Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.
Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.
Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi yang Aneh
“Setiap manusia tahu bahwa suatu hari mereka akan mati. Mereka juga tahu bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Kalau kau tahu hidupmu akan dipenuhi kemalangan, apakah kau akan memilih untuk mengakhiri hidupmu sendiri?”
“....”
“Kau memang bisa memilih untuk hidup atau mati. Tapi pada akhirnya, kau akan memilih untuk tetap hidup, bukan?”
“Itu terlalu sulit untuk kupahami.”
“Menurutmu, apakah bunga-bunga itu sungguh mekar karena dipaksa bangun oleh kekuatanmu?”
"...."
“Anakku, mereka mekar karena ingin bertemu denganmu. Sama seperti dirimu, bunga-bunga itu juga bisa memilih.”
“Tapi saat itu musim dingin. Seharusnya akulah yang menunggu sampai bunga-bunga itu tiba.”
Wanita itu tersenyum mendengar perkataan Violet.
“Kau pikir bunga-bunga yang tertidur karena kedinginan tidak tahu bahwa mereka akan kembali merasakan dingin ketika terbangun?”
Saat itulah Violet mulai memahami maksud perkataan wanita itu. Selama ini, ia masih terjebak dalam cara pandang manusia.
Sejak awal, bunga-bunga itu tahu bahwa mereka akan mekar bukan di musim semi, melainkan di tengah musim dingin yang menusuk. Dengan kekuatan Violet, mereka memiliki pilihan untuk bangun atau kembali tertidur. Namun, meski tahu mereka harus menghadapi angin utara yang dingin, mereka tetap memilih bangun ketika Violet membangunkan mereka.
“Tapi kalau begitu, kenapa? Rasanya aneh kalau mereka mekar hanya untuk bertemu denganku. Lagipula, musim semi akan tiba kalau aku menunggu sedikit lebih lama. Kalau musim semi sudah menanti, kenapa mereka memilih mekar di tengah musim dingin?”
Pertanyaannya terdengar serupa, tetapi kali ini Violet mempertanyakan hal yang berbeda.
Senyum wanita itu semakin cerah.
“Hanya manusia yang bisa menentukan masa depannya sendiri. Bagi semua makhluk hidup selain manusia, momen yang sedang mereka jalani adalah momen terbaik. Mereka memilih saat ini daripada masa depan, dan bersedia menerima apa pun yang harus mereka tanggung karenanya.”
“Aku tetap tidak mengerti.”
Mendengar jawaban Violet, wanita itu bangkit berdiri.
“Kalau begitu, mari kita lihat dari sudut pandang lain.”
Wanita itu mengangkat tangannya. Dengan satu gerakan, tunas kecil muncul dari tanah di tempat yang ditunjuknya. Tunas itu perlahan tumbuh menjadi pohon yang rimbun, lalu mulai berbunga. Setelah bunganya gugur, buah-buah merah pun bermunculan.
Wanita itu memetik salah satunya dan meletakkannya di tangan Violet.
Sebuah apel.
Aroma segar dan manis langsung tercium.
“Cobalah.”
Tanpa ragu, Violet menggigit apel itu. Giginya menembus kulit tipisnya, lalu rasa manis daging buah memenuhi mulutnya.
“Apakah pohon itu tidak tahu bahwa sebagian dari dirinya akan dipetik dan dimakan?”
Violet tersadar. Ia menatap apel yang masih berada di tangannya.
Kalau dipikir-pikir, buah ini juga merupakan bagian dari pohon. Apel merah itu bahkan terasa seperti darah yang mengalir dari pohon tersebut.
“Kalau tanaman bisa merasakan dingin, apakah mereka tidak bisa merasakan sakit?”
Saat Violet menatap wanita itu, perlahan ia menyadari betapa kejamnya kenyataan yang harus dihadapi.
Wanita tersebut kemudian berkata, “Tentu saja mereka tahu. Pohon itu tahu bahwa suatu hari ia akan berbuah, dan buahnya akan dimakan oleh makhluk hidup. Namun, ada satu hal yang diinginkannya: menghasilkan buah agar keturunannya dapat terus berkembang dan bertahan.”
Sulit dipahami. Namun, Violet merasa mulai mengerti maksudnya.
“Jadi, sama seperti pohon apel itu yang menghasilkan buah demi melanjutkan keturunannya, bunga-bunga itu juga membuat pilihan mereka sendiri?”
