Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.
Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.
Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.
Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**
Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKIN BERANI
Hari-hari berikutnya, dari luar, semuanya terlihat sama.
Adi Pratama tetaplah sosok yang mereka kenal: dosen muda yang tegak, bicara dengan presisi bedah, dan memiliki tatapan yang sanggup menguliti kepercayaan diri mahasiswa paling pintar sekalipun. Mahasiswa lain masih menganggapnya "Algojo Kampus" yang perfeksionis, sulit ditebak, dan mungkin tidak memiliki jantung di balik kemeja mahalnya.
Namun bagi Ana, realitas itu telah terbelah.
Perubahan itu terasa setiap kali mata mereka bertemu di tengah keramaian. Ada sebuah kode yang tidak tertulis, sebuah getaran frekuensi yang hanya mampu ditangkap oleh radar mereka berdua. Dunia mereka kini memiliki lapisan rahasia, sebuah dimensi di mana jabatan dosen dan status mahasiswa melebur menjadi sesuatu yang jauh lebih purba.
Meski begitu, Ana sendiri kerap dilanda kebingungan. Hubungan ini sebenarnya apa? Mereka seperti dua remaja yang sedang kasmaran dalam bayang-bayang, menyimpan api di balik tumpukan jurnal ilmiah. Namun, perasaan itu masih liar, belum berani mereka beri nama, apalagi mereka deklarasikan.
*
Siang itu Adi sedang berjalan di antara barisan meja sambil menjelaskan materi di kelas. Tangannya memegang spidol, sesekali menulis di papan, lalu kembali berjalan perlahan di antara mahasiswa yang sedang berdiskusi.
Seperti biasa Ana duduk di barisan tengah, posisi favoritnya. Namun kali ini, ia memilih duduk tepat di sisi ujung yang berbatasan langsung dengan aisle—jalan setapak di tengah kelas yang sering dilewati dosen saat menjelaskan materi.
Ia mencoba fokus pada catatannya. Meskipun ia sadar—Adi beberapa kali menatap ke arahnya lebih lama dari biasanya. Tatapan itu tidak lagi sekadar tatapan dosen yang sedang mengecek mahasiswa.
Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat perut Ana terasa sedikit… bergejolak.
Adi berhenti tepat di samping meja Ana. Aroma parfumnya—campuran antara sandalwood yang hangat, aroma bersih maskulin, dan sedikit wangi kertas lama—langsung menyerbu indra penciuman Ana. Itu adalah aroma yang sangat mengganggu, jenis aroma yang membuat seseorang ingin memejamkan mata dan menghirupnya lebih dalam.
"Ana," suara Adi rendah, hampir seperti bisikan namun cukup jelas untuk memecah lamunan.
Ana mengangkat wajah.
“Iya, Pak?”
Adi sedikit mencondongkan badan ke meja, melihat catatan di buku Ana. “Pendapat kamu tentang bagian ini?”
Ana mulai menjelaskan. Namun posisi Adi sekarang berdiri menjadi semakin dekat di sampingnya. Terlalu dekat untuk ukuran diskusi kelas biasa. Ketika Adi menunjuk salah satu kalimat di bukunya—punggung tangan mereka bersentuhan.
Sekilas. Sangat ringan.
Seolah tidak sengaja.
Tapi Ana langsung sadar. Ia berhenti satu detik. Adi menatapnya. “Lanjut.”
Nada suaranya datar seperti biasa, namun sudut bibirnya sedikit terangkat. Ana melanjutkan penjelasannya. Tetap tenang. Tetap terlihat santai, walaupun di dalam dadanya ada sensasi hangat yang sulit diabaikan. Ketika Adi akhirnya berdiri tegak lagi dan berjalan menjauh, Ana menunduk kembali ke bukunya.
Bibirnya hampir membentuk senyum kecil.
Dasar siKillersialan. Nakal juga ternyata…
Hal kecil seperti itu terjadi beberapa kali selama kelas.
Tatapan yang sedikit terlalu lama.
Jarak yang sedikit terlalu dekat.
Sentuhan ringan yang hampir tak terlihat orang lain.
Ana tahu persis apa yang sedang dimainkan Adi. Dan anehnya— ia tidak menolak.
Namun ia juga tidak pernah memberi tanda yang terlalu jelas. Ia tetap playing cool. Atau setidaknya mencoba seperti itu. Ana mencoba menjawab dengan tenang seperti biasa. Berdebat seperti biasa. Seolah semuanya hanya kebetulan.
