NovelToon NovelToon
Terpikat Mas Preman

Terpikat Mas Preman

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: Akira Fan

Kamila Larasati, seorang gadis cantik yang pintar, kritis, keras kepala dan punya pendirian kuat persis seperti ayahnya yang seorang Jendral TNI. Kamila menentang perjodohan yang dilakukan ayahnya dengan bawahannya. Dia tidak ingin mengikuti jejak kakaknya yang kehidupan pernikahannya terlalu banyak aturan.

Kamila masih sangatlah muda. Dia masih ingin bebas menikmati masa mudanya dengan berbagai pengalaman yang bermakna.

Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan Mahardika Pratama yang seorang preman kampung. Kejadian yang tak terduga menjadi awal pertemuan mereka hingga seiring berjalannya waktu tumbuhlah rasa cinta diantara mereka. Tapi ada sebuah rahasia yang sempat menggoyahkan perasaan Kamila. Apakah akhirnya cinta mereka akan bersatu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akira Fan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Kabar Mengejutkan

Dika memandangi ponselnya cukup lama. Menatap sebuah kontak yang tertera di handphone nya dengan perasaan yang tidak karuan. Ingin memencet tombol panggil tapi dia ragu dan merasa tidak enak karena jam yang sudah menunjukkan waktu tengah malam.

"Pasti dia sudah tidur jam segini. Besok aja lah aku temui dia langsung untuk minta maaf," Dika pun mengurungkan niatnya untuk menelfon kontak tadi yang merupakan nomer Kamila.

Dia pun memutuskan untuk merebahkan dirinya dikasur sederhananya. Semenjak datang di kampung ini dia tinggal bersama Aldo disebuah rumah sederhana milik orang tuanya. Aldo adalah teman baiknya di kampung ini yang sudah seperti saudara.

Krieett

Pintu depan terbuka, menandakan seseorang penghuni lain rumah itu telah sampai. Dika kembali bangun untuk menanyakan sesuatu yang dari tadi mengganjal di fikirannya.

"Baru pulang kau Do?," tanya Dika mengawali perbincangan. Dia tahu Aldo pasti sudah capek, tapi rasa penasarannya tidak bisa ditahannya.

"Iya Dik, tadi kemana kau? Main tinggal aja," sewot Aldo sambil melepas jaket dan sepatu bututnya.

"Sorry, ada telepon dari temen. Butuh bantuan mendadak," jawab Dika beralasan.

"Temen yang mana? Dikampung ini temen deketmu kan cuma aku," tanya Aldo penasaran. Pasalnya Dika nggak pernah cerita kalau dia punya teman selain dirinya dan geng premannya.

"Itu..temen lama, baru aja dapet nomerku katanya," jawab Dika asal, terdengar sedikit kurang meyakinkan.

"Ooh..," tanggap Aldo datar sambil manggut-manggut.

"Ya udah, aku ngantuk banget. Mau tidur dulu," lanjut Aldo ngeloyor ke kamarnya.

"Eitt, tunggu dulu Do. Emm, gimana tadi? Kamila kecewa nggak pas aku tinggal pergi duluan?," tanya Dika menghadang jalan Aldo.

"Biasa aja sih, tapi mereka berfikiran yang sama denganku. Kalau kau berbeda hari ini dari biasanya," jawab Aldo datar.

"Ck, siapa bilang. Aku nggak apa-apa kok. Ya cuma itu tadi kayak yang aku omongin padamu tadi," balas Dika sekenanya.

"Gara-gara kau nggak ada, cowok nyebelin itu makin bertingkah tau. Malahan tadi ada insiden Kamila dan Veni hampir jatuh bersamaan. Untungnya Aku dan cowok nyebelin itu sigap menangkap mereka," cerita Aldo membuat Dika mengernyitkan dahinya.

"Terus yang nolongin Kamila siapa?," tanya Dika penasaran. Perasaannya menjadi nggak enak.

"Kebetulan Si Alvin yang ada dibelakang Kamila, ya dialah yang nangkep tubuh Kamila tadi," jawab Aldo sedikit mendengus kesal mengingat Alvin yang menjengkelkan baginya.

"Apaa? Jadi mereka tadi..?," Dika sangat terkejut, fikirannya dipenuhi dengan bayangan adegan yang pasti terjadi jika Alvin yang menangkap Kamila tadi.

"Kenapa kau kaget seperti itu? Kau cemburu ya?," ledek Aldo melihat ekspresi Dika yang berubah memerah menahan amarah.

Dika memalingkan wajahnya, menyembunyikan amarahnya karena cemburu.

"Kalau aku lihat sih, sepertinya si Alvin mulai suka dengan Kamila. Tapi nggak tau dengan Kamila," Aldo sengaja memperjelas kejadian tadi untuk melihat reaksi Dika.

"Udah jangan bahas itu lagi, mending kau tidur. Aku juga capek mau istirahat," Dika segera beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Aldo yang tersenyum jail melihat tingkah aneh Dika.