Wanita itu mengangguk.
Violet masih menggenggam apel merah di tangannya.
Kalau pohon itu memang terlahir untuk dimakan, bukankah itu menyedihkan?
Namun, pohon itu tahu apa yang akan terjadi dan tetap menerimanya. Begitu pula manusia, yang tahu bahwa hidup tak selamanya mudah, tetapi tetap memilih untuk menjalaninya.
Setiap makhluk membuat pilihannya sendiri dan bersedia menerima konsekuensinya.
Dunia ini terbentuk karena seluruh ciptaan Tuhan memilih jalan mereka masing-masing dan bersedia menanggung rasa sakit yang menyertainya.
“Jadi, jangan terlalu bersedih, anakku. Kau tidak melakukan kesalahan.”
Mendengar suara lembut itu, mata Violet kembali berkaca-kaca.
“Kau akan baik-baik saja. Kau pasti bisa.”
Suara wanita itu perlahan terdengar semakin jauh.
Ketika Violet kembali menoleh ke sekeliling, wanita itu sudah menghilang.
Yang tersisa hanyalah pohon apel, bunga-bunga liar, dan apel yang masih berada di tangannya.
......................
Violet terbangun dari tidurnya. Entah mengapa, aroma apel yang segar seakan masih tercium di ujung hidungnya.
Dengan tatapan kosong, ia berkedip beberapa kali, lalu teringat pada wanita yang ditemuinya dalam mimpi. Wanita itu telah mengajarinya cara menggunakan kekuatan suci.
Mimpi itu sungguh aneh.
Sambil memikirkan hal tersebut, Violet mengulurkan tangan seperti yang diajarkan wanita itu dalam mimpinya.
Tiba-tiba, cahaya putih memancar dari telapak tangannya. Violet nyaris berteriak karena terkejut.
Apa? Jadi memang begini caranya?
Jantungnya berdegup kencang.
Biasanya Violet masih tertidur sampai Meirra datang membangunkannya, tetapi hari ini ia hanya berbaring sambil menggerakkan matanya ke sana kemari.
Untuk berjaga-jaga, sebaiknya aku merahasiakan ini dari Meirra.
Violet terus memandangi telapak tangannya hingga Meirra datang membawa air.
Begitu melihat Violet sudah bangun sepagi itu, Meirra tertawa karena hal tersebut jarang terjadi.
Setelah sarapan, Violet bersama Meirra keluar dari kediaman utama dan berjalan-jalan di taman. Sambil berjalan, Violet mendengarkan cerita Meirra tentang bagaimana dirinya tumbuh di kampung halaman. Ia pun tersenyum.
“Kalau pulang ke kampung halaman, apa rasanya menyenangkan?”
Meirra pun menjawab pertanyaan Violet.
“Tentu saja. Sangat menyenangkan. Di kampung halaman, masih ada jejak bahwa aku pernah hidup di sana. Ada juga kenangan-kenangan dari masa lalu.”
“Begitu, ya.”
Tempat Violet dibesarkan adalah sebuah desa kecil.
Sebenarnya, ia sudah tidak ingat seperti apa desa itu, apa namanya, ataupun di mana letaknya. Yang ia ingat hanyalah desa itu berada di tempat terpencil, dan untuk mencapai kota besar dibutuhkan waktu sehari penuh dengan berjalan kaki. Di belakang desa juga ada sebuah hutan yang dilarang didatangi anak-anak karena berbahaya.
Tentu saja, anak-anak sering melanggar larangan itu. Violet pun tidak terkecuali.
Ketika hidup dalam sebuah komunitas kecil seperti desa, tidak banyak anak yang mengingat nama tempat tinggal mereka. Nama desa itu mungkin hanya penting bagi para pendatang yang datang berkunjung.
Namun, sekarang desa itu sudah tidak ada.
Desa tempat Violet dibesarkan telah diserang para bandit dan hanya menyisakan reruntuhan.
Apakah ia masih memiliki kampung halaman? Apakah masih ada tempat untuknya kembali?
Wajah ayah dan ibunya yang semakin samar terlintas dalam ingatannya. Begitu pula wajah Rose dan Lily.
Kini, tidak ada lagi jejak bahwa Violet pernah hidup di sana. Tidak ada seorang pun yang mengingatnya. Bahkan kenangan tentang dirinya pun perlahan terhapus.
Senyum di wajah Violet perlahan menghilang.
