Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pura Dalem
Wuuussh!
Saras tersentak dari tidurnya. Trisula di dalam lemari nakasnya bergetar dengan gerakan yang cukup kuat.
Sang gadis bergegas bangkit dari ranjangnya, lalu membuka laci, dan terlihat trisula itu memendarkan cahaya keperakan di bagian bilahnya.
Saras menggenggamnya dan cahaya itu merambat dari jemari tangannya, dan naik ke atas lengan, lalu berdiam di jantungnya.
Wuuussh!
Srrrrk!
Dalam hitungan detik, ia melihat jika Dwi sedang berjalan keluar dari kamar, dan menuju ke halaman rumah.
"Dwiii...." suara itu terdengar semakin jelas, dan membuat Dwi seolah terpanggil untuk hadir.
Langkahnya cukup pelan, dengan tatapan kosong yang seolah tidak menyadari dengan apa yang saat ini sedang di lakukannya.
Sementara itu, Saras tersentak kaget. Ia menggenggam erat trisulanya, lalu menyembunyikannya di bagian pinggang yang tertutup kain selendang sebagai stagen.
Dengan gerakan cepat ia keluar dari kamar.
Saat bersamaan, ia bertemu dengan Kadek Dharma yang baru saja pulang membeli ayam betutu.
"Mau kemana, Gek?" tanya dengan tatapan penuh selidik.
"Mau nemui temen kerja, ada pasien yang meminta surat rujukan, karena gawat darurat," sahutnya dengan berbohong.
"Tapi.. Kan Gek gak shift malam,"
"Yang seharusnya shift sedang sakit. Sudah, ya. Jangan banyak tanya, gawat darurat," potong Saras, dan memilih untuk segera pergi, sebelum di cecar lagi oleh pertanyaan yang akan menjebaknya.
Sementara itu, Dwi sudah berada di depan teras rumah. Ia melihat seorang wanita tua dengan rambut putih yang memanjang hingga menyentuh paving blok dan tubuh yang ringkih dan tampak kurus.
Kedua matanya terlihat merah menyala. Sedangkan lidahnya terjulur dengan cukup panjang hingga menyentuh pinggang.
"Dwi... Cepatlah, lemari, Sayang... Kau sangat manis sekali. Kau begitu berarti sekali, aku menjemput kamu," bisiknya, dan suara terdengar hingga ke otak Dwi.
Pengantin baru itu datang menghampiri sang wanita tua yang katanya sedang menjemputnya.
Saat jarak mereka cukup dekat, sang wanita tua mengulurkan tangannya, dan langsung di sambut oleh Dwi.
"Kita ke Pura Dalem, tempat kamu di sana, bukan disini," ucap sang wanita dengan berusaha tersenyum, meski wajahnya gak ada manis-manisnya, tetapi cukup membuat Dwi merasa patuh.
"Ya," Dwi menyahut dan menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba saja, Putu Satya yang tadinya terlelap karena baru saja siap tempur, terbangun karena mendengar suara tabuhan gamelan caruk yang biasanya di dentingkan saat upacara kematian di rumah duka saat mengiringi jenazah ketika akan di bawa ke Pura Dalem untuk di adakan acara ngaben (Kremasi)
"Hah? Mengapa ada suara gamelan caruk di rumah ini? Malam hari? Dan siapa yang sedang meninggal?" ia merasa cukup was-was, dan lebih kagetnya pagi saat melihat Dwi tak ada di tempatnya.
Ia bergegas pergi keluar dari kamarnya untuk melihat dimana sang istri yang baru saja di nikahinya siang tadi.
Langkahnya sangat terburu-buru, dan ia berpapasan dengan Nyoman Sari.
"Kadek, mau kemana malam-malam?" sapanya pada sang menantu lelakinya.
"Mau cari Dwi, Bu. Sebab tidak ada di dalam kamar." jawabnya terburu-buru, sehingga membuat sang ibu mertua juga ikut menuju ke arah teras.
Saat berada diambang pintu, mereka di kejutkan oleh penampakan yang sangat mengerikan.
Dimana Dwi sedang terlihat berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat oleh mereka, tetapi penampakan itu membuat Nyoman Sari terdiam dan membeku.
Nyoman Sari langsung berlari. "Dwi! Tunggu, kamu mau kemana?!" cegahnya.
