Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Angin malam musim semi berembus membawa serta desiran pasir halus dari pelabuhan selatan, menghempas jubah hitam Damian Valerius yang berkibar berat di atas punggung kuda perangnya. Di bawah langit malam yang bertabur bintang pudar, derap kavaleri bayangan bergerak dalam kesenyapan total, menembus lorong-lorong sempit kota pelabuhan yang telah lama tertidur lelap.
Bulan sabit menggantung pucat di atas atap-atap rumah kayu yang berjejer rapi, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas jalanan berbatu. Namun, di balik topeng ketenangan seorang Jenderal Agung yang memimpin pasukan elitnya, jiwa Damian bergolak dalam badai siksaan batin yang tak bertepi. Bisikan-bisikan malam, memori tentang biskuit gosong, serta tatapan penuh rahasia dari Putri Mahkota Elaina malam itu terus berputar di kepalanya, mengoyak kewarasannya lapis demi lapis.
Perjalanan panjang ini bukan lagi sekadar misi pencarian seorang pelarian istana; ini adalah sebuah perjalanan obsesi.
Setelah berbulan-bulan mengandalkan laporan intelijen rahasia, peta rute perdagangan tua, dan bayang-bayang samar para informan bayaran, jejak tersebut akhirnya membawa mereka ke wilayah pesisir selatan ini—sebuah kota kecil yang jauh dari kemegahan ibu kota, tempat di mana waktu seolah berjalan lebih lambat dan angin laut mendominasi udara.
Kavaleri bayangan di bawah pimpinan Kapten Julian memperlambat laju kuda mereka saat memasuki sebuah jalan setapak berbatu yang diapit oleh bangunan-bangunan tua berarsitektur sederhana. Udara di sekitar tempat itu mendadak terasa berbeda. Di tengah aroma garam laut yang pekat dan amis pelabuhan, sebuah wangi samar tiba-tiba merayap masuk ke dalam indra penciuman Damian.
Sebuah aroma yang sangat familiar. Aroma yang langsung menembus pertahanan terketat di dalam benaknya, memicu memori tentang sudut dapur belakang Kediaman Valerius yang sunyi.
Wangi mentega cair, fermentasi ragi yang hangat, dan sentuhan manis vanila murni.
Damian serta-merta menarik tali kekang kudanya, menghentikan langkah kudanya secara mendadak. Seluruh pasukan di belakangnya seketika ikut menahan laju tunggangan mereka, berbaris dalam kesunyian mutlak tanpa ada yang berani mengeluarkan suara.
Dada Damian bergemuruh hebat. Jantungnya berdetak keras, menghantam tulang rusuknya dengan ritme yang tidak terkendali. Ia mendongakkan kepalanya, menyapu pandangan ke sekeliling jalanan yang sunyi.
Beberapa meter di depan mereka, berdiri sebuah bangunan tua berlantai dua dengan cat dinding yang mulai mengelupas. Di atas pintu kayu utamanya, tergantung sebuah plang plakat kecil yang berayun pelan ditiup angin malam, memantulkan cahaya lentera jalan yang temaram.
Roti Hangat Auris.
Nama itu terpampang jelas. Di balik jendela kaca toko yang bersih, terlihat deretan rak kayu sederhana tempat sisa-sisa roti dipajang, dan di balik dinding kayu itu, Damian bisa merasakan denyut kehidupan yang sangat asing bagi seorang wanita bangsawan tinggi.
Damian turun dari pelana kudanya. Gerakannya begitu lambat, kaku, dan sarat akan ketegangan yang tertahan. Sepatu lars militernya menghantam jalanan berbatu dengan suara ketukan tunggal yang menggema berat di dalam keheningan malam. Matanya tidak beralih sedikit pun dari plang kayu kecil di atas pintu toko itu. Manik mata abu-abu badainya menatap lekat-lekat bangunan kecil tersebut, seolah-olah ia sedang menatap benteng musuh yang paling berbahaya—atau lebih tepatnya, sebuah tempat suci yang telah merenggut bagian dari jiwanya.
Kapten Julian melangkah mendekat dengan kuda tunggangannya, membungkuk hormat seraya berbisik hati-hati, "Jenderal... pasukan bayangan telah mengepung seluruh titik akses keluar masuk jalan ini. Kami bisa langsung mendobrak masuk, mengamankan bangunan itu, dan menyeretnya kembali ke dalam tahanan istana malam ini juga jika Anda menginginkannya."
