NovelToon NovelToon
Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Istana/Kuno / Aliansi Pernikahan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mom young

Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.

Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...

Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter~16 Meluluhkan hati baja sang Raja

Setiap sorak sorai bergema memenuhi pendopo, Layla masih diam. Air matanya jatuh satu-persatu membasahi kebaya putih gading yang ia kenakan. Di dalam hatinya, doa yang tadi pagi hanya bisikan sunyi, kini menjadi kenyataan yang nyata. Dewi Laksmi seolah mendengar setiap kata yang ia ucapkan di depan tempat sembahyang tadi siang. Menginjak kembali tanah Candra... bukan lagi sekadar harapan kosong, melainkan perjalanan yang akan ia tempuh kurang dari sehari lagi.

Ia mengangkat wajah perlahan, menatap Raja Gustaf yang masih berdiri tegak di tengah ruangan. Mata mereka bertemu lagi. Kali ini bukan tatapan curiga atau tanya-tanya, tapi tatapan yang penuh pengakuan. Gustaf tidak lagi memandangnya sebagai putri musuh atau ancaman bagi kerajaannya. Di mata raja itu, Layla kini adalah jembatan perdamaian, satu-satunya orang yang mampu melunakkan hati sekeras baja yang dimilikinya selama 15 tahun memerintah dengan pedang.

“Terima kasih, Baginda,” ucap Layla pelan, suaranya bergetar namun jelas terdengar. Ia menundukkan kepala sebagai tanda hormat. “Hamba tidak melakukan ini untuk penghargaan atau kemuliaan. Hanya agar tidak ada lagi darah yang tumpah, tidak ada lagi anak yang kehilangan ayah, atau ibu yang menangisi putranya. Jika kedamaian ini tercapai, itu sudah cukup bagi hamba.” kata Layla, suara hatinya mengatakan kalau Raja Gustaf tidak sekejam yang ia kira.

Gustaf mengangguk pelan, lalu kembali melangkah ke singgasananya. Ia duduk kembali, namun auranya kini berbeda. Tidak lagi kaku dan berwibawa semata, tapi terasa lebih ringan, seolah beban berat selama satu setengah dekade baru saja diangkat dari bahunya.

“Maka keputusan sudah bulat,” ujar Gustaf tegas kepada seisi ruangan. “Besok pagi, sebelum matahari meninggi, distribusi makanan dan koin emas akan dibagikan di seluruh penjuru kota. Biar rakyat tahu, kemakmuran bukan didapat dari perang, tapi dari kebijaksanaan. Dan sore harinya, rombongan istana akan berangkat menuju Kerajaan Candra. Aku akan berjalan sebagai menantu yang meminta maaf, dan Layla akan berjalan sebagai duta perdamaian kami.”

Tepuk tangan dan sorakan kembali terdengar, lebih riuh dari sebelumnya. Para penasehat mengangguk setuju, sementara Panglima Wijaksa yang tadi mengepalkan tangan kini melemaska genggamannya. Di matanya, terbersit rasa hormat yang baru tumbuh terhadap wanita yang tadinya dianggap orang asing ini.

Namun, di sudut lain pendopo, suasana hati sangat berbeda.

Ratu Anaya, yang duduk di sisi kiri Layla, menyunggingkan senyum yang sangat tipis dan terpaksa. Di balik wajah ramahnya, hatinya panas membara. Ia adalah ratu kedua, yang sudah bertahun-tahun berusaha menarik perhatian Gustaf, berusaha menjadi yang terpenting di mata raja. Tapi kini, wanita yang baru datang dua hari saja justru menduduki posisi tertinggi, dielu-elukan, dan dijadikan lambang kerajaan.

"Begitu mudahnya posisi ini berubah," batin Anaya, tangannya meremas kain selendang sutranya yang berwarna merah delima. "Dulu aku yang selalu dipanggil mendampingi, dulu aku yang diberi hadiah tanah dan permata. Sekarang? Semua mata hanya tertuju pada kain putih lusuh itu."

Sementara itu, di sisi kanan, Ratu Yasmin masih diam. Senyum sinis yang tersungging di bibirnya makin lebar, namun matanya memancarkan api kecemburuan yang sulit disembunyikan. Kata-kata Ibu Ratu tadi pagi—"Kau berharga karena kau bertahan"—berputar terus di kepalanya, tapi maknanya berubah menjadi racun.

Bertahan? batin Yasmin makin gelap. Aku bertahan sepuluh tahun. Aku bersolek berjam-jam demi sepuluh menit bersamanya. Aku belajar tata krama, belajar cara bicara yang ia suka, belajar apa yang membuatnya senang. Dan dia? Dia hanya datang, diam, berdoa, lalu tiba-tiba menjadi Ratu Segalanya?

Ia menatap punggung Layla yang dipeluk erat oleh Ibu Ratu. Pelukan yang hangat, tulus, dan penuh kasih sayang—hal yang hampir tak pernah Yasmin rasakan, bahkan dari ibu ratu sendiri.

