"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Malam itu, kami tiba di rumah Rania tanpa hambatan sedikit pun. Aku menginap di sana, dan ibunya menyambutku dengan pelukan sehangat biasanya. Saking mulusnya garis waktu ini berjalan, kecemasanku justru menggelembung menjadi paranoia—seperti ketenangan absolut tepat sebelum badai besar meluluhlantakkan bumi.
Namun hari terus berganti, minggu demi minggu berlalu dalam kedamaian semu. Tak terasa, ujian sekolah telah usai. Hari terakhir kelulusan dirayakan sekelas di tempat karaoke. Semua orang bernyanyi, tertawa, dan meluapkan kebebasan dengan sepenuh hati. Topik obrolan bergeser seputar upacara perpisahan, SMA mana yang akan dituju, hingga desas-desus bahwa hari-hari ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk menyatakan cinta.
Dalam kurun waktu menuju perpisahan itu, kami bertiga—aku, Rania, dan Siti—mengunjungi berbagai tempat. Kami bersenang-senang tanpa memikirkan hari esok. Kebahagiaan murni yang kurasakan lambat laun berhasil menenggelamkan kegelisahan dan firasat burukku. Aku lengah. Aku benar-benar mengira kutukan itu telah patah.
Jumat, 14 Mei 2021.
Pukul 20.48
Malam sebelum upacara perpisahan diadakan—hari di mana kami resmi dinyatakan lulus dari SMP. Aku menghabiskan sepanjang hari dengan rebahan di dalam kamar yang sunyi. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain menunggu kantuk menjemput.
Pukul 20.53
Ting!
Suara notifikasi memecah keheningan tepat saat mataku mulai memberat. Aku meraba kasur, meraih ponsel. Sebuah pesan dari Rania. Tidak ada untaian kata atau emoji heboh seperti biasanya. Ia hanya mengirimkan sebuah titik koordinat lokasi.
“Ada apa, Ran?” ketikku.
“Datang saja!” balas Rania singkat.
Meskipun kernyit di dahiku tak kunjung hilang karena penasaran, aku tetap bangkit. Aku menyambar hoodie hitam dan celana training, lalu melangkah keluar menembus dinginnya malam.
Pukul 21.12
Aku tiba di titik lokasi. Seketika itu juga, bulu kudukku berdiri. Gelombang kegelisahan yang hebat mendadak meremas dadaku.
Kenapa Rania menyuruhku datang ke area proyek bangunan terbengkalai ini? Tempat ini sangat sepi, gelap gulita, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Aku mencoba meneleponnya, namun panggilanku berdering hingga mati tanpa jawaban. Didorong rasa cemas yang memuncak, aku memutuskan untuk langsung melangkah masuk ke dalam struktur beton tersebut.
“Ran, kamu di sini? Aku sudah sampai, lho!” suaraku bergema, memantul di dinding-dinding semen yang dingin.
“Ran! Rania! Kamu di mana, Ran?!”
Tap. Tap. Tap.
Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari lantai atas, seperti seseorang yang sedang berlari ketakutan.
“Apa itu kamu, Ran?!” seruku, langsung memaksakan kakiku untuk mengejar sumber suara.
Namun, tidak ada balasan. Suara langkah kaki cepat itu mendadak hilang ditelan kegelapan. Aku terus mencari dengan napas memburu dan jantung yang berdegup liar, hingga langkahku terhenti di depan sebuah pintu besi yang berkarat.
Tepat saat jemariku berada beberapa senti di depan gagang pintu, seberkas bau amis, pekat, dan sangat familier menusuk indra penciumanku. Bau darah yang mengental.
Aku menelan ludah yang terasa seperti pasir kering, lalu mendorong pintu besi itu kuat-kuat.
KREEEKK.
Tubuhku langsung membeku. Seluruh pasokan udara di paru-paruku seolah direnggut paksa oleh pemandangan di dalam ruangan. Belasan mayat manusia terbaring tumpang-tindih di atas lantai beton, bersimbah darah yang masih segar. Beberapa di antara mereka bahkan berada dalam kondisi mengerikan dengan bagian tubuh yang terpotong-potong secara brutal.
"Ugh...!" Aku langsung membekap mulutku sendiri, menahan gejolak mual yang hebat agar tidak muntah di tempat.
Dengan tubuh gemetar, aku mundur teratur, keluar dari ruangan jahanam itu dan membanting pintu besinya hingga tertutup rapat. Kepalaku pening. Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini?! Siapa yang melakukan penjagalan massal ini?! Aku harus menemukan Rania secepatnya dan segera pergi dari sini sebelum terlambat!
Aku buru-buru merogoh saku, kembali menekan nomor Rania dengan jemari yang basah oleh keringat dingin, berharap—berdoa dengan sisa warasku—agar dia mengangkatnya di suatu tempat yang aman.
Tirirriing... Tirirriing... Tirirriing...
Detik itu juga, duniaku runtuh. Suara nada dering panggilan masuk itu terdengar jelas, nyaring, dan bergema tepat dari balik pintu besi yang baru saja kututup.
Hawa dingin yang ekstrem langsung menjalar ke sekujur tubuhku. Keringat dingin bercucuran deras di pelipisku. Aku kembali menelan ludah dengan susah payah.
Nggak. Itu pasti kebetulan. Itu cuma kebetulan! Rania nggak mungkin ada di dalam sana... nggak mungkin! Tapi... tapi aku harus memastikannya...
Dengan tangan yang gemetaran hebat hingga ponsel hampir terlepas dari genggaman, aku perlahan meraih kembali gagang besi itu, memutarnya, dan membukanya sedikit.
