"Will you marry me?"
Kalimat tersebut ditanyakan seorang anak konglomerat pada Reli di depan mantan kekasih dan sahabat yang sudah mengkhianatinya.
Siapa sangka kalau pertemuan tidak menyenangkan Aurelia Aurita Soejono dengan seorang anak konglomerat anti mainstream, berakhir dengan pernikahan kontrak.
Jarvis Zeza Jayantaka, seorang anak konglomerat yang baru saja kembali dari New Zealand harus menerima rasa sakit hati karena cercaan wanita yang dicintainya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuktikan siapa dirinya.
Sayangnya, tidak semudah itu. Posisi CEO yang seharusnya menjadi miliknya tengah diisi oleh mantan sahabat yang dulu juga pernah menghinanya.
Untuk mendapatkan posisi CEO itu, Jarvis meminta bantuan Reli, menikah kontrak dengannya selama 6 bulan. Pasalnya sang ayah mengajukan syarat tersebut jika dirinya ingin mendapatkan suara di Rapat Umum Pemegang Saham nanti.
Kira² gitulah kurlebnya.
Yok baca kalo minat, kalo ga minat yodah melipir aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACING ALASKA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. RASA YANG BERUBAH
Jarvis duduk berhadapan dengan Frederick di sebuah restoran mewah. Jarvis terus menatap tajam pada pria yang sangat dirinya benci tersebut. Pria yang dulunya adalah sahabatnya.
"Sepertinya lo masih aja membenci gue," ujar Frederick setelah seorang pelayan wanita mengantarkan minuman untuk mereka. "Come on, Vis! Sebelumnya kita ini sahabat bukan?"
Jarvis masih tidak bereaksi, dia masih terus memancarkan tatapan sinar laser pada Frederick. Rasa bencinya pada pria yang duduk dihadapannya saat ini semakin bertambah setelah melihat kabar mengenai Frederick bersama dengan Gina.
"Gue benar-benar minta maaf, sepertinya perkataan gue dulu sangat menyinggung lo," lanjut Frederick.
Jarvis jadi mengingat kembali perkataan Frederick yang mengolok-olok dirinya dulu sesaat sebelum ujian kelulusan. Mantan sahabatnya itu mengatakan kalau Jarvis hanyalah pemuda payah yang selalu mengandalkan orang tuanya, dan tidak pernah melakukan apapun tanpa bantuan kekayaan orang tuanya.
Saat di sekolah, nilai Jarvis memang tidak terlalu bagus dan juga merupakan murid nakal karena sering membolos sekolah. Sedangkan Frederick adalah kebalikannya, dia merupakan murid pintar serta merupakan ketua OSIS sekolah. Mereka berdua bersahabat karena latar belakang keluarga mereka yang sama-sama keluarga konglomerat.
Hingga suatu hari gadis yang disukai oleh Frederick menyatakan cintanya pada Jarvis, dan itu menyulut perpecahan di antara mereka. Di saat yang bersamaan tersiar kabar mengenai desas-desus kalau Jarvis selama ini selalu dibantu Frederick ketika ujian kenaikan kelas, hal itu yang membuat Jarvis selalu naik kelas meski dengan nilai pas-pasan.
Jarvis yang masih merasa hubungannya dengan Frederick tak ada masalah, ingin membantah desas-desus tersebut, namun sayangnya karena rasa cemburu Frederick, bukannya membantah, dia malah memperburuk semuanya dengan mengatakan kalau selama ini Jarvis naik kelas karena keluarga sahabatnya itu menyogok pihak sekolah agar Jarvis naik kelas.
Bahkan di depan wajah Jarvis dan di hadapan teman-teman mereka, Frederick menunjukkan kebenciannya pada Jarvis dengan menghinanya. Frederick mengatakan kalau Jarvis sangat bodoh dan payah, dan hanya mengandalkan uang keluarganya untuk memenuhi apa yang diinginkannya selama ini.
Meski semua tuduhan pada dirinya itu tidak benar, Jarvis tidak mampu berkata apapun karena tentu saja semua orang lebih mempercayai perkataan si murid teladan dari pada dirinya.
Karena perkataan Frederick tersebut lah Jarvis jadi memutuskan untuk melakukan semua hal tanpa uang keluarganya. Itu yang membuat Jarvis pergi ke New Zealand dan tidak melanjutkan pendidikannya. Dia lebih memilih untuk bekerja dan menghidupi dirinya sendiri sambil belajar hal yang merupakan bakatnya.
Sayangnya, tak ada siapapun yang mengetahui hal tersebut selain Dena. Jarvis pun merahasiakan hal itu karena merasa apa yang dilakukannya di New Zealand tidaklah penting, apalagi dia tidak ingin mempermalukan nama besar keluarganya karena selama ini pria itu hanya bekerja di sebuah restoran sebagai juru masak.
"Sepertinya benar lo masih sangat marah pada gue," ujar Frederick karena Jarvis tak menjawab. "Vis, gue dengar kalau saat di New Zealand lo nggak kuliah, ya?"
Jarvis tetap tak menjawab, pria itu meneguk minumannya yang merupakan jus lemon kesukaannya. Dia ingin mendengarkan apa yang hendak Frederick katakan padanya.
"Gue iri sama lo Vis. Gue juga mau nikmatin hidup seperti lo, doing anything yang gue suka but, lo juga tahu kan apa yang terjadi sekarang pada gue?" Ujar Frederick yang terus mengoceh. "Yup, jadi CEO di perusahaan keluarga lo. Pasti semua orang ngerasa aneh sama gue. Banyak orang yang bertanya kenapa gue lebih pilih menjadi CEO di kompetitor perusahaan keluarga gue sendiri. Tapi buat gue ini sangat menantang."