Mendengar kata-kata itu, Damian menghentikan langkahnya. Ia mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat tegas tanpa menoleh sedikit pun ke arah bawahannya.
"Tidak," suara Damian rendah, dingin, namun mengandung beban emosional yang begitu dalam hingga membuat Kapten Julian terdiam kaku. "Kalian semua... mundur."
Julian mengerutkan kening, wajahnya menyiratkan kebingungan yang nyata. "Mundur, Jenderal? Tapi bagaimana dengan pengamanan Anda? Tempat ini bisa saja—"
"Aku bilang, mundur, Julian!" bentak Damian pelan namun penuh otoritas mutlak, sebuah titah yang membuat udara di sekitar mereka mendadak membeku. "Bawa seluruh pasukan menjauh dari area ini. Tunggu di perbatasan gerbang kota. Jangan ada satu pun dari kalian yang mendekati radius seratus meter dari tempat ini tanpa perintahku."
Para perwira dan pasukan bayangan saling berpandangan dalam keheningan. Mereka belum pernah melihat sang Jenderal bersikap sekecil dan separan ini. Namun, melihat kilatan mata abu-abu badai yang menyala-nyala dalam amarah dan kerinduan yang terkunci rapat, tidak seorang pun berani membantah.
"Baik, Jenderal," ucap Kapten Julian akhirnya dengan nada patuh. Ia memberikan hormat militer terakhir, lalu memberi isyarat kepada seluruh pasukannya untuk memutar balik kuda mereka secara senyap, meninggalkan Damian sendirian di tengah jalanan kota kecil yang sunyi.
Derap kavaleri itu berangsur-angsur menjauh, hingga akhirnya benar-benar lenyap ditelan malam, menyisakan Damian seorang diri di depan pintu toko roti kecil tersebut.
Keheningan kembali merayap, hanya ditemani oleh deru angin laut yang membawa aroma mentega dan vanila semakin pekat menusuk penciumannya. Damian melangkah maju perlahan. Setiap langkah yang diambilnya terasa begitu berat, seolah-olah kakinya terikat oleh rantai tak kasat mata dari masa lalunya sendiri.
Ia berdiri tepat di depan pintu kayu toko Roti Hangat Auris.
Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam terulur pelan, menyentuh permukaan kayu pintu yang dingin. Ia bisa merasakan getaran di dalam dadanya sendiri—sebuah siksaan batin yang luar biasa, pergolakan antara keinginan untuk mendobrak masuk, meneriakkan kemarahannya karena telah ditinggalkan, dan ketakutan yang tidak masuk akal bahwa semua ini hanyalah ilusi yang akan lenyap jika ia berkedip.
Melalui celah kaca jendela di samping pintu, Damian menyorotkan pandangannya ke dalam ruangan yang remang-remang.
Di dalam toko kecil yang tertata rapi itu, di dekat meja kerja tempat adonan diuleni setiap hari, sebuah bayangan kecil bergerak tenang. Seorang wanita berambut kecokelatan yang diikat longgar, mengenakan gaun katun sederhana dengan celemek kain katun yang bernoda tepung putih di pinggangnya, tengah membereskan sisa-sisa peralatan kerjanya sebelum tidur.
Aurelia.
Wanita itu tampak begitu tenang. Gerakannya luwes, mandiri, dan tidak menyisakan sedikit pun jejak ketakutan histeris atau arogan aristokrat yang dulu melekat padanya di Kediaman Valerius. Wanita itu hidup. Wanita itu merintis kebebasannya dengan kedua tangan itu sendiri. Dan yang paling menghancurkan hati Damian: wanita itu terlihat jauh lebih bahagia di tempat kecil yang kotor dan sederhana ini, ketimbang hidup bermandikan permata di dalam sangkar emas istananya.
Rasa sakit yang membakar kembali menghantam rongga dada Damian. Suatu rasa cemburu, kepemilikan, dan kerinduan yang terdistorsi melebur menjadi satu, menciptakan siksaan batin yang jauh lebih kejam daripada tusukan seribu pedang di medan perang.
Ia tidak tahan lagi.
Dengan tangan yang sedikit gemetar di balik sarung kulitnya, Damian mencengkeram gagang pintu kayu toko tersebut, memutarnya perlahan tanpa suara, lalu mendorong daun pintu itu terbuka—membiarkan bunyi lonceng kecil di atas pintu berdering nyaring memecah malam, tepat saat Shania memutar tubuhnya karena terkejut mendengar suara tamu tak diundang di jam senyap tersebut—
mampir diceritaku juga ya😊