Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Rendra menatap Ardi dengan tatapan dingin, tatapan yang sama dia dapatkan saat dia ingin melamar Rania tapi harus melalui kedua sahabat Rania itu karena mereka lah yang berada dibalik layar hubungan mereka.
"Aku". Ardi merasakan tubuhnya bergetar.
Rendra sekarang bukanlah lelaki gemuk yang dia temui seperti beberapa tahun dimasa kuliah mereka, kini dia bertransformasi menjadi lelaki tampan, tegap dan berbadan atletis bahkan dirinya seperti bukan tandingannya.
Dulu dia pernah mengejeknya pada Rania karena tubuhnya itu tapi kini bahkan dirinya tidak ada apa-apa nya. Dia pengusaha sukses dan juga tampan dan berwibawa sedangkan dirinya hanya karyawan di perusahaan besar
"Apa?, kamu baru sadar lelaki gembrot yang pernah kamu ejek tubuhnya pada Rania bahkan lebih tampan, dan lebih hebat darimu". Ucapnya dengan sinis.
Amarahnya berkobar, dia jelas ingat bagaimana semua ornag menghina fisiknya padahal dirinya sudah berusaha untuk menurunkan berat badannya bahkan dia harus diet ekstrem utnuk secepatnya menurunkan badannya
"Rend". Tania mengelus tangan sahabatnya itu.
Dia jelas ingat bagaimana Rendra mati-matian diet untuk mengubah tubuhnya karena lelah menjadi bahan ejekan orang sekampus mereka karena tubuhnya yang gembrot padahal dia adalah sahabat kedua ratu kampus.
"Dengar Ardi, aku sudah memperingatkan kamu sejak awal saat kamu akan menikah dengan Rania, jangan pernah menyakiti hatinya apalagi melukai fisiknya dan sekarang dihadapanku sendiri kamu memperlakukan dirinya kasar seperti ini, kamu benar-benar punya nyali".
Rendra maju mendekati Ardi dengan tatapan tajam setajam elang siap memangsanya, amarahnya muncul saat mengingat tatapan Ardi yang dulu begitu meremehkan dan menghina tubuhnya apalagi saat Ardi meminta izin menikahi Rania saat itu
"Kamu terlalu meremehkan aku karena kamu pikir aku hanya bercanda soal ancaman ku padamu bertahun-tahun lalu? , kini akan kubuat kamu membuktikan sendiri bagaimana konsekuensi dari janjimu yang kamu langgar dan membuat sahabatku menderita".
Dia hendak melayangkan kembali tangannya tapi tangan itu ditangkap oleh Rania yang menggelengkan kepalanya seakan melarangnya.
"Sudahlah Rend, biarkan saja dia, kamu hanya membuang waktumu untuk menghadapi orang seperti nya, kita sudah jadi bahan tontonan semua ornag yang ada disini, lebih baik kita pergi saja, percuma kamu memukulnya lagi, otaknya sudah bergeser karena keserakahan.".
Rania hanya mengeluarkan kalimat sarkas dan segera menarik Rendra untuk pergi dari sana karena dia malu menjadi bahan tontonan seluruh pengunjung sampai dia melupakan jika masih memiliki sahabat lainnya yang siap menerkam Ardi dengan lebih parah.
Rendra mendengus kasar tapi tetap mengikuti langkah Rania menjauh dari Ardi
"Kamu beruntung karena Rania tidak membiarkan aku, jika tidak akan kubuat kamu tidak bisa jalan sekarang juga". Ucapnya ikut melangkah bersama Rania menjauhi Ardi
Sedangkan Tania yang sejak tadi diam dengan menahan rasa marah yang tengah memuncak kini berjalan mendekati Ardi dengan tatapan tajamnya. Dia tidak mengikuti langkah Rania dan Rendra menjauhi Ardi karena dia harus memberi pelajaran kepada lelaki yang sudah menghancurkan hati sahabatnya dan memberikan Rendra kesempatan untuk menghajar laki-laki ini sebelum bagiannya
Plak..
Tamparan keras kini Ardi dapatkan darinya, wajahnya terlempar kesamping dan wajahnya memerah karena cap tangan Tania memenuhi pipinya.
"Kau". Ucapnya dengan suara menahan amarah.