Meirra yang tadi bercerita dengan gembira tiba-tiba terkejut melihat perubahan ekspresinya. Ia tampaknya menyadari bahwa perkataannya telah menyakiti perasaan Violet.
“Nona...?”
Meirra biasanya selalu peka terhadap perasaan orang lain. Namun, karena begitu bahagia bisa kembali ke kampung halamannya, kali ini ia tidak menyadari perubahan suasana hati Violet.
Melihat wajah Meirra yang tampak bersalah, justru Violet merasa tidak enak. Tidak memiliki kampung halaman adalah urusan Violet sendiri, sedangkan kegembiraan Meirra karena bisa kembali ke tempat asalnya adalah hal yang berbeda. Meirra tidak perlu merasa bersalah.
Violet pun tersenyum lebar.
“Nanti, maukah kau mengajakku melihat-lihat kampung halamanmu?”
Meirra langsung tersenyum cerah dan mengangguk.
“Tentu saja.” Ia kemudian menunjuk ke sekeliling. “Kalau begitu, Nona mau mulai dari sini?”
“Hah?”
“Nona belum tahu, ya? Sebenarnya, aku lahir dan besar di sini. Jadi, tempat ini juga bisa dibilang kampung halamanku.”
Meirra adalah putri kepala pelayan keluarga utama. Ia lahir dan tumbuh di tempat ini.
Kampung halaman Meirra ternyata adalah tempat ini—kastel milik Marquis.
Ketika masih kecil, saat ayahnya bekerja dan ibunya sibuk mengurus rumah, Violet sering diam-diam keluar dan memanjat pohon di dalam hutan. Ia biasanya akan dimarahi setelah ketahuan ibunya.
Namun, setiap kali cuaca cerah, ia selalu ingin melihat kastel besar yang tampak indah dari kejauhan. Ia tidak pernah menyangka suatu hari nanti dirinya justru akan tinggal di dalam kastel tersebut.
Di luar kastel terasa dingin, tetapi Violet menyukai udara musim dingin. Selama ini, ia hanya melewati musim dingin dengan pakaian yang sedikit lebih tebal.
Kini, dengan pakaian hangat dan mantel yang dikenakannya, ia merasa musim dingin ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan.
Meirra tampaknya mulai kedinginan, tetapi karena merasa bersalah atas perkataannya tadi, ia hanya mengikuti Violet tanpa mengeluh.
“Itu pohon yang disukai ibuku.”
Meirra menunjuk sebuah pohon besar.
“Pohon itu biasanya berbunga setiap lima tahun sekali. Tapi sekarang sudah tidak pernah berbunga lagi.”
“Benarkah?”
Violet mendongak menatap pohon itu.
“Sebelum meninggal, Ibuku sangat ingin melihat pohon itu berbunga sekali lagi.”
Meirra mengatakannya dengan tenang.
Violet baru mengetahui bahwa Meirra sudah tidak memiliki ibu. Saat Violet menatapnya, Meirra justru tersenyum lembut.
Entah mengapa, Violet merasakan sesuatu yang aneh.
Selama ini ia mengira hanya dirinya yang paling menderita. Namun, kalau dipikir-pikir, Meirra, Cedric, Ledian, bahkan Carlisle juga tidak memiliki ibu. Mereka pasti tahu seperti apa rasanya kehilangan seorang ibu.
Menyadari hal itu, wajah Violet kembali murung. Meirra yang melihatnya segera menarik tangannya.
“Ayo, ada kuda di sana.”
Kandang kuda berada di belakang kastel. Begitu mencium bau khas kandang, Meirra mengernyit, tetapi Violet justru tersenyum lebar.
“Meirra, kau datang.”
“Kakek!”
Meirra menghampiri seorang lelaki tua dengan wajah gembira. Lelaki itu mengenakan pakaian sederhana dan menyambutnya dengan hangat.
“Yang di sebelahmu... jangan-jangan!”
Rambut perak Violet tidak terlihat karena tertutup topi bulu yang hangat. Ketika lelaki tua itu hendak berlutut, Violet segera menghentikannya.
“Saintess telah datang. Aku tidak percaya kau membawanya ke tempat seperti ini.”
“Ini perintah Tuan.”
“Oh, begitu. Bagaimana kabar Tuan? Sehat?”
“Tentu saja.”
