Akibat terlalu baik sama seseorang yang tak cukup dekat, membuat ia harus terjebak dengan kisah satu malam yang rumit.
hingga suatu ketika benih itu tumbuh dirahim nya, ia meminta pertanggung jawaban tapi apa yang ia dapatkan.
" gugurkan saja kandunganmu! aku tak akan menikahi mu!" ucap seseorang dengan tegas, rahang otot ny terlihat, mata nya yang lebar tampak melotot.
*****
beberapa tahun kemudian ia bertemu kembali dengan laki-laki itu, tapi ia tampak berbeda, dia berubah, berusaha mendekati anak nya dan diri nya?
lalu gimana kelanjutan nya cusss baca!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkky_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
siapa?
" tuh kan mbk giya dengar sendiri, ini bukan salah aku. Udah aku bilangin juga enggak percaya!" gerutu nya.
" tapi mbk sedikit ganjal sama anak tadi kenapa dia bisa mirip sekali denganmu dek?" alih-alih giya menjawab, ia malah mengahlikan topik nya.
Andito mengangkat kedua bahu nya." aku mana tahu mbk."
Giya menghentikan langkah nya, ia lalu berbalik kebelakang, melihat adik nya dari atas sampai bawah lalu ia mengunci tatapan adik nya." mbk yakin lo,,, kamu kayak ada hubungan sama dia."
" enggak mbk." bantah nya, ia melanjutkan langkah nya hingga melewati sang kakak. " mbk enggak usah berfikir yang aneh-aneh deh." ucap nya sedikit grogi, tangan nya tiba-tiba menggaruk leher nya yang tak gatal.
" ayok mbk, sebentar lagi aku ada jadwal meeting."
giya menganggukan kepala nya, ia berjalan dengan membuntuti adik nya hingga sampai diparkiran.
***
" ibu,,,, siapa om andito itu?" tanya naura saat kedua orang tak dikenal itu sudah pergi.
Lia kaget dengan pertanyaan dari anak nya, ia sedikit terdiam untuk mencari jawabnya. " emmm,,"
sedangkan anak yang bertanya itu sudah antusias mendengar jawaban dari sang ibu. " naura lupa ya, waktu naura terserempet, om andito lah yang bawah naura kesini."
" ohhh, seharus nya tadi aku berucap terima kasih bu, kenapa ibu tak memberi tahu?"
" hah, ibu sudah terima kasih kemarin." ujar nya tersenyum, andito tak boleh mendekat ke anak nya, tak boleh berbicara lebih dalam lagi kepada anak nya, gimana nanti kalau semua rahasia itu terbongkar? Apakah dia sanggup kehilangan anak nya? Apakah ia sanggup hidup tanpa anak nya? Tidak! Ia tak membiarkan itu terjadi!
" tapii.. Naura sendiri juga belum meminta maaf kepada nya bu.." tatapan berubah sendu.
Ia tak akan membiarkan anak nya bertemu kembali dengan andito. " biar ibu yang bicara besok sayang." lia mengelus rambut lurus anak nya dan saat anak nya ingin kembali berucap ia lebih dulu mengganti topik yang lain." besok pagi naura udah boleh pulang loh." ujar nya senang.
Mata bulat dengan bulu mata yang lentik itu berbinar." benar bu, asyikkk bisa main, bisa sekolah ketemu sama teman-teman." ia bersorak ria.
" eehhh tunggu dulu, kalau sekolah masih libur dulu, kita tunggu check up minggu depan." wajah itu kembali bersedih, tatapan bebinar tadi hilang begitu saja.
lia yang paham, memegang punggung tangan anak nya." sayang,,, yang penting kamu sembuh dulu, baru yang lain."
" iyaa bu.." gumam lirih.
**
lampu kuning warm white itu tampak menghiasi ruangan kamar nya, ia melihat jam dinding yabg teryata saat ini sudah pukul 01.00 dini hari.
Andito sering kali menguap, pekerjaan nya baru selesai dini hari, ia bangun dari kursi nya dan bersiap untuk tidur, tapi ia jadi teringat sama anak kecil yang mirip dengan nya naura. iya ia mengerti nama itu saat sang kakak berkenalan dengan nya.
" naura.." ucap nya berulang.
" nama yang cantik, seperti ibu nya.." gumam nya, seketika bayangan-bayangan lia berputar di otak nya.
ia menggambil benda pipi yang berada diatas meja nya, dengan lincah ia mengetik sesuatu diponsel nya, ada senyum tipis yang terbit dibibir nya.
Setelah pesan itu tercentang dua, ia menaruh kembali, melanjutkan rutinitas nya sebelum tidur.
ke esokan nya, andito menuruni setiap anak tangga dengan pelan, didepan mata sudah ada mbk narti~asisten rumah tangga nya.
" pagi pak, sarapan nya sudah siap," ujar nya.
seulas senyum lebar itu terbit, ia lalu melanjutkan turun tangga nya, kemudian duduk dikursi meja makan. Meja ini biasa nya rame berisi beberapa orang, ada obrolan hangat didalam nya, ada juga canda tawa sebentar sebelum melakukan aktifitas nya, tapi saat ini itu semua tinggal kenangan.
Terkadang ia merindukan momen itu, rumah yang cukup besar ini tampak sunyi, tak ada lagi tawa yang mengisi rumah ini, tak ada lagi pertengkaran kecil dari ibu nya, dan tak ada lagi keromantisan kedua orang tua nya, rumah ini berasa hampa, sepi saat mereka pergi satu persatu.
" mam... Pa... Aku rindu." ucap nya lirih.
**
✓+628734777772
Li, gimana kabar nya naura?
dan mulai saat itu aku gk sembarangan deket laki,. kl anakku dah oke baru aku serius tp kl anakku gk suka ya udah gk maksa. krn anak lbih penting Dr apapun.