Kisah seorang anak perempuan terakhir yang hidupnya selalu di tentukan oleh orang tuanya,dan tidak di beri kesempatan untuk memilih untuk hidupnya.
hingga akhirnya ia pergi dari rumah, dan bertemu dengan seseorang yang mampu untuk ia jadikan rumah dan tempat bersandar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUSB 16
" Abangggg"
Teriakan Nina yang begitu menggelegar membuat Haris dan juga Kelvin menoleh ke arahnya, Nina tampak jalan sedikit pincang.
"kenapa abang enggak bangunin Nina? abang juga bilang ke Kak Anin dan yang lainnya jangan bangunin Nina, jadinya kan Nina telat bang " omel Nina pada Haris.
" Tadi abang udah bangunin kamu yaa... terus abang pegang badan kamu agak anget yaaa.... sudah Abang gak jadi bangunin kamu, Kaki kamu kenapa?"sahur Haris.
" Sejak kapan abang suruh Nina enggak masuk kerja, padahal badan Nina cuma anget dulu, kalau Nina Belum masuk rumah sakit, Nina masih tuh di suruh jaga toko" sahut Nina.
"ada apa ini?" tanya Raynar yang memang baru saja datang bersama dengan Zeyya.
"Ini loh Ray, dia tuh badannya anget terus gue kesini minta tolong izinin dia ke HRD sama temannya ini, kebetulan dia di bawah, ehh tiba- tiba aja nongol anaknya, mana jalan pincang lagi" sahut Haris.
" Kamu sakit kenapa masuk?" tanya Raynar pada Nina.
" enggak kok pak,enggak sakit " sahut Nina.
" terus kenapa pincang?" kini Zeyya yang bertanya.
" Tadi tabrak dari belakang sama orang, pas di jalan, emang enggak jatuh sih tapi kakinya Tadi buat nahan biar enggak jadi, kayaknya terkilir dech" jawab Nina menceritakan kejadian yang ia alami Tadi.
Terlihat wajah panik dari ketiga pria yang berada di dekat Nina tersebut, Raynar yang memilih tetap stay cool dan Kelvin yang khawatir namun takut bertanya karena ada Haris.
Sedangkan Haris yang panik, memeriksa sang adik " mana yang sakit nduk?" tanya Haris memutar tubuh adiknya.
" Bang sakit kakinya" pekik Zeyya yang melihat Nina kesakitan.
" oh ya lupa, duduk dulu kalau gitu,biar abang cek" ujar Haris membantu sang adik untuk duduk.
Raynar dengan cepat meminta kotak P3k pada asisten nya, namun masih dengan nada sedikit datar, sedangkan Kelvin di minta kembali oleh Raynar.
"bengkak nduk" ujar Haris kala melihat kaki sang adik.
Namun saat ingin mengobatinya, ponsel Haris berdering, telfon dari asistennya.
" Halo Ram...."
" ........"
" enggak bisa di tunda dulu ram? saya masih di tower Kastara "
" ........"
" okey... saya balik ke kantor sekarang"
Haris kemudian menutup telfon, dan berdiri.
" Nduk,tak anter pulang dulu yuk... abang mau ke kantor ada meeting nih" ujar Haris.
" Enak aja pulang, aku dah sampai kantor yaa.. abang ke kantor aja, aku juga ada kerjaan banyak" sahut Nina.
" Tapi kamu sakit loh"
" Abang lupa, gerd aku kambuh aja masih bisa ngangkat karung beras, ini cuma anget doang, paling juga mau flu doang" sahut Nina, mengingat dulu ia pernah mengalami gerd namun saat mengeluh pada ibu nya, ibu nya tetap menyuruh ia menjaga warung dan mengangkat beras kala itu stok beras baru saja datang, kata ibunya ia tidak boleh manja.
" Tapi kan kaki kamu......"
" Udah balik cuma gini doang, katanya enggak boleh manja, masih bisa selama belum masuk rumah sakitkan,enggak boleh ngeluh nanti di kira cuma alesan" potong Nina yang membuat dada Haris sedikit sesak.
Haris mengingat perilakunya dulu pada sang adik yang terlalu keras, dan kesannya seperti memaksa sang adik, harus serba bisa.
Dulu Nina adalah anak yang manja dan selalu apa- apa harus di turuti, namun semakin dewasa Nina terus membrontak perintah kedua orang tuanya, padahal apapun yang Nina minta selalu ia turuti.
Dari Ponsel keluaran terbaru selalu ia beli untuk Nina, mobil, baju dan tas- tas branded, hingga akhirnya ia sadar yang Nina butuhkan bukan itu semua, namun waktu dan tempat untuk menampung segala apa yang Nina rasa.
Namun kini sang adik sudah menjadi pribadi yang tertutup, jarang bercerita, bahkan sudah ia pancing, Nina lebih memilih diam.
Ada sedikit penyesalan pada diri Haris, ia tidak memiliki waktu untuk adik perempuannya, yang kini ternyata tumbuh di bawah tekanan kedua orang tuanya.
Haris tidak menyalahkan kedua orang tuanya maupun Nina, ia menyalahkan dirinya sendiri karena kurang mengerti dan perhatian pada Nina.
" Beneran gapapa?" tanya Haris kembali setelah melamun.
" Iya santai aja kali " sahut Nina santai.
" Ya sudah Ray, Zey nitip Nina ya... nanti biar motor nya di ambil Pak Pardi, nanti abang jemput kamu, kalau beneran gak kuat telfon Kak Wira,atau Kak Anin kalau enggak Kak Malihah suruh jemput" ujar Haris.
" tenang bang, di jaga adiknya ama kita, apalagi sama Bang Raynar, iya engga bang?" sahut Zeyya.
" Ah... iya bang, tenang saja" sahut Raynar sedikit gugup.
" nduk" panggil Haris pada Nina.
" Iya bawel ah... sana,keburu di tunggu klien " usir Nina.
"Ya sudah Abang pergi, Waalaikumsalam " Pamit Haris kemudian meninggalkann sang Adik.
Nina di bantu jalan oleh Zeyya dan Raynar di belakang mereka, ia membawa tas Zeyya dan juga Nina seperti bodygurad.
Raynar mengantarkan hingga ke rungan Nina, saat tiba di rungan Nina di sambut heboh oleh teman- temannya terutama Kinara dan juga Michelle yang melihat Nina di papah oleh Zeyya.
" Astaga Na... loe gapapa? kenapa jalan loe pincang gitu?" tanya heboh Kinara.
Sedangkan Raynar sibuk memperhatikan Kelvin yang mendekat ke arah Nina dan memberi perhatian.
Zeyya sudah pamit,namun Raynar masih di tempat yang sama seperti awal ia datang, ia masih memperhatikan Nina yang sedang di obati oleh Kelvin, di bantu Kinara dan juga Michelle.
Hatinya terbakar api cemburu melihat perhatian Kelvin pada Nina, dan tatapan Nina pada Kelvin yang terlihat seperti mengagumi Kelvin.
Raynar memelih untuk kembali ke rungannya dan menenangkan diri, ia mengingat tatapan Kelvin ke Nina yang selalu ia perhatikan, dan juga tatapan Nina kepada Kelvin, yang berbeda.
" Gue enggak boleh keduluan sama siapapun, dia harus jadi milik gue "
...****************...
jangan lupa like, komen, follow ,vote dan subrice yaa... readers, kalau mau kasih masukan silahkan komen , bakal author baca dan tampung kok 🥰