Di belakang lelaki tua itu, beberapa ekor kuda terlihat di dalam kandang. Meirra dan lelaki tua itu tampak asyik berbincang, sementara Violet yang penasaran dengan kuda-kuda tersebut berjalan mendekat.
“Dilan, temani Saintess!”
Tentu saja, meski Violet tidak lagi berada di sisi Meirra, para pelayan tetap tidak akan mengabaikannya.
Violet menatap seorang anak laki-laki yang berjalan mendekat dan seketika terdiam.
Wajah anak itu terasa begitu familiar.
Namun, anak laki-laki itu bahkan tidak berani menatap wajah Violet. Ia berlutut sambil menundukkan kepala dalam-dalam.
Jantung Violet berdegup kencang.
Tiba-tiba, ia teringat desa tempatnya tinggal bersama kedua orang tuanya. Ia juga teringat seorang anak laki-laki yang dulu selalu menggodanya dengan jahil.
“Mau melihat kuda?”
"Tentu."
“Kalau begitu... silakan ikut saya.”
Anak laki-laki itu tampak sangat gugup. Ia sempat mengangkat pandangannya ke arah Violet, tetapi begitu tatapan mereka bertemu, ia buru-buru menundukkan kepala.
“M-mungkin akan tercium bau kotoran kuda. Tapi... jangan marah kepada saya, Saintess.”
Violet sama sekali tidak ragu mendekati seekor kuda cokelat.
“Ah, Anda bisa terluka!”
Namun, Violet tidak takut pada kuda. Justru sekarang, ia merasa semakin berani.
Ketika mengulurkan tangan dan menyentuhnya, kuda cokelat itu menatapnya dengan mata yang jinak.
Bau kotoran kuda.
Ya, bau ini terasa begitu familiar baginya.
Mungkin tempat inilah yang bisa disebut kampung halamanku.
Dan mungkin, anak laki-laki itu juga masih mengingatnya.
Entah kenapa, memikirkan hal itu membuat Violet ingin berbicara dengannya. Dulu, anak laki-laki itu selalu mengganggunya hingga ia sering menghindarinya. Namun, kali ini Violet merasa cukup berani untuk menghadapinya.
“Dilan, kau tidak ingat padaku?”
......................
“Sekarang kita kembali, Nona.”
Violet mengangguk dengan senyum cerah. Melihat Nona-nya tampak begitu gembira, Meirra pun ikut merasa senang.
“Apakah menyenangkan melihat kuda seperti itu?”
“Iya, itu sangat menyenangkan!”
Senyum yang dulu muncul saat menerima boneka beruang kembali menghiasi wajahnya. Bahkan di tengah musim dingin, senyum itu terasa begitu hangat.
Mungkin karena ia seorang Saintess. Senyum seorang gadis kecil dari kalangan rakyat jelata pun terasa begitu indah hingga mampu meluluhkan hati siapa pun, bahkan hati orang yang paling keras sekalipun.
Namun, tiba-tiba Meirra mencium aroma yang aneh.
Aroma itu seharusnya tidak mungkin tercium di musim dingin. Wangi yang segar dan hijau—aroma rerumputan.
“Ah, Nona?”
“Hmm?”
“Kenapa ada bau rumput?”
“Benarkah?”
Violet menoleh ke sekeliling. Di sebuah petak kecil di dekat jalan yang mereka lewati, rerumputan tumbuh dengan lebat.
“Sepertinya aku yang melakukannya. Aku sedang merasa bahagia sekarang.”
“Ya ampun. Bukankah Nona sebelumnya sedih karena tanaman akan sulit tumbuh di musim dingin?”
“Tidak lagi. Mereka sengaja mekar untuk menemuiku, bahkan rela menahan dingin. Jadi aku tidak perlu merasa bersalah.”
“Siapa yang mengatakan itu?”
“Seseorang yang kutemui dalam mimpi.”
Violet tersenyum samar, seolah masih memikirkan sesuatu.
Meirra merasa aneh. Violet sama sekali tidak terlihat seperti baru bertemu seseorang. Mungkin mimpi yang dialami seorang Saintess memang sedikit berbeda.
Yang terpenting, gadis di hadapannya kini tampak begitu bahagia. Meirra tidak ingin merusak kebahagiaan itu.
“Sekarang Nona sudah cukup mahir menggunakan kekuatan suci. Apa Nona sudah tahu cara menggunakannya?”
