NovelToon NovelToon
Orang Malas? Tidak Saya Adalah Immortal

Orang Malas? Tidak Saya Adalah Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Xianxia / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Pencari Dao Sejati

​"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
​Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
​Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
​Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gejala di Balik Dinding Lapuk

Setelah kepergian rombongan Tuan Muda Kedua Klan Huang, sudut timur desa kembali tenggelam ke dalam kesunyiannya yang semula. Namun, bagi Lin Ling, kesunyian kali ini terasa jauh lebih berat.

​Di dalam gubuk kayu yang sempit, hawa hangat dari tungku tanah liat perlahan-lahan mulai mengusir sisa-sisa dingin yang membekukan kulit.

​Nenek tua berbaring di atas dipan bambunya yang keras, tubuhnya ditutupi oleh dua lapis selimut kain rami yang penuh tambalan. Wajahnya yang dipenuhi guratan usia tampak luar biasa kuyu, dan rona merah yang tidak wajar menghiasi kedua tulang pipinya—pertanda demam tinggi sedang menggerogoti tubuh fana yang rapuh itu.

​Uhuk! Uhuk! Uhuk!

​Suara batuk yang berat, kering, dan parau berulang kali meledak dari tenggorokan Nenek, membuat dada ringkihnya naik-turun dengan tidak beraturan. Setiap kali batuk itu menyerang, tubuh Nenek akan meringkuk menahan sakit yang teramat sangat.

​Lin Ling berdiri diam di samping dipan, menatap wanita tua itu dengan sepasang manik mata hitam yang dalam.

​Tangannya yang mungil perlahan menyentuh kening Nenek; rasanya sangat panas, kontras dengan ujung-ujung jari Lin Ling yang masih terasa sedingin es akibat bersujud di atas salju tadi pagi. Pengalaman pahit di dunia kultivasi mengajarkannya untuk selalu menganalisis situasi secara objektif: tubuh fana Nenek sudah terlalu tua, dan shock psikologis akibat intimidasi aura Huang Shi tadi pagi telah meruntuhkan pertahanan fisik terakhirnya.

​Lin Ling berbalik perlahan, melangkah menuju tungku tanah liat. Dia mengambil periuk tanah, menuangkan sisa air bersih, dan memasukkan beberapa ikat tanaman obat liar yang dia beli dari pasar kemarin malam.

​Tak lama kemudian, uap panas yang membawa aroma getir, pahit, dan pekat mulai menguar memenuhi ruangan gubuk yang pengap.

​Sambil menunggu ramuan obat itu mendidih, Lin Ling berjalan menuju jendela kayu kecil gubuk. Dia mendorongnya sedikit, menciptakan celah sempit sepanjang dua jari untuk membiarkan udara segar masuk, sekaligus memberikan sudut pandang tajamnya ke arah luar.

​Dari celah jendela itu, sepasang mata Lin Ling langsung menyipit.

​Di luar sana, butiran salju yang turun tidak lagi berupa serpihan halus, melainkan butiran padat yang jatuh dengan ritme yang sangat cepat dan rapat, menumpuk tebal di atas pagar pembatas desa dalam hitungan jam.

​Ada sesuatu yang sangat janggal. Lin Ling mengingat dengan sangat jelas kalender fana yang sempat disebutkan oleh para pedagang karavan di pasar. Berdasarkan perhitungan bulan, wilayah ini seharusnya sudah mulai memasuki awal musim semi dalam beberapa minggu ke depan. Udara seharusnya perlahan menghangat, dan es di lereng bawah seharusnya mulai mencair.

​Namun, kenyataan yang dia lihat justru sebaliknya.

​Hawa dingin yang berembus masuk melalui celah jendela terasa semakin menggigit, bahkan jauh lebih pekat dan menusuk dibandingkan dengan badai salju di puncak musim dingin bulan lalu. Udara di sekitar desa seolah-olah sedang ditekan oleh sebuah kekuatan kasat mata yang masif dari arah gunung utara.

​'Ini bukan fenomena alam biasa...' batin Lin Ling menganalisis dengan cepat.

​Sebagai mantan jenius teori dari klan besar, dia tahu betul bahwa perubahan cuaca ekstrem yang terlokalisasi seperti ini biasanya hanya dipicu oleh dua hal dalam dunia kultivasi: pembukaan sebuah formasi kuno skala besar, atau bangkitnya sesosok makhluk suci berbobot spiritual tinggi yang mampu memanipulasi energi alam di sekitarnya.

​Mengingat rumor tentang Ular Raksasa purba dan jejak sisik pekat yang dia temukan di hutan batu kemarin... indikasi kedua terasa jauh lebih masuk akal.

​Uhuk! Uhuk!

​Suara batuk Nenek kembali memutus aliran pikiran Lin Ling.

​Lin Ling menutup jendela kayu itu kembali dengan rapat, membalikkan tubuhnya, lalu mengangkat periuk tanah liat yang panas menggunakan lilitan kain usang. Dia menuangkan cairan obat berwarna cokelat pekat itu ke dalam mangkuk tanah liat yang retak, lalu melangkah perlahan mendekati dipan Nenek. ​"Nenek, minumlah obat ini selagi hangat," ucap Lin Ling pelan. Suaranya yang datar kini memiliki sedikit intonasi kelembutan yang langka.

