Jauh di lubuk hatiku, aku menolak pernikahan ini. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa mengecewakan kedua orang tuaku.
Aku terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai sama sekali. Ini di karnakan, pacarku yang akan menikah denganku, menghilang. Bisakah aku mengubah rasa terpaksa ini menjadi rasa cinta pada suamiku? Haruskah aku bertahan dengan orang yang dingin seperti Adya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Aku tidak tahu mau bilang apa lagi sekarang. Saat aku melihat wortel ku yang hancur lebur bagaikan bubur ini.
Kaila hanya tersenyum kecut, ketika ia melihat aku yang frustasi dengan apa yang ia lakukan.
"Ya ampun wortel, apa salah kamu sampai kamu harus dihancurkan seperti ini?"
"Mas, kayaknya, aku harus naik keatas deh. Ada yang aku lupakan, soalnya."
"Gak bisa, kamu gak boleh pergi sekarang. Kamu harus tangung jawab atas apa yang kamu lakukan," kataku mencegah Kaila yang ingin melarikan diri.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Aku akan ajarkan bagaimana cara memotong wortel dengan benar."
Aku pun berdiri di belakang Kaila, lalu memegang kedua belah tangan Kaila.
Jantung ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Ia malah berdebar dua kali lebih cepat dari yang biasanya.
"Eee, gini caranya," ucapku mencoba membuat jantung ini tidak berdebar lebih cepat dari biasanya.
"Ah, aku sudah bisa, biarkan aku melakukannya sendiri mas," kata Kaila yang tiba-tiba melihat kearahku.
Hampir saja, bibirku dan bibir Kaila bersentuhan. Semakin tidak menentu debaran jantung ini saat Kaila menatap wajahku. Karna jarak antara aku dan Kaila, hanya beberapa senti saja.
"Eee, kamu lanjutkan. Aku akan melihat masakan ku," kataku dengan cepat menghindar dari Kaila.
Aku tidak sanggup, jika terus melihat wajah Kaila. Karna aku bisa saja, berubah jadi laki-laki yang begitu agresif dan mengacaukan apa yang selama ini aku tahan.
Aku mengurut dadaku, berusaha membuat jantungku kembali normal.
"Auhhh."
Dengan cepat, aku melihat arah suara yang merintih kesakitan.
"Kaila!" ucapku kaget saat melihat jari telunjuk Kaila berdarah.
"Kenapa bisa luka sih?" tanyaku dengan cepat menghampiri Kaila.
"Wortelnya licin," kata Kaila sambil menahan sakit.
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung memasukkan jari telunjuk Kaila kedalam mulutku. Supaya, darah yang mengalir dari jari telunjuk itu segera berhenti.
"Tunggu sebentar," kataku sambil meninggalkan Kaila untuk mengambik kotak obat.
Aku sibuk mengobati jari Kaila yang terluka. Sedangkan Kaila, ia tidak mengeluarkan sepatah katapun saat aku menggobati lukanya.
Mungkin, ia terkejut karna terluka. Atau kungkin ada hal lain yang ia pikirkan.
"Maafkan aku mas, aku tidak bisa membantu kamu masak," ucap Kaila dengan nada sesal.
"Tidak masalah, kamu sudah berusaha kok. Walaupun pada akhirnya, kamu merusak segalanya," kataku dengan nada menggejek.
"Aku tahu, aku tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Aku memang tidak berguna," kata Kaila dengan sedih.
"Lala, ya ampun, kamu tidak perlu berkata seperti itu. Aku malahan bersyukur lho, kamu gak pinter masak. Karna kalau kamu pintar masak, kita akan bersaing dalam hal masak memasak nantinya. Itu yang lebih buruk lagi, karna aku tidak ingin kalah saing sama kamu."
"Kamu bisa aja mas," kata Kaila dengan sedikit senyum.
"Ya sudah, biar aku lanjutkan acara masaknya. Kamu istirahat saja di kamar."
Kaila POV
Aku merasa sangat sedih, ketika aku tidak bisa membantu mas Adya memasak makanan buat kami.
Seharusnya, tugas masak memasak itu adalah tugas aku sebagai istri. Tapi, kini aku malah mengacaukan semuanya. Aku merusak wortel yang seharusnya bisa di jadikan sayur tumis. Dan aku juga membuat waktu mas Adya masak menjadi terganggu. Karna tiba-tiba saja, tanganku terluka akibat wortel yang licin.
Tapi saat itu, saat di mana mas Adya benar-benar terlihat panik dan sangat khawatir melihat jari telunjuk ku terluka. Padahal, jari telunjuk ini hanya tergores sedikit saja. Tapi ia malah memperlihatkan wajah yang begitu cemas. Sehingga, ia begitu kalang kabut dan terburu-buru.
Aku merasa bersalah, bukan hanya berusak dan membuat waktu mas Adya terbuang. Aku juga membuat ia cemas memikirkan aku yang tidak bisa apa-apa ini.
Pantaskah seorang istri tidak bisa melakukan pekerjaan rumah, seperti memasak? Aku rasa sungguh memalukan sekali diriku saat ini.
Aku bisa menyetrika baju dan merawat tanaman, tapi aku tidak bisa masak. Karna mama tidak mengizinkan aku masak saat aku masih tinggal bersama mama. Karna aku pernah sekali mencoba membantu mama, namun aku merusak dapur mama dan mencelakai diriku sendiri dengan menumpahkan minyak goreng. Saat itulah mama merasa trauma ketika melihat aku berada di dapur. Karna mama takut, aku melakukan hal yang sama untuk yang kedua kalinya.
Bukan dapur yang rusak yang mama takutkan. Melainkan, aku yang mencelakai diriku saat berada di dapur. Hal itu yang membuat mama sangat takut.
Yah, contohnya saja saat ini, aku melukai tanganku dengan pisau. Padahal, apa yang aku lakukan adalah hal yang sangat mudah. Hanya di suruh meracik sayuran saja, tapi aku malah melukai tanganku dengan pisau dapur.
APA KATA BRAM TADI? CINTA SESAAT.. PENGEN NGAKAK AKU,APA BRAM AMNESIA? MALAH WAKTU ITU DIA SENDIRI NGAKU DENGAN MAYA DIA GAK MENCINTAI KAMU,NIKAH JUGA ORTU YG MAKSA,DIA BILANG TERGILA-GILA DENGAN MAYA,UDAH MAU NIKAH AJA MASIH SELINGKUH,ORANG KALO SEKALI SELINGKUH TETAP AKAN SELINGKUH,APAPUN ALESANNYA,DIA SUDAH MEMPERMALUKAN PIHAK KELUARGA WANITA..🙄🙄🙄