Perkataan Frederick akhirnya hingga sampai tujuannya. Dan Jarvis terus menyimak tanpa mengatakan apapun.
"Saat kita mendapatkan apa yang bukan seharusnya milik kita, rasanya sangat memuaskan. Bukan begitu?"
Jarvis mendengus menanggapi pengakuan Frederick tersebut. Sejak awal Jarvis tahu kalau pria yang dulu adalah sahabatnya itu hanya ingin membalas dendam padanya karena wanita yang dulu disukainya malah menyukai Jarvis.
Jarvis sangat yakin kalau Frederick memilih menjadi CEO di Jayantaka Enterprise dari pada di perusahaan keluarganya sendiri, hanya karena ingin memperlihatkan pada Jarvis kalau Frederick bisa mendapatkan apapun tanpa bantuan kekayaan keluarganya. Tidak, yang lebih tepatnya pria itu ingin mengambil semua hal yang seharusnya merupakan milik Jarvis.
"You don't need to say it, I already know about it," ucap Jarvis dengan tatapan dingin.
Frederick menyunggingkan senyum skeptis-nya menanggapi perkataan Jarvis.
"Dan sepertinya kali ini wanita yang lo suka malah suka pada gue, Vis," ujar Frederick.
Jarvis hanya bisa menahan dirinya untuk tidak bereaksi mendengar ucapan Frederick mengenai Gina.
"So, what are you going to do now?" Tanya Frederick. "Ah, gue dengar lo berniat melengserkan posisi gue dan jadi CEO Jayantaka Enterprise. Apa gue nggak salah dengar?"
Jarvis sudah semakin muak berada di hadapan Frederick saat ini. Ingin segera dirinya melangkah pergi dan tidak memedulikan apapun yang dikatakan pria itu, namun saat ini ada yang lebih penting dari itu.
"Sepertinya mustahil. Ya meskipun itu perusahaan keluarga lo tapi semua pemegang saham tahu gimana kinerja gue. Jadi silakan kalau lo memang berniat merebut posisi itu dari gue. Sejak dulu gue sangat paham mengenai lo. Seberapa kemampuan lo dan gimana lo selalu mudah menyerah saat lo sadar kalau hal itu mustahil buat lo. Jadi gue rasa kali ini pun sepertinya akan begitu juga," cerca Frederick dengan menyunggingkan senyuman merendahkan pada Jarvis. "Dan mengenai Gina, sebaiknya berhenti memimpikan wanita seperti dia."
Jarvis menumpahkan rasa kesalnya saat berada di dalam mobil. Pria itu terus menggeram dengan kemarahan yang besar setelah dirinya terus menahan diri agar tidak lepas kendali pada penghinaan yang dilontarkan Frederick pada dirinya.
Dan sekarang, selain menjadi CEO di Jayantaka Enterprise, Frederick pun ingin merebut Gina. Sejak sekolah dulu pria itu tahu kalau Jarvis menyukai Gina, dan pastinya dia juga bisa menebak tujuan kembalinya Jarvis ke Indonesia karena Gina, itu sebabnya Frederick juga mendekati Gina.
"He's getting annoying!" Geram Jarvis memukul setir mobil.
Rasa kesal Jarvis karena tersulut dengan semua cercaan Frederick padanya membuat pria itu tidak bisa menerima hal tersebut. Jarvis yang semula ingin kembali ke New Zealand menjadi ingin melakukan sesuatu untuk membuktikan pada rivalnya tersebut kalau dirinya bukanlah pria payah.
"Dia buat aku kesal juga, Vis. Sejak melihat dirinya pertama kali dulu pun aku sudah nggak suka padanya," ucap Dena di dalam telepon.
Sekembalinya Jarvis ke hotel tempatnya tinggal selama pulang ke Indonesia, pria itu menghubungi Dena untuk menceritakan pertemuannya dengan Frederick.
"And did you know, Vis? Nggak tahu kenapa aku merasa Gina pun jadi menyukai si demon itu. Semalam aku menelepon Gina, dia bilang kalau sekarang kalian berdua udah nggak punya hubungan apapun. Gina merasa nggak ingin bertemu denganmu lagi," ujar Dena.
Seperti sebuah pisau yang menyayat hatinya, itu yang dirasakan Jarvis saat mendengar Gina tidak ingin bertemu dengannya lagi.
"Gina sudah menyingkirkan kamu dengan mengganti posisi kamu dengan si demon Frederick," lanjut Dena. "Dan aku rasa mereka sudah berpacaran, karena itu hingga saat ini nggak ada penjelasan tentang gambar yang beredar kemarin sedangkan siapapun tahu kalau pria yang bersama dengannya adalah Frederick."
Tekat Jarvis menjadi semakin bulat sekarang. Dia ingin melakukan sesuatu untuk membuat siapapun yang menghinanya mengubah penilaiannya pada dirinya. Baik itu Frederick, maupun Gina.
Seketika rasa marah yang terus di tahan Jarvis pada wanita yang dicintainya itu meluap keluar hingga hanya ada kebencian padanya saat ini.
"Aku akan membuktikan siapa diriku pada mereka yang menghinaku!!" Ucap Jarvis.
...@cacing_al.aska...
iya kalo jadi cerai sih 🤣
Reli keterlaluan bgt wkwkwk