Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMORI BURUK SAAT SARAPAN
"Sarapan sudah selesai," ucap Akira tenang sembari meletakkan dua mangkuk hangat di atas meja makan.
"Wah..." Yukari menepuk kedua tangannya pelan dengan mata berbinar antusias. Gadis itu dengan sabar menunggu sampai Akira ikut menarik kursi dan duduk di hadapannya.
"Itadakimasu!" serunya riang.
kedua matanya membulat sembari sibuk mengunyah. "Enak sekali! Masakanmu benar-benar selalu berhasil membuatku ketagihan, Akira-san."
Akira hanya mengangguk pelan. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis, merasa dihargai melihat ekspresi puas yang tampak tanpa dibuat-buat di wajah Yukari.
"Sayang sekali Daiki tidak sempat mencicipinya pagi ini," ujar Yukari di sela-sela makannya.
Akira mengangkat wajahnya dari mangkuk. "Aku sudah menyisihkan satu porsi penuh untuknya sebelum dia pulang subuh tadi," jawabnya tenang.
Yukari langsung menghentikan gerakan sendoknya. "Benarkah?" Terdengar binar kehangatan dalam nadanya saat melanjutkan, "Terima kasih, Akira-san. Daiki memang selalu butuh asupan karbohidrat yang banyak sebelum mulai memeras keringat di ladang."
Akira kembali mengangguk, dan keduanya melanjutkan makan dalam keheningan yang nyaman.
Namun, belum sampai beberapa menit berlalu, Akira tanpa sengaja melirik ke arah mangkuk Yukari. Sudah kosong melompat. Ia sedikit mengernyitkan dahi. "...Kau ..sudah selesai?"
Yukari terkekeh malu sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Tadi malam aku langsung ketiduran tanpa makan malam. Makanya sekarang rasanya lapar sekali."
Tanpa sepatah kata pun, Akira spontan bangkit berdiri. Dia berjalan ke arah kompor dan mengambil wajan yang masih menyisakan sisa nasi goreng terakhir, lalu memindahkannya dengan hati-hati ke mangkuk Yukari. "Wahh masih ada??? "
Yukari menerima tambahan porsi itu dengan kedua tangan terbuka. "Terima kasih banyak!" ucapnya ceria. Tanpa sedikit pun berniat menjaga kesan jaim, dia kembali makan dengan lahap.
Namun, tiba tiba gerakan tangan Akira mendadak terhenti.
Deg.
Focus Akira perlahan mengabur, ditarik paksa oleh memori masa lalu yang mendadak berputar di kepalanya.
Di Meja makan panjang Kayu, di bawah pendar lampu gantung. hidangan sarapan yang disiapkan Akira sejak subuh buta masih mengepulkan uap hangat.
Ada seorang wanita yang duduk di hadapannya hanya mengaduk-aduk nasi di piringnya dengan malas,
SuaraTrinkkk!! - sendok besi itu diletakkan begitu saja dengan denting yang dingin.
"Aku sudah memasukkan bekal makan siang ke dalam tasmu, Sayang," ucap Akira dalam ingatan itu, mencoba tersenyum penuh harap.
Wanita itu tiba-tiba mendesah kesal, melipat kedua tangan di dada. "Sudah kubilang, tidak usah repot-repot membuatkan sarapan atau bekal lagi."
"Kenapa?" tanya Akira lirih. "Setidaknya makanlah sedikit..."
wanita itu berdiri dari kursi, meraih tas bermerek miliknya dengan tatapan mata yang teramat dingin. "Kalau aku makan masakan rumah terus, nanti aku tidak bisa ikut sarapan bersama teman-temanku di kafe. Aku tidak mau kelihatan aneh di tempat kerja cuma karena membawa kotak bekal dari rumah setiap hari."
Akira hanya mampu terdiam membisu di tempatnya. Belum sempat dia mengeluarkan satu patah kata pun untuk membela diri, suara brak! yang keras mengudara. Pintu rumah depan tertutup dengan hantaman kuat, menggema memenuhi seisi rumah mewah yang seketika kembali sunyi senyap.
Akira tersentak.
Sadar dari kilas balik tersebut, cengkeraman tangannya pada gagang wajan di atas wastafel mendadak menegang kuat. Tatapannya kosong mengarah lurus pada permukaan ubin dapur. Napasnya mendadak terasa berat dan memburu, sementara dada kirinya kembali dihantam oleh rasa sesak yang teramat dia kenali.