"Selalu saja dia yang diistimewakan," bisik Yasmin pelan, hampir tak terdengar. "Dari awal kedatangannya, Yang Mulia Raja selalu mencari alasan untuk mendekatinya. Ibu Ratu yang biasanya dingin, kini memeluknya seperti anak sendiri. Rakyat pun bersorak untuknya. Apa bedanya kami? Apakah karena dia berasal dari Candra? Apakah karena dia berani mati?"

Yasmin mengusap dadanya yang terasa sesak, rasa malu yang tadi ia rasakan kini lenyap sepenuhnya, berganti menjadi rasa benci yang tumbuh subur. Rasa ingin berubah yang sempat terlintas sekejap tadi, lenyap tertiup angin kecemburuan.

"Jika dia terus bersinar begini, aku takkan pernah lagi terlihat," pikir Yasmin dengan tajam. "Besok dia akan pergi ke Candra sebagai pemenang. Dia akan pulang dengan kepala tegak, membawa nama besar Jaya Wijaya. Dia akan semakin dicintai Raja, semakin dipuja rakyat... dan aku? Aku hanya akan menjadi bayangan di sudut istana ini, yang semakin lama semakin pudar."

Ia mengangkat wajah, menatap Layla yang kini sedang berbicara pelan dengan Ibu Ratu, matanya berbinar bahagia. Senyum Yasmin makin sinis.

"Nikmati saja kemenanganmu hari ini, Layla," gumamnya dalam hati. "Perjalanan ke Candra itu masih panjang. Dan ingatlah... di istana ini, tidak ada kemuliaan yang abadi tanpa ada yang dikorbankan. Jika kau pikir keberanian dan doa saja cukup untuk bertahan hidup di sini... kau salah besar. Karena mulai hari ini, aku tidak lagi akan membiarkanmu mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku." gumam Ratu Yasmin sinis.

Genta tembaga kembali berdentang, menandakan sidang pengadilan usai. Semua orang mulai beranjak keluar, membicarakan berita gembira ini dengan riuh rendah. Layla berjalan diapit oleh Ibu Ratu dan Pangeran Serasa, dikelilingi penghormatan yang tinggi.

Namun, di belakang kerumunan, Ratu Yasmin berdiri diam. Ia membiarkan mereka berlalu lebih dulu. Di balik senyum manis yang ia tampilkan kepada semua orang, ia sudah menyusun rencana kecil di dalam kepalanya. Rasa iri itu bukan lagi sekadar perasaan, tapi sudah berubah menjadi niat yang diam-diam bersiap meledak.

Di kejauhan, Raja Gustaf menatap kepergian Layla dengan pandangan kagum. Ia belum sadar, bahwa damai yang baru saja ia wujudkan di luar istana, justru sedang diancam oleh badai yang sedang tumbuh subur di dalam dinding istananya sendiri.

__

Malam harinya Layla memberanikan diri mendatangi kamar Raja Gustaf. Tapi bukan untuk kembali beradu argumen, melainkan ia datang untuk berterima kasih, karena Raja Gustaf besok akan mengajaknya ke Candra.

"Selamat malam, Yang Mulia." Layla menunduk hormat saat sudah sampai di hadapan Raja Jaya Wijaya itu.

"Apa yang membawamu datang menemuiku, malam-malam seperti ini?" Raja Gustaf berbicara sambil memunggungi Layla, namun ia tahu kalau itu. Adalah Layla yang datang.

"A-ku..." Layla terbata, ia begitu gugup ingin mengatakan terima kasih, pada Raja Gustaf, karena ia masih ingat dengan hatinya yang kecewa oleh aliansi pernikahan ini.

1
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ di usir bocah
Seroja_layu: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
dasar memang sifat lu itu ....susah kasih tahu lalat jika bunga lebih wangi di banding sampah 🤧🤧🤧
vj'z tri
selamattt 🫣🫣🫣🫣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 masa langsung kebuka kartu lu
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 salah cari lawan Mpok
vj'z tri
samperin say 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hayolah keluarkan insting detektif mu 🤧🤧🤧
vj'z tri
maka nya kenalan Mpok kalau gak kenal 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
hadeuhhhh para lampir mulai bergosip ria 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
kerennnnnn🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
yakin amat mas bro ,kaya nya nanti lu yang tunduk 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
mau kesel ,tapi semua itu benar 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hadeuh 🤧🤧🤧kan juga gegara u nyerang tadi malam neng 🤧🤧
FiaNasa
akankah Laila bisa mewujudkan dendamnya pada guztaf
vj'z tri
yang kemarin itu di hapus ta ?
Blueberry Solenne
iya tapi tindakannya terlalu kejam
Blueberry Solenne
Dasar ibl!$ serakah ya
Blueberry Solenne
wah sekeluarga di sandera, kejam juga tu raja Gustaf
Blueberry Solenne: Heheh takut kena sensor,
total 2 replies
Blueberry Solenne
Ya Tuhan serem amat isinya kelapa orang (takut di hide jadi di plesetin)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!