jo..."
Ia menghela napas panjang. Padahal aku baru saja berencana untuk kembali mengejar wanita yang selama ini tidak pernah benar-benar bisa kulupakan.
Darren membuka matanya. Namun sebagai seorang kakak, ia tahu satu hal. Ia tidak boleh menjadikan perasaannya sebagai alasan untuk menghancurkan kebahagiaan adiknya.
Sementara itu, di lorong rumahnya, Jovan berjalan menuju kamarnya. Langkahnya terhenti ketika pikirannya kembali tertuju pada Serina. Ia membayangkan wajah wanita itu.
Tatapan sedihnya. Senyumnya ketika melihat Farel bahagia. Dan cara Serina selalu berusaha kuat meskipun hidup telah merenggut suaminya.
Jovan tersenyum tipis.
"Kalau bukan karena rumor itu... mungkin aku tidak akan pernah punya keberanian untuk mengucapkan keinginan ini." batinnya
Ia menatap ke depan. Dan kalau benar semua ini bermula dari ulah Marcella...Jovan menghela napas.
Anehnya, ia sama sekali tidak merasa ingin membalas dendam. Justru dalam hati, ia mengucapkan sesuatu yang membuat dirinya sendiri hampir tidak percaya.
"Terima kasih, Mom..."
Ia tersenyum samar.
"Tanpa sadar, tindakanmu justru memberiku alasan untuk mendekati wanita yang mulai memenuhi pikiranku setiap hari." Jovan berhenti sejenak.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia terdiam.
Kemudian berbisik dalam hati.
"Tapi... apakah aku benar-benar hanya ingin melindungi Serina?"
Pertanyaan itu kembali muncul.
Dan kali ini... Jovan tidak mampu memberikan jawaban.
Bersambung....
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔
untuk darren hatimu sakit wanita yang menjadi cinta pertama akan menikah dengan saudara kandung sendiri namun dirimu kuat untuk tidak mengahancurkan adik kamu.
nanti apa kebenaran tentang masa lalu
Awal cerita sudah sedih .... 😭