Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Jejak Basah di Selasar Barat
Sorot lampu depan SUV hitam membelah kabut tebal yang menyelimuti kompleks perbukitan Mansion El-Ghazali. Kendaraan itu melambat, lalu berhenti dengan sapuan halus di atas lantai granit selasar utama yang basah. Malikh dengan cekatan mematikan mesin, membuat kabin mewah itu seketika tenggelam dalam kesunyian yang diredam oleh rintik gerimis di atas atap baja mobil.
Zayyan bergerak lebih dulu. Dia mendorong pintu depan, membiarkan embusan angin malam yang membawa aroma tanah basah dan pinus masuk ke dalam kabin. Sebelum Malikh sempat memutari kap mobil, sang CEO sudah berada di sisi pintu baris tengah, membukanya lebar-lebar.
Olin mendongak, bersiap untuk memindahkan kepala Xavi dari pangkuannya secara perlahan. Namun, Zayyan sudah membungkuk ke dalam kabin. Lengan kokohnya yang terbalut kemeja hitam dengan kancing manset platina yang kini meredup menyelinap di bawah tubuh mungil Xavi. Dengan satu gerakan mantap yang terlampau lembut untuk ukuran pria bertubuh tegap, Zayyan mengangkat putranya ke dalam dekapan dadanya.
Xavi hanya melenguh samar. Kepala kecilnya terkulai pasrah di atas bahu kokoh Zayyan, sementara jemari mungilnya masih mencengkeram erat guling robot berlogo stiker yang mulai kusam.
"Bawa tasnya, Aureline," bisik Zayyan rendah, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin malam yang menggoyang pucuk-pohon pinus di kejauhan.
Olin meraih tas satin hijau zamrud dan ransel kecil Xavi dari atas jok kulit. Langkah kakinya yang terbalut sepatu beludru terasa berat saat turun menyentuh lantai granit teras yang sedingin es. Dia berjalan di samping Zayyan, memperhatikan bagaimana pria itu menyesuaikan ritme langkah kakinya yang biasa lebar menjadi lebih pendek dan hati-hati, memastikan kepala Xavi tidak terguncang.
Ibu Martha sudah berdiri di ambang pintu jati ganda, memegang selembar handuk kering kecil. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya memberikan bungkukan takzim yang dalam dan pandangan penuh pengertian saat mereka melintas menuju sayap kiri bangunan.
Koridor jembatan kaca tertutup malam ini terasa lebih sunyi. Di bawah mereka, lampu-lampu kolam air dalam ruangan memancarkan pendar kebiruan yang statis, menyinari siluet ikan koi yang bergerak lambat di balik kaca. Langkah kaki mereka berdua menciptakan ketukan ritmis yang diredam oleh karpet wol tebal paviliun barat begitu mereka melintasi ambang pintu sensor.
Zayyan langsung menuntun jalan menuju kamar tidur sebelah kiri—area privat yang semalam telah dipetakan ulang oleh Xavi. Kamar itu remang, hanya diterangi oleh sisa pendar perapian modern di ruang tengah yang merembas masuk dari celah pintu yang terbuka setengah.
Dengan presisi seorang arsitek yang terbiasa mengukur skala, Zayyan merebahkan tubuh Xavi di atas ranjang king-size. Dia menarik selimut katun Mesir sewarna putih gading hingga sebatas dada anaknya, lalu melepaskan kacamata bundar yang bertumpu miring di hidung mungil Xavi dengan ujung jemarinya yang besar.
Olin berdiri di tepi ranjang, memeluk ransel kecil Xavi di dadanya seperti sebuah zirah pelindung yang tersisa. Matanya tidak lepas dari setiap pergerakan Zayyan. Ada rasa asing yang menghentak ulu hatinya saat melihat sang penguasa korporasi yang beberapa jam lalu meruntuhkan nyali dewan komisaris, kini berdiri mematung menatap wajah tidur seorang bocah tujuh tahun dengan rahang yang perlahan melunak.
Zayyan membalikkan tubuhnya lamat-lamat, melangkah mendekati Olin hingga jarak di antara mereka terpangkas menjadi dua jengkal. Bau cendana dan sisa aroma ruang rapat yang tajam dari tubuh pria itu kembali mengunci sirkulasi udara di sekitar Olin.
"Dia memiliki garis alismu saat tidur, Aureline," ucap Zayyan, suaranya bariton sangat rendah, getarannya terasa dekat di puncak kepala Olin. "Tapi keras kepalanya... itu mutlak milikku."
Olin mendongak, matanya berkilat di balik remang kamar, menantang sepasang mata elang yang sedari tadi menguncinya. "Dia bukan milikmu untuk kau klaim dalam permainan politikmu, Zayyan. Dua puluh empat bulan. Ingat batasan itu."
Zayyan menyipitkan mata, sudut bibirnya berkedut samar membentuk senyum sinis yang dingin. Dia melangkah mundur satu tapak menuju ambang pintu, kembali mengumpulkan seluruh dominasi angkuhnya yang sempat luruh. "Tidur yang nyenyak, Nyonya El-Ghazali. Besok pagi, tim desainer interior akan datang untuk membongkar dinding pembatas laboratorium bawah tanah sesuai permintaan Arsitek Kecil kita."