"Iya. Sepertinya sekarang aku mulai sedikit mengerti. Walaupun hanya sedikit. Tapi... jangan bilang kepada Marquis.”
Meirra tersenyum.
Ia tahu Violet selama ini berusaha keras membaca buku-buku yang bahkan sulit dipahaminya karena tidak tahu bagaimana cara menggunakan kekuatan suci.
Meirra sering lupa bahwa Violet adalah seorang Saintess.
Di matanya, Violet hanya tampak seperti bunga kecil yang baru saja bertunas—rapuh dan begitu mudah terluka.
......................
Saat pertama kali Violet menyebut namanya, anak laki-laki itu belum sepenuhnya yakin bahwa dirinya adalah Dilan yang ia maksud. Namun, setelah melihat wajahnya dengan jelas, Violet tahu bahwa dialah Dilan yang dulu tinggal di desanya.
Dulu, banyak orang di desa memandang rendah keluarganya hanya karena mereka berasal dari kalangan rakyat biasa. Keluarga Dilan bahkan paling sering memperlakukannya dengan buruk.
“Apakah Anda mengenal saya?”
Tak mampu menahan rasa penasaran, anak laki-laki itu memberanikan diri mengangkat wajah untuk melihat Saintess di hadapannya. Sosoknya begitu agung hingga rasanya ia bahkan tidak pantas menatapnya.
Saintess itu kemudian melepas topi bulunya.
Rambut panjang berwarna perak terurai, menampakkan wajahnya yang putih bersih. Sepasang mata biru jernih seperti langit menatapnya.
Namun, di balik mata berwarna biru itu, masih tersisa sedikit warna ungu.
Wajah yang terasa begitu familiar.
Putri tukang jagal di desa mereka.
“Violet...?”
Gadis itu tersenyum.
Yang terpancar di wajah sang Saintess adalah kebahagiaan.
Bagi seorang gadis yang baru berusia sebelas tahun, perubahan statusnya terasa nyata bukan karena sikap orang-orang yang kini berada di atasnya, melainkan karena perubahan sikap mereka yang dulu sederajat dengannya.
Sebenarnya, asal-usul Violet tidak berubah. Namun, kedudukannya sekarang bahkan bisa disetarakan dengan Raja dan Paus. Karena itu, wajar jika semua ini masih terasa tidak nyata baginya.
"Jadi... Itu benar-benar dirimu, Violet? Kau adalah seorang Saintess?"
“Benar.”
“Tidak mungkin... Ini benar-benar tidak masuk akal!”
Dilan benar-benar terkejut sampai sulit mempercayainya. Saintess itu ternyata gadis rendahan dari keluarga tukang jagal yang ia kenal!
“Tapi kau kan dari kalangan rendah. Bagaimana mungkin kau bisa menjadi Saintess?”
Violet tidak menyangka Dilan akan mengatakan hal seperti itu.
Melihat ekspresi Violet yang berubah muram, Dilan buru-buru mencoba menjelaskan.
“Bukan, bukan begitu maksudku. Violet, dengarkan aku. Kau juga tahu, kan? Tidak pernah ada Saintess yang berasal dari kalangan rendah.”
Violet merasa aneh melihat Dilan yang dulu selalu mengganggu dan meremehkannya kini begitu gugup di hadapannya.
Ia sebenarnya ingin marah. Namun, apa yang dikatakan Dilan memang tidak sepenuhnya salah. Lagi pula, Violet tidak ingin kehilangan dirinya hanya karena hal itu.
Dilan adalah satu-satunya orang dari kampung halamannya yang berhasil ia temui kembali.
Bagaimanapun juga, setiap kali melihat Dilan, Violet merasa bahagia. Karena itu, ia sering datang menemuinya dengan alasan ingin melihat kuda.
Setiap kali Violet datang, kakek yang menjaga kandang akan memanggil Dilan. Lelaki tua itu tampaknya orang yang baik. Ia sepertinya mengira Violet hanya senang karena bisa bertemu teman sebaya dari kampung halamannya.
“Setiap kali melihatmu, aku masih sering terkejut. Wajar kalau awalnya aku tidak mengenalimu. Dari kejauhan, kau benar-benar terlihat seperti seorang bangsawan.”
“Benarkah?”
Syukurlah.
Jadi, begitulah Violet terlihat di mata orang lain.
Itu berarti ia sudah bersikap dengan baik seperti yang diajarkan kepadanya. Entah mengapa, Violet merasa bangga.