"Aku menyesal mengenalkan sahabatku pada lelaki tidak tahu diri seperti mu, aku kira kamu lelaki baik tapi ternyata kau hanya laki-laki parasit yang tidak tahu malu ditambah lagi keluarga yang suka menumpang, pergi dari hidupnya jika tidak mau kubuat hancur hidupmu Ardi, aku akan pastikan kamu membalas setiap tangisannya".
Mendengar suara tamparan membuat langkah Rendra dan juga Rania langsung terhenti, mereka berdua berbalik melihat kejadian itu.
Mereka membeku, wajah sahabat mereka yang begitu murka membuat mereka saling memandang dengan tatapan seakan mengatakan kita melupakannya.
Rania menghela nafas kemudian berdiri tegak kemudian melipat kedua tangannya menyaksikannya saja dia tahu jika dia kesana maka akan membuat Tania semakin merasa bersalah kepadanya.
"Biarkan saja dia Rania, dia harus membalas Ardi, kamu tahu betapa besar harapan Tania kepada lelaki itu untuk menjagamu tapi kamu malah diperlakukan seperti itu, dia pasti sangat kecewa".
Rania hanya diam saja, yang dikatakan Rendra benar adanya, dia melihat Tania begitu murka dan marah pada Ardi dia sungguh terharu para sahabatnya begitu menyayanginya.
"Tania". Ucap Ardi memegang pipinya yang berdenyut hebat akibat tamparan keras itu.
"Apa? , mau mengelak apalagi kamu lelaki sialan, jika aku tidak memaksa Rania untuk menceritakan semua yang dia alami selama menjadi istrimu dia tidak akan pernah mengaku, kamu sudah melanggar janjimu padaku beberapa tahun lalu jadi pergilah dan menjauh dari kehidupan nya, jangan jadi manusia tidak punya pendirian Ardi!!, kamu sendiri yang berjanji padaku jika kamu menyakitinya kamu akan pergi tanpa membawa apapun dan tidak akan muncul lagi dihadapannya". Teriaknya dengan murka.
Dia bahkan menunduk wajah Ardi dengan kasar dan murka, bayangan sahabatnya menderita membuatnya muak setengah mati pada lelaki dihadapannya ini.
"Jangan ikut campur Tania, ini urusanku sama istriku, kamu hanya sahabatnya". Bentaknya dengan kesal.
Dia langsung memasang wajah tidak bersalahnya dan wajah congkaknya karena berusaha mempertahankan harga dirinya yang sudah diinjak-injak oleh kedua sahabat Rania sejak tadi.
Dia tidak peduli janjinya pada mereka, baginya Rania sudah jadi istrinya dan menjadi miliknya, kedua sahabatnya itu bukan siapa-siapa, dia tidak punya urusan dengan mereka lagi
Tania tertawa sumbang mendengar perkataan Ardi yang sungguh tidak tahu malu dan tukang ingkar janji
"Baiklah, aku akan buat kamu menyesal, ingat pekerjaan mu itu, aku bisa mengeluarkan kamu dari sana sekarang juga karena suamiku yang punya perusahaan tempatmu bekerja".
Mata Ardi nyaris melompat dari tempatnya mendengar ucapan sahabat istrinya itu, dia tahu kalau keluarga suami Tania memang seorang pemilik perusahaan dan penguasa muda yang kaya, tapi dia tidak pernah melihatnya karena saat pernikahan Tania itu, hanya Rania saja yang pergi kesana sedangkan dirinya sedang dirumah sang ibu.
"Kamu istri Pak Galang? ". Cicitnya pelan.
Wajahnya langsung memucat ketakutan, dia tidak mau kehilangan pekerjaannya apalagi sekarang Rania tidak mau lagi kembali padanya, bagaimana dia akan berhadapan dengan ibunya dan semua kepingannya yang begitu mencekiknya.
"Iya, jadi pastikan kamu tidak banyak bertingkah jika kamu masih mau bekerja diperusahaan suamiku, aku muak melihat manusia bermuka dua seperti mu".
Tania mendorong keras Ardi hingga dia tersungkur dan menatapnya dengan tatapan penuh peringatan.
"Ingat Ardi, Rania tidak sendirian, jangan buat kesabaran kami habis, jadi pastikan kamu tahu diri dengan pergi dari hidup Rania selamanya, kalau tidak akan kubuat kamu menyesal".