"Kau cemburu kan? Ngaku aja Dik," cecarnya menggoda Dika. Tapi laki-laki itu tak menggubrisnya justru masuk ke kamar dengan sedikit membanting pintu kamarnya sendiri.

"Pelan-pelan woi, bisa roboh rumahku entar," teriak Aldo geram.

Dia menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah sahabatnya itu. Sepertinya memang dia sedang tidak baik-baik saja.

Sejenak Aldo mengingat kejadian saat di wahana tadi. Tersungging senyum dibibirnya tatkala mengingat kembali saat dia memeluk Veni tadi. Ada desiran aneh didadanya setiap mengingat hal itu. Apakah dia telah jatuh cinta pada gadis itu?

Aldo mencoba menepis pikirannya, kemudian segera membersihkan dan beranjak tidur untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

****

Keesokan paginya, Kamila bangun dengan sedikit terburu-buru. Baru kali ini dia tidur larut malam, biasanya paling malam dia tidur jam 10. Tapi semalam dia baru bisa tertidur sekitar pukul 1 dini hari.

"Aduh, Ven aku kesiangan lagi. Kenapa kamu nggak bangunin aku sih?," omel Kamila pada sahabatnya itu yang malah terlihat santai sekali.

"Santai aja Mil, aku juga belum lama kok bangunnya," balas Veni sambil senyum-senyum sendiri melihat handphonenya.

"Aku nggak enak sama Ibu dan Bapak Ven, kalau kamu kan anaknya jadi bisa tenang-tenang gitu," sungut Kamila kesal pada Veni.

"Udah ah ngomelnya, buruan mandi sana. Bapak dan Ibu sudah ke sawah. Mereka nggak akan marah Mil. Tenang aja," Veni hanya masih fokus mengutak-atik handphone nya.

Kamila melangkahkan kakinya ke kamar mandi dengan memanyunkan bibirnya. Bisa-bisa dia frustasi kalau terus meladeni Veni yang justru malah bikin dia semakin badmood.

Suara panggilan di handphone Kamila menghentikan langkahnya seketika. Buru-buru dia kembali dan melihat siapakah ya menelfonnya. Mulut yang tadinya manyun kini berubah menjadi merekah dengan senyuman. Ternyata Papanya yang menelepon.

"Hallo Papa, gimana kabarnya?," tanya Kamila bersemangat menerima telepon dari Papanya. Pak Herman.

"Cih, dasar gadis nakal. Kamu nggak kangen sama Papa apa sampai lupa nggak nelfon sama sekali?," balas Papanya sinis.

"Jangan gitu dong Pa, Mila kangen banget kok sama Papa," ucap Kamila nyengir.

"Bohong, kalau kamu emang kangen mestinya dari kemaren-kemaren kamu udah telfon Papa. Ini apa, kalau Papa nggak telpon mungkin sampai lebaran monyet juga kamu nggak telpon Papa," lanjut Pak Herman sewot.

"Iya iya, Kamila salah. Maafin Mila Pa," akhirnya Kamila mengakui kesalahannya.

"Awas kalau kamu ulangi lagi, Papa akan jemput paksa kamu dan nikahin kamu dengan laki-laki pilihan Papa walau tanpa persetujuan kamu," ancam Pak Herman tegas.

"Papa, kok gitu sih? Iya Kamila janji nggak akan ulangin lagi," Kamila memasang wajah cemberut mendengar ancaman Papanya tadi yang membuatnya ciut.

"Bagus. Gimana kabar kamu disana sayang?," tanya Pak Herman dengan nada yang berubah menjadi lembut. Sebenarnya tadi dia hanya bercanda saja.

"Baik Pa, Kamila senang tinggal disini. Udara didesa sangat segar. Berbeda sekali dengan dikota," terang Kamila bersemangat.

"Syukurlah, oh iya Papa mau kasih tau kamu kalau hari ini Papa akan dinas di kota yang sekarang kamu tinggali. Nanti sekalian Papa mampir ke rumah teman kamu ya? Papa kangen sama kamu sayang," Pak Herman memberi kabar yang sangat mengejutkan bagi Kamila.

Bukannya Kamila tidak suka, akan tetapi dia merasa nggak enak dengan keluarga Veni. Pasalnya Kamila hanya mengatakan kalau orang tuanya hanya orang biasa saja. Dan kalau sampai Papanya jadi datang, pasti beliau selalu dikawal anak buahnya.

"Emm, Pa. Gimana kalau Kamila saja yang menemui Papa. Kebetulan nanti Kamila mau pergi ke kota dengan Veni," balas Kamila memberi alasan.

"Benarkah? Padahal Papa juga ingin bersilaturahmi dengan keluarga temen kamu lho," Pak Herman mengerutkan keningnya heran.

"Lain kali saja ya Pa? Nggak enak juga kan kalau mendadak?," lanjut Kamila meyakinkan.

"Ya udah, sampai ketemu nanti sayang," Pak Herman mengakhiri panggilannya. Kamila pun bernafas lega.

1
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Akira Fan: Siap kak, terima kasih supportnya 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!