Di belakangnya, Yukari Sudah memanggilnya berulang kali menyadari perubahan drastis dari gelagat pria itu.
"Akira-san?" panggil Yukari hati-hati.
Suara lembut itu laksana tali penolong yang menarik Akira kembali ke realitas. Bahunya sedikit tersentak kecil. "Ah..." Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mengusir bayangan kelam di kepalanya. "...Iya."
Suara berat Akira terdengar jauh lebih pelan dan parau dari biasanya. "Maaf."
"Aku memanggil mu dari tadi... "
Akira segera meletakkan wajan ke dalam wastafel, lalu memutar keran. Air dingin mengalir pelan, membasahi tangannya. Pria itu bertumpu pada kedua telapak tangan di pinggiran wastafel sambil menundukkan kepala dalam-dalam.
Kenapa... kenapa memori sialan itu harus muncul lagi di saat seperti ini?
Yukari bangkit berdiri dari kursinya perlahan. Dia tidak langsung berjalan mendekat untuk mengusik privasi pria itu, melainkan hanya berdiri berjarak beberapa langkah di belakang punggung Akira.
"Akira-san..." panggil Yukari sekali lagi. Nada suaranya tetap terjaga lembut. Tidak ada desakan untuk menuntut penjelasan, pun tidak ada nada penasaran yang mengganggu. Hanya ada rasa khawatir yang tulus di sana.
Akira menarik napas panjang, mencoba mengendalikan gemuruh di dadanya. Dia mematikan aliran keran air, lalu membalikkan tubuhnya.
Melihat Yukari yang berdiri diam sembari menatapnya dengan raut wajah penuh kecemasan, dada Akira kembali berdenyut aneh. Namun kali ini, sensasi itu bukan berasal dari luka lama di masa lalunya, melainkan karena dia sama sekali tidak ingin membuat gadis di depannya ini ikut merasa terbebani.
Akira memaksakan seulas senyum tipis di wajah datarnya. "Aku baik-baik saja," ujarnya pelan, suaranya kembali stabil. "...Hanya sedikit melamun tadi."
Yukari mengunci sepasang mata Akira selama beberapa detik. Dia tahu pria itu sedang berbohong. Sorot mata Akira terlalu redup dan terluka untuk sekadar disebut melamun biasa. Tapi Yukari memilih untuk tidak mendesaknya lebih jauh.
"Kalau begitu... cepat habiskan nasimu, Akira-san. Jangan sampai sarapanmu dingin. Kalau tidak habis, nanti aku rebut lagi, lho."
Yukari sengaja melemparkan candaan ringan untuk mengalihkan suasana, memberikan Akira ruang yang cukup untuk bernapas tanpa perlu menguliti luka lamanya.
"Aku ganti baju dulu! Udara di luar sedang bagus sekali, sayang kalau kita lewatkan," seru Yukari ceria setelah membantu menaruh mangkuk kotor ke wastafel, lalu langkah kakinya menghilang ke arah kamar.
Akira mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu melirik sisa nasi goreng di mangkuknya sendiri. Di rumah kayu ini, tidak ada yang memandang masakannya sebagai sesuatu yang memalukan.
Pria itu kembali mengambil sendoknya. Pelan tapi pasti, dia menghabiskan makanannya hingga butir nasi terakhir tanpa tersisa, seolah sedang membersihkan sisa rasa pahit masa lalu dari hatinya.
**
Beberapa menit kemudian, suara nyaring Yukari sudah menggema dari halaman depan rumah. "Akira-saaan! Ayo keluar!"
Akira yang baru saja selesai mengeringkan tangannya di dapur menoleh ke arah pintu.
Pria itu mempercepat langkahnya keluar, mencoba membuang sisa-sisa sesak yang sempat mampir di dadanya.
Namun begitu dia sampai di halaman depan, langkahnya melambat. Yukari yang sedang berdiri memegang sapu lidi di dekat pohon ek langsung menoleh.
Gadis itu tidak langsung berseru riang menagih misi. Dia diam sejenak, menatap lekat ke arah sepasang mata Akira. Kepekaan Yukari menangkap sesuatu yang berbeda—meski Akira mencoba bersikap biasa saja, aura di sekitar pria itu masih terasa belum stabil, seolah ada mendung tipis yang belum sepenuhnya bergeser dari kepalanya.
Yukari menurunkan sapunya perlahan. Langkah kakinya bergerak mendekat, lalu jemari kecilnya terulur untuk menggenggam pelan lengan jaket Akira. Tindakan sederhana yang seakan ingin mengikat pria itu agar tidak kembali hanyut ke mana-mana.
"Akira-san..." panggil Yukari lembut, matanya yang bulat menatap lurus penuh ketulusan. "Kalau masih ada yang mengganjal... tidak apa-apa kalau kita menunda misinya sebentar. Aku bisa menunggumu siap."
Akira terpaku di tempatnya berdiri. Dia menundukkan pandangan sejenak, memperhatikan jemari Yukari yang bertengger di lengannya, lalu kembali menatap wajah gadis itu. Keheningan pagi Desa Oku-Nikko yang hanya ditemani desir angin mendadak terasa begitu menenangkan. Untuk pertama kalinya, rasa asing yang hangat mendesak dada Akira, meruntuhkan ego pertahanannya dan memicu dorongan kuat untuk mengutarakan apa yang selama ini dia pendam sendiri.
"Tadi di dapur..." ucap Akira pelan, suaranya terdengar agak serak. Dia menarik napas dalam sebelum melanjutkan, "...Aku hanya teringat pada seseorang dari masa laluku."
Yukari tidak memotong ataupun menyela. Dia tetap diam mendengarkan, memberikan isyarat tak tertulis bahwa Akira bebas untuk bercerita senyaman yang dia bisa.
"Dulu... apa pun yang kucoba lakukan dengan sungguh-sungguh, tidak pernah dianggap benar atau berarti bagi orang tersebut," lanjut Akira lirih, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kepahitan. "Jadi... saat melihatmu menghabiskan masakan buatanku tadi, bahkan sampai meminta tambah tanpa ragu... rasanya..."
Pandangan mata Akira terkunci lurus pada wajah Yukari. Kali ini, senyuman yang jauh lebih hangat dan ringan benar-benar terbit di sudut bibirnya. "..Melegakan..."
Yukari sempat tertegun mendengarnya. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa pria kaku di depannya ini akan sudi membuka satu sudut rahasia di hatinya secara sukarela.
Perlahan, senyum manis yang teramat tulus menghiasi wajah Yukari, sementara kedua pipinya mendadak berubah kemerahan. Dia melepaskan genggaman tangannya dari lengan Akira, lalu menepuk pundak pria itu dengan gerakan jenaka untuk mencairkan suasana yang sempat emosional.
" Akira-san!" sahut Yukari riang dengan mata menyipit jenaka. "Mulai sekarang, kalau ada suara-suara sumbang dari masa lalumu yang mencoba menarik mu kembali, abaikan saja semuanya!"
Yukari terkekeh renyah. "Soalnya, suara-suara masa lalu itu sudah pasti kalah telak sama suara keroncongan dari perutku."
Akira mengerjapkan matanya pelan, mencerna kalimat barusan. Sedetik kemudian, sebuah kekehan pendek yang terdengar tulus dan lepas akhirnya meluncur bebas dari sela bibirnya.
Melihat pemandangan langka itu, Yukari ikut tertawa puas. "Kau harus lebih sering tersenyum !" serunya penuh semangat.
Gadis itu dengan lincah kembali meraih sapu lidinya, lalu mengacungkannya ke udara layaknya sebilah pedang samurai. "Karena auramu sudah kembali cerah, maka misi baru kita membersihkan pekarangan depan, Akira-san?"
Yukari membalikkan badannya dengan langkah kaki yang ringan, bersiap menuju tengah halaman dengan sisa rona hangat yang masih belum sepenuhnya memudar di pipinya.
Akira berdiri diam selama beberapa saat, memandangi punggung gadis itu sebelum akhirnya dia ikut tersenyum sendiri—sebuah senyuman yang kali ini muncul dari lubuk hatinya yang paling dalam. Pria itu melangkah ke sudut teras untuk mengambil mesin pemotong rumput portable, lalu berjalan lebar menyusul langkah Yukari.
Di bawah siraman hangatnya sang surya pagi di Desa Oku-Nikko, Akira bisa merasakan bahwa bayang-bayang kelam dari masa lalunya perlahan-lahan mulai terkikis sirna, digantikan oleh lembaran kisah baru yang mulai dia ukir bersama seorang gadis bernama Honami Yukari.