​Nenek tua itu membuka matanya yang keruh dengan susah payah, menatap Lin Ling dengan pandangan yang dipenuhi rasa bersalah. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia mencoba menegakkan punggungnya untuk menerima mangkuk obat tersebut. "Xiao Yu... Nenek... Nenek benar-benar merepotkanmu..."

​"Jangan bicara dulu," Lin Ling memotong kalimat itu dengan tegas namun tenang. Dia membantu menyangga punggung Nenek dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menyodorkan pinggiran mangkuk ke bibir kering wanita tua itu.

​Nenek meminum obat itu perlahan, rasa pahit yang membakar tenggorokannya membuat dahinya berkerut dalam. Setelah menghabiskan setengah mangkuk, tubuhnya tampak sedikit lebih rileks, dan napas beratnya berangsur-angsur mulai stabil.

​Dia bersandar kembali pada bantal jeraminya, menatap Lin Ling yang sedang membersihkan pinggiran mangkuk dengan sisa kain.

​"Xiao Yu..." panggil Nenek dengan suara yang sangat lemah, hampir menyerupai bisikan angin malam. "Uang lima belas perak dari Tuan Muda itu... simpanlah baik-baik di balik jubahmu. Jangan pernah memperlihatkannya lagi pada siapa pun di desa ini."

​Lin Ling menghentikan gerakannya, menatap Nenek dalam diam. ​"Musim dingin kali ini... rasanya berbeda," lanjut Nenek, matanya menatap kosong ke langit-langit gubuk yang mulai bergetar halus akibat tiupan angin luar. "Nenek sudah hidup di kaki gunung ini selama hampir enam puluh tahun, tapi belum pernah merasakan dingin yang sedalam ini hingga ke sumsum tulang. Di luar... sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi." ​Jari-jari renta Nenek bergerak perlahan, mencengkeram pergelangan tangan Lin Ling yang terbalut kain usang dengan sisa kekuatan terakhirnya. "Jika... jika suatu saat desa ini tidak lagi aman, berlarilah ke arah barat menuju kota besar. Jangan hiraukan Nenek yang sudah tua ini. Kau harus tetap hidup, Xiao Yu..."

​Lin Ling menatap cengkeraman tangan hangat namun gemetar itu. Kalimat Nenek barusan beresonansi dengan analisis taktisnya sendiri tentang bahaya gunung utara. Namun, mendengar seorang fana yang sekarat justru lebih mengkhawatirkan keselamatan dirinya daripada nyawanya sendiri... itu membuat sudut hati Lin Ling yang semula membeku berguncang hebat.

​Dia tidak memberikan janji fana yang klise. Lin Ling hanya membalas genggaman tangan Nenek dengan remasan kecil yang tegas.

​"Nenek tenang saja. Istirahatlah," ucap Lin Ling pendek.

​Setelah Nenek kembali memejamkan matanya dan tenggelam ke dalam tidur lelap akibat pengaruh ramuan obat, Lin Ling perlahan melepaskan tangannya. Dia berjalan kembali ke sudut gubuk, duduk bersila di atas lantai tanah yang dingin di dekat tungku api yang mulai meredup.

​Manik mata hitamnya berkilat tajam di bawah temaram cahaya bara kuning.

​Waktu yang dia miliki tidak banyak. Cuaca yang mendingin secara tidak wajar ini adalah alarm bahwa krisis besar sedang bergerak mendekati desa. Tanpa adanya Qi atau meridian yang pulih, dia dan Nenek hanya akan berakhir menjadi tumpukan mayat membeku di dalam gubuk ini jika monster di gunung itu benar-benar turun ke bawah. Dia harus segera menemukan celah untuk membalikkan takdir tubuh fisiknya, apa pun risikonya.

1
Boqin Changing
mantap
Alia Chans
keren thor
Arena Breakout1
lanjut
Arena Breakout1
mantap ceritanya lebih enak di baca dan alurnya mulai menari👍👍👍
Pencari Dao Sejati
Sekali lagi saya ingatkan untuk membaca ulang buat yang belum baca
Jiwa Kuno
lanjutttttttttt
yayat
lanjut lah kapan terungksp kebenarn lin ling
Jiwa Kuno
Jangan lama lama upnya
Arena Breakout1
lanjut thorrr
Arena Breakout1
bagus juga
Arena Breakout1
oke 👍
Jiwa Kuno
Cepetin upnya thor bikin penasaran
Wu Xin
up lagii🙏🙏
Wu Xin
lanjutt thorr penasaran
yayat
kapan jd kuatnya lin ling
Pencari Dao Sejati: entar di bab 17-20
total 1 replies
yayat
biasa itu konspirasi untuk mengulingkan pimpinan klan
yayat
ok alus alurnya mudah dipahami moga ga mengecewakan para pecinta fantim
Wu Xin
peakkk/Scream/
Jiwa Kuno
bro~~~~~~
Wu Xin
haha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!