"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.
Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.
Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.
Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"
Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.
Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.
Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 RAHASIA DIBALIK SENYUMAN
Pelajaran Kimia pun akhirnya selesai, terlihat Ana bercanda dengan gembira bersama kedua sahabatnya saat keluar dari Laboratorium dan menuju kantin.
"Pokoknya hari Sabtu, kita main sepulang sekolah ya? Aku punya tempat bagus. Nggak jauh dari sini kok." sahut Sheila dengan antusias.
"Baiklah. Jangan terlalu bersemangat. Nanti kamu pusing karena terus dengar suara cempreng kamu sendiri." ledek Jeje.
"Huuu dasar. Oh iya Ana, kamu mau ikut kan?" tanya Sheila.
Ana melirik mereka berdua bergantian, lalu mengangguk gembira.
Terharu dan sangat bersyukur karena ini adalah momen indah bisa bermain kemanapun bersama sahabat yang tak pernah ia duga akan menerimanya dengan hangat.
"Tadi Nathan keliatannya kayak yang kesal. Kenapa ya?" tanya Sheila lagi.
"Jangan ikut campur urusan orang." tepis Jeje, membuat Sheila cemberut.
"Kalian mau ke kantin?" tanya Ana.
"Iya tentu dong." jawab Sheila ditambah anggukan.
Tiba - tiba, Ana dihampiri seorang gadis yang memberikan info bahwa Pak Anton meminta Ana untuk ke ruang guru.
"Kamu Ana, kan? Kamu diminta ke ruang guru kata Pak Anton." jelas gadis tersebut, yang Ana pun tak kenal.
Ana hanya mengangguk dan melirik kedua temannya.
"Aku ke ruang guru dulu ya." sahut Ana Kepada teman - temannya.
Jeje dan Sheila mengangguk walaupun masih bingung.
"Ada apa ya?" tanya Ana pada dirinya sendiri.
Gadis tersebut pergi setelah memberitahukan kepada Ana. Ana pun bergegas pergi ke ruang guru untuk menemui Pak Anton.
"Selamat siang, Pak. Bapak panggil saya untuk ke ruang guru?" tanya Ana dengan sopan.
Pria 31 tahun itu mengangguk dan tersenyum, "Benar. Silahkan duduk, Ana."
Ana pun duduk, pria itu membuka kacamatanya dan melihat Ana dengan serius.
"Ana.. apa kamu kesulitan mempelajari beberapa pelajaran di Sekolah? Sepertinya kamu masih bingung tapi malu untuk bertanya. Apakah ada yang mengganggumu?"
"Waduh... Kayaknya kebiasaan aku dulu masih kebawa kesini deh. Malas belajar-" batin Ana.
"Ah maaf, Pak. Saya akan lebih giat lagi belajar.." jawab Ana sambil menunduk malu.
"Tidak, tidak. Bapak tidak ingin menyakitimu tapi hanya ingin kamu merasa nyaman belajar disini. Jadi, berhubung Kai adalah siswa terpintar di Sekolah ini.. Kamu bisa belajar dari dia."
Jawaban Pak Anton membuat Ana ternganga. "Apa? Aku harus belajar dengan orang sedingin es kayak dia?! Oh nggak mungkin." Keluh Ana dalam hati.
Bagaikan takdir, seseorang yang sedang dibicarakan muncul ke ruang guru sambil membawa setumpuk kertas dan menghampiri meja Pak Anton. Ana yang melihat hal itu semakin bertambah malu dan pipinya langsung merah merona.
"Nah. Pas sekali, Kai.. Bapak minta bantuan sama kamu, ada sebuah misi kecil." dengan nada yang lucu memohon.
"Ada apa, Pak?" tanya Kai datar.
"Apakah kamu mau mengajarkan Ana beberapa mata pelajaran yang dia tidak paham? Bapak ingin kalian berkembang dan berprestasi bersama. Anak - anak kelas kita harus saling membantu, bukan saling membantu dalam hal mencontek saja tapi dalam belajar. Bolehkah, Kai?" jelas Pak Anton.
Kai tampak gugup, tapi masih mempertahankan ekspresi kalemnya.
Kai melirik Ana sebentar, lalu mengangguk. Ana yang terkejut langsung beranjak dari kursi dan menatap Kai lalu beralih kepada Pak Anton yang sudah tersenyum sumringah.
"Kok dia setuju secepat itu? Hm-Mm habislah sudah riwayatku."
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih Kai dan sekarang kalian berdua boleh ke kelas." sahut Pak Anton.
Kai berjalan mendahului Ana, dan Ana yang masih tak percaya hanya melihat punggung dan bahu lebarnya Kai.
"Aneh banget dia, aku harus cari tau alasan kenapa dia mau membantuku." gumam gadis itu, lalu Kai berhenti mendadak membuat dia tidak bisa mengerem kakinya.
BUGH!
"Ukh- hidungku!" Ana meringis, sambil mengelus hidungnya.
Kai berbalik, dan menatap Ana dengan lekat.
"Kamu mau belajar kapan?" tanya dengan nada dingin.
"Euh... Kapan aja kamu ada waktu luang deh. Sebenernya, nggak apa - apa kalau ka-" belum selesai bicara, Kai sudah pergi terlebih dulu meninggalkan Ana di lorong.
[Mendengus kesal]
"Bisa - bisanya aku ditinggal pas masih bicara. Aish! Kenapa aku harus berhadapan sama 2 orang cowok menyebalkan di Sekolah ini?!" geram Ana, sambil mengelus pelipisnya.
Tak terasa jam pulang sekolah pun tiba, semuanya tampak biasa saja sampai ia tiba di rumah.
[Melangkah dengan lunglai]
"Aku pulang..."
Gadis itu langsung melepas kaos kakinya dan naik ke kamar.
"Kamu keliatan capek banget, Na." sahut Citra yang sedang memakan sepotong apel.
"Ya begitulah.." jawabnya singkat, lalu masuk ke kamarnya.
Berganti pakaian dan langsung menghapus makeup-nya.
Gadis itu menghela nafas panjang, menatap dirinya di cermin. Wajah aslinya yang sudah lelah bersembunyi.
"Aku mulai lelah mempertahankan versi sempurna ini. Tapi, aku terlalu takut untuk tampil apa adanya diriku yang dulu." sahut Ana, sambil menatap cermin.
"Momen indah yang ingin aku capai, akhirnya bisa aku capai tapi dengan wajahku yang sekarang. Dan teman - temanku.."
Ana tak sadar kalau air matanya sudah membasahi pipinya yang merah karena bekas jerawat.
"A-apakah mereka akan tetap menerima dan berteman denganku, ketika rahasia ini terbongkar? Mereka pasti akan kecewa, kalau aku tidak cantik. Dan hanya pembohong yang menutupi wajah buruk rupa dengan makeup tebal."
Disisi lain, Kai yang ada di rumahnya membawa sebuah kotak dari kayu dan membukanya di kamar.
CEKLEK!
Gembok dari kotak kayu itu terbuka, dan terlihat isinya adalah satu foto anak perempuan dan anak laki - laki sedang makan es krim bersama. Disitu juga ada gelang manik - manik warna hitam.
"Aku masih belum yakin dia kembali." jawabnya pelan, sambil mengambil gelang tersebut dan memandanginya lama.
Di dua latar tempat berbeda tapi Kai dan Ana masing - masing saling memikirkan masa lalu, rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan, dan keraguan.
Tak terasa hari semakin larut membuat keduanya terlelap dalam tidur mereka masing - masing.
Dalam mimpi, Ana di kejutkan dengan mimpi aneh yang sama seperti mimpi sebelumnya. 2 laki - laki yang datang tapi wajahnya samar - samar membuat Ana penasaran siapa mereka.
Mimpi itu sangat mengganggu pikirannya, tapi Ana tetap lebih khawatir dengan teman - teman yang sudah menerimanya, yang lambat Laun akan mengetahui wajah aslinya.
"Itu jauh lebih mengerikan, daripada penasaran dengan mimpi itu." celetuknya, sambil melakukan tahapan terakhirnya yakni menggunakan parfum.
"Najel! Ayo ce- uhuk! Uhuk!" Raka masuk ke kamar Ana dan terkena semprotan parfum yang membuatnya tersedak.
"Uhuk! Uhuk! Najel, parfumnya menusuk ke tenggorokanku! Astaga! Uhuk! Ueek.." hampir saja muntah.
Ana yang melihatnya dengan ekspresi datar, dengan santainya.
"Nggak usah dramatisir, Ka." ketusnya, lalu keluar dari kamar.
"Woy! Nggak sopan kamu, Najel." gerutu Raka.
Umur mereka bukan sebuah alasan untuk terlalu sopan, tapi 3 bersaudara itu kalau sudah bertengkar seperti teman sebaya.
Ting! Ting!
"Sarapan sudah siap!" teriak ayah, sambil memukul mangkok dengan sendok.
Raka dan Ana sudah turun ke bawah dan menuju meja makan, Dan tiba - tiba mereka..
#Bersambung...