Selama ini, hanya segelintir orang yang benar-benar memperlakukannya dengan baik. Karena itu, setiap kali Dilan memandangnya dengan penuh hormat, perasaannya tanpa sadar menjadi lebih baik.
Terlebih lagi, Dilan adalah orang yang dulu sering memperlakukannya dengan buruk. Karena itulah, perubahan sikapnya terasa semakin menyenangkan bagi Violet.
“Kakek juga senang kalau kau datang. Kuda-kuda di sini bahkan sepertinya menunggumu.”
“Benarkah?”
Violet memeluk leher seekor kuda betina cokelat dengan tanda berbentuk berlian di dahinya. Kuda-kuda itu meringkik, seolah menyambut kehadirannya dengan gembira.
Untuk saat ini, Violet baru bisa memahami suara hewan-hewan kecil seperti burung. Namun, ia berharap suatu hari nanti bisa memahami suara kuda-kuda ini juga.
Violet memberikan roti yang dibawanya kepada Dilan. Dilan menerimanya dengan senang hati dan mulai memakannya. Sambil makan, ia bercerita tentang kuda mana yang paling sulit dijinakkan.
Awalnya Dilan masih bersikap canggung kepadanya. Namun, melihat Violet yang begitu santai, ia perlahan merasa nyaman.
Meski baru beberapa kali bertemu, keduanya justru menjadi lebih dekat dibandingkan saat masih tinggal di desa. Mereka sering memberi makan kuda bersama atau berbincang tentang kuda.
Hari itu, untuk pertama kalinya mereka mulai membicarakan kehidupan pribadi masing-masing.
“Bagaimana dengan orang tuamu?”
“Mereka sudah meninggal.”
Violet menjawab dengan wajah sedih.
Mengingatnya saja sudah cukup membuatnya takut. Jika Dilan bertanya seberapa kejam para bandit itu dan bagaimana mereka memperlakukannya, mungkin Violet akan langsung menangis.
Ia sebenarnya ingin menanyakan hal yang sama kepada Dilan, tetapi pertanyaan itu terasa menyakitkan untuk dilontarkan.
Namun, jawaban Dilan ternyata berbeda dari yang ia bayangkan.
“Ayahku meninggal, tapi Ibu dan Nenek selamat.”
“Benarkah?”
Syukurlah.
Setidaknya mereka masih hidup.
Memang, mereka bukan orang-orang yang pernah bersikap baik kepada Violet. Namun, mendengar bahwa beberapa orang dari desanya berhasil selamat tetap membuatnya bahagia.
Sebaliknya, wajah Dilan justru tampak muram.
“Ibu bekerja di luar desa, sementara Nenek jatuh sakit. Sebenarnya, mereka hampir setiap hari bertengkar.”
Begitu, ya.
Violet memikirkannya sejenak. Nenek Dilan berasal dari pihak ayahnya, jadi ia tidak memiliki hubungan darah dengan ibu Dilan. Dengan sifat Neneknya yang terkenal keras dan ibunya yang juga cukup galak, rasanya memang sulit bagi mereka untuk akur.
“Aku satu-satunya yang bisa menghasilkan uang dengan layak. Jadi, aku bersyukur bisa bekerja di kastel milik Marquis.”
“.....”
“Tapi kau beruntung. Setelah dipilih Tuhan, kau tidak perlu lagi memikirkan apakah besok bisa makan atau tidak.”
Violet ingin menyangkalnya.
Violet ingin mengatakan bahwa hidupnya juga tidak mudah, dan hingga kini pun ia masih merasa kesulitan untuk menjalaninya. Ia ingin menceritakan bahwa orang-orang yang belum lama ini datang untuk merayakan ulang tahunnya justru membicarakan dan menertawakannya di belakang.
Ia juga ingin mengatakan bahwa hanya sedikit orang di sekitarnya yang benar-benar bersikap baik kepadanya.
Namun, Violet tidak mampu mengatakan semua itu kepada Dilan.
Dulu, ia juga hidup miskin dan terbiasa menerima penghinaan serta perlakuan merendahkan dari orang-orang di sekitarnya. Hanya saja, sekarang ia tidak perlu lagi mengkhawatirkan hal-hal seperti itu.
Karena itu, Violet memilih diam. Dibandingkan Dilan, hidupnya sekarang jauh lebih baik. Jika ia masih mengeluhkan nasibnya, Dilan pasti akan marah.