NovelToon NovelToon
Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Slice of Life / Komedi / Time Travel
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: RS Star

Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

Di kafe keluarga yang terasa cukup cozy pada sore hari ini, aku berkeringat cukup deras meski AC ruangan sudah mendinginkan seluruh ruangan. Ide Maya untuk mencarikanku seorang teman di sekolah membuatku merasa dia sudah gila. Hanya karena di kehidupan sebelumnya aku pernah berbicara dengan Luna, bukan berarti aku bisa dengan mudah menjalin komunikasi lagi dengannya di kehidupan kedua ini.

“Tunggu dulu!! Bukannya langsung mulai dari cewek itu sangat susah?!! Pikirkan juga perasaanku!!!” bentakku pada Maya. Aku ingin dia mengurungkan ide gilanya itu.

“Itu benar kalau kamu normal. Lagian bagimu pasti sama sulitnya, kan?” Dengan entengnya Maya mengucapkan kalimat hinaan itu padaku.

“Bukan itu masalahnya!! Kamu nih ngerti enggak, sih?!!” Panik dan gusar, aku mencoba memberikan pengertian padanya. Namun, aku tidak tahu lagi harus berkata apa agar dia mengerti perasaan serigala penyendiri seperti aku ini.

“Apa yang kamu khawatirkan?” tanya Maya terdengar bingung. Aku menghela napas, lalu mencoba menata kalimat di dalam kepala yang mungkin bisa dengan mudah dia mengerti.

Kami terdiam, tetapi aku tidak lagi menatap matanya. Aku menundukkan kepala sambil terus berpikir keras harus bagaimana lagi cara menjelaskan kepada cewek batu ini. Sifat egosentrisnya sudah sampai pada tahap dewa; dia tidak mungkin mau memahami jika kalimatku tidak tertata dengan sederhana dan mudah dimengerti seperti saat kami bertemu di rooftop sekolah siang tadi.

“Bagaimana kalau dia akan menuntutku setelah aku mengajaknya bicara?” tanyaku sambil kembali menatap wajahnya. Namun, Maya hanya terdiam dengan wajah datar tanpa ekspresi apa pun.

Kami saling terdiam lagi, hanya terdengar suara pengunjung lain. Begitu dingin suasana mejaku jika dibandingkan dengan meja lain yang terisi oleh orang-orang bersama teman mereka masing-masing. Aku juga tidak mengerti kenapa Maya tiba-tiba diam dengan ekspresi wajah seperti itu saat menatapku. Apa aku mengatakan hal yang aneh, ya? Perlahan dia menatapku seperti sedang melihat sesuatu yang begitu suram dan menyedihkan. Sungguh perubahan ekspresi wajah yang mengejutkan.

“Memangnya apa yang ada di kepalamu yang akan kamu sampaikan ke Luna? Kenapa sampai berpikiran dia bakal menuntutmu?” tanya Maya dengan nada emosi. Aku meletakkan kedua jari di dagu, memperlihatkan gaya sedang berpikir keras di hadapannya.

“Hmm ... kata-kata yang mungkin aku sampaikan kepada seorang cewek yang baru pertama kali kutemui ...,” gumamku sambil berpikir. Lalu, seketika aku terpikirkan sebuah ide yang bisa kukatakan kepada Luna setelah berpikir keras.

“Hai Luna, rambutmu wangi sekali. Sampo apa yang kamu pakai? Yah, kurang lebih seperti itu yang aku pikirkan saat ini,” ucapku. Seketika Maya langsung mengubah raut wajahnya, seolah dia benar-benar jijik padaku.

“Kalau itu yang kamu katakan ke Luna, aku sendiri yang akan menuntutmu ke polisi!!! Kamu itu mirip penguntit atau om-om gatal di tempat umum!!” timpal Maya dengan bentakan yang terdengar seperti ancaman serius.

...Haaah~ aku sudah tidak memahami lagi bagaimana cara berkenalan dengan orang baru yang baik dan benar...

“Lupakan soal Luna, aku enggak mau menjadikan dia batu loncatan buat mencari teman. Aku bakal merasa enggak enak sama dia. Terus, kehidupan sekolahku bakal makin hancur kalau sampai dia membenciku,” tegasku menolak ide gila Maya. Tidak lama kemudian, aku mendengar Maya menghela napas berat sebelum menanggapi penolakanku.

“Luna itu anak yang baik hati. Kalau sampai dia membencimu, aku yakin seratus persen itu adalah kesalahanmu,” timpalnya. Aku pun mengangguk beberapa kali, menyetujui perkataannya.