Tanpa Ana tau. Sikap itu justru membuat Adi semakin gemas. Dan hari itu, setelah kelas selesai, Ana menerima pesan dari Adi. Singkat seperti biasa.
Sore ini ke perpus ya. Kita lanjut revisi.
Ana membaca pesan itu sambil tersenyum kecil. Ia tahu alasan itu hanya setengah benar. Namun ia tetap datang.
*
Perpustakaan di rumah Adi terasa tenang sore itu. Lampu-lampu hangat menyinari rak buku tinggi yang memenuhi ruangan. Ana duduk di meja kayu panjang sambil membuka laptopnya. Adi berdiri di belakang kursinya, membaca revisi yang baru saja ia kirim.
“Ini lebih rapi,” kata Adi akhirnya.
Ana menoleh sedikit. “Pujiannya sedikit sekali.”
Adi tersenyum tipis. “Karena kamu masih bisa lebih baik.”
Ana memutar kursinya menghadap Adi. “Mas ini benar-benar nggak bisa santai ya.”
Adi menatapnya beberapa detik. Tatapan yang mulai terasa terlalu lama untuk sekadar percakapan akademik. Ana menyadari perubahan itu. Dan untuk pertama kalinya hari itu— ia tidak memalingkan wajahnya.
“Kenapa?” tanya Ana pelan.
Adi melangkah sedikit lebih dekat. “Kenapa apa?”
“Mas lihat aku kayak gitu.”
Adi tidak menjawab. Ia hanya berdiri beberapa langkah dari Ana. Jarak yang perlahan terasa semakin sempit. Ana berdiri dari kursinya. Sekarang mereka benar-benar berhadapan. Tidak ada meja lagi yang menghalangi mereka mereka.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Ketegangan yang dulu hanya terasa dalam debat kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih hangat. Ana mengangkat alis kecil. “Mas panggil aku ke sini cuma buat lihat revisi?”
Adi tersenyum tipis. “Awalnya begitu.”
Ana mendekat satu langkah. “Sekarang?”
Adi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih tangan Ana dan menariknya sedikit lebih dekat.
Kali ini Ana tidak terkejut. Ia sudah menduga. Dan ketika Adi akhirnya mencium bibirnya lagi— Ana langsung membalas.
Ciuman kali ini tidak canggung seperti yang pertama. Tidak ragu. Ada kehangatan yang langsung mengalir di antara mereka. Ana mencengkeram ringan kemeja Adi.
Sementara Adi memeluknya lebih dekat. Tangannya sempat naik, memeluk punggung Ana, lalu tanpa sadar meraih sisi tubuhnya dengan lebih erat. Ciuman itu semakin dalam. Beberapa detik yang terasa panjang. Hingga akhirnya tangan Adi sempat naik dan meremas lembut dada Ana melalui kain bajunya.
"Emhhh...." satu desahan lepas dari mulut Ana, yang sedetik kemudian ia sesali.
Pipi Ana memerah, menahan malu, tapi ia tidak menjauh. Napas mereka mulai tidak teratur. Namun tiba-tiba Adi berhenti. Ia menarik diri perlahan. Napasnya masih berat. Ana menatapnya bingung. “Kenapa berhenti?”
Adi mengusap wajahnya sebentar, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tatapannya kembali serius. “Kita harus berhenti di sini.”
Ana mengangkat alis. “Kenapa?”
Adi menatapnya lama. “Kamu tahu kenapa.”
Ana terdiam sebentar. Adi melanjutkan dengan suara rendah, “Saya tidak mau merusak kamu.”
Ana menatapnya tanpa berkedip. “Mas…”
Adi menggeleng pelan. “Dan saya juga tidak mau merusak posisi kita.”
Beberapa detik mereka hanya berdiri saling menatap. Napas mereka masih belum sepenuhnya tenang. Ana akhirnya tersenyum kecil. Ada sedikit godaan di matanya.
“Padahal baru mulai.”
Adi hampir tertawa kecil. Ia menggeleng. “Kamu bener-bener ya....berbahaya.”
Ana mengambil tasnya dari meja. Sebelum pergi, ia menatap Adi sekali lagi. “Besok aku kirim revisi lagi.”
Adi mengangguk. Ana berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar ia menoleh sedikit. Senyumnya tipis. “Nanti jangan terlalu kangen ya....”
Pintu perpustakaan tertutup pelan. Adi berdiri di tengah ruangan yang kembali sunyi. Ia menghembuskan napas panjang. Karena ia tahu satu hal—hubungan ini baru saja masuk ke wilayah yang jauh lebih rumit.
- - -
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
lanjut kak....🤭🙏👍