Dwi tak menjawab, ia hanya melihat sekilas ke arah sang ibu, lalu kembali berpaling, dan melanjutkan langkahnya, sebab ia sedang di tuntun oleh sosok Rangda yang sebenarnya tidak terlihat oleh Nyoman Sari dan juga Putu Satya.
Dwi semakin terus melangkah. Putu Sari berlari mengejarnya, dan itu Kadek Satya juga ikut mengejar.
Tak!
Tiba-tiba listrik padam, suasana sangat gelap gulita, dan aroma anyir yang bercampur dengan aroma busuk menguar di udara.
Dalam kegelapan, Kadek Satya dan Nyoman Sari masih dapat melihat Dwi yang yang menggunakan pakaian tidur terbuat dari satin berwarna putih yang berjalan menuju ke arah Pura Dalem.
Dalam samar, mereka mendengar suara tabuhan gamelan caruk yang di dentingkan dan membuat bulu kuduk meremang.
"Mengapa ada suara gamelan caruk? Tidak mungkin aku salah dengar, mengapa suaranya berasal dari rumah aku?" gumamnya dengan lirih.
Sedangkan Kadek Satya sudah mengejar sang istri yang saat ini berjalan dengan tanpa alas kaki menuju Pura Dalem dengan kondisi gelap gulita.
Suara lolongan anjing bersahutan, seolah sedang melihat sosok tak kasat mata yang sedang berkeliaran di sekitarnya.
Bahkan beberapa anjing liar terlihat melolongi Dwi yang berjalan dengan tatapan kosong.
Hati Nyoman Sari semakin tak karuan saat melihat puterinya memasuki Pura Dalem.
Kadek Satya langsung menghadangnya. Malam pertama yang seharusnya indah, kini di penuhi ketegangan yang sangat mengkhawatirkan.
"Sayang. Ayo pulang. Kamu ngapain ke Pura Dalem?" Kadek Satya mencengkram pergelangan tangan sang istri, agar tak memasuki Pura Dalem.
Akan tetapi... Sebuah tendangan yang cukup kuat membuat Kadek terpental hingga keluar dari pintu gapura Pura.
Braaak!
"Aaaargh!" pekiknya, sembari meringis kesakitan.
Sementara itu, Nyoman Sari ikut terpekik saat melihat menantunya di tendang begitu saja oleh puterinya.
Saat bersamaan, Nyoman Surya yang ingin melakukan subak (Jatah mengairi sawah) melihat kejadian tersebut, dan berlari menghampiri. Sebagai tetangga ia ingin membantu.
"Ada apa, Nyoman?"
"Bli, tolong bantu cegah Dwi, dia masuk ke Pura Dalem, entah apa yang di carinya," ujar Nyoman Sari dengan suara bergetar.
Nyoman Surya melongo, tetapi ia juga merasa bergidik ngeri saat melihat Pura Dalem di malam hari.
Ornamen Dewi Durga dengan penggambaran yang menyeramkan sebagai perwujudan Dewa Siwa yang merupakan Dewa kematian dan reinkarnasi.
Sedangkan Karang Bhoma yang merupakan ornamen kedok wajah raksasa dengan mulut yang menganga lebar serta mata yang melotot dan dua taring yang mencuat dri sudut bibirnya, memperlihatkan kengerian yang semakin nyat, dan letaknya berada di atas pintu masuk (Kori Agung).
Nyoman Surya yang sejatinya takut, terpaksa masuk ke dalam Pura, dan di sambut dengan udara yang cukup panas saat memasuki pintu gapura.
Nyoman Surya berjalan dengan perlahan, dan melihat Dwi sudah berada di halaman dan bersiap memasuki Pura Dalem.
"Pulanglah, tempat kamu bukan di sini," ucap Nyoman Surya, mengingatkan Dwi.
Akan tetapi, ia justru di kejutkan saat melihat sepasang mata berwarna menyala dari dalam Pura yang cukup gelap.
"Hah!" Nyoman Surya yang ketakutan, berputar arah, lalu melarikan diri dengan langkah seribu.
"Aaaaaaaaa..." pekiknya ketakutan, membuat Nyoman Sari dan juga Putu Satya yang akan masuk ke dalam Pura terbengong.
Kini keduanya saling pandang, dan dengan perasaan takut melangkah masuk.
smgt kk 💪💪💪
dasar ya
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