“Setuju,” kataku tegas.

“Hmm ... laki-laki di kelas 1-A, ya? Kalau enggak salah ada Reza dari klub basket, kan? Bukannya nanti di kelas tiga kita akan jadi teman sekelas?” tanya Maya.

Aku melipat kedua tangan sambil menatap langit-langit, mencoba mengingat siapa Reza yang dimaksud oleh Maya.

Setelah lama berpikir, aku langsung teringat pada anak yang memperkenalkan diri saat MPLS dengan mengatakan bahwa dia baru saja menginjak eek kucing saat perjalanan menuju ke sekolah. Eek kucing yang terinjak itulah yang membuatku yakin kalau aku benar-benar diseret kembali ke masa tiga tahun lalu gara-gara sebuah kecelakaan.

“Buat apa aku mengingat kenangan saat kelas tiga? Lagian, kayaknya memang ada anak laki-laki bernama Reza di kelasku. Orangnya berisik dan menyebalkan,” jawabku lalu kembali menatap Maya.

“Apa maksudnya berisik dan menyebalkan?” tanya Maya, mencoba memastikan label yang aku sematkan kepada Reza.

“Aku enggak bisa berurusan dengan orang ektrovert itu. Frekuensi bicaraku dan dia bagai bumi dan langit,” jawabku sambil menghela napas. Aku sudah cukup lelah dengan semua paksaan Maya padaku.

“Ya lagian siapa juga yang bisa menjadi bumi dalam hal komunikasi sepertimu di sekolah,” timpal Maya dengan nada kesal sekaligus menyindir.

“Pokoknya aku lebih baik menggigit lidahku sendiri sampai putus daripada harus mengobrol sama dia!” ucapku dengan ekspresi wajah seolah-olah aku benar-benar akan melakukannya kalau Maya sampai memaksaku akrab dengan Reza.

“Sampai senekat itu?!!!” bentak Maya terdengar sangat kesal padaku. Aku hanya mengangguk beberapa kali untuk menjawab pertanyaannya.

“Ya sudah, ya sudah!!! Gimana kalau sama Wisnu? Dia sekelas sama kita pas kelas dua, dia juga seorang wibu sama kayak kamu. Harusnya kamu bisa akrab, kan, sama orang seperti itu?” Maya masih tidak menyerah untuk memilihkan aku seorang teman. Aku kembali berpikir dan mengingat nama orang yang Maya sebut.

“Seingatku memang dulu aku pernah bicara padanya. Hobi kita juga hampir sama,” jawabku. Tiba-tiba Maya menggebrak meja lalu menunjukku.

“Nah, benar, kan? Kenapa enggak mulai dari ngobrol sama dia?” tanya Maya dengan tekanan, seolah-olah dia sudah menemukan orang yang tepat untuk kujadikan teman. Tapi, Maya melupakan satu hal penting ketika itu.

“Tidak!” tegasku. Maya pun tersentak, hal yang langsung aku tahu dari raut wajahnya yang ekspresif.

“Orang itu penggemar genre isekai, sedangkan aku suka genre romantis komedi modern. Begitu juga dengan orang-orang yang bergaul sama Wisnu. Aku tidak akan pernah cocok berada di lingkaran mereka,” jelasku tentang mengapa Wisnu adalah jalan buntu untuk dijadikan teman. Maya menatapku dengan heran dan kebingungan.

“Bukannya sama saja, ya? Itu tetap sebuah anime, manga, dan novel, kan?” tanya Maya bingung. Aku menggoyangkan jariku di depannya, menandakan bahwa pemikirannya yang polos itu salah besar mengenai dunia per-wibu-an.

“Tidak semua wibu itu bisa jadi satu kelompok, tahu? Kami dibagi menjadi beberapa jenis wibu. Jadi ...,” Belum selesai aku berkata, Maya langsung memotong kalimatku.

“Enggak usah dijelaskan, aku enggak butuh penjelasanmu!!” bentaknya. Aku pun langsung berhenti bicara karena kaget mendapat bentakan tiba-tiba itu.

Setelah bentakan itu, kami saling terdiam. Maya masih terlihat berpikir keras sambil meminum teh di dalam gelas menggunakan sedotan. Matanya menatap ke arah jendela luar kafe. Aku pun akhirnya tertarik untuk menatap keluar jendela juga, dan mendapati hari sudah semakin gelap.

