Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepupu
Li Yunru memotong pancake menjadi beberapa potongan sekali makan. Dengan gerakan cekatan, semua potongan dibuat hampir sama besar.
"Nama makanan ini disebut kue dadar daun bawang karena bahan utamanya adalah daun bawang. Sebenarnya bisa ditambah dengan potongan udang atau wortel," jawabnya.
Dari ruang spiritual yang juga berfungsi sebagai ruang penyimpanan, Li Yunru mengeluarkan sebuah meja kayu kecil, lalu meletakkan empat piring berisi potongan kue dadar daun bawang di atasnya. Semangkuk saus cocolan ditempatkan di tengah, aromanya samar namun menggugah selera.
"Selamat makan!"
Tanpa menunggu lebih lama, Li Yunru menjadi orang pertama yang mencicipi masakannya. Begitu potongan pertama masuk ke mulutnya, bagian luarnya terasa renyah, sementara bagian dalamnya tetap lembut. Rasa gurih daun bawang berpadu dengan saus asam-manis, membuatnya ingin segera mengambil potongan berikutnya.
Ruu juga segera mengambil sepotong kue dadar dengan cakar kecilnya. Mata merahnya langsung berbinar begitu menggigitnya.
"Ini makanan terenak yang pernah kumakan!" teriak Ruu tanpa menahan diri.
Di sisi lain, elang hitam jelmaan Hei Sanfeng juga tidak kalah cepat. Ia terus mematuk potongan kue dadar daun bawang. "Enak, enak!" pujinya.
Dalam waktu singkat, Hei Sanfeng menghabiskan bagiannya. Saat hendak mengambil potongan yang tersisa di piring lain, Ruu ternyata mengincar potongan yang sama. Kedua hewan berbulu itu saling menyipitkan mata, sementara cakar mereka beradu cepat memperebutkan potongan terbesar.
"Aku mengambilnya lebih dulu!" teriak Ruu.
"Jelas raja ini dulu yang meletakkan cakar!"
Li Yunru memutar bola mata saat melihat keduanya kembali berdebat. Meski begitu, sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Tidak usah berlebihan. Ini hanya makanan biasa. Masih banyak makanan enak lainnya di dunia."
Bai Muzhi memegang sumpit dengan gerakan anggun, layaknya seorang bangsawan. Selama ini, ia memang tidak terlalu tertarik pada makanan biasa. Baginya, meminum ramuan spiritual sudah cukup untuk menjaga tubuhnya.
Pria itu mengambil sepotong kecil kue dadar daun bawang, lalu menggigit dan mengunyahnya perlahan. Begitu rasanya menyebar di lidah, sesuatu di dalam ingatan Bai Muzhi terusik. Kenangan lama yang telah lama terkubur perlahan muncul.
Rasa makanan ini mengingatkannya pada seorang gadis kecil dari ras peri hutan yang pernah memasakkan hidangan serupa ratusan tahun silam. Saat itu usianya masih sekitar sepuluh tahun. Sudah sangat lama, tetapi Bai Muzhi yakin gadis itu bukan Li Yunru.
Li Yunru memiliki darah campuran ras peri hutan di tubuhnya, sedangkan gadis kecil itu adalah keturunan murni ras peri hutan. Dari segi mana pun, keduanya tidak memiliki kemiripan.
"Ada apa? Apakah kamu tidak suka?" tanya Li Yunru yang hampir menghabiskan bagiannya. Ia memperhatikan Bai Muzhi yang tiba-tiba terdiam.
"Bukan begitu. Ini enak," jawab Bai Muzhi singkat. "Aku hanya teringat sesuatu."
Ia segera menekan pikirannya, berusaha menyingkirkan kenangan lama itu. Gadis kecil tersebut menolak dijodohkan dengannya, lalu pergi tanpa jejak. Bahkan sebelum pergi, ia masih sempat berpamitan—tanpa beban maupun penyesalan.
"Little Zhi, jangan menungguku." Gadis kecil itu tersenyum kecil. "Suatu hari nanti, kamu pasti bertemu seseorang yang lebih cocok berada di sisimu."
"Hah ..." Bai Muzhi menghela napas pelan.
Memikirkan hal itu saja sudah cukup membuat kepalanya terasa berat. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia kembali fokus menghabiskan potongan kue dadar daun bawang di hadapannya.
Sesaat setelah menelannya, Bai Muzhi merasakan aliran hangat menyebar dari perutnya. Energi lembut itu perlahan mengalir ke seluruh tubuh, bahkan menyentuh bagian terdalam jiwanya. Rasa sakit yang selama ini menggerogoti jiwanya tiba-tiba berkurang. Pria itu sedikit terkejut, tetapi tidak menunjukkannya di wajahnya.
Di sisi lain, Hei Sanfeng dan Ruu juga merasakan hal yang sama. Tubuh mereka terasa lebih ringan dan segar. Luka-luka kecil akibat pertarungan sebelumnya perlahan membaik.
Ruu bahkan melompat kecil penuh semangat. "Ini—ini luar biasa!"
Mata elang hitam jelmaan Hei Sanfeng juga berbinar. Ia menatap Li Yunru seolah baru menemukan harta karun. Sayapnya langsung terbentang penuh semangat.
"Manusia, tidak kusangka kamu bisa membuat makanan spiritual! Tinggal lah di sini bersamaku! Istanaku jauh lebih menyenangkan daripada wilayah naga putih sakit yang dingin itu!" katanya tanpa malu-malu, jelas berniat menculiknya.
"Jangan pernah memikirkannya." Suara Bai Muzhi langsung memotong. "Dia pasangan raja ini. Tentu dia harus kembali bersama raja ini ke utara."
Hei Sanfeng memutar mata elangnya, lalu menatap sisa makanan di piring dengan ekspresi serius. "Kalau dipikir-pikir..." gumamnya. "Jika bisa makan seperti ini setiap hari, aku rela jadi selirnya."
Tatapan Bai Muzhi langsung terkunci pada elang berkepala botak itu. Mata merahnya menyipit tajam. "Sepupu," ucapnya pelan, tetapi penuh tekanan. "Apakah kamu ingin melanggar aturan hubungan darah?"
Hei Sanfeng merasa potongan kue dadar daun bawang yang baru saja ditelannya tiba-tiba tersangkut di tenggorokan. Ia terbatuk beberapa kali sebelum akhirnya berhasil menelannya.
"Aku hanya bercanda. Mengapa kamu begitu serius?"
Namun Li Yunru justru tampak terkejut mendengar percakapan mereka. "Kalian masih sepupu? Naga dan elang?"
Kepalanya langsung dipenuhi tanda tanya. Ia memang tidak memahami hubungan antar ras manusia setengah binatang di dunia ini, tetapi tetap saja terasa aneh. Bisakah naga dan elang menikah lalu memiliki keturunan?
"Aku lupa memberi tahumu. Aku memang sepupu Bai Muzhi," jawab Hei Sanfeng santai. "Ibuku dan ayah Bai Muzhi bersaudara. Jadi kami adalah sepupu meski sudah berbeda suku."
Dalam aturan manusia setengah binatang, kerabat sedarah tidak boleh memiliki satu wanita yang sama. Hei Sanfeng malas membahasnya lebih jauh dan langsung menghabiskan potongan terakhir kue dadarnya dengan puas.
Bai Muzhi lalu menjelaskan sedikit tentang keluarga besar suku naga putih. Kakeknya sekaligus leluhur suku naga putih, Bai Shenzhen, memiliki dua istri di masa lalu. Salah satunya adalah Nenek Caolan, nenek kandungnya dari suku naga putih berdarah murni. Sementara nenek kandung Hei Sanfeng adalah manusia biasa yang melahirkan seorang putri berdarah setengah naga.
"Bisakah pria dan wanita memiliki selir atau pasangan kedua, ketiga, dan seterusnya?" tanya gadis itu.
"Untuk pria, itu hal yang normal. Namun bagi wanita, harus ada alasan khusus jika ingin memiliki pasangan lain."
Nenek Caolan tidak memiliki identitas istimewa, sehingga Bai Shenzhen dapat mengambil istri lain. Namun identitas Li Yunru berbeda. Tapi Bai Muzhi sendiri tidak akan pernah membiarkan Li Yunru memiliki pasangan lain hanya karena kondisinya sebagai koki spiritual. Ia tidak suka berbagi sesuatu yang telah menjadi miliknya.
Li Yunru mengangguk pelan. Lalu ia menatap Hei Sanfeng cukup lama. "Syukurlah kamu tidak terlahir sebagai elang berkumis naga. Bayangkan saat terbang, kumismu ikut melambai-lambai."
Hei Sanfeng langsung tersedak makanannya. "Uhukk—!"
Ruu yang masih sibuk makan juga hampir tersedak. Ia seketika berguling-guling di atas rumput sambil tertawa tanpa henti.
"Elang berkumis naga ... hahahaha!"
Membayangkan seekor elang hitam dengan kumis naga panjang yang melambai di wajahnya benar-benar terlalu absurd. Bagaimana jika kumis itu tersangkut di ranting saat terbang?
Elang hitam jelmaan Hei Sanfeng akhirnya menatap Li Yunru dengan tatapan tidak suka. "Jangan memikirkan hal-hal aneh! Bagaimana mungkin elang terlahir dengan kumis naga?!"
Hanya membayangkannya saja sudah membuatnya tidak nyaman. Namun demi makanan spiritual yang luar biasa di masa depan, ia memilih menahan diri untuk tidak protes lebih jauh.
Li Yunru hanya memutar bola mata, lalu mulai membereskan peralatan memasaknya. Semua alat dimasukkan kembali ke dalam ruang spiritual dengan rapi.
Tak terasa ternyata hari semakin sore. Bai Muzhi memperhatikan langit yang mulai gelap, lalu menatap Li Yunru dan berbicara dengan nada tenang.
"Kita harus segera kembali ke utara. Mari bicarakan beberapa hal setelah sampai nanti."
Nada suara pria itu tidak memberi ruang untuk penolakan. Li Yunru tahu ia memang tidak punya pilihan lain. Dengan sedikit enggan, ia akhirnya mengangguk. Oleh karena itu, Hei Sanfeng segera memerintahkan seekor elang hitam raksasa lain untuk mengantar mereka kembali ke wilayah Baiyun di utara.
Di sisi lain, Kepala Pengurus Istana menatap Hei Sanfeng yang masih berwujud elang hitam, diam-diam kembali ke aula samping istana seperti penyusup. Ekspresinya perlahan berubah dari bingung menjadi terkejut.
"Maaf, Yang Mulia," ucapnya tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Hei Sanfeng tanpa menoleh padanya. Ia sepertinya sengaja menghindari mata para pelayan dan penjaga.
"Soal kepala Anda—"
"Ada apa dengan kepalaku?" tanyanya cepat, sedikit tersinggung saat menatapnya dengan ketidaksukaan.
Kepala Pengurus Istana berdeham kecil. "Ehem! Tidak apa-apa. Hanya kepala Yang Mulia ... sedikit botak?"
"...."
Bisakah kamu tidak menyinggung kepalaku yang botak? batin Hei Sanfeng yang menjadi mudah tersinggung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