Tirirriing... Tirirriing... Tirirriing...
Di sudut ruangan yang remang-remang, sebuah layar ponsel menyala terang di atas genangan merah, tepat di samping sesosok mayat yang terbaring kaku dekat dinding.
Aku melangkah maju seperti raga tanpa jiwa. Kakiku terasa berat, menapak di atas lantai yang becek oleh cairan kental hangat. Aku berjalan perlahan di antara kecemasan dan ketakutan yang mencekik, mengitari belasan jasad, berusaha menghindari genangan darah sembari terus menutup hidung dan mulutku rapat-rapat.
Ketika aku sampai tepat di depan ponsel yang berdering itu, aku menunduk. Di atas layarnya, terpampang sebuah nama dengan sangat jelas:
[ Luna sahabat terbaik ]
Panggilanku. Itu panggilanku.
Pandanganku perlahan bergeser ke arah mayat di samping ponsel tersebut. Jantungku seperti dihantam palu godam hingga hancur berkeping-keping. Itu adalah jasad seorang perempuan, telanjang bulat dengan kondisi yang teramat mengenaskan. Kulitnya robek di berbagai tempat penuh bekas luka cambukan dan sayatan, bahkan wajahnya sudah hancur total hingga tidak dapat dikenali lagi.
Kebingungan, kekhawatiran, ketakutan, kecemasan—semua emosi itu bercampur aduk menjadi badai yang menghancurkan nalar. Aku tidak tahu lagi apa yang sedang kurasakan.
Tinggi badan ini...
Tanda lahir berwarna kecokelatan di dekat pusarnya...
Tahi lalat kecil di sisi lehernya...
Semuanya sama persis. Sama persis dengan sahabatku, Rania.
Bruk.
Kedua kakiku kehilangan seluruh dayanya. Lututku langsung terjatuh, menghantam lantai beton yang bersimbah darah tanpa merasakan sakit lagi.
"Nggak... Nggak mungkin..." gumamku lirih dengan suara serak. "Ini nggak mungkin... Nggak mungkin kalau ini Rania! Benar... ini pasti cuma kebetulan! Orang lain... ini pasti orang lain!"
“Lalu bagaimana kau akan menjelaskan ponselnya yang tergeletak di dekatnya?” Sebuah suara dingin menyergap dari sudut gelap isi kepalaku.
"Ponselnya... ponselnya pasti dicuri! Dia kehilangan ponselnya hari ini!" bantahku histeris dalam hati.
“Jangan membuat alasan bodoh. Kau pasti lebih tahu dari siapa pun di dunia ini... bahwa gadis hancur yang ada di hadapanmu saat ini adalah Rania.”
"NGGAK! ITU NGGAK MUNGKIN! INI SEMUA NGGAK MUNGKIN!"
Aku terus menjerit, menyangkal kenyataan yang terpampang telanjang di depan mataku. Meskipun wajahnya dihancurkan secara barbar hingga tak berbentuk, tidak mungkin... tidak mungkin seorang sahabat tidak mengenali raga saudaranya sendiri. Tapi...
Tapi aku tidak mati bunuh diri di dapur waktu itu untuk hasil akhir yang sekutuk ini! Aku kembali ke masa lalu bukan untuk melihatnya dijagal seperti binatang!
Air mataku tumpah, mengalir deras membasahi pipi, menetes dan menyatu dengan genangan darah di lantai. Dada terasa sesak seolah-olah dipaku oleh ribuan pasak besi.
“Hal tragis ini terjadi karena kau bersikap angkuh, Luna. Kau merasa menjadi pahlawan. Kau berpikir bahwa kau bisa menolong dan menyelamatkan siapa pun hanya dengan menggunakan kutukan maut yang kau miliki.” Suara itu terus berbisik, menusuk tepat di bagian jiwaku yang paling rapuh.
"Tapi aku cuma mau dia selamat... aku cuma mau dia tersenyum..." ratapku dalam hati, meremas dadaku yang perih.
“Jika saja kau tidak mencampuri takdir dan memilih tidak kembali ke masa lalu, gadis itu mungkin akan trauma, tapi dia akan tetap hidup dan bisa lepas dari masa lalunya kapan pun itu. Tapi karena keegoisanmu... karena kau mengubah jalurnya, gadis itu malah harus menanggung penderitaan yang jauh lebih besar dan keji daripada sebelumnya. Luna... KAULAH YANG TELAH MEMBUNUHNYA!”
Aku terisap ke dalam pusaran ruang hampa. Aku tidak bisa menyangkalnya lagi. Entah suara itu berasal dari iblis di dalam diriku atau dari manifestasi kutukan itu sendiri, tapi setiap kata yang diucapkannya adalah kebenaran mutlak yang menampar kesadaranku.
Garis waktu sebelumnya... pria itu mati tertabrak truk setelah melecehkan Rania. Rania selamat, meski jiwanya terluka. Tapi karena aku menemani Rania pulang malam itu, pria itu tidak pernah tertabrak truk. Dia tetap hidup bebas di luar sana, menghimpun kebencian, merencanakan pembalasan yang jauh lebih matang, hingga akhirnya menyeret Rania dan belasan orang tak bersalah lainnya ke dalam neraka penjagalan ini.
Tangisku pecah di tengah keheningan ruangan penuh mayat itu. Bahuku terguncang hebat akibat kenyataan yang teramat brutal.
Akulah penyebabnya. Akulah pemicu semua pembantaian ini.
AKULAH YANG TELAH MEMBUNUH RANIA.