Senja di kafe ... aku tidak menyangka di kehidupan SMA (Sekolah Menengah Atas)-ku yang kedua, aku akan mengalami hal seperti ini. Bahkan, aku rasa ini adalah yang terbaik karena aku sedang menikmatinya bersama sang bintang utama di sekolahku.

Di saat bersamaan, aku jadi benar-benar ke pikiran ide Maya tentang berteman dengan Wisnu. Bagiku, mempunyai teman dengan hobi yang sama itu pasti akan jauh lebih menyenangkan daripada aku harus menikmati hobi itu sendiri. Tapi berteman di lingkaran Wisnu itu mustahil jika melihat pengalamanku di kehidupan sebelumnya. Grup Wisnu itu dipenuhi dengan orang-orang elite dan tekanan teman sebaya (peer pressure).

Seingatku, mereka itu selalu mengikuti anime-anime populer yang sedang hit meski berbeda-beda genre. Jika aku mengatakan tidak menonton karena tidak menyukai genre atau alur ceritanya, Wisnu dan kelompoknya akan menertawaiku. Bahkan Wisnu sampai akan mengucapkan kata, “Serius nih? Itu yang lagi ramai di season ini, tahu? Orang yang enggak nonton itu enggak punya hak untuk mengaku sebagai seorang wibu.” Aku tidak mengerti kenapa mereka bisa berpikiran aneh seperti itu.

Lebih dari itu, jauh di dalam lubuk hati, aku ini tidak mau menjadi seorang wibu. Aku cuma menyukai anime, manga, dan novel hanya karena aku adalah seorang serigala penyendiri; itu satu-satunya caraku untuk lari dari kenyataan. Aku tidak bisa berurusan dengan mereka lagi. Aku sudah tahu akan bagaimana hubunganku dengan mereka pada akhirnya.

“Pokoknya aku enggak mau berurusan sama Wisnu dan antek-anteknya, lebih baik aku gantung diri saja!” tegasku.

Keheningan di antara kami kembali pecah. Aku dan Maya saling tatap, namun kali ini dia hanya diam sambil menghela napas berat.

“Ya sudah, balik saja ke rencana awal dan ngobrol sama Luna sana. Semoga beruntung, ya,” timpal Maya terdengar pasrah.

“Oke, serahkan padaku!” dengan percaya diri aku mengucapkannya.

Seketika aku tersadar telah mengucapkan kalimat yang salah ... Belum juga aku mau meluruskan kalimat tadi, tiba-tiba Maya langsung menimpalinya.

“Lalu kamu mau ke mana? Rasanya kalau aku enggak memotong jalur ka ... enggak membuat rencana matang, kamu akan menunda-nunda rencana ini,” celetuknya menimpali perkataanku sebelumnya. Pakai acara menutupi niat busuknya pula!

“Kamu tadi mau bilang ‘memotong jalur kaburku’, kan?” tanyaku kesal. Dia benar-benar tidak ingin aku mengabaikan rencananya.

“Hal baik enggak bagus buat ditunda-tunda, sebaiknya kamu ngobrol dengannya besok. Setelahnya, kita akan diskusi tentang apakah rencana ini berjalan dengan baik atau tidak,” ucap Maya mengalihkan pembicaraan. Senyumnya juga terangkat dan dia sepertinya sudah tidak sabar menunggu hari berganti.

“Terserah lah, kalau aku harus ngobrol dengannya maka waktu yang paling tepat adalah ketika jam istirahat sekolah,” ucapku.

...Tiba-tiba Maya menyeringai. Aku sampai terdiam untuk menatap dan mencoba menerka-nerka arti senyum licik yang dia tampakkan padaku...

“Wah ~ pemberani banget ya ...,” ucap Maya terdengar seperti gumaman, namun aku bisa mendengarnya dengan jelas.

“Hah? Apa maksudnya?” tanyaku keheranan dan di saat bersamaan bulu kudukku berdiri ... seperti ada sesuatu yang menakutkan sedang mengintai.

“Bukan apa-apa~ enggak ada masalah selama kamu setuju. Kita lihat besok saat jam istirahat sekolah, ya. Nanti aku akan lihat dari depan kelasmu untuk memeriksa keadaan,” jawabnya tenang dan datar, namun senyum menyeringai itu membuatku ke pikiran.

Setelah menghabiskan minuman dan makanan kami, aku dan Maya berpisah di depan kafe itu. Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku terus memikirkan kenapa Maya tersenyum aneh seperti itu. Kayaknya aku melewatkan sesuatu yang penting yang membuatnya bisa mengerjaiku lebih kejam daripada yang seharusnya. Apa yang aku lewatkan? Kenapa dia tersenyum seperti itu? Apa malam ini aku bisa tidur?!! Ooh sial, apa yang harus aku lakukan?!! Seseorang, tolong selamatkan aku dari cewek gila itu!!!

1
Chizuru
cekatan sama pesimis beda tipis gak sih 🤣🤣🤣🤣🤣
SS Star
tuh kan Raka!!! /Sob//Sob/ hasil dari suicide mission lo buat nyelametin orang malah bikin lo berakhir jadi public enemy dibenci satu sekolah, iih kzl!! /Sob//Sob//Sob/ elma juga napa diem bae, gak sadar apa ya kalau dia baru aja bikin raka dapet villain role sewilayah sekolah? gw sekarang literally jadi paham banget gimana perasaan maya, instinct buat nampol raka tuh emang sekuat itu rasanya /Sob//Sob//Brokenheart/
SS Star
iih lowkey kzl bet sama raka!!! /Sob//Sob/ kek gak ada cara buat save elma yang lebih gentle apa ya? /Sob//Sob/ meskipun gw kagum sih dia masih care dan mau bantu elma biar kejadian drop out itu gak keulang, tapi ya mikir dikit kek. minimal cari cara yang lebih cool dan berestetika gito loh/Sob//Sob/ rakaaa!!!
Cece
tragis bgt 🤣.. udahlah reinkarnasi Krn Maya...masih di bully habis2an SMA mayaaa....🤣🤣
You Know me So well
sadizz coeg 🤣🤣
i'm your
ampun dah, kesian bet sama raka/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
Fatieh
tutup MBG, biarkan Maya dan Elma yang memasak 🔥🔥🔥
Raudhatul
elma gak enakan orangnya🤣🤣🤣
Chizuru
mayaa badash🤭🤭🤣
BiNtAnG kEjOrA
lanjutkan Maya...jangan berhenti😄😄😄😄
H5 (halima) :v
Maya sadiiiissss 🤣🤣🤣
i'm your
wkwkwk kesian amat
You Know me So well
ya ya ya bangga aja udah gpp 🗿🗿
Silvia: ayo Qt beri tepukan...😄
total 2 replies
SS Star
sari apaan sih, fix kesel banget sama nih orang /Panic//Panic//Panic/ keliatan banget kalah saing sama elma sampai harus playing dirty buat jatuhin dia /Panic//Panic/ tapi jujurly gw penasaran banget sih sama next move yang bakal raka lakuin buat mutar roda kenangan dia, lagian maya udah meremehkan raka banget ya, tapi aku kalau jadi maya sama aja sih responnya /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ which is emang bener sih raka tuh keliatan useless banget dan gak guna sama sekali jadi manusia /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
SS Star
udah baca sejauh ini dan gw dapet konklusi: Raka emang takdirnya buat ditampol massal /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ Elma, Maya, sekarang Sari, semuanya punya insting yang sama buat ngeplak si raka/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tapi jujurly alurnya makin seru pas masuk ke misteri hilangnya memory kehidupan pertama dia, fix ini sih topik yang bakal seru banget buat diexplore ke depannya, semngat Thorku /Determined//Determined//Determined/
SS Star
eh ko tumben ch ini agak deep, tapi seru sih jadinya gak bercanda mulu /Facepalm//Facepalm/ agak mempertanyakan kok raka bisa lupa sama Elma padahal teman sekelas, padahal diawal dia kyk dapet flashback sama kehidupan pertamanya gitu kan /Shy//Shy//Shy//Shy/ tapi ttp ya, point minusnya itu elma gak nampol raka ditempat /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ padahal aku menantikan itu loo thor, sepanjang ch ini raka pure bikin emosi jiwa /Facepalm//Facepalm/
pie gemilang
jangan berharap banyak Raka...sepertinya kamu akan mendengar kalimat itu setiap saat!🤣💪
Kerak Telor
🤣🤣🤣terjebak situasi apa lagi Raka ini?😄😄
Cece: kaga ada yg bener cara Raka ketemu cewek 🤣
total 1 replies
Kenzie
elma suka raka?? hmm.. maya terus gimana thor??
4rafah: Maya SMA Elma berantemin aja.🤣🤣🤣
total 2 replies
pie gemilang
go ahead maya🤣🤣🤣